Restu merasa hidup dalam keputus asaan ketika Istri dan anaknya suka menyalahkan dirinya hingga dirinya emosi membentak istri dan anaknya tersebut namun kini dirinya jadi orang yang di anggap paling bersalah hingga dia merasa hidup dalam ke hampaan tanpa harus bisa berbuat apa pun selain hanya diam karena apa pun yang dilakukannya akan jadi tambah Salah hingga akhirnya dia ingin mengakhiri hidupnya di suatu jurang yang dalam namun tiba-tiba takdir berkata lain, dia mengurungkan niatnya dengan mencari cara untuk memberi pelajaran kepada istei dan anaknya dengan bantuan sistim yang tiba-tiba datang memberikan pilihan bantuan hingga akhirnya dia mengatur cara agar semuanya menyadari kesalahannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DANA SUPRIYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Semua Meninggalkan
Dengan tangan yang gemetar dan hati yang hancur, karena merasa dunia sudah tidak adil pada dirinya.Disaat keluarga sering menyalahkannya, kawan kantor juga bersikap sama dan kini di jalanan terjadi hal.yang sama bahkan dia kehilangan motornya
"Hei Maya harus di jemput"
Restu teringat Maya yang harus dia jemput walaupun gadis bungsunya suka tidak santun.dan hormat bila bicara sama dirinya tapi dia tetap anaknya, darah dagingnya hingga dia mencoba menghubungi Maya. Suaranya terdengar sangat lemah dan parau, memohon pengertian anaknya.
"Sayang... Maya... dengar Papa dulu..." bisiknya di telepon, menahan isak tangis. "Motor Papa benar-benar hilang, Sayang. Papa tidak bisa jemput. Kamu naik ojek online saja ya di aplikasi? Bilang saja bayarnya tunai atau COD nanti sampai rumah. Papa janji, Papa akan bayar ongkosnya begitu kamu sampai."
Di seberang sana, terdengar decakan kesal dari suara Maya di handphonenya Restu.
"Ya ampun, Papa ini bener-bener nyusahin sih! Ya sudah deh! Tapi cepat ya uangnya disiapin! Maya gak mau nanti malu sama abang ojolnya!"
Telepon dimatikan lagi dengan kasar. Restu hanya bisa menghela napas panjang. Setidaknya anaknya bisa pulang dengan selamat.
Namun masalah uang kuliah Meisya masih menjadi bayang-bayang yang menakutkan. Restu mengingat-ingat semua nama yang mungkin bisa membantunya. Ia mulai menelpon satu per satu kerabat, saudara, dan handai tolan yang dulu pernah ia kenal.
"Halo, Pak De... Boleh pinjam uang dikit tidak? Untuk bayar kuliah anak saya. Nanti kalau ada gaji saya ganti..."
"Ya ampun Restu, kamu tahu sendiri kan usaha saya lagi sepi banget? Anak saya juga mau bayar SPP nih. Saya lagi beneran kosong, Restu. Maaf ya..."
Restu mencoba nomor lain, saudaranya sendiri.
"Tante... tolong saya Tante... Saya lagi susah sekali..."
"Duuh... maaf ya Ndul... Bulan ini pengeluaran banyak banget. Listrik, air, belanja. Gak ada sisa sama sekali. Kamu coba tanya yang lain saja ya..."
Satu per satu telepon dijawab dengan alasan yang sama: sulit, tidak ada uang, maaf.
Hati Restu semakin perih. Lalu ia teringat pada teman-teman dekatnya, orang-orang yang dulu pernah ia tolong saat mereka kesusahan. Orang yang pernah ia pinjamkan uang, pernah ia bantu cari kerja, atau pernah ia selamatkan dari masalah.
Restu menelpon salah satu teman dekatnya, Dimas.
"Dim... tolong aku Dim. Pinjam dulu 2 juta ya. Sangat mendesak sekali ini."
"Waah... maaf banget Bro..."
Suara Dimas terdengar sungkan walaupun bahasanya sopan namun terasa sesak di hati Restu.
"Gue lagi benar-benar ketat bulan ini. Istri gue juga lagi sakit. Gue sendiri lagi mau pinjam ke orang lain nih. Maaf ya Bro, gue gak bisa bantu."
Padahal dulu, saat Dimas terlilit hutang rentenir, Restu yang rela mengeluarkan tabungan terakhirnya untuk menyelamatkan Dimas namun jawaban Restu seperti itu hingga dia mau mengingatkan kembali tentang hal dia pernah pinjam uang pada dirinya tapi hal itu pasti tidak gunanya dengan segala jawaban kawannya tadi.
Restu menelpon yang lain lagi, hasilnya sama.
"Maaf Restu, aku lagi nggak bisa..."
"Maaf ya, uangnya baru saja dipakai..."
"Maaf..."
Kata 'maaf' itu terdengar begitu menyakitkan. Seperti pisau yang menikam ulang hati Restu yang sudah luka. Ternyata, saat kita berada di puncak, banyak teman. Tapi saat kita jatuh ke dasar lubang, semua orang sibuk membersihkan sepatunya agar tidak kotor terkena lumpur bersamamu.
Bahkan orang yang pernah kau bantu pun, kini berpaling dan tak sanggup lagi mengulurkan tangan.
Restu menjatuhkan ponselnya ke lantai. Ia tidak kuat lagi menelpon siapa-siapa karena dia merasa sudah tahu jawaban.dari mereka di saat-saat seperti ini.
Suasana di rumah itu hening, mencekam. Istrinya sudah masuk ke kamar dan mengunci pintu, enggan melihat wajah suaminya yang dianggap pembawa sial.
Restu hanya bisa terduduk lemas di lantai yang dingin, bersandar pada tembok yang rapuh. Tubuhnya penuh luka, baju kotor, kaki telanjang berdarah. Di luar hujan mulai turun membasahi bumi, seolah ikut menangisi nasib pria malang ini.
Pikirannya kacau balau ketika dia mengingat semua
Motor ku hilang.
Gaji ku dipotong.
Ditagih biaya kuliah.
Anak marah.
Istri menyalahkan.
Teman dan keluarga meninggalkan.
"Semua... semua meninggalkan aku..." Gumam Restu pelan, matanya kosong menatap langit-langit.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Dari mana aku harus cari uang secepat ini? Kepala aku rasanya mau pecah memikirkan semua ini..."
Ia memeluk lututnya erat-erat, merasa sangat kecil dan tak berdaya di tengah badai masalah yang datang bertubi-tubi tanpa ampun.
"Apa yang harus ku lakukan sekarang?"
tinggalkan jejak sobat ya
makasi