10 Cara Melihat Hantu adalah kisah misteri yang menggabungkan rasa penasaran manusia terhadap dunia gaib dengan konsekuensi menakutkan yang tak terduga. Cerita ini berpusat pada seorang remaja bernama Alin yang menemukan sebuah buku tua berdebu berjudul sama—10 Cara Melihat Hantu—di sudut perpustakaan yang hampir terlupakan.
Awalnya, buku itu tampak seperti panduan biasa yang berisi sepuluh metode berbeda untuk membuka “mata batin” dan melihat makhluk tak kasatmata. Mulai dari ritual sederhana seperti menatap cermin di tengah malam, hingga cara yang lebih ekstrem seperti mengunjungi tempat angker seorang diri. Didorong oleh rasa ingin tahu, Alin mencoba satu per satu cara tersebut, tanpa menyadari bahwa setiap langkah yang ia ambil semakin menarik dirinya lebih dalam ke dunia yang seharusnya tidak ia sentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Panggilan itu.......
Raka berdiri terpaku di depan pintu itu lebih lama dari yang seharusnya.
Udara di lorong terasa berbeda—lebih dingin, lebih berat, seolah setiap napas yang ia tarik membawa sesuatu yang tak kasatmata masuk ke dalam paru-parunya. Ia mencoba menelan ludah, namun tenggorokannya terasa kering, seperti dipenuhi debu yang tak pernah benar-benar ada.
Ia tahu.
Perasaan itu datang lagi.
Perasaan yang sama seperti pertama kali ia menemukan cara melihat “mereka.”
Pelan, tangannya terangkat.
Ujung jarinya menyentuh permukaan pintu.
Dingin.
Terlalu dingin untuk sekadar kayu biasa.
Raka mengernyit. Ia menekan sedikit lebih kuat, seakan ingin memastikan bahwa pintu itu benar-benar nyata. Namun di saat yang sama, sesuatu dalam dirinya berbisik—memperingatkan.
Jangan.
Tapi suara lain, lebih halus, lebih dalam… justru mendorongnya.
Buka.
Raka menutup matanya sejenak.
Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang semakin tak beraturan. Ingatannya melayang—ke semua kejadian yang telah ia lalui, ke setiap langkah yang membawanya sampai di titik ini.
Sepuluh cara.
Sepuluh pintu.
Dan ini…
Adalah yang terakhir.
Atau setidaknya, itu yang ia kira.
“Raka…”
Suara itu membuat matanya terbuka seketika.
Ia menoleh cepat ke belakang.
Kosong.
Lorong itu tetap sunyi. Lampu yang redup berkedip sekali, menciptakan bayangan yang bergerak cepat di dinding.
Namun ia yakin—
Ia tidak salah dengar.
“Raka…”
Kali ini lebih jelas.
Lebih dekat.
Ia menelan ludah. Perlahan, ia memutar tubuhnya, mencoba mencari sumber suara itu.
“Siapa?” suaranya serak, hampir
tak terdengar.
Tak ada jawaban.
Hanya keheningan yang semakin menekan.
Lalu—
Tap.
Suara langkah kaki.
Pelan.
Berhenti.
Lalu satu lagi.
Tap.
Seolah seseorang berjalan mendekat, namun tak terlihat.
Raka membeku.
Punggungnya merinding.
Ia bisa merasakannya sekarang.
Bukan hanya suara.
Ada sesuatu di sana.
Sesuatu yang berdiri tepat di belakangnya.
Sangat dekat.
Terlalu dekat.
Napasnya tercekat.
Ia ingin menoleh.
Namun tubuhnya tak mau bergerak.
Seolah ada tangan tak terlihat yang menahan lehernya, memaksanya tetap menghadap ke depan—ke arah pintu itu.
“Jangan lihat ke belakang.”
Suara itu kini berbisik tepat di telinganya.
Dingin.
Basah.
Seperti hembusan napas seseorang yang tak seharusnya berada di sana.
Raka memejamkan mata rapat-rapat.
Jantungnya berdegup keras.
Ia tahu aturan itu.
Jangan melihat ke belakang ketika mereka sudah terlalu dekat.
Namun—
Bagaimana jika ia sudah terlambat?
Tiba-tiba—
Sesuatu menyentuh bahunya.
Pelan.
Ringan.
Namun cukup untuk membuat tubuhnya bergetar hebat.
Raka menggertakkan giginya.
Ia ingin berteriak.
Ingin berlari.
Namun kakinya terasa seperti tertanam di lantai.
“Buka pintunya…”
Bisikan itu kembali.
“Dia menunggu…”
Raka membuka matanya perlahan.
Pandangannya kembali tertuju pada pintu di depannya.
Pintu yang kini terasa… berbeda.
Gagangnya sedikit bergetar.
Seolah ada sesuatu di baliknya yang mencoba keluar.
Atau mungkin—
Mengundangnya masuk.
Raka menarik napas dalam-dalam.
Jika ia tetap diam, ia tidak akan pernah tahu.
Dan mungkin—
Ia tidak akan pernah bisa keluar dari semua ini.
Dengan tangan gemetar, ia meraih gagang pintu.
Dingin itu langsung menjalar ke seluruh lengannya.
Namun kali ini, ia tidak menarik tangannya.
Ia menggenggamnya lebih erat.
Lalu—
Perlahan…
Ia memutar.
Klik.
Suara itu terdengar sangat jelas di tengah keheningan.
Dan dalam sekejap—
Sentuhan di bahunya menghilang.
Udara di sekitarnya berubah.
Lebih hening.
Lebih… kosong.
Raka menahan napas.
Lalu, dengan satu dorongan—
Ia membuka pintu itu.
Gelap.
Hanya itu yang terlihat.
Bukan sekadar ruangan tanpa cahaya.
Ini berbeda.
Seolah kegelapan itu memiliki
kedalaman.
Memiliki bentuk.
Memiliki… kesadaran.
Raka berdiri di ambang pintu, ragu.
Namun sebelum ia sempat berpikir lebih jauh—
Sesuatu dari dalam menariknya.
Bukan secara fisik.
Namun cukup kuat untuk membuat tubuhnya melangkah masuk.
Satu langkah.
Dua langkah.
Dan ketika ia menyadari—
Pintu di belakangnya telah tertutup.
Dengan sendirinya.
BRAK.
Suara itu menggema panjang.
Raka menoleh cepat.
Namun yang ia lihat bukan lagi pintu.
Bukan lorong.
Bukan dunia yang ia kenal.
Hanya kegelapan.
Tanpa batas.
Tanpa arah.
“Di mana aku…?” bisiknya.
Tak ada jawaban.
Namun perlahan—
Sebuah cahaya muncul di
kejauhan.
Kecil.
Redup.
Namun cukup untuk menarik perhatiannya.
Raka menatapnya lama.
Dan tanpa sadar—
Ia mulai berjalan mendekat.
Langkahnya terasa ringan.
Terlalu ringan.
Seolah ia tidak lagi benar-benar menyentuh tanah.
Semakin dekat—
Cahaya itu semakin jelas.
Dan ketika akhirnya ia sampai—
Raka membeku.
Itu bukan cahaya biasa.
Itu adalah—
Cermin.
Besar.
Tinggi.
Berdiri sendiri di tengah kegelapan.
Permukaannya berkilau, memantulkan sosok Raka yang berdiri di depannya.
Namun—
Ada yang salah.
Refleksi itu…
Tidak bergerak.
Raka mengangkat tangannya.
Namun bayangan di cermin tetap diam.
Memandangnya.
Dengan tatapan kosong.
Perlahan…
Refleksi itu tersenyum.
Senyum yang tidak pernah Raka buat.
Senyum yang terlalu lebar.
Terlalu… salah.
Raka mundur satu langkah.
“Tidak…”
Bisiknya pelan.
Namun refleksi itu justru melangkah maju.
Dari dalam cermin.
Permukaannya beriak seperti air.
Dan tangan—
Tangan pucat itu keluar lebih dulu.
Mencoba meraih.
Raka tersentak.
Ia berbalik, mencoba lari—
Namun sesuatu menahan kakinya.
Ia melihat ke bawah.
Bayangannya sendiri.
Menariknya.
Menahan.
Seolah hidup.
“Sudah waktunya…”
Suara itu kini datang dari segala
arah.
Dari cermin.
Dari kegelapan.
Dari dalam dirinya sendiri.
Refleksi itu keluar sepenuhnya.
Kini berdiri di hadapannya.
Sama persis.
Namun berbeda.
Matanya gelap.
Kosong.
Dan senyumnya—
Tidak pernah pudar.
“Kau sudah melihat terlalu banyak,” katanya.
Suaranya sama dengan Raka.
Namun lebih dalam.
Lebih berat.
“Apa… kau?” Raka berbisik.
Refleksi itu memiringkan kepala.
“Aku adalah yang tertinggal.”
Langkahnya maju.
Perlahan.
“Mereka yang melihat… selalu meninggalkan sesuatu di sini.”
Raka menggeleng.
Ia mundur lagi.
Namun tidak ada tempat untuk pergi.
“Aku tidak mengerti…”
Refleksi itu tertawa kecil.
Suara yang tidak memiliki emosi.
“Setiap cara yang kau gunakan… membuka sedikit demi sedikit.”
“Dan setiap kali kau membuka… sesuatu dari dirimu tertinggal.”
Raka terdiam.
Jantungnya terasa seperti berhenti.
“Dan sekarang…” lanjutnya pelan, “kau sudah hampir kosong.”
Raka menatapnya dengan mata melebar.
“Tidak…”
“Ya.”
Refleksi itu kini berdiri sangat dekat.
Hanya beberapa langkah darinya.
“Dan aku…”
Ia mengangkat tangan.
Menunjuk dirinya sendiri.
“Adalah bagian terakhir yang kau tinggalkan.”
Sunyi.
Kata-kata itu menggantung di udara.
Raka mencoba mencerna.
Namun pikirannya terasa kabur.
Jika itu benar—
Maka…
Apa yang tersisa dari dirinya sekarang?
Refleksi itu tersenyum lagi.
Lebih lebar.
“Sekarang waktunya kita bertukar.”
“Tidak!” Raka berteriak.
Ia mencoba bergerak, mencoba melawan—
Namun bayangannya masih menahannya.
Refleksi itu mendekat.
Semakin dekat.
Hingga wajah mereka hampir bersentuhan.
“Kau yang akan tinggal di sini…”
Bisiknya.
“Dan aku…”
Ia menyentuh dada Raka.
Dingin.
Menusuk.
“Akan keluar.”
Tiba-tiba—
Segalanya menjadi gelap.
Lebih gelap dari sebelumnya.
Raka merasa tubuhnya jatuh.
Tanpa arah.
Tanpa akhir.
Ia berteriak—
Namun tidak ada suara yang keluar.
Dan di saat terakhir sebelum kesadarannya menghilang—
Ia melihat sesuatu.
Sekilas.
Seperti bayangan.
Seseorang berdiri di depan pintu.
Di dunia luar.
Dan orang itu—
Adalah dirinya.
Namun bukan dirinya.
Dengan senyum yang tidak pernah ia miliki.
Lorong itu kembali sunyi.
Pintu itu tertutup rapat.
Seolah tidak pernah terbuka.
Namun beberapa saat
kemudian—
Gagangnya bergerak.
Pelan.
Klik.
Pintu terbuka.
Dan seseorang keluar.
Langkahnya tenang.
Wajahnya datar.
Namun di matanya—
Ada sesuatu yang berbeda.
Ia menatap lurus ke depan.
Lalu tersenyum kecil.
“Jadi ini… dunia luar.”
Bisiknya.
Dan tanpa menoleh ke belakang—
Ia berjalan pergi.
Meninggalkan pintu itu.
Tertutup.
Rapat.
Dan di baliknya…
Seseorang masih menunggu.
Sendirian.
Atau mungkin—
Tidak lagi.