NovelToon NovelToon
PERNAK PERNIK KEHIDUPAN

PERNAK PERNIK KEHIDUPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Bullying dan Balas Dendam / Horor
Popularitas:857
Nilai: 5
Nama Author: Aris Tea

Danil Dwi Cahya, 16 tahun, lulus SMP dengan prestasi gemilang. Namun, ia tak bisa lari dari "Pernak-Pernik Kehidupan" yang keras: kemiskinan, pengkhianatan masa lalu sang ayah, dan beban mengangkat harga diri keluarga.

Hatinya makin rumit saat Ceceu Intan Nuraini, sahabat sekaligus cinta tak terucapnya, rela berkorban segalanya. Di tengah dilema merantau atau bertahan, Danil harus menghadapi intrik desa, mitos seram, dan bahaya dari majikan "buaya darat" Ceceu.

Akankah ia menemukan jalan keluar dari jeratan takdir dan cinta? Atau justru terhanyut dalam 'pernak-pernik' kehidupan yang tak terduga? Baca kisah perjuangan Danil dalam PERNAK-PERNIK KEHIDUPAN

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aris Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"AMANAH YANG DITINGGALKAN"

AMANAH YANG DITINGGALKAN.

"Danil.................."

"Danil...................."

"Ceceu... Tunggu dulu!"

Gadis perawan berusia 18 tahun itu berjalan tergesa-gesa mengejar dua orang yang sudah melangkah menjauh di lorong rumah sakit.

"Neil! Ceu... tunggu!"

Keduanya pun langsung membalikkan badan. Tampak Rini berlari kecil menghampiri mereka dengan napas yang tersengal-sengal.

"Uhk... Kalian ini dari tadi kupanggil-panggil tak menyahut juga!" kesal Rini sambil melipat tangannya di dada. Ceceu dan Danil hanya mengangkat bahu serempak, pura-pura tidak tahu.

"Ada apa Rin?" tanya Danil santai.

"Ini..." Rini langsung mengeluarkan sebuah amplop berwarna putih dan menyodorkannya ke tangan Danil yang tampak keheranan. Alis Ceceu pun ikut terangkat penasaran.

"Gak usah ditanya-tanya, ini dari Bapak. Katanya makasih pijitannya, katanya enak dan bikin seger," jelas Rini.

Danil langsung mengembalikan amplop itu. Ia sungguh ikhlas membantu ayah sahabatnya, tak bermaksud meminta imbalan.

"Hmm... Kenapa dikembalikan lagi? Aku marah lho kalau kamu nggak menerimanya!" ketus Rini tegas.

Danil pun bingung. Ia hanya bisa menggaruk kepala yang tak gatal, lalu menoleh ke arah Ceceu. Melihat gadis itu mengangguk memberi kode agar diterima, akhirnya Danil pun menerimanya.

"Baiklah, aku terima. Tapi kalau nanti Bapak butuh apa-apa atau butuh bantuan, bilang aja ya. Aku akan bantu sekuat tenagaku," ucap Danil tulus. Rini pun tersenyum lega dan manis melihat kesungguhan hati sahabatnya itu.

Mereka pun melanjutkan langkah menuju area parkir motor RSUD.

Malam itu, di salah satu kampung yang tak jauh dari kantor kecamatan dan berhadapan langsung dengan Masjid Jami...

Terlihat sebuah rumah panggung kayu yang berdiri kokoh di tengah zaman yang serba modern ini. Halaman rumahnya penuh sesak oleh orang-orang yang dikenal dan dihormati, berkumpul seolah menanti sesuatu yang besar.

Di dalam ruangan utama, sosok lelaki dengan rambut yang sudah memutih dikelilingi oleh istri, anak, cucu, bahkan cicitnya. Semua kerabat dan orang terdekat tak ada satu pun yang berniat meninggalkan tempat itu.

Lelaki tua yang sudah menginjak usia 85 tahun itu tak lain adalah Kakek Jalaludin, sesepuh kampung yang paling dihormati. Dan dia adalah kakek kandung dari Danil Dwi Cahya.

Napasnya mulai tak beraturan. Rasa dingin mulai menjalar perlahan dari ujung kaki ke seluruh tubuh, seolah-olah ia sedang berdiri di tengah gunung es.

Dengan suara lembut, ia berbicara pada istrinya yang sudah setia mendampinginya mengarungi bahtera rumah tangga selama hampir 50 tahun.

........."Anah.... Apakah semuanya sudah hadir di sini?" lirih suaranya pelan namun jelas terdengar di telinga sang istri.

Sang istri merasakan firasat buruk yang tak enak. Ia memalingkan wajah, menahan tangis melihat bibir suaminya yang bergetar hebat sambil terus melafalkan ayat-ayat Alquran.

"Deh..... Kamu telepon Danil! Buruan suruh dia ke sini! Kakek kritis!" titah sang Ibu pada anak perempuannya—Ibunda Danil—dengan suara bergetar.

Dedeh mengangguk cepat, meminta pinjam ponsel dari menantunya, lalu segera menekan nomor Danil yang saat itu masih berada di RSUD.

Tut....... Tut....... Tut..........

Panggilan tersambung.

"Halo Teh... ada apa?" suara Danil terdengar di seberang sana.

"Danil!! Kamu di mana Nak! Di mana kamu sekarang? Ini Bunda... kalau bisa sekarang langsung ke sini ke rumah Nenek! Kakek kritis Nak... Kakek nanyain kamu!" terang Dedeh dengan nada panik.

"Baik Bunda... Danil sekarang otw!"

Panggilan terputus. Dedeh kembali duduk di samping ibunya, membisikkan pelan bahwa Danil sedang dalam perjalanan.

Hampir 30 menit berlalu, sosok yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Danil datang mengendarai motor milik majikan Ceceu. Ia tak sempat mengantar Ceceu pulang ke Babakan Soka, ia langsung gaspol menuju rumah nenek melewati jalan provinsi hingga sampai tepat di depan rumah panggung itu.

Terlihat para tetangga dan kerabat duduk bersenda gurau di halaman, disuguhi kopi hitam, goreng singkong dan ubi, dengan alas karpet musholla yang terbentang luas. Suasana hening namun penuh penghormatan.

Danil dan Ceceu masuk setelah mengangguk hormat pada orang-orang yang duduk di sana.

"Assalamualaikum..."

"Waalaikumussalam..." jawab serempak.

"Kakek..."

Bibir Danil bergetar hebat. Lututnya lemas dan menggigil tak kuat menahan beban di hati. Air matanya tak kuasa dibendung lagi, jatuh membasahi pipi.

"Kakek..." panggilnya sekali lagi. Danil langsung menghambur memeluk lelaki yang nyawa-nyawa ikan itu, bahkan salah satu kaki sang kakek seolah sudah melangkah ke alam baka.

'Dasar bocah sableng... Kakek sudah lemah begini, mau lepas nyawa tinggal tunggu waktu, eh dia malah peluk seenaknya kasak gitu,' batin Kakek Jalaludin dalam hati, tapi matanya menyiratkan kasih sayang yang luar biasa.

"Uhuk... uhuk... Neil..." panggil Kakek pelan.

Danil segera melepaskan pelukan dan menatap wajah tua itu dengan pandangan sendu.

"Neil... Setelah nanti Kakek pergi... Kakek harap kau mau melaksanakan apa yang sudah Kakek titahkan waktu itu. Kakek berharap... tonggak dan ilmu keluarga Jalaludin Dwi Cahya ada dan aman di pundakmu," ujar sang Kakek pelan namun tegas, terdengar jelas oleh mereka yang berada di dekatnya.

Raut wajah penasaran langsung tercetak di wajah sanak keluarga lainnya. Hanya Dedeh dan Nenek Anah yang wajahnya tetap tenang, tak terlihat heran sedikitpun. Mereka berdua sudah lama tahu dan yakin bahwa ilmu serta tanggung jawab besar itu memang dititipkan pada Danil, anak ketiganya.

Danil menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

"Kek... Nafsu Danil masih terlalu memburu, otak Danil masih terlalu dangkal, dan langkah Danil masih terlalu pendek. Danil belum sanggup Kek... Danil tak kuat menjalankan apa yang Kakek perintahkan," ucap Danil tertunduk lesu.

Sang Kakek tersenyum tipis, seolah sudah menduga jawaban itu akan keluar dari mulut cucunya.

"Seiring berjalannya waktu... kau akan bisa menguasainya semua. Biarkan angin yang membawa langkahmu untuk terbang tinggi. Biarkan air yang mengalir membawa arus nafsumu ke lautan luas agar menjadi tenang dan adem. Dan percayalah... otakmu itu akan berjalan dengan sendirinya mencari sang Mentor sejati, yang akan meluruskan setiap langkah, menundukkan nafsu, dan memperdalam ilmu yang selama ini kau anggap dangkal."

Panjang lebar sang Kakek memberikan wejangan dan petuah terakhir.

Hingga akhirnya... tepat di malam Jumat, pukul satu dini hari... sosok sesepuh yang sangat dihormati di wilayah kecamatan itu pun menghembuskan napas terakhirnya dengan tenang.

Ketegasan, kepolosan, dan kemandirian yang selama ini melekat pada diri Danil... kini retak seketika. Yang tersisa hanyalah kerapuhan dan kesedihan mendalam setelah ditinggal pergi oleh orang yang paling menyayanginya apa adanya.

Pelukan hangat dan elusan tangan Ceceu tak mampu membendung tangis dan rasa kehilangan itu. Ceceu hanya bisa diam mendampingi, memberi kekuatan agar Danil siap menapaki jalan berat di depannya.

"Terima kasih... Ceu..." lirih Danil sambil mengusap air matanya.

Sudah saatnya sang kakek dimuliakan. Sesuai amanatnya, jenazah ingin segera dimakamkan tanpa menunggu matahari terbit.

Alhamdulillah, proses pemakaman berjalan lancar dan khidmat. Setelah semua orang pulang ke rumah masing-masing dan adzan Subuh mulai berkumandang, Danil masih terdiam sendiri di depan pusara yang tanahnya masih basah dan nisan yang masih baru.

"Kek... Kamu sudah bahagia di alam sana sekarang ya... Tak ada lagi rasa sakit, tak ada lagi pusing memikirkan orang-orang yang meminta pertolonganmu. Tapi aku di sini... beban berat ini harus kupikul sendiri. Kek... aku sungguh tak yakin bisa... aku tak yakin amanah sebesar ini bisa kujalankan dengan mudah. Namun... sebelum waktu itu menjawab... aku akan mencobanya... aku akan berusaha sekuat tenaga Kek..."

Bersambung...

1
Guru
aduhh kasian si zaki😭😭😭
Guru
💪💪💪💪💪💪 semangat ya
Guru
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Guru
ang ing eung
Guru
adu dukun nntinya hihihi
Guru
zaman sekarang gak ada kayak keluarga bu Iroh
Guru
siap untuk menguak tabir misteri
Guru
gass poll
Guru
hmmmmm alurnya semakin menarik
Guru
Waduhhh kok jadi endingnya bikin degdegan
Guru
Keren kata kata si mamang bijak
Guru
sip lanjut
Guru
Good niel💪💪
Guru
waduhhhhh
Guru
tetep aja niel cece akan melibatkan mu kamu di jadikan tameng
Guru
Sikat niel walaupun sahabat tapi menjerumuskan mah harus di matiin
Guru
waduh😭😭😭
Guru
emng begitu hidup di kampung
Guru
luar biasa
Guru
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!