NovelToon NovelToon
- Believe In Magic -

- Believe In Magic -

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Akademi Sihir / Reinkarnasi
Popularitas:226
Nilai: 5
Nama Author: bidadari

Sihirnya tajam, hampir terlalu sempurna untuk usianya. Mantra yang lain pelajari selama bertahun-tahun, ia pahami hanya dalam hitungan detik. Namun, setiap kilau kekuatan yang ia tunjukkan justru menjadi bayangan yang menjauhkannya dari yang lain.

Mereka menyebutnya dingin.
Mereka menyebutnya sombong.

Padahal, yang tak pernah mereka lihat adalah badai sunyi yang ia peluk sendirian.

Evelyn tidak pernah memilih untuk menjadi berbeda. Tapi sihir di dalam dirinya… terasa seperti sesuatu yang hidup—berdenyut, berbisik, seolah menyimpan rahasia yang bahkan ia sendiri takut untuk sentuh.

Dan di balik tatapan tenangnya, tersembunyi pertanyaan yang terus mengendap:

Apakah ia mengendalikan sihir itu… atau justru sedang perlahan dikuasai olehnya?


- Believe in magic -

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 Tujuan yang Tak Lagi Bisa Disembunyikan

Waktu terus berjalan di Sekolah Sihir Everton, tidak pernah menunggu siapa pun, tidak pernah memberi jeda bagi mereka yang tertinggal. Hari-hari yang dulu terasa berat kini berubah menjadi rutinitas yang dingin bagi Evelyn Edison. Ia tidak lagi menghitung waktu, tidak lagi memperhatikan siapa yang ada di sekelilingnya, karena satu per satu wajah yang pernah ia lihat perlahan menghilang dari ingatan, tergantikan oleh kesunyian yang semakin akrab. Dari kelas C, ia melangkah ke kelas B, dan tanpa memberi ruang untuk dirinya beristirahat, ia terus naik hingga akhirnya mencapai titik yang dulu terasa mustahil—kelas A.

Namun tidak ada perayaan. Tidak ada kebanggaan yang ia rasakan. Hanya satu hal yang terus mengisi pikirannya—tujuan.

Setiap pagi, ia sudah berada di ruang latihan sebelum siapa pun datang. Setiap malam, ia adalah yang terakhir pergi. Tangannya sering gemetar bukan karena takut, tetapi karena kelelahan yang ia paksa untuk diabaikan. Sihir yang ia keluarkan semakin kuat, semakin tajam, namun juga semakin sunyi. Ia tidak lagi membutuhkan pengakuan siapa pun. Tidak lagi membutuhkan teman. Ia hanya membutuhkan satu hal—kesempatan.

Para murid kelas A bukanlah murid biasa. Mereka adalah mereka yang telah bertahan dari seleksi yang tidak manusiawi, mereka yang telah melihat terlalu banyak “akhir” untuk tetap bersikap seperti anak-anak. Di antara mereka, Evelyn berdiri sejajar, bahkan melampaui beberapa. Tatapan orang-orang yang dulu meremehkannya kini berubah. Bukan lagi ejekan, melainkan sesuatu yang lebih dalam—ketakutan.

Namun Evelyn tidak peduli.

Hari itu, setelah sesi latihan yang panjang, ruangan mulai kosong. Cahaya sihir yang tadi memenuhi udara perlahan memudar, meninggalkan suasana tenang yang hampir menekan. Evelyn masih berdiri di tengah ruangan, mengatur napasnya yang berat namun terkontrol.

“Kamu tidak pernah berhenti, ya.”

Suara itu datang dari belakang.

Evelyn tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu.

Ameli Libert berdiri beberapa langkah darinya, menatap dengan ekspresi yang sulit dibaca.

“Aku belum selesai,” jawab Evelyn singkat.

Ameli berjalan mendekat perlahan. “Atau kamu memang tidak ingin selesai?”

Evelyn akhirnya menoleh. “Kalau aku berhenti, aku tidak akan sampai ke tujuan.”

Ameli mengamatinya beberapa saat. “Dan tujuan itu… masih sama?”

Evelyn tidak langsung menjawab.

Namun diamnya kali ini bukan karena ragu.

Melainkan karena… tidak perlu disembunyikan lagi.

“Ya.”

Ameli menghela napas pelan. “Dunia manusia.”

Evelyn menatapnya lurus. “Aku ingin ke sana.”

“Kenapa?”

Pertanyaan itu sederhana.

Namun terasa lebih berat dari sebelumnya.

Evelyn terdiam sejenak.

Lalu berkata pelan, “Aku penasaran.”

Ameli menatapnya lebih dalam, seolah mencoba menembus jawaban itu. “Hanya itu?”

Evelyn tidak mengalihkan pandangannya. “Ya.”

Sunyi.

Namun kali ini, sunyi itu tidak nyaman.

“Evelyn,” suara Ameli melembut, namun justru terasa lebih tajam, “manusia itu bisa hidup… dan mati.”

Evelyn sedikit mengernyit. “Kita juga bisa hilang.”

“Itu berbeda,” balas Ameli cepat. “Manusia merasakan waktu dengan cara yang berbeda. Mereka tumbuh, menua, kehilangan, dan… mati.”

Evelyn menatapnya tanpa berkedip. “Bukankah itu berarti mereka benar-benar hidup?”

Ameli terdiam.

“Di sini,” lanjut Evelyn pelan, “kita hanya bertahan.”

Kata-kata itu jatuh tanpa emosi, namun justru karena itu terasa lebih jujur.

Ameli memalingkan wajahnya sedikit. “Kamu tidak tahu apa yang kamu katakan.”

“Mungkin,” jawab Evelyn tenang, “tapi aku ingin tahu.”

Ameli kembali menatapnya. “Dan kalau apa yang kamu temukan tidak seperti yang kamu harapkan?”

“Aku akan menerimanya.”

“Semudah itu?”

“Tidak pernah mudah,” balas Evelyn. “Tapi aku tidak ingin terus hidup tanpa tahu.”

Sunyi kembali hadir.

Namun kali ini—

Lebih dalam.

Lebih personal.

Ameli melangkah lebih dekat, berdiri tepat di hadapan Evelyn. “Kamu sudah sampai di sini. Kelas A. Kamu punya pilihan yang tidak dimiliki banyak orang.”

Evelyn mengangguk pelan.

“Dan kamu akan menggunakan itu… untuk sesuatu yang belum kamu pahami sepenuhnya?”

Evelyn tidak ragu kali ini. “Ya.”

Ameli menutup matanya sejenak.

Seolah mengingat sesuatu.

Atau… seseorang.

Ketika ia membuka mata lagi, tatapannya berubah.

Bukan lagi sekadar seorang guru.

Melainkan seseorang yang pernah melihat akhir dari jalan yang sama.

“Kamu mengingatkanku pada seseorang,” katanya pelan.

Evelyn tidak bertanya siapa.

Namun ia tahu.

Atau setidaknya… ia bisa menebak.

“Aku tidak akan menghentikanmu,” lanjut Ameli. “Karena aku tahu itu tidak akan berhasil.”

Evelyn sedikit terkejut.

Namun tidak menunjukkan.

“Tapi aku akan mengatakan satu hal.”

Evelyn menunggu.

“Jangan menganggap dunia manusia sebagai jawaban.”

Evelyn terdiam.

“Karena terkadang,” lanjut Ameli, “yang kita cari bukan ada di tempat lain… tapi hilang di dalam diri kita sendiri.”

Kata-kata itu menggantung di udara.

Tidak memaksa.

Namun sulit diabaikan.

Evelyn menunduk sedikit.

Bukan karena ragu.

Namun karena… berpikir.

Lalu perlahan, ia mengangkat wajahnya kembali.

“Kalau begitu,” katanya pelan, “aku akan mencarinya.”

Ameli tidak menjawab.

Hanya menatapnya.

Dan untuk pertama kalinya—

Ia tidak mencoba menghentikannya lagi.

Evelyn berbalik.

Langkahnya tenang.

Namun berbeda dari sebelumnya.

Kini, setiap langkahnya tidak lagi hanya didorong oleh rasa penasaran.

Tetapi oleh sesuatu yang lebih dalam.

Sesuatu yang bahkan ia sendiri belum bisa jelaskan sepenuhnya.

Di luar, langit mulai gelap.

Namun bagi Evelyn—

Jalannya justru semakin jelas.

Karena di ujung sana, di dunia yang belum pernah ia sentuh—

Ada jawaban yang menunggunya.

Atau mungkin…

Ada dirinya yang sebenarnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!