"Nyaris Jadi Kita" mengisahkan transformasi emosional dan profesional Arelia dari seorang wanita yang hanya dianggap sebagai "tempat pulang" bagi masa lalunya, menjadi "Arsitek Takdir" yang menyelamatkan dinasti korporat Adhitama Group di tengah kiamat finansial global. Melalui perjalanan penuh intrik dari Jakarta hingga London, Arelia berhasil menepis bayang-bayang pengkhianatan dan manipulasi pasar untuk membangun kedaulatan energinya sendiri, hingga akhirnya ia menyadari bahwa tujuan hidup yang paling agung bukanlah untuk bersandar pada pria mana pun, melainkan untuk menjadi muara bagi kebahagiaan dan harga dirinya yang mandiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Benteng
Selasa pagi ini, matahari Jakarta terasa sedikit lebih tajam, memantul di kaca-kaca gedung SCBD dengan intensitas yang seolah ingin menelanjangi setiap rahasia yang tersimpan di dalamnya. Aku melangkah masuk ke lobi kantor dengan perasaan yang berbeda. Jika dulu aku merasa seperti seorang prajurit yang bersiap untuk melindungi rajanya, kini aku merasa seperti seorang ratu yang baru saja merebut kembali takhtanya.
Aku mengenakan setelan jas berwarna abu-abu arang dengan aksen putih di bagian kerah. Penampilanku hari ini adalah sebuah benteng. Aku ingin dunia melihat bahwa Arelia yang lunak dan mudah luluh sudah terkubur di bawah tumpukan kekecewaan masa lalu.
Begitu pintu lift terbuka di lantai lima belas, suasana yang biasanya bising dengan suara telepon dan ketikan papan tik mendadak berubah menjadi kesunyian yang canggung. Aku bisa merasakan tatapan-tatapan yang mengikuti langkahku. Kali ini, bisik-bisik itu bukan lagi tentang seberapa hebat Kaivan, melainkan tentang seberapa beraninya aku.
"Pagi, Rel," sapa Maya dengan suara yang lebih kencang dari biasanya, seolah sengaja ingin memecah keheningan. "Gila, ya. Postingan itu sudah sampai ke grup manajemen atas."
Aku menghentikan langkahku di depan kubikel Maya. "Postingan apa?"
Maya menyerahkan ponselnya padaku. Di sana, di sebuah akun gosip kantor yang anonim, terpajang sebuah tangkapan layar dari cerita Instagram Nadine. Foto itu memperlihatkan Nadine yang sedang menangis di ranjang rumah sakit, dengan keterangan yang sangat provokatif:
“Terkadang, kesuksesan profesional harus dibayar dengan hilangnya empati. Seseorang yang dulu dianggap saudara, kini bahkan tega mengabaikan nyawa demi mengejar posisi dan perhatian pria berkuasa. Semoga ambisimu membawamu pada kebahagiaan yang sejati.”
Aku menarik napas panjang. Nadine tidak menyebutkan namaku secara eksplisit, namun semua orang di gedung ini tahu siapa yang dimaksud. Ia sedang membangun narasi bahwa aku adalah wanita yang ambisius dan tak berperasaan, wanita yang "menjual" rasa kemanusiaannya demi mendekati Bastian Adhitama.
"Ini murahan sekali," gumamku sambil mengembalikan ponsel Maya.
"Murahan tapi efektif, Rel. Orang-orang suka drama 'wanita malang vs wanita ambisius'. Kamu harus hati-hati. Kaivan sepertinya juga mulai menyebarkan cerita versi dia di ruang merokok tadi pagi," Maya memperingatkan.
Aku hanya mengangguk, lalu berjalan menuju mejaku. Baru saja aku duduk, bayangan Kaivan sudah menutupi layarku.
"Sudah lihat?" tanya Kaivan. Suaranya rendah, penuh dengan nada kemenangan yang terselubung dalam kepura-puraan simpati. "Sudah kubilang, Rel. Jangan terlalu keras. Sekarang seluruh kantor melihatmu sebagai orang jahat. Kalau kamu mau, aku bisa bantu bicara ke Nadine untuk hapus postingan itu, asalkan kamu mau bantu aku soal..."
"Soal laporan vendor C yang belum kamu selesaikan?" aku memotong kalimatnya tanpa mendongak. "Atau soal memintaku mencabut laporan kinerjamu ke Pak Dimas?"
Kaivan terperangah. "Rel, ini soal reputasimu! Kamu nggak peduli kalau orang-orang mengira kamu menggunakan cara kotor untuk mendekati Bastian?"
Aku mendongak, menatapnya dengan tatapan yang sangat dingin hingga ia tampak sedikit mundur. "Reputasiku dibangun di atas data yang akurat dan kerja keras selama tujuh tahun, Kaivan. Bukan di atas postingan Instagram seorang wanita yang sedang mencari panggung drama. Jika orang-orang ingin percaya pada narasi Nadine, silakan. Tapi di kantor ini, kompetensi adalah mata uang utama. Dan saat ini, kamu sedang bangkrut."
"Kamu benar-benar sudah nggak punya hati ya, Rel," desis Kaivan.
"Aku punya hati, Kaivan. Tapi sekarang aku sudah memasang benteng di sekelilingnya. Dan kamu... kamu sudah lama berada di luar benteng itu," jawabku mantap.
Pukul sepuluh pagi, sebuah email masuk ke kotak suratku. Dari Bastian.
Subject: Fokus.
Arelia, jangan biarkan kebisingan kecil di luar sana mengganggu frekuensimu. Saya sudah melihat postingan tersebut. Tim legal saya sedang memantau jika ada unsur pencemaran nama baik yang bisa merugikan proyek kita. Untuk saat ini, teruslah bersinar. Saya akan menjemputmu jam dua belas untuk makan siang dengan Dewan Komisaris.
Senyum tipis terukir di bibirku. Bastian tidak hanya memberiku pekerjaan; ia memberiku perlindungan yang bahkan tidak pernah terpikirkan oleh Kaivan selama tujuh tahun terakhir.
Tepat pukul dua belas, aku melangkah keluar dari divisi riset. Kaivan yang sedang duduk lesu di mejanya menatapku dengan kebencian yang nyata saat melihatku masuk ke dalam lift VIP bersama Bastian yang sudah menunggu di lobi.
Makan siang itu diadakan di sebuah restoran privat di lantai paling atas gedung Adhitama. Di meja itu duduk tiga orang pria paruh baya yang merupakan pemegang saham utama. Aku merasa sedikit gentar, namun Bastian meletakkan tangannya sebentar di atas punggung tanganku sebelum memulai.
"Bapak-bapak, ini adalah Arelia. Otak di balik efisiensi triliunan rupiah yang akan kita capai kuartal ini," Bastian memperkenalkanku dengan nada yang sangat bangga.
Sepanjang makan siang, aku menjelaskan strategi risetku. Aku bicara tentang angka, tentang risiko, dan tentang masa depan. Tak sekalipun mereka bertanya tentang drama yang sedang viral. Di dunia mereka, hasil adalah segalanya.
"Luar biasa," ucap salah satu komisaris. "Bastian, kamu benar. Nona Arelia adalah aset yang langka. Kami setuju untuk menaikkan anggaran riset sesuai proposalnya."
Saat kami berjalan kembali ke mobil, Bastian menatapku dengan binar mata yang berbeda. "Kamu melakukannya lagi, Arelia. Kamu membuat mereka terkesan hanya dalam waktu satu jam."
"Terima kasih atas panggungnya, Bastian."
"Panggung itu milikmu sejak dulu. Kamu hanya baru menyadarinya sekarang," Bastian membukakan pintu mobil untukku. "Soal Nadine... jangan khawatir. Saya sudah meminta asisten saya untuk menyiapkan kontrak eksklusifitas. Jika dia terus melakukan serangan personal, dia akan berhadapan dengan kontrak hukum Adhitama Group karena dianggap mengganggu integritas profesional mitra strategis kami."
"Kamu tidak perlu sejauh itu, Bastian."
"Saya perlu. Karena melindungi aset saya adalah tanggung jawab saya. Dan kamu... kamu lebih dari sekadar aset bagi saya," ucapnya, suaranya merendah dan terasa sangat dalam.
Kembali ke kantor, suasana sudah jauh lebih tenang. Sepertinya kabar tentang makan siangku dengan jajaran komisaris sudah tersebar, menenggelamkan gosip murahan dari Nadine. Di meja kerjaku, aku menemukan sebuah memo dari Pak Dimas.
“Arelia, selamat atas kenaikan anggaran riset. Kamu resmi dipindahkan ke ruangan kantor privat di sebelah ruangan saya mulai besok. Kaivan akan tetap di kubikel lamanya.”
Aku menatap kubikel Kaivan. Pria itu tampak sedang menelepon seseorang dengan emosi yang meledak-ledak. Mungkin ia sedang mengomeli Nadine karena rencana mereka untuk menjatuhkanku justru berbalik menjadi bumerang.
Aku mulai merapikan barang-barangku. Aku mengambil foto lama kami yang selama tujuh tahun ini terselip di sudut meja. Foto saat kami baru mulai bekerja, tersenyum lebar penuh harapan. Aku merobek foto itu tepat di tengah, memisahkan gambarku dan gambarnya. Gambarnya kumasukkan ke dalam tempat sampah, sementara gambarku kusimpan di dalam tas.
Aku melangkah keluar dari kantor dengan perasaan yang benar-benar merdeka. Benteng yang kubangun kini sudah sempurna. Di luar sana, Jakarta mulai menyalakan lampu-lampunya, dan untuk pertama kalinya, aku tidak lagi merasa sebagai bagian dari kegelapan.
Nyaris jadi kita?
Tidak. Cerita itu sudah selesai di bab sebelumnya. Mulai malam ini, ceritanya adalah tentang aku, bentengku, dan masa depan yang cahayanya mulai terlihat di cakrawala.
Aku adalah Arelia. Dan aku bukan lagi pelabuhan yang bisa kamu datangi sesuka hati saat kapalnya karam. Aku adalah pulau yang harus kamu perjuangkan untuk bisa berlabuh, dan sayangnya, Kaivan... kamu sudah kehilangan izinmu.
tarik nafas dulu Thor,terkadang kita harus lebih gila untuk menghadapi kegilaan org lain