"Aku sudah menaklukkan ribuan dunia, menghancurkan dewa-dewa kuno, dan memimpin pasukan bintang. Sekarang? Aku hanya ingin memastikan sawiku tidak dimakan ulat."
Zhou Ji Ran adalah legenda yang terlupakan—secara harfiah. Setelah menyelesaikan misi terakhir dari "Sistem Penguasa Multisemesta" yang mahakuasa, sistem tersebut hancur dan menghapus setiap jejak keberadaan Zhou Ji Ran dari memori seluruh makhluk di multisemesta. Dia bebas. Tanpa beban, tanpa misi, dan tanpa musuh yang mengejarnya.
Kini, ia hanya seorang pemuda 25 tahun yang hidup santai sebagai petani di pinggiran Desa Jinan yang terpencil. Baginya, kebahagiaan adalah melihat matahari terbit dan menyeruput teh pahit di teras rumah kayu sederhananya.
Namun, kedamaian "pensiunnya" hancur saat seorang murid jenius dari sekte besar, yang bersimbah darah dan ketakutan, mendobrak pintunya dan memohon perlindungan.
apakah sang penguasa akan kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kairon04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Delapan Belas
Cahaya fajar yang menyembur dari ufuk timur Desa Jinan hari ini membawa gairah yang berbeda. Jika pagi-pagi sebelumnya udara dipenuhi dengan ketenangan yang meditatif, pagi ini getaran kegembiraan yang murni seolah-olah merambat melalui setiap butir tanah. Padi Surgawi yang ditanam di lereng bukit timur telah mencapai puncak kematangannya. Setiap bulirnya tidak lagi hanya berwarna keemasan, tetapi memancarkan cahaya murni yang begitu terang hingga kabut pagi yang menyelimuti lembah tampak seperti lautan permata cair yang berkilauan. Pemandangan ini begitu megah sehingga naga-naga perak di tepi sungai berhenti memutar kincir sejenak hanya untuk menatap ke arah bukit dengan tatapan penuh rasa hormat.
Zhou Ji Ran berdiri di teras rumahnya, mengenakan pakaian petani yang paling nyaman: celana rami cokelat tua yang sudah agak pudar warnanya dan baju putih longgar yang lengannya digulung hingga siku. Di lehernya tersampir handuk kecil yang akan segera ia gunakan untuk menyeka keringat. Ia menggenggam sebuah sabit tua yang bilahnya tampak sangat biasa, berkarat di beberapa bagian, namun jika seseorang melihat dengan mata batin yang tajam, mereka akan menyadari bahwa sabit itu adalah "Pemisah Dimensi" yang pernah memotong takdir ribuan bintang.
"Hari ini adalah waktunya," gumam Zhou Ji Ran. Ia menyesap teh pahitnya yang terakhir untuk pagi ini, merasakan kehangatan cairan itu mengalir ke perutnya, memberikan energi yang tenang dan stabil.
Lin Xiaoqi keluar dengan membawa keranjang-keranjang bambu berukuran raksasa yang sudah dilapisi kain sutra halus di dalamnya. Di belakangnya, Ye Hua berjalan dengan langkah tegap, membawa sepuluh buah sabit yang baru saja ia asah di bawah Pohon Memori. Bilah-bilah sabit itu berkilau dengan ketajaman yang bisa membelah helai rambut yang jatuh tertiup angin.
"Tuan, semua persiapan sudah selesai. Masyarakat desa sudah berkumpul di kaki bukit, mereka sangat antusias melihat hasil panen kita," lapor Lin Xiaoqi dengan mata yang berbinar.
"Bagus. Beritahu mereka bahwa hari ini adalah pesta untuk semua orang. Tapi sebelum kita mulai berpesta, kita harus menyelesaikan pekerjaan berat ini terlebih dahulu," jawab Zhou Ji Ran. Ia menoleh ke arah Zhang Tian yang sedang menginstruksikan Sembilan Tetua Awan untuk menyiapkan area penjemuran. "Zhang Tian! Pastikan tanah tempat penjemuran sudah benar-benar bersih dan dialasi dengan tikar bambu yang kita buat kemarin. Padi ini tidak boleh menyentuh debu biasa."
"Siap, Tuan Zhou! Semuanya sudah diatur!" Zhang Tian menyahut dengan semangat. Sang mantan Penegak Hukum itu kini tampak jauh lebih lincah; ia tidak lagi terlihat seperti pejabat yang kaku, melainkan seperti mandor tani yang sangat kompeten.
Zhou Ji Ran berjalan menuju lereng bukit, diikuti oleh tim "bangsawan" dan "dewa" yang kini telah bertransformasi menjadi buruh tani paling elit di semesta. Jenderal Han memimpin barisan dengan membawa karung-karung kosong di pundaknya, sementara Pangeran Long Wei membawa guci-guci air minum untuk para pekerja. Di barisan paling belakang, Zhao Mu—sang mantan Penilai Takdir—membawa papan kayu dan kuas emasnya, siap untuk mencatat setiap liter padi yang dipanen.
Saat mereka sampai di tepi ladang, aroma Padi Surgawi yang matang menyergap indra penciuman mereka. Bau itu begitu harum, seperti perpaduan antara wangi susu segar, bunga melati, dan esensi murni dari langit. Su Ruo sudah mengambil tempat di sebuah anjungan kayu kecil yang sengaja dibangun di tengah ladang. Ia mulai memetik senar kecapinya, memainkan melodi "Lagu Syukur Bumi". Melodi ini berfungsi untuk menenangkan energi spiritual yang terkandung di dalam padi agar tidak meledak saat dipotong.
"Mulai!" perintah Zhou Ji Ran.
Ia melangkah masuk ke dalam barisan padi pertama. Dengan gerakan yang sangat anggun dan efisien, ia mengayunkan sabitnya. Setiap ayunan Zhou Ji Ran seolah-olah menari mengikuti irama musik Su Ruo. Ia tidak hanya memotong batang padi; ia seolah sedang melakukan upacara penghormatan kepada tanah. Padi-padi itu jatuh dengan rapi ke dalam pelukannya, dan segera dipindahkan ke dalam keranjang oleh Lin Xiaoqi.
Ye Hua mengikuti di baris sebelah kanan. Gerakannya sangat cepat dan presisi. Teknik "Pedang Pencabut Akar" yang ia miliki kini ia terapkan pada setiap tebasan sabit. Ia tidak membuang satu butir pun. Para murid Sekte Matahari Terbit yang dipimpin oleh Sun Bo bekerja di baris-baris belakang, mengumpulkan sisa-sisa batang padi untuk dijadikan pakan ternak.
"Luar biasa... energi di dalam satu butir padi ini setara dengan satu butir pil spiritual tingkat tinggi," gumam Sun Bo sambil memegang sebulir padi emas. Ia merasa sangat beruntung; meskipun ia menjadi buruh, ia diizinkan untuk menghirup aroma pencerahan ini sepanjang hari.
Pekerjaan panen berlangsung selama beberapa jam dengan ritme yang sangat lambat namun pasti. Zhou Ji Ran tidak ingin terburu-buru. Baginya, setiap detik proses ini adalah bagian dari kenikmatan hidup. Ia sesekali berhenti untuk menyeka keringat atau sekadar memperhatikan bagaimana Pangeran Long Wei sedang tertawa bersama naga-naga perak yang ikut membantu mengangkut keranjang berat menggunakan punggung mereka.
Namun, di tengah kemeriahan panen raya tersebut, suasana tiba-tiba berubah. Angin yang tadinya sepoi-sepoi seketika berhenti bertiup. Suhu udara turun drastis hingga mencapai titik beku dalam hitungan detik. Kabut pelangi di sekitar desa seketika menghitam, seolah-olah ada tinta gelap yang dituangkan ke dalam air jernih.
Su Ruo berhenti memetik kecapinya karena senar-senarnya tiba-tiba membeku. "Tuan! Ada sesuatu yang datang! Sesuatu yang sangat besar!"
Zhou Ji Ran menegakkan punggungnya, menatap ke arah langit yang kini terbelah membentuk pusaran awan ungu tua yang mengerikan. Dari pusat pusaran tersebut, muncul tiga kereta perang raksasa yang terbuat dari tulang naga kuno dan logam hitam. Masing-masing kereta ditarik oleh empat ekor Chimera api yang meraung dengan suara yang merobek langit.
Di atas kereta paling depan berdiri seorang pria tua dengan rambut putih panjang yang berkobar seperti api perak. Ia mengenakan jubah kebesaran yang dihiasi dengan simbol-simbol konstelasi bintang yang sudah mati. Di tangannya, ia memegang sebuah tongkat yang di puncaknya tertanam sebuah mata raksasa yang terus berkedip—Mata Kehancuran.
Namanya adalah Leluhur Agung Langit Sembilan, sosok yang dianggap sebagai leluhur dari seluruh Aliansi Dua Belas Sekte Ilahi. Ia adalah entitas yang kekuatannya sudah mencapai tahap setengah langkah menuju Keabadian Sejati. Di belakangnya, berdiri ribuan prajurit "Pelindung Abadi" yang masing-masing memiliki kultivasi di tahap Nirvana.
"Penyimpangan takdir di desa ini telah mencapai batas yang tidak bisa ditoleransi!" suara Leluhur Agung menggelegar, membuat pegunungan di sekitar Desa Jinan bergetar hebat. "Zhou Ji Ran! Kau telah mencuri esensi dunia untuk kepentingan pribadimu! Kau telah menawan putra mahkota, jenderal agung, dan penegak hukum kami! Hari ini, aku akan meratakan tempat ini dan mengambil Padi Surgawi itu sebagai kompensasi atas kerugian semesta!"
Leluhur Agung mengarahkan Mata Kehancurannya ke arah ladang padi. Sebuah sinar ungu gelap meluncur turun, bermaksud untuk mengubah seluruh hasil panen menjadi abu dalam sekejap.
Melihat serangan itu, Pangeran Long Wei dan Jenderal Han segera melompat maju, berniat menghalangi dengan tubuh mereka. Namun, Zhou Ji Ran hanya melambaikan tangan kirinya, memberikan tekanan gravitasi yang lembut namun memaksa kedua asistennya itu untuk tetap berada di tempat.
"Jangan ganggu pekerjaanku. Panen ini harus diselesaikan sebelum makan siang," ucap Zhou Ji Ran dengan nada datar.
Ia tidak mengangkat sabitnya. Ia hanya mengambil sebuah bakul bambu kosong yang tadinya digunakan Xiaoqi untuk menaruh kerikil. Ia melemparkan bakul itu ke udara ke arah sinar ungu yang mematikan.
Bakul bambu yang tampak rapuh itu berputar di udara. Saat sinar ungu menghantamnya, alih-alih hancur, bakul itu justru bertindak seperti sebuah lubang hitam kecil. Sinar energi kehancuran yang masif itu tersedot masuk ke dalam anyaman bambu, terkompresi hingga menjadi seukuran kacang polong, dan akhirnya jatuh kembali ke tangan Zhou Ji Ran.
"Anyaman bambu ini sangat bagus dalam menyerap energi statis," komentar Zhou Ji Ran sambil mengamati bakulnya yang kini memancarkan sedikit cahaya ungu redup.
Leluhur Agung Langit Sembilan tertegun di atas keretanya. Ia tidak percaya bahwa serangan terkuat dari Mata Kehancuran bisa dihentikan oleh sebuah bakul bambu. "Siapa... siapa kau sebenarnya?! Tidak ada catatan tentang kekuatan semacam ini di seluruh pustaka langit!"
"Aku sudah bilang berkali-kali, aku hanya petani," Zhou Ji Ran berjalan perlahan menuju batas ladang, menatap ke arah Leluhur Agung di langit. "Dengar, Pak Tua. Kau datang di hari yang salah. Hari ini adalah hari panen raya. Semua orang sedang bahagia, dan kau baru saja membekukan senar kecapi Su Ruo. Itu adalah pelanggaran etika yang berat di desaku."
Leluhur Agung murka. "Mati kau, rakyat jelata sombong! Aktifkan Formasi Pemusnahan Bintang Sembilan!"
Ribuan prajurit Pelindung Abadi mulai bergerak, membentuk formasi geometri rumit di langit. Cahaya dari ribuan pedang mereka menyatu, menciptakan sebuah pedang raksasa yang panjangnya mencapai beberapa mil, siap untuk membelah Desa Jinan menjadi dua bagian.
Zhou Ji Ran menghela napas panjang. Ia menoleh ke arah Chen Long yang sedang memanaskan kuali besar di dapur restoran. "Chen Long! Apakah kau sudah menyiapkan bumbu untuk makan siang?"
"Sudah, Tuan! Tapi saya kekurangan kayu bakar untuk api yang sangat panas!" teriak Chen Long dari kejauhan.
"Bagus. Sepertinya kayu bakar berkualitas tinggi baru saja diantarkan dari langit," ucap Zhou Ji Ran dengan senyum tipis.
Zhou Ji Ran melakukan satu gerakan: ia melempar sabit tuanya ke arah formasi prajurit di langit. Sabit itu tidak terbang dengan kecepatan tinggi, ia meluncur dengan santai seperti burung yang sedang bermigrasi. Namun, saat sabit itu melewati pedang raksasa dari cahaya energi, pedang tersebut seketika hancur berkeping-keping menjadi partikel debu tanpa suara.
Sabit itu terus terbang, memutari ketiga kereta perang naga kuno. Dalam sekejap, jalinan energi yang menahan kereta-kereta itu terputus. Ketiga kereta perang raksasa beserta Leluhur Agung dan para prajuritnya mendadak kehilangan daya terbang mereka.
"Apa?! Gravitasiku... kultivasiku menghilang?!" Leluhur Agung berteriak panik saat ia merasakan tubuhnya menjadi seberat gunung dan ditarik turun menuju bumi.
*BUMMM! BUMMM! BUMMM!*
Ketiga kereta perang itu jatuh bergedebuk di area lereng utara yang baru saja dibersihkan oleh para murid Sekte Matahari Terbit. Prajurit Pelindung Abadi jatuh bergelimpangan di tanah, baju zirah emas mereka yang gagah kini tertutup lumpur dan kotoran ayam yang belum sempat disapu bersih.
Zhou Ji Ran berjalan mendekati lokasi jatuhnya kereta. Sabitnya kembali ke tangannya secara otomatis, seolah-olah memiliki nyawa sendiri. Ia berdiri di depan Leluhur Agung yang kini sedang merangkak keluar dari puing-puing kereta naga dengan wajah yang dipenuhi debu.
"Leluhur Agung, kan?" Zhou Ji Ran berjongkok di depannya. "Kereta perangmu ini terbuat dari Kayu Pinus Hitam Kuno. Itu adalah jenis kayu yang sangat bagus karena bisa menghasilkan panas yang stabil dan tahan lama. Chen Long sedang butuh banyak kayu bakar untuk merebus sepuluh kuali nasi Padi Surgawi. Jadi, tugas pertamamu hari ini adalah membelah keretamu sendiri menjadi potongan-potongan kayu bakar."
Leluhur Agung menatap Zhou Ji Ran dengan mata terbelalak. "Kau... kau ingin aku menghancurkan Kereta Naga Abadi... untuk dijadikan kayu bakar?!"
"Tentu saja. Daripada hanya melayang di langit dan menakut-nakuti orang, lebih baik dia berguna untuk perut kita. Dan prajurit-prajuritmu itu... mereka tampak sangat disiplin. Mereka akan menjadi tim pemanen tahap kedua di bagian puncak bukit. Xin Yan! Berikan mereka sabit!" perintah Zhou Ji Ran.
Xin Yan muncul dari balik kerumunan, membawa seikat sabit cadangan dengan senyum yang sangat lebar. "Dengan senang hati, Tuan!"
Dalam waktu kurang dari satu jam, ancaman terbesar dari Aliansi Dua Belas Sekte telah direduksi menjadi tim pengumpul kayu bakar dan buruh tani tambahan. Leluhur Agung Langit Sembilan, sosok yang ditakuti oleh seluruh benua, kini terlihat memegang kapak besar dan membelah roda kereta perangnya sendiri dengan linangan air mata. Ia tidak bisa melawan; setiap kali ia mencoba mengumpulkan energi, tekanan aura dari Zhou Ji Ran membuatnya merasa seolah-olah seluruh semesta sedang menindih pundaknya.
"Nah, sekarang semua orang sudah memiliki pekerjaan. Mari kita lanjutkan panennya!" seru Zhou Ji Ran.
Pekerjaan panen berlangsung hingga tengah hari. Berkat bantuan dari ribuan prajurit Pelindung Abadi, seluruh bukit Padi Surgawi berhasil dipanen dalam waktu singkat. Karung-karung berisi padi emas bertumpuk-tumpuk di gudang emas, memancarkan cahaya yang menerangi seluruh desa.
Saat matahari tepat di atas kepala, Chen Long mengumumkan bahwa makan siang sudah siap. Di alun-alun desa, meja-meja panjang telah ditata. Nasi Padi Surgawi yang baru saja dipanen telah dimasak menjadi nasi putih yang sangat pulen dan harum. Aroma nasi itu sendiri sudah cukup untuk membuat siapa pun yang menciumnya merasa seolah-olah mereka baru saja naik tingkat kultivasi.
Zhou Ji Ran duduk di meja utama bersama Gu Lao, Lin Xiaoqi, Ye Hua, dan Su Ruo. Di sekeliling mereka, ribuan pekerja—mulai dari pangeran hingga mantan musuh—duduk bersama menikmati hidangan sederhana namun luar biasa tersebut.
Leluhur Agung Langit Sembilan duduk di pojok meja, memegang mangkuk tanah liat berisi nasi Padi Surgawi. Tangannya yang lecet karena membelah kayu gemetar saat ia menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya. Begitu rasa nasi itu menyentuh lidahnya, matanya seketika membelalak. Rasa manis, gurih, dan aliran energi murni yang lembut meledak di dalam tubuhnya, memperbaiki luka-luka lama dalam meridiannya yang tidak bisa disembuhkan bahkan oleh pil dewa sekalipun.
"Ini... ini bukan sekadar padi..." bisik Leluhur Agung. Ia menatap ke arah Zhou Ji Ran yang sedang asyik bercanda dengan Xiaoqi. "Pria itu... dia tidak sedang menghukum kita. Dia sedang memberikan pencerahan melalui kerja keras dan rasa syukur."
Gu Lao menyenggol lengan Zhou Ji Ran. "Lihatlah Pak Tua itu, Ji Ran. Dia mulai menangis. Sepertinya masakan Chen Long dan beras barumu benar-benar menghancurkan pertahanan batinnya."
Zhou Ji Ran tersenyum tipis. "Makanan yang baik bisa mengubah musuh menjadi kawan lebih cepat daripada pedang mana pun, Gu Lao."
Pesta panen berlanjut hingga sore hari. Penduduk Desa Jinan yang asli juga ikut bergabung, menari dan menyanyi bersama para ahli dunia atas yang kini sudah tidak peduli lagi dengan status mereka. Untuk pertama kalinya dalam sejarah dunia, tidak ada perbedaan antara manusia biasa dan kultivator; mereka semua hanya manusia yang merayakan hasil bumi.
Namun, di tengah kemeriahan itu, Zhou Ji Ran tetap waspada. Ia merasakan sebuah riak yang sangat jauh di kedalaman ruang hampa. Kehancuran "Gerbang Pemusnahan" dan tertangkapnya "Leluhur Agung" pasti telah memicu alarm di tingkatan yang lebih tinggi lagi—tingkatan para Dewa Pencipta yang mengelola jalannya multisemesta ini.
"Tuan," Ye Hua mendekati Zhou Ji Ran, wajahnya tampak serius meskipun ia masih memegang piring makannya. "Aura dari utara... ia tidak menghilang. Ia justru menjadi lebih pekat. Seolah-olah langit sedang bersiap untuk 'meludah'."
"Aku tahu, Ye Hua. Mereka yang di atas sana merasa bahwa Desa Jinan adalah kanker yang harus dioperasi karena kita tidak mengikuti pola yang mereka buat. Mereka tidak mengerti bahwa kita bukan kanker, kita adalah benih asli yang mereka coba lupakan," jawab Zhou Ji Ran.
Ia berdiri dan berjalan menuju Pohon Memori. Ia menempelkan tangannya ke batang pohon yang berwarna putih gading tersebut. Pohon itu berdenyut, mengirimkan gambaran-gambaran tentang ribuan dunia yang pernah ia selamatkan dan ribuan dunia yang pernah ia hancurkan demi menjalankan misi sistem dulu.
"Dulu aku adalah alat pemusnah mereka," bisik Zhou Ji Ran. "Tapi sekarang, aku adalah pelindung kehidupan ini. Jika mereka ingin datang, biarkan saja. Tapi mereka harus ingat... seorang petani akan melakukan apa pun untuk melindungi tanamannya dari hama, bahkan jika hama itu adalah dewa pencipta sekalipun."
Malam mulai turun menyelimuti Desa Jinan. Lampu-lampu lampion dari kertas emas mulai dinyalakan, memberikan pemandangan yang sangat indah di sepanjang telaga biru. Suara tawa dan musik terus terdengar, menciptakan perisai energi kegembiraan yang sangat kuat di sekitar desa.
Zhou Ji Ran kembali duduk di terasnya, menatap ke arah gudang emas yang kini penuh dengan harta karun yang paling berharga di seluruh dunia: makanan. Ia menyesap teh pahitnya, merasakan kedamaian yang mendalam. Ia tahu bahwa esok pagi akan ada lebih banyak masalah yang datang. Mungkin dewa pencipta akan turun sendiri, atau mungkin realitas ini akan mencoba menghapusnya sekali lagi.
Tapi malam ini, ia hanya ingin menikmati kebahagiaan setelah panen. Ia ingin melihat asisten-asistennya beristirahat dengan perut kenyang. Ia ingin melihat Lin Xiaoqi tersenyum tanpa beban.
"Tuan, apakah kita akan mulai menanam Jagung Perak di lereng barat besok?" tanya Lin Xiaoqi sambil merapikan handuk di bahu Zhou Ji Ran.
"Ya, Xiaoqi. Besok adalah hari yang baru. Dan aku rasa, Leluhur Agung Langit Sembilan itu punya postur tubuh yang sangat cocok untuk mengoperasikan mesin penggiling padi yang baru. Dia akan sangat berguna di sana," jawab Zhou Ji Ran dengan kedipan mata jenaka.
Lin Xiaoqi tertawa. "Kasihan sekali dia, Tuan."
"Jangan kasihan padanya. Dia baru saja mendapatkan kehidupan yang nyata setelah puluhan ribu tahun hidup dalam kesombongan yang kosong," ucap Zhou Ji Ran.
Bintang-bintang di langit tampak bersinar lebih terang, seolah-olah mereka ikut merayakan kemenangan kedamaian di Desa Jinan. Dan di dalam kegelapan yang jauh di atas sana, para pengamat multisemesta hanya bisa menatap dengan penuh kemarahan dan ketakutan pada satu titik kecil di bumi fana yang menolak untuk tunduk pada kehendak mereka.
Zhou Ji Ran memejamkan matanya, mendengarkan simfoni malam yang indah. Perjalanan tanpa sistem ini memang penuh dengan kejutan, dan ia tidak akan pernah menukarnya dengan kekuasaan apa pun. Di sini, di Desa Jinan, ia adalah penguasa atas dirinya sendiri. Dan itu adalah kekuatan yang paling besar di seluruh penciptaan.
"Besok akan menjadi hari yang sibuk lagi," gumamnya pelan sebelum akhirnya terlelap dalam pelukan malam yang penuh dengan aroma melati dan nasi baru.
Segalanya berjalan perlahan, satu benih pada satu waktu, di atas tanah yang kini menjadi pusat dari segala keajaiban. Dan sang petani legenda akan tetap berdiri di sana, menjaga dunianya dengan cangkul di tangan dan kedamaian di hati. Kehidupan ini memang benar-benar luar biasa. Tanpa instruksi apa pun, ia telah menciptakan surga di dunia fana. Dan ia akan memastikan surga itu tidak akan pernah padam.
Panen raya telah selesai, namun pertumbuhan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Setiap butir padi surgawi yang kini tersimpan di gudang adalah saksi bisu atas transformasi jiwa-jiwa yang pernah tersesat dalam kekuasaan. Dan bagi Zhou Ji Ran, itulah arti kesuksesan yang sesungguhnya. Bukan seberapa banyak dunia yang kau taklukkan, tapi seberapa banyak hati yang bisa kau ajarkan untuk mencintai bumi.
Malam semakin larut, dan Desa Jinan pun tenggelam dalam kedamaian yang murni, menanti matahari esok hari untuk kembali memulai ritual kehidupan yang tak lekang oleh waktu. Kehidupan sang mantan pemilik sistem kini telah menjadi legenda yang hidup di setiap butir tanah yang ia injak. Dan perjalanan ini, betapa pun sulitnya tantangan yang akan datang, akan selalu ia hadapi dengan senyum yang paling tenang.
"Selamat tidur, kawan-kawan. Besok kita mulai bekerja lagi," bisik angin di sela-sela daun Pohon Memori.
Dan begitulah, satu babak besar telah terlampaui, menyisakan jejak-jejak cahaya yang akan menerangi jalan menuju masa depan yang penuh dengan kemungkinan. Tanpa perintah sistem, Zhou Ji Ran telah menemukan rumahnya yang abadi. Dan tidak ada kekuatan di multisemesta ini yang bisa merebutnya darinya. Kehidupan ini memang sangat indah._