NovelToon NovelToon
Clara Ingin Bercerai Dari Suaminya

Clara Ingin Bercerai Dari Suaminya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Saskiah Khairani

Setelah menikah selama tujuh tahun, Edward tetap saja begitu dingin, Clara hanya bisa menghadapinya dengan tersenyum. Semua karena dia sangat mencintainya. Dia juga percaya suatu hari nanti, dia bisa melelehkan es di dalam hatinya. Akan tetapi pada akhirnya Edward malah jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap cewek lain. Clara tetap bersikeras menjaga rumah tangganya. Hingga di hari ulang tahunnya, putrinya yang baru saja pulang dari luar negeri, dibawa oleh Edward untuk menemani cewek itu, meninggalkannya sendirian di rumah kosong. Dia akhirnya putus asa. Melihat putri yang dibesarkannya sendiri akan menjadi anak dari cewek lain, Clara tidak merasa sedih lagi. Dia menyiapkan surat cerai, menyerahkan hak asuh anaknya, dan pergi dengan gagah, tidak pernah menanyakan kabar Edward dan anaknya lagi, hanya menunggu proses perceraian selesai. Dia menyerah atas rumah tangganya, kembal

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saskiah Khairani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Tepat pada saat ini, Farel kebetulan berada di ruang pantry kantor.

Mendengar percakapan yang terjadi, dia tertegun sejenak.

Selama ini, baik dia maupun Rio merasa kalau Clara tidak akan pernah rela meninggalkan perusahaan.

Mereka juga yakin Clara akan mencari kesempatan untuk tetap bertahan, apa pun yang terjadi.a

Kemarin, saat Hilda yang akan menggantikan Clara tiba di perusahaan, mereka mengira Clara akan mengambil langkah antisipasi.

Bagaimanapun, Hilda memiliki paras yang cantik.

Clara mana mungkin akan membiarkan wanita seperti itu berada di sisi Edward.

Namun, dalam dua hari terakhir, Clara bukan hanya menerima kehadiran Hilda, tapi juga mulai akrab dengannya. Bahkan sekarang, dia berniat mengajari Hilda bagaimana cara membuat kopi yang sesuai dengan selera Edward?

Ini Sebenarnya apa yang terjadi?

Clara tentu tidak menyadari kebingungan yang ada dalam benak Farel.

Baginya, cukup menyelesaikan pekerjaan yang menjadi rutinitasnya selama ini. Dia juga menolak ajakan Hilda untuk mentraktirnya makan. Saat tiba waktunya pulang, dia berencana langsung pulang ke rumah. Setibanya di rumah nanti, dia mau melanjutkan riset tentang kecerdasan buatan atau Al setelah selesai makan malam.

Baru saja meninggalkan perusahaan, ponsel miliknya berdering.

Telepon dari Elsa.

"Mama sudah selesai kerja?" tanya Elsa.

"Ada apa?" tanya Clara sembari masuk ke dalam mobil.

"Aku mau makan daging goreng tepung dan sup daging kentang. Mama bisa masak itu buatku?" pinta Elsa.

Clara terdiam.

Sampai saat ini, dia dan Edward masih belum resmi bercerai. Edward juga belum memintanya meninggalkan rumah itu.

Harusnya sih, tidak masalah jika dirinya kembali hanya untuk memasak makan malam untuk putrinya.

Namun...

Sekarang dia sedang capek, apalagi dia sudah punya rencana sendiri.

Sebagai seorang ibu, Clara memang bertanggung jawab atas Elsa. Hanya saja, dia juga punya kehidupannya sendiri. Dia tidak mau berkorban tanpa pamrih lagi.

"Hari ini Mama sibuk, lain kali aja, ya," jawab Clara.

Sebelumnya, Clara selalu mengutamakan Edward dan Elsa dalam segala hal. 2

Dia hampir tidak pernah menolak permintaan mereka.

Tapi hari ini, dia sudah dua kali mendengar Clara menolak.

Elsa tentu tidak menyadari hal itu. Dia hanya beranggapan ibunya benar-benar sibuk hari ini. Meski begitu, dia tidak terbiasa dengan penolakan yang Clara lakukan. Itu karena dia terbiasa diutamakan Clara.

"Kenapa sih belakangan ini Mama bilang sibuk terus? Aku nggak mau tahu, aku makan daging goreng tepung dan sup daging kentang!" ucapnya kesal.

"Elsa..."

Clara tampak pusing dibuatnya.

Setelah mendengus kesal, Elsa langsung menutup teleponnya.

Clara terduduk di kursi kemudi, matanya memerah dan sembab. Setelah menutup matanya dan merasa tenang, barulah dia mengemudikan mobilnya meninggalkan perusahaan.

Sesampainya di rumah, dia hanya menyantap mie instan. Baru saja menyalakan laptopnya, Dylan meneleponnya. "Beberapa hari lagi, ada jamuan makan, kamu mau ikut? Aku mau kenalin kamu ke beberapa Aku mau kenalin kamu ke beberapa orang," tanya Dylan di ujung telepon.

"Baiklah."

"Oh iya, kira-kira berapa lama lagi urusanmu di sana selesai?" lanjut Dylan.

"Nggak lama, mungkin beberapa hari lagi."

"Baiklah kalau begitu," ucap Dylan.

Di sisi lain, di kediaman Edward.

Setelah menutup teleponnya, Elsa mengira Clara akan langsung pulang membujuknya dan memasak makan kesukaannya.

Namun, setelah menunggu lama hingga hampir satu jam lebih, Clara tak kunjung tiba.

Sementara waktu sudah menunjukkan hampir jam delapan malam.

Pelayan pun merasa khawatir, lalu membujuknya berkata, "Nona Elsa, Bu Clara masih ada urusan, lebih baik Nona Elsa makan dulu untuk mengganjal perut. Nanti kalau Bu Clara sudah pulang, baru dimasakin..."

"Nggak mau!" Elsa tampak cemberut. Sampai detik ini, ibunya tak kunjung pulang. Bahkan, tidak menghubunginya sama sekali. Kali ini, dia merasa kecewa. Setelah mendengar perkataan pelayan, dia langsung menangis tersedu, sambil berkata, " Aku mau makan masakan mama."

"Tapi..."

Pelayan mengira Clara benar-benar sibuk. Tidak ada cara lain, setelah berpikir, dia pun menghubungi Edward.

Butuh waktu beberapa detik sebelum akhirnya telepon diangkat.

"Ada apa?" tanyanya.

Pelayan menjelaskannya dari awal hingga akhir.

"Beri teleponnya padanya," sahut Edward.

Elsa menerima telepon itu, lalu mengeluh, berkata, "Ayah."

"Makan dulu."

Elsa menyeka air matanya. Dia bersikeras tetap diam tak bicara.

Edward juga diam.

Melihat respon ayahnya, dia semakin menangis menjadi-jadi.

"Akhir pekan ini, Ayah mengajakmu jalan-jalan, terserah mau ke mana," ucap Edward dengan nada datar.

"Beneran ?" Isakan kecil itu pun berhenti.

"Ya, tapi makan dulu."

"Ayah sudah makan?" tanya Elsa.

"Ayah sedang ada tamu."

"Oh..."

"Pergi makan sana." pinta Edward.

"Iya, Ayah."

Elsa masih cemberut, tapi suasana hatinya sudah membaik. Setelah menutup telepon, dia langsung turun untuk makan.

Begitu menutup telepon, Edward kembali ke ruang VIP tempatnya bertemu tamu penting.

"Banyak juga orang yang mau telepon Pak Edward," goda salah satu teman di sana.

"Putriku mengamuk nggak mau makan, barusan baru kubujuk supaya mau makan," jawab Edward sambil menyesap anggurnya.

.....

Saat mendengarnya, reaksi orang-orang pun beragam.

Selama beberapa tahun terakhir, memang ada rumor tentang Edward sudah menikah sejak beberapa tahun lalu. Namun, tak ada seorang pun yang tahu siapa istri Edward.

Sementara itu, ada juga yang bilang kalau Edward belum menikah.

Mereka tidak tahu kebenarannya dan tidak berani bertanya lebih lanjut.

Jadi saat mendengar Edward membahas putrinya, mereka tampak terkejut.

Namun, tidak ada yang berani bertanya lebih lanjut.

Selesai makan malam, Elsa masih terduduk menunggu kepulangan Clara.

Waktu terus berjalan hingga lewat pukul sembilan. Elsa pun sudah selesai mandi, tapi Clara masih tak kunjung pulang.

Dia tak hentinya memperhatikan pergerakan di luar:

Wakım sudah lewat pukul sepuluh malam. Saat terdengar suara deru mesin mobil di luar, mata Elsa berbinar. Dia segera berlari menuruni tangga dan berteriak, "Mama!"

Suaranya yang ceria terhenti begitu melihat sosok Edward masuk ke dalam rumah.

"Ayah?" ucapnya lirih.

Edward menyerahkan mantelnya pada pelayan. Tatapannya tajam tidak melewatkan kekecewaan di wajah putrinya. "Kenapa?" tanyanya pelan.

"Aku kira Mama sudah pulang," ucap Elsa merasa sedih.

Ada yang bilang, di hati seorang anak, hanya ada sosok ibunya, tidak ada sosok ayah. Namun, Edward tidak akan cemburu karena itu. "Dia belum pulang?" tanya Edward setelah tertegun sejenak.

"Iya..."

Edward tidak begitu memikirkannya, lalu lanjut berkata, "Mungkin dia sedang sibuk. Bukannya dia udah janji mengantarmu ke sekolah besok pagi? Lebih baik, kamu cepat tidur. Besok, pasti bisa bertemu dia."

Saat mendengar ucapan Edward, Elsa pun merasa agak senang, lalu berkata, "Baiklah."

Edward melangkah menaiki tangga menuju ruang kerjanya. Saat selesai dengan kesibukannya, waktu sudah hampir dini hari.

Dia mengira, Clara sudah pulang saat dirinya sedang sibuk di ruang kerja.

Namun, ketika kembali ke kamar, dia tidak melihat Clara di sana.

Wanita itu tidak pulang.

Sepertinya, ada sesuatu yang terjadi di Keluarga Hermosa.

Setelah memikirkannya, dia pergi ke kamar mandi dengan tenang.

Keesokan paginya.

Clara bangun lebih awal karena harus mengantar Elsa ke sekolah.

Dia makan seadanya hanya untuk mengganjal perut lalu pergi.

Saat mobil memasuki area vila yang familier, Clara merasa linglung sejenak.

Dia telah tinggal di sini selama hampir tujuh tahun. Namun kini, dalam hanya sekitar dua puluh hari kepergiannya, dia malah merasa seperti sudah lama tak kembali.

Padahal, tak banyak yang berubah dari tempat ini. Semua masih sama.

Namun, hatinya justru merasa asing.

Pelayan buru-buru menyambut kedatangannya. "Bu Clara sudah pulang," ucapnya saat melihat kedatangan Clara.

Clara terdiam sejenak mendengar panggilan pelayan padanya. Dia merasa tak perlu mengoreksinya dan hanya mengiyakan, berkata, "Mana Elsa?"

"Harusnya belum bangun, Bu."

Sebenarnya waktu sudah mendesak. Kalau Elsa tidak segera turun sarapan, mereka akan terlambat ke sekolah.

Namun, dia tidak berniat untuk naik ke atas. Dia hanya meminta Bibi Sari untuk membangunkan putrinya.

"Bu Clara sudah sarapan? Sarapan sudah selesai dibuat, gimana kalau ..."

Clara hanya tersenyum datar, lalu menggelengkan kepala: "Nggak perlu, aku sudah sarapan barusan."

"Oh, begitu. Baik, Bu."

Tepat pada saat ini, Edward tampak menuruni tangga.

Saat melihatnya, Clara tak mengatakan apa pun, hanya sedikit mengangguk tanda sapaan.

Langkah kaki Edward terhenti. Belum sempat dia berbicara, Elsa berlari menuruni tangga dan langsung memeluk ibunya.

Clara membalas pelukannya. "Ayo, udah jam segini, cepat sarapan, gih," ucap Clara sembari membelai rambut Elsa perlahan.

"Oke, Mama."

Ternyata benar, begitu terbangun pagi ini, dia langsung melihat ibunya!

Clara membenamkan kepalanya masuk ke dalam pelukan Clara. Setelah mencium aroma familier dari tubuh Clara, hatinya merasa lebih tenang. " Ayo, Ma. Temani aku makan," ajak Elsa sembari menarik Clara.

Clara tak bergeming, lalu berkata, " Mama sudah sarapan tadi. Kamu makan saja."

"Ya sudah, tapi Mama temani aku ngobrol," rayu Elsa.

Saat mereka sedang bicara, Edward Saat mereka sedang bicara, Edward sudah duduk lebih dulu di meja makan.

Clara tidak mampu menolak permintaan Elsa. Dia pun ikut pergi ke meja makan dan duduk di seberang Edward.

Pelayan membawakan segelas air untuk Clara. Sambil meminum air, Clara duduk dalam diam mendengarkan Elsa yang antusias bercerita tentang apa yang terjadi di sekolah kemarin.

Dia tampak mengabaikan Edward.

Edward tentu menyadari perubahan sikap Clara padanya.

Saat di kediaman Anggasta, Clara juga bersikap gini padanya.

Memikirkan hal itu, Edward mengerutkan keningnya, kegiatan sarapannya pun terhenti sejenak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!