NovelToon NovelToon
Three Princes And The Cat Who Knows Too Much

Three Princes And The Cat Who Knows Too Much

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Epik Petualangan / Keluarga & Kasih Sayang / Penyeberangan Dunia Lain
Popularitas:242
Nilai: 5
Nama Author: Rootea

Rumi terlempar ke dunia otome game yang sedang digandrungi. Tapi, dia bukan tokoh utama wanitanya.... Dia cuma seekor kucing!

Berbekal pengetahuan akan seluruh akhir cerita bersama tiga pangeran, Rumi bertekad mengatur jalur romansa agar semuanya berakhir bahagia.

Namun, kehidupan tidak pernah sesederhana permainan game....

Tiga pangeran berarti tiga jalan hidup. Tiga pilihan. Dan hubungan yang perlahan menghancurkan dari dalam.

Apakah yang dia ketahui masih cukup? Ataukah, pada akhirnya Rumi tidak bisa melakukan apa-apa....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rootea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 18 - Benih Cinta

Seringkali aku melihat di film betapa para bangsawan (dan keluarga kerajaan) ini senang sekali mengadakan macam-macam acara. Yang mana kalau dirangkum isinya, yah, tidak lebih dari ajang pamer. Membangun relasi, mungkin itu istilah lebih baiknya.

Promenade di musim semi, tampaknya adalah salah satu yang paling diminati. Petak taman yang tersebar di kompleks istana Astryion memang menyajikan pemandangan indah yang sangat mendukung untuk jalan-jalan cantik. Jalur batu putih membelah taman utama istana dari pintu gerbang, menghubungkan tempat-tempat penting nan menawan yang bisa digunakan untuk berbincang dan menikmati penganan kecil.

Di tengah itu, target perjodohan ini sedang berjalan berdampingan.

Aah, sungguh pemandangan yang menyejukkan hati.

Kelopak warna-warni bunga yang baru mekar adalah latar belakang yang amat menawan membingkai dua tokoh utama. (Memang ada tuan dan nona bangsawan lain di dekat mereka, turut serta dalam obrolan, tapi mari kita anggap saja tidak ada.)

Althea mengenakan gaun berwarna pink pastel yang sangat cantik. Ornamen dan pita yang menghiasi gaunnya menyerupa bunga asli. Topi kecil dengan hiasan bunga senada bertengger di atas rambut cokelat muda. Selain anting-anting mutiara kecil di telinga, satu-satunya perhiasan yang ia pakai hanyalah liontin amethyst ciri khasnya itu. Tidak bohong, liontin dengan warna senada itu membuat matanya tampak lebih berkilau.

Di dekatnya, Caelian terlihat majestik seperti biasa. Putra mahkota itu mengenakan lapisan putih gading yang membungkus tubuhnya dengan sempurna. Sulur-sulur emas membelit pakaiannya dari bahu hingga pinggang, seperti akar logam, membentuk pola rumit menyerupai mahkota dan duri mawar. Setiap kali ia bergerak, benang-benang keemasan itu menciptakan kilau samar. Bahunya yang tegap dibingkai pelindung ornamental berlapis emas pucat. Dari punggungnya, jubah tipis menjuntai menyerupa kabut, bergerak perlahan di setiap langkahnya.

Dia seperti figur dalam lukisan katedral daripada manusia biasa. Keberadaannya sungguh sulit diabaikan.

Dan putra mahkota itu tampak berbicara pada Althea untuk waktu yang cukup lama.

Aku tidak peduli apa yang sedang dua orang itu bicarakan—sepintas aku mendengar Althea menyebut-nyebut soal tanaman obat. Apapun lah.

Yang penting mereka bersama.

Lebih penting lagi, ini adalah timing yang sangat tepat untuk rencanaku.

Rombongan kecil itu kini telah meninggalkan taman depan dan memasuki taman mawar. Karena baru memasuki musim semi, semak-semak itu masih hijau. Hanya ada satu, dua tunas awal yang mencuat di antara dedaunan. Sebelum warna-warni kelopak mawar menghiasi tempat itu, bunga hyacinth yang tumbuh mengitarinya adalah pesona utama. Mereka ditata sedemikian rupa mengikuti jalur batu. Harum wangi pun memenuhi udara sore. Sementara deretan cypress tinggi membatasi sisi lain, separuh menutup pandang ke arah bukit yang diselimuti nemophila.

Ini adalah tempat yang sempurna. Tidak terlalu ramai. Tapi masih cukup terbuka untuk dilihat banyak orang. Bagaimanapun juga, aku butuh saksi mata. Tapi, tidak terlalu banyak agar tidak terjadi kerusuhan.

Lebih dulu aku turun dari salah satu kolom patung yang tersebar di tempat itu. Dalam gerak cepat dan hati-hati, aku menghampiri sisi jalur batu yang sedikit menurun. Jarak antara Althea dan Caelian tepat seperti yang kubutuhkan—tidak terlalu dekat sampai terasa mencurigakan, tapi juga tidak cukup jauh untuk menghindari “kebetulan”.

Aku menyelinap di antara semak hyacinth, lalu melompat tepat di arah langkah Althea.

Jujur saja, rencana ini membutuhkan keahlian khusus. Dengan penuh perhitungan aku menabrakkan diri pada gadis itu—tanpa benar-benar menabraknya. Aku harus mendorong cukup kuat agar rencana ini berhasil, sekaligus juga bergerak cepat untuk menghindari gaun yang terjuntai.

Efek kejutan itu cukup membuat langkah Althea terganggu. Sepatunya tersangkut pada lipatan gaun. Tubuhnya oleng, terancam jatuh.

“A—”

Belum sempat seruannya terucap, tangan seseorang sudah lebih dulu bergerak.

Dan bukan hanya seseorang.

Aku menyeringai melihat bagaimana sang putra mahkota menahan Althea jatuh.

Refleks yang sangat bagus.

Gerakannya tidak terburu-buru, tidak terlihat panik, tapi tepat sasaran—seperti semua hal yang Caelian lakukan. Hanya dengan satu tangan ia menahan Althea, serta-merta menghentikan jatuhnya. Lengannya melingkar protektif sebelum gadis itu terjerembab ke arah semak bunga dan menimbulkan insiden.

Sesaat, Althea membeku di tempat. Lantas ia bergegas berdiri tegak dan menundukkan kepalanya. “Maafkan saya, Yang Mulia—!” suaranya terdengar panik.

“Tidak perlu.” Nada suara Caelian tetap tenang. Tidak ada perubahan nyata. Tidak pula ada perhatian berlebih.

Di waktu yang sama, ia juga tidak segera menjauhkan diri; walau kontak fisik mereka telah lepas.

Sentuhan itu cukup ringan. Bisa dibilang tidak lebih dari refleks. Tidak lebih dari seharusnya. Namun, karena pelakunya adalah seorang Caelian, jelas saja itu berarti sesuatu.

Dari kejauhan, aku bisa melihat beberapa kepala bangsawan mulai sedikit menoleh. Samar-samar. Sembunyi-sembunyi. Namun, pasang mata itu jelas memperhatikan.

Bagus.

Rencana berjalan sebagaimana mestinya.

...*...

...*...

...*...

Di bawah sinar matahari sore yang lembut, bebungaan di istana Astryion mempertegas kemegahannya. Di antara obrolan tamu yang terdengar samar di berbagai penjuru taman, sebuah melodi terdengar. Sayup-sayup.

Permainan harpa yang familiar.

Bukit kecil dengan hamparan bunga nemophila itu tak ubahnya panggung pentas. Dengan satu-satunya pemain.

Helai rambut perak dibelai angin yang berhembus, membawa musiknya mengudara jauh. Wajah yang dibingkai rambut itu terpejam, tenggelam dalam lagu. Jemarinya berpindah di antara senar dengan lihai. Safir yang tersemat di jubah berkilau samar.

Sepasang mata amethyst menatapnya dari kejauhan.

Samar, ia tersenyum tipis.

...*...

...*...

...*...

“Lady Althea terlihat cukup dekat dengan Yang Mulia akhir-akhir ini.”

Suara itu terdengar tidak jauh dari jalur promenade. Pelan. Diucap dengan nada tertahan. Tapi tetap sampai ke telinga siapa pun yang cukup penasaran untuk mendengar.

“Aku mendengar mereka juga berdansa bersama di pesta musim dingin kemarin.”

“Dan sekarang…”

“Kalau dipikir-pikir, keluarga Grendahl memang cukup sering dipanggil ke istana akhir-akhir ini.”

Aku mengibaskan ekor pelan.

Lihat? Manusia memang luar biasa. Sedikit sentuhan drama dan mereka akan membangun sisanya sendiri.

Di kejauhan, permainan harpa Havren terdengar samar tertiup angin sore.

Tenang.

Indah.

Ah, inilah kehidupan yang damai.

Andai saja hubungan Havren dan Jovienne bisa semudah ini…

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!