Di tengah kemegahan Klan Naga Api, Ren hanyalah aib dan sampah masyarakat. Dilahirkan dengan meridian yang tertutup rapat, ia dianggap tidak memiliki bakat sama sekali. Hinaan, pukulan, dan pengkhianatan menjadi makanan sehari-harinya, hingga akhirnya ia diusir dengan kejam dari klannya sendiri, dibiarkan mati di alam liar.
Namun, takdir memiliki rencana lain. Di ambang kematian, darah nenek moyang yang terpendam di dalam tubuhnya akhirnya berdenyut. Meridian yang dianggap cacat itu ternyata adalah Ruang Suci Naga, tempat bersemayamnya kekuatan purba yang telah tertidur ribuan tahun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichsan Ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: Akademi Bintang Utara Dunia Baru yang Kejam
Perjalanan panjang selama sepuluh hari sepuluh malam akhirnya usai. Di hadapan mata Xue Ying, menjulang megah sebuah bangunan raksasa yang terukir di atas puncak gunung tertinggi di wilayah utara. Puncak-puncuk menaranya menembus awan, dikelilingi kabut tipis dan aura energi yang begitu padat hingga udara terasa kental dan manis saat dihirup.
Di atas gerbang utama yang tingginya puluhan meter, terukir tiga kata besar yang bersinar keperakan: AKADEMI BINTANG UTARA.
Ini adalah tempat yang disebutkan Ren. Sebuah institusi kultivasi tertua dan terkuat di utara, tempat berkumpulnya para pemuda berbakat dari seluruh penjuru benua, tempat di mana legenda-legenda baru lahir, namun juga tempat di mana mimpi-mimpi hancur berkeping-keping setiap harinya.
Xue Ying mengusap dadanya, merasakan keberadaan Batu Sinyal yang tergantung di lehernya. Benda kecil itu masih bersinar terang dan hangat, menandakan bahwa Ren masih hidup, masih berjuang, dan masih menantinya. Rasa sakit perpisahan masih terasa tajam di hati, namun setiap kali ia memandang batu itu, tekadnya kembali membara.
"Aku harus kuat. Aku harus layak berdiri di sampingnya saat kita bertemu nanti."
Dengan napas panjang, Xue Ying melangkah melewati gerbang raksasa itu.
Namun, ia baru melangkah beberapa langkah masuk, saat sebuah suara keras dan tajam menghentikannya.
"Hei kau! Anak baru! Berhenti di sana!"
Tiga sosok pemuda berjalan menghampiri. Pakaian mereka berwarna biru tua dengan lambang bintang perak di dada—tanda bahwa mereka adalah murid senior tingkat menengah. Wajah mereka angkuh, tatapan mereka menilai Xue Ying dari atas ke bawah dengan pandangan meremehkan dan penuh selera.
Pemuda di tengah, yang berwajah bengis dan berotot besar, tersenyum miring.
"Murid baru dari mana? Wajah cantik, pakaian sederhana... sepertinya bukan dari keluarga besar ya?" Pemuda itu mendekat, berputar mengelilingi Xue Ying seperti serigala yang menemukan mangsa baru. "Di sini ada aturan tidak tertulis, gadis manis. Siapa pun yang baru masuk, harus memberi upeti. Entah itu harta, entah itu teknik, atau... pelayanan khusus."
Dua temannya tertawa jahat. "Kau beruntung, Li Hao jarang tertarik pada gadis baru. Kalau kau mau melayani kami dengan baik, kami akan melindungimu. Kalau tidak... kau tahu sendiri betapa kejamnya dunia di sini."
Xue Ying berdiri tegak, wajahnya dingin tanpa ekspresi. Di dalam hatinya, ada rasa jijik yang mendalam. Dulu, sebelum bertemu Ren, mungkin ia akan takut atau sabar. Tapi sekarang? Ada api yang menyala di darahnya, ada wibawa Naga dan Hong yang mengalir di urat nadinya, dan ada kekuatan yang jauh melampaui mereka yang tersimpan di tubuhnya.
Namun ia ingat pesan Ren: "Jangan memamerkan kekuatanmu sembarangan. Belajarlah, amati, dan jadilah yang terkuat dalam diam."
Xue Ying menundukkan pandangan, berusaha menahan amarahnya.
"Maaf... saya tidak membawa apa-apa. Saya hanya ingin masuk dan belajar," jawabnya pelan namun tegas.
Li Hao tertawa keras. "Belajar? Di sini kekuatan adalah segalanya! Hukum adalah milik yang kuat! Kau pikir kau bisa belajar hanya dengan bermodal wajah cantik? Tanpa pelindung, tanpa uang, tanpa kekuasaan... kau tidak akan bertahan seminggu di Akademi ini!"
Li Hao mengulurkan tangan kasarnya, berniat mencengkeram dagu Xue Ying.
"Sekarang ikut aku ke aula belakang. Kita bicarakan syaratmu lebih lanjut di sana."
PLAK!
Sebuah tamparan halus namun cepat dan keras mendarat di tangan Li Hao.
Pemuda itu meringis kesakitan, menarik tangannya sambil menatap Xue Ying kaget dan marah. Wajahnya memerah padam karena dipermalukan oleh gadis kecil yang ia anggap lemah.
"BERANI KAU MENYENTUHKU?!" Li Hao mengaum marah. "Kau benar-benar mencari mati! Di sini aku hukum! Aku akan mengajarimu rasa hormat!"
Li Hao mengangkat tangannya, telapak tangannya bersinar cahaya kuning kecokelatan, ciri khas teknik Akademi Bintang Utara. Ia memukul ke arah bahu Xue Ying dengan kekuatan cukup untuk mematahkan tulang bahu orang biasa.
"Terima ini! Pukulan Bintang Berat!"
Serangan itu cepat dan ganas. Penonton lain yang lewat hanya melihat sekilas, lalu berpaling acuh tak acuh. Sudah biasa pemandangan seperti ini. Di Akademi ini, kekejaman adalah hal sehari-hari. Tidak ada yang mau menolong, karena menolong berarti membuat musuh baru.
Namun, di mata Xue Ying, gerakan Li Hao terasa lambat dan kaku. Seperti menonton anak kecil belajar berjalan.
Xue Ying tidak mundur. Ia sedikit memiringkan tubuhnya, menghindari pukulan itu dengan selisih sehelai rambut. Lalu dengan gerakan yang sangat halus dan hampir tak terlihat, ia menepuk lengan Li Hao.
DUK!
Suara tumpul terdengar.
"Arghhh!!" Li Hao berteriak kesakitan seolah tulang lengannya dihancurkan palu besi. Ia terpelanting mundur beberapa langkah, jatuh terduduk di tanah sambil memegangi lengannya yang kini bengkak dan kesemutan hebat.
"Kau... kau pakai siasat kotor! Kalian berdua! Tangkap dia! Bawa dia ke ruang hukuman!" teriak Li Hao kepada kedua temannya yang ternganga.
Dua pemuda lainnya segera sadar, mereka mencabut pedang pendek mereka dan menerjang maju bersamaan.
"Serang! Awas dia punya ilmu silat aneh!"
Xue Ying menghela napas panjang. Kesabarannya habis. Ia tidak mau membuat keributan besar, tapi ia juga tidak akan membiarkan dirinya diinjak-injak.
Di dalam hatinya, ia berbisik pelan: "Maafkan aku, Ren. Aku harus sedikit bertindak. Tapi aku tidak akan membiarkan siapa pun merendahkan harga diriku, atau harga dirimu yang ada di dalam diriku."
Saat kedua pedang itu hampir membelah tubuhnya, Xue Ying bergerak.
Gerakannya tidak seperti teknik bela diri biasa. Ia bergerak ringan, anggun, namun mematikan. Cahaya putih samar menyelimuti kakinya, jejak kakinya meninggalkan bayangan burung yang mengepak.
Langkah Hong Melayang.
Dalam sekejap, ia sudah berada di belakang punggung kedua penyerang itu. Dengan dua sentuhan ringan di titik akupungtur, kedua pemuda itu langsung kaku kaku, jatuh berlutut tak berdaya dengan mata terbelalak kaget.
Seluruh tempat itu hening.
Li Hao yang masih kesakitan menatap Xue Ying dengan mata penuh ketakutan. Ia baru sadar... gadis di hadapannya bukan mangsa lemah yang biasa ia tindas. Ia adalah seekor naga yang menyembunyikan cakarnya.
"Kau... kau tingkat apa?!" serak Li Hao.
Xue Ying berdiri tegak kembali, pakaiannya rapi tanpa sedikit pun debu. Wajahnya tenang namun matanya sedingin es.
"Dengar baik-baik. Aku masuk ke sini bukan untuk menjadi pelayan siapa pun. Aku masuk ke sini untuk menjadi yang terkuat. Siapa pun yang berani menghalangi, atau berani menghina... akan menyesal seumur hidupnya."
Xue Ying melangkah melewati mereka, tidak lagi menoleh. Namun sebelum pergi, ia berhenti sebentar dan berbicara dengan suara rendah yang mengandung tekanan jiwa yang kuat, membuat tulang belakang Li Hao merinding hebat.
"Dan ingat satu hal. Kekuatan yang kalian banggakan ini... di mataku, belum ada apa-apanya."
Ia berjalan terus menuju asrama murid baru, meninggalkan ketiga pemuda itu yang ternganga dalam rasa malu dan takut, serta meninggalkan desas-desus di antara murid-murid lain yang mulai berbisik-bisik: Ada murid baru yang aneh dan sangat kuat...
Sesampainya di kamar kecil yang sederhana dan kosong, pintu ditutup rapat.
Baru saat itulah, ketegasan di wajah Xue Ying runtuh. Ia merosot duduk di lantai, memegangi dada yang terasa sesak. Air mata yang ia tahan sedari tadi akhirnya jatuh juga.
Ia menyentuh Batu Sinyal di lehernya, memejamkan mata, dan mengirimkan pesan lewat ikatan batin mereka yang jauh itu.
"Ren... aku sudah sampai. Tempat ini mengerikan. Kejam, dingin, penuh persaingan dan kebencian. Tidak ada persahabatan, tidak ada kasih sayang. Semuanya hanya tentang kekuatan dan keuntungan."
Di benaknya, ia bisa merasakan samar-samar keberadaan Ren yang jauh di hutan belantara selatan. Ia merasakan rasa lelah, rasa sakit, namun juga rasa api yang berkobar di hati kekasihnya.
Dan tiba-tiba, sebuah pesan lembut masuk ke dalam benaknya, jelas dan hangat seolah Ren ada di sampingnya:
"Aku tahu, Xue Ying. Dunia ini memang kejam. Tapi ingatlah... tempat kejam seperti inilah yang akan menempa kita menjadi berlian. Di sana, di Akademi itu, kau akan bertemu orang-orang hebat, kau akan bertemu musuh-musuh kuat, kau akan menderita, kau akan lelah."
"Tapi setiap tetes keringat yang kau keluarkan, setiap rasa sakit yang kau rasakan... ingatlah tujuannya. Ingatlah aku. Jadikan rasa rindu ini sebagai pedangmu, jadikan janji kita sebagai perisaimu."
"Tunjukkan pada dunia kejam itu siapa dirimu. Tunjukkan bahwa gadis yang mencintaiku... adalah wanita terhebat di dunia."
Air mata Xue Ying semakin deras, namun kali ini dibarengi senyum yang tegas dan penuh semangat. Ia menghapus air matanya dengan kasar, lalu berdiri kembali.
Ia menatap cermin di dinding kamar. Di sana terpantul sosok wanita muda yang cantik, namun kini matanya tidak lagi hanya indah, tapi juga tajam dan bertekad baja.
"Benar. Dunia ini kejam? Baiklah... aku akan lebih kejam pada diriku sendiri demi menjadi kuat."
Xue Ying berjalan ke tengah ruangan, duduk bersila, dan mulai memusatkan tenaganya. Energi putih bersih mulai memancar dari tubuhnya, energi yang jauh lebih murni dan padat dibandingkan murid-murid lain di akademi ini.
Ia mulai menyerap energi langit dan bumi dengan kecepatan yang mengerikan, membuat udara di dalam kamar berputar kencang mengelilinginya.
Di luar sana, Akademi Bintang Utara berdiri megah sebagai tempat penggodokan terhebat. Di dalam sana, di kamar kecil itu, Xue Ying memulai perjalanan barunya. Ia akan memanjat tangga kekuasaan, melawan rintangan, menaklukkan musuh, dan mendaki puncak demi puncak.
Karena ia tahu... semakin tinggi ia berdiri, semakin dekat ia dengan tempat di mana Ren akan menunggunya.
Dunia baru yang kejam ini baru saja menyambutnya. Namun Xue Ying tidak lagi takut. Karena di dalam hatinya, ada satu nama yang cukup untuk menaklukkan segalanya: Ren.
.🙏🏾🙏🏾🙏🏾 maafkan saya sedikit sok tau🤭