Tiga puluh tahun lalu, kakak perempuan Rakha tewas secara tragis akibat kejahatan konglomerat Hardi Adi Soetomo. Kini, Rakha telah tumbuh menjadi pengacara kelas atas yang penuh kuasa, namun hidupnya hanya didorong oleh satu tujuan: balas dendam.
Rencananya sempurna. Ia akan menghancurkan Hardi melalui titik lemahnya—sang putri semata wayang, Maharani Ayudia Soetomo, bintang muda yang sedang bersinar. Rakha mendekati Maharani, berniat menjadikannya alat penghancur bagi ayahnya sendiri.
Namun, di tengah intrik dan manipulasi, Rakha goyah. Maharani terlalu polos dan tidak tahu apa-apa tentang dosa masa lalu ayahnya. Saat kebenaran mulai terkuak dan perasaan mulai tumbuh, Rakha terjebak dalam pilihan mustahil: Menuntaskan sumpah dendamnya atau melindungi wanita yang seharusnya ia hancurkan?
Sebuah pertaruhan antara kebencian masa lalu dan cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikaelach09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB TIGA PULUH SATU
Maharani merasakan matanya panas, tapi ia ingat peringatan Rakha: Tidak boleh menangis. Ia menelan air matanya, dan di matanya, kilatan tekad mulai muncul.
"Saya mengerti, Mas Rakha," jawab Maharani, suaranya stabil. "Saya akan jadi fighter."
Rakha mengangguk, lalu segera menarik tangannya, seolah sentuhan itu terlalu berbahaya baginya. Ia kembali ke mejanya, mengambil laptop-nya.
***
Suasana di ruang kerja pribadi Rakha terasa sunyi, berat, dan dipenuhi aroma kertas baru yang mahal. Malam telah larut, tapi di sini, intensitas kerja justru mencapai puncaknya. Rakha berdiri tegak di depan papan tulis digital besar yang menyala biru, memegang stylus perak. Ia bukan sekadar pengacara malam ini; ia adalah pelatih, perancang strategi, dan penjaga batas.
Rakha tidak pernah membawa pekerjaan sebanyak ini ke rumah, apalagi ke ruang kerjanya yang seharusnya menjadi zona sakral dan terlarang. Tapi malam ini berbeda. Maharani, yang sudah berganti pakaian menjadi sweater longgar dan celana linen, terlihat lebih santai secara fisik, tapi matanya masih memancarkan kegelisahan.
"Besok, jam sepuluh pagi, kita akan mengubah narasi," ujar Rakha, suaranya tenang, nadanya seolah sedang menjelaskan hukum gravitasi. "Ini bukan pertarungan hukum di pengadilan. Ini adalah operasi PR dan manipulasi psikologi publik. Kita harus memenangkan hati mereka."
Rakha menekan tombol, dan di papan tulis digital itu muncul tiga kolom: POIN UTAMA, EKSPRESI/BODY LANGUAGE, dan RISIKO.
"Poin Utama, sudah jelas. Abusive relationship, pemerasan, dan kejahatan digital," jelas Rakha, matanya menyapu Maharani. "Tapi delivery itu penting. Sekarang kita bahas body language."
Ia berjalan ke tengah ruangan, meniru pose Maharani yang cemas. "Jangan pernah menyilangkan tangan di depan dada. Itu menunjukkan defensif dan ketidakjujuran. Jauhkan tanganmu dari wajah. Jangan sentuh rambut. Semua gerakan itu adalah sinyal bahwa kamu menyembunyikan sesuatu."
Rakha kembali ke meja dan menunjuk Maharani dengan stylus-nya.
"Duduk tegak. Bahu santai, tapi punggung lurus. Setiap kali kamu menjawab, pandanglah lurus ke kamera center seolah kamu berbicara dengan satu orang-orang yang kamu ingin yakinkan. Kontak mata yang mantap menunjukkan kebenaran, bukan keberanian palsu."
Maharani mencoba meniru postur yang ditunjukkan Rakha. "Seperti ini?"
"Lebih tegak," koreksi Rakha, tanpa emosi. "Kamu bukan patung, Hani. Kamu adalah wanita yang marah karena telah menjadi korban, tapi kamu terlalu berkelas untuk berteriak. Kekuatanmu ada pada ketenangan."
Rakha menekan papan, dan kolom RISIKO muncul. Di sana tertulis:
Pertanyaan tentang latar belakang keluarga Soetomo.
2
. Pertanyaan tentang motif pribadi (cinta segitiga/dendam).
Pertanyaan yang menuntut bukti seksual (detil video).
"Poin-poin ini adalah jebakan," kata Rakha. "Wartawan akan mencoba menarik kasusmu kembali ke ranah gosip murahan. Jangan pernah membahas detail video, itu akan memperpanjang life span skandal. Jawablah secara hukum."
"Jika mereka bertanya tentang detail video?" tanya Maharani, suaranya sedikit tercekat.
"Jawab: 'Video itu, seperti semua bukti di kasus ini, telah diserahkan sepenuhnya kepada tim forensik dan pihak kepolisian sebagai bukti kejahatan digital dan pemerasan. Fokus saya adalah kejahatan hukum, bukan konten pribadi yang sengaja disebar untuk merusak reputasi saya.' Singkat. Tegas. Lalu alihkan perhatian ke Risyad." Rakha mencatat sesuatu di berkasnya, lalu pandangannya beralih ke Maharani. "Dan yang paling penting. JANGAN PERNAH MENANGIS."
"Saya tahu, Mas Rakha sudah menekankan itu."
"Ini bukan soal kelemahan, Hani," jelas Rakha, nada suaranya berubah menjadi sangat personal. "Menangis akan membuatmu tampak seperti artis yang sedang berakting di panggung. Kamu adalah klien yang mencari keadilan. Air mata akan merusak narasi kuat yang sudah kita bangun."
Rakha berjalan mengelilingi meja, berhenti di belakang kursi Maharani. Ruangan itu sunyi, hanya ada suara AC yang mendesis lembut.
"Tarik napas," perintah Rakha pelan. Ia meletakkan kedua tangan di bahu Maharani, sentuhan yang berat dan menenangkan.
Maharani terkejut. Sentuhan ini berbeda dari yang sebelumnya. Lebih lama, lebih kokoh. Seolah ia sedang menyalurkan semua ketenangan dan kekuatannya pada Maharani.
"Kamu hanya perlu bicara dari hati, Hani. Ceritakan bagaimana Risyad mengendalikanmu, bagaimana ia mengancam kariermu, bagaimana tekanan itu membuatmu tidak bisa bernapas," bisik Rakha, suaranya dalam dan dekat di telinga Maharani.
"Ini bukan akting. Ini adalah penderitaanmu. Gunakan itu. Ubah penderitaanmu menjadi amunisi," katanya, lalu ia menarik tangannya dengan cepat, seolah baru menyadari betapa intimnya sentuhan itu.
Rakha kembali ke posisi profesionalnya di depan papan tulis. Wajahnya kembali dingin dan terkontrol.
"Itu cukup untuk malam ini," katanya, mencoba menstabilkan suaranya. "Sekarang, kamu harus istirahat total."
Maharani menatap Rakha. Ia melihat Rakha menyembunyikan sesuatu, bukan dari publik, tapi dari dirinya sendiri.
"Mas Rakha," panggil Maharani. "Terima kasih untuk briefing dan... untuk semuanya. Saya tahu, ini adalah pekerjaan yang sangat berat."
Rakha hanya mengangguk tipis, pandangannya tertuju pada laptop yang baru ia buka. "Sudah tugas saya, Hani. Tidurlah. Kita akan menghadapi dunia besok."
Maharani bangkit dan berjalan menuju pintu. Saat ia hendak memegang kenop, ia menoleh ke belakang.
Rakha masih di sana, di tengah ruang kerjanya yang megah, disinari cahaya laptop. Ia tidak bekerja. Ia hanya menatap kosong ke layar.
"Mas Rakha," bisik Maharani, lebih kepada dirinya sendiri.
Rakha mengangkat wajahnya, menatap Maharani di ambang pintu.
"Saya janji, saya tidak akan mengecewakan Mas Rakha."
Rakha membalas tatapan itu, dan di matanya, Maharani melihat bukan hanya kelelahan seorang pengacara, tapi kehangatan seorang pria yang takut melihat wanita di depannya terluka lagi.
"Just be you, Hani," jawab Rakha, nadanya lembut, sebuah bisikan yang memecah keheningan ruangan. "That's all I need."
Maharani tersenyum, senyum yang tulus, lalu menutup pintu kamar.
Rakha kembali menatap laptop-nya. Layar itu menampilkan foto Maharani, wajahnya yang lelah. Rakha mengambil napas dalam-dalam, lalu memejamkan mata. Sentuhan tangannya di bahu Maharani tadi malam masih terasa jelas.
Ia tahu, batasan profesional yang ia bangun selama bertahun-tahun telah runtuh. Ia tidak hanya melindungi Maharani; ia berinvestasi penuh dalam kemenangan dan keselamatannya.
Begitu pintu mahoni itu tertutup, memutus Maharani dari pandangannya, semua kendali Rakha runtuh. Ia menjatuhkan diri ke kursi kulit ergonomis-nya, membungkuk dalam, dan memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut. Aroma samar chamomile dari Maharani, yang berpadu dengan wangi sandalwood di ruangannya, terasa seperti sabotase yang menyenangkan. Kehangatan yang ia rasakan saat menyentuh bahu Maharani tadi, saat menyalurkan kekuatan, masih melekat di ujung jarinya-sebuah sensasi asing, berbahaya, dan sangat mengganggu.
Perempuan itu adalah Maharani Ayudia Soetomo, putri satu-satunya Hardi Adi Soetomo.
Suara sumpah lama bergaung di kepalanya, tajam dan dingin seperti pecahan kaca yang ditanamkan tiga puluh tahun lalu. Itu adalah suara Rakha kecil yang berlumuran air mata di samping makam kakaknya.
"Aira, aku janji. Aku akan pastikan dia membayar untuk setiap air matamu. Untuk setiap kehormatan yang dia renggut, aku akan renggut kehormatan keluarganya."
Dendam itu adalah inti dari jiwanya. Itu adalah darah dagingnya yang beku. Itu adalah fondasi dari segala yang ia bangun: Wiratama Law & Associates, reputasi dinginnya, kesuksesan yang mematikan. Semua demi satu tujuan tunggal: menghancurkan keluarga yang merenggut nyawa kakak perempuannya.