Serena Roe tahu satu hal tentang cinta:
semua orang yang mendekatinya selalu membawa kehancuran.
Julian datang menawarkan ketulusan.
Damien membuatnya kecanduan.
Dan Axel, perlahan menghancurkan hidupnya tanpa ia sadari.
Tapi di antara mereka, siapa yang benar-benar mencintainya dan siapa yang betulan ingin memilikinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clarice Diane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Morning Coffee
Mobil Axel berada tepat di depan toko roti. Serena awalnya mengira pria itu membawa mobil mencolok seperti kebanyakan pebisnis lainnya. Namun yang terparkir di depan justru sedan hitam tua yang terlihat bersih, tenang, dan nyaris terlalu biasa.
“Aku suka mobil yang tidak menarik perhatian,” ujar Axel santai seolah bisa membaca pikirannya.
Serena terkekeh kecil sebelum masuk ke kursi penumpang.
Interior mobil itu dipenuhi aroma kopi hitam dan parfum sandalwood yang samar. Tidak ada musik keras. Tidak ada aksesori aneh. Semuanya terasa rapi dan terlalu tenang, yang entah kenapa justru membuat Serena sedikit lebih rileks.
Axel mulai menyetir keluar dari kawasan Hollywood Hills dengan satu tangan di setir sementara tangan lainnya sesekali mengetuk pelan dashboard mengikuti musik jazz rendah yang mengalun samar dari speaker mobil.
Los Angeles pagi itu mulai ramai. Lampu toko menyala satu per satu. Orang-orang berjalan membawa kopi. Matahari memantul di kaca gedung dan pohon palem yang berjajar di sepanjang jalan.
Serena menyandarkan kepala ke jendela sambil memperhatikan kota itu dalam diam.
“Aneh sekali,” gumamnya pelan.
“Apa?”
“Kota ini terlihat seperti film.”
Axel tersenyum kecil. “Semua orang yang baru pindah ke LA selalu bilang begitu.”
“Aku tidak pindah.”
Tatapan Axel sekilas berpindah ke Serena. “Jadi kau tidak menetap?”
Pertanyaan itu membuat Serena diam sebentar. Karena jujur saja, ia sendiri tidak tahu.
“Aku belum memikirkannya.”
Axel mengangguk kecil seolah tidak ingin memaksa. Dan Serena diam-diam bersyukur pria itu tidak seperti Damien. Axel tidak menekan. Tidak memojokkan. Tidak membuat Serena merasa harus menjelaskan semua hal.
“Aku ingin menunjukkan sesuatu,” ujar Axel tiba-tiba sambil membelokkan mobil ke jalan yang lebih ramai.
Serena mengerutkan dahi. “Apa?”
“Lokasi baru.”
“Bar-mu?”
“Iya.”
Perjalanan mereka berlanjut sampai memasuki kawasan yang jauh lebih hidup. Jalanan mulai dipenuhi cafe kecil, toko vinyl, mural warna warni, dan orang-orang berpakaian nyentrik yang berjalan santai di trotoar.
“Kau suka tempat seperti ini?” tanya Serena sambil melihat keluar jendela.
“Aku suka tempat yang berisik.”
“Itu terdengar bertolak belakang dengan kepribadianmu.”
Axel terkekeh pelan. “Aku hanya tidak suka manusia. Maksudku, beberapa manusia.”
Serena langsung tertawa kecil. Axel sempat meliriknya beberapa detik terlalu lama sebelum kembali fokus pada jalan.
Pria itu akhirnya menghentikan mobil di depan bangunan tua dua lantai dengan papan neon yang belum menyala. Bangunannya terlihat setengah direnovasi. Beberapa pekerja terlihat keluar masuk sambil membawa material.
“Ini?” tanya Serena.
Axel mengangguk kecil. “Masih berantakan.”
Serena memperhatikan tempat itu beberapa detik. Ada sesuatu yang menarik dari tampilannya. Dinding bata tua. Lampu vintage. Kaca besar yang menghadap jalan. Tempat itu terasa hidup bahkan sebelum benar-benar jadi.
“Kau punya selera bagus,” gumam Serena jujur.
Axel terlihat sedikit terkejut mendengar pujian itu. “Kau orang pertama yang bilang begitu.”
“Karena orang lain mungkin tidak punya mata.”
Sudut bibir Axel naik kecil. Lalu pria itu keluar dari mobil dan berjalan memutari depan mobil untuk membukakan pintu Serena.
Gerakan sederhana yang membuat Serena terpana. Perempuan itu tiba-tiba sadar Axel punya kebiasaan memperlakukan perempuan dengan sangat hati-hati. Bukan tipe agresif seperti Damien. Axel lebih tenang dan lebih diam. Itu membuatnya terasa lebih sulit ditebak.
Mereka masuk ke dalam bangunan itu bersama. Suara musik samar terdengar dari pengeras suara yang sedang dicoba para pekerja. Aroma kayu baru dan cat memenuhi udara, sementara cahaya matahari pagi masuk melalui jendela besar di kanan kiri ruangan.
“Aku ingin bagian tengahnya jadi dance floor kecil,” jelas Axel sambil berjalan santai di samping Serena. “Lantai atas untuk live music.”
“Tampaknya, kau benar-benar passionate dalam berbisnis.”
“Aku tumbuh di tempat seperti ini.”
Serena menoleh kecil. “Keluargamu punya bar?”
Axel diam sebentar.
“Bukan.” Tatapannya lurus ke depan sekarang. “Ayahku suka mabuk.” Nada suaranya terlalu datar.
Dan Serena langsung sadar dirinya mungkin menyentuh sesuatu yang pribadi. “Maaf,” cicit perempuan itu, merasa tidak enak.
Axel menggeleng kecil. “Tidak masalah.”
Beberapa detik berikutnya, suasana di antara mereka berubah sedikit lebih sunyi. Suara ketukan palu, mulai mendominasi.
Sampai akhirnya Axel kembali bicara lebih santai. “Kau sendiri?”
“Hm?”
“Kau tumbuh seperti apa?”
Serena tertawa kecil hambar. “Percayalah. Tidak semewah rumor internet.”
Tatapan Axel perlahan berpindah ke Serena. Dan untuk sepersekian detik, pria itu terlihat seperti ingin bertanya lebih jauh. Namun tidak jadi. Seperti ada sesuatu yang tertahan.
Mereka akhirnya kembali ke mobil hampir satu jam kemudian. Dan tanpa Serena sadari, ia sudah jauh lebih nyaman berada di dekat Axel dibanding yang seharusnya.
“Aku benar-benar merecoki pagimu,” gumam Axel sambil mulai menyetir lagi.
“Sedikit.”
“Menyesal ikut denganku?”
Serena berpikir sebentar sebelum akhirnya menggeleng kecil. “Tidak juga.”
Senyum tipis muncul di wajah Axel. Dan anehnya, melihat itu membuat Serena merasa sedikit tenang.
Ketika Serena kembali ke mansion, hari sudah menjelang siang. Rumah itu masih setenang biasanya. Hanya suara samar alat pembersih kolam dari halaman belakang dan langkah beberapa staff yang berjalan pelan di lorong besar.
Serena baru saja masuk ketika salah satu pelayan menghampirinya.
“Tuan Julian mencari Anda sejak tadi pagi.”
Jantung Serena langsung berdetak sedikit aneh. “Mencariku?”
Pelayan itu mengangguk kecil. “Beliau bahkan berjalan ke area kolam renang sendiri.”
Serena langsung terkekeh kecil tidak percaya.
Julian? Mencarinya?
Perempuan itu segera berjalan menuju ruang keluarga utama. Dan benar saja, Julian ada di sana.
Pria itu duduk di sofa dekat jendela dengan kaus abu-abu dan celana training hitam, rambutnya sedikit berantakan seolah baru beberapa kali mengusapnya frustrasi.
Namun begitu melihat Serena masuk, ekspresinya langsung berubah. Lega. Begitu jelas sampai Serena sendiri langsung menyadarinya.
“Kau pergi.” Nada suara pria itu terdengar lebih seperti tuduhan kecil dibanding pertanyaan.
Serena berhenti beberapa langkah dari sofa.
“Aku hanya membeli kopi.”
Julian memperhatikan Serena beberapa detik terlalu lama sebelum akhirnya berkata pelan, “Kau tidak bilang apa-apa.”
Dan anehnya, kalimat sederhana itu langsung membuat Serena merasa sedikit bersalah. Karena Julian benar. Ia pergi begitu saja, lalu pria itu bangun sendirian di rumah asing tanpa mengetahui siapa-siapa selain dirinya.
“Aku tidak ingin membangunkanmu,” jawab Serena lebih lembut sekarang.
Julian menyandarkan tubuh perlahan ke sofa sambil tetap menatap Serena. “Aku pikir kau pergi.”
“Aku memang pergi.”
“Maksudku...” Julian mengusap tengkuknya pelan, “pergi sungguhan.”
Jantung Serena langsung menegang sedikit. Karena nada suara Julian terdengar terlalu jujur sekarang. Ada sekelebat rasa takut.
Perempuan itu akhirnya berjalan mendekat lalu duduk di sofa seberang Julian. “Aku tidak akan meninggalkanmu.”
Kebohongan itu keluar begitu mudah sekarang. Dan bagian paling mengerikan dari semuanya adalah, Serena mulai percaya pada kebohongannya sendiri.
Julian terlihat sedikit lebih tenang setelah mendengar itu. Tatapannya turun ke gelas kopi yang ada di tangan Serena.
“Kau membeli kopi tanpa aku.”
Serena langsung tertawa kecil. “Kau terdengar menyedihkan sekali.”
“Aku memang sedang menyedihkan.”
Dan sialnya, Julian mengatakannya dengan wajah terlalu tampan untuk ditertawakan.
Perempuan itu akhirnya mengulurkan paper bag kecil dari toko roti tadi. “Aku membawakan croissant.”
Julian menerimanya pelan. Dan Serena memperhatikan sesuatu yang aneh. Gerakan Julian saat mengambil makanan itu terasa familier, seolah mereka memang pernah hidup seperti ini bertahun-tahun lamanya.
Pagi yang santai. Sarapan kecil. Obrolan sederhana. Dan itu membuat dada Serena terasa sesak.
“Kau masih pusing?” tanya Serena pelan.
“Lebih baik.”
“Masih mimpi buruk?”
“Tidak.” Julian berhenti sebentar sebelum melanjutkan, “namun lebih mengganggu karena aku masih tidak bisa mengingat apapun.”
Tatapan pria itu perlahan kembali ke Serena. “Termasuk dirimu.”
Jantung Serena langsung berdetak lebih lambat. “Aku di sini sekarang.”
“Aku tahu.” Julian tersenyum kecil samar. “Itu bagian anehnya.”
“Aneh?”
“Aku tidak mengingatmu.” Tatapannya menahan Serena cukup lama. “Namun rasanya aku terlalu nyaman di dekatmu.”
Napas Serena langsung tercekat. Karena bahkan sekarang, Julian masih mencintainya dengan cara paling naluriah.
Pria itu membuka paper bag pelan sebelum kembali bicara santai, “Aku sempat ke dapur tadi pagi.”
Serena mengangkat alis kecil.
“Oh ya?”
“Aku ingin membuat kopi.”
“Hasilnya?”
“Staff rumah ini terlihat takut aku membakar mansion.”
Serena langsung tertawa, membuat Julian memperhatikan tawanya beberapa detik lebih lama lagi.
“Apa?” tanya Serena akhirnya.
“Aku suka saat kau tertawa.” Kalimat itu keluar begitu tenang. Seolah Julian tidak sadar betapa mudahnya ia membuat Serena kehilangan arah.
Sunyi muncul di antara mereka. Lalu Julian akhirnya bersandar lebih santai sambil menggigit croissant-nya pelan, sementara matanya tertuju pada televisi yang nyala sedari tadi, menampilkan berita tentang Liam Knox yang mengadakan kunjungan ke panti jompo, didampingi Damien.
“Aku dengar dari para staff, kalau rumah ini milik pria di televisi itu.”
Jantung Serena langsung menegang. “Damien?”
“Hm.”
Julian terlihat berpikir beberapa detik.
“Aneh sekali.” Tatapannya turun sebentar ke tangannya sendiri. “Aku tetap merasa tidak menyukai dia.”
Serena mencoba tertawa kecil. “Kau bahkan belum bertemu dengannya untuk waktu yang lama.”
“Itu yang membuatku bingung.” Julian menatap Serena lagi sekarang. “Kenapa rasanya seperti aku pernah ingin memukulnya?”
...----------------...
...To be continue...