NovelToon NovelToon
Sopirku Seorang Mafia

Sopirku Seorang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: irma rofiah

evelyn mengakhiri hidupnya dimalam ketika supir pribadinya yang ternyata seorang Mafia, memaksa untuk menikahinya. namun setelah matanya terpejam, Tiba-tiba ia kembali ke masa lalu dimana semua kehancuran belum terjadi. Apakah langkah yang akan evelyn ambil agar tidak berakhir dengan kematian yang sia-sia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon irma rofiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

penyamaran dimulai

Pukul lima pagi— mata Noah sudah terbuka.

Seperti biasa, Tidurnya selalu singkat, namun cukup. Ia bangkit tanpa ragu, langsung menuju kamar mandi, lalu kembali dengan wajah segar namun ekspresi tetap dingin.

Di luar, Brian sudah memastikan semuanya siap.

Pakaian telah disiapkan oleh pelayan. Namun berbeda dari biasanya— kali ini sederhana. Kemeja hitam polos dipadukan Celana hitam biasa. Sabuk, jam tangan, hingga sepatu—semuanya dipilih yang terlihat murah. Tidak mencolok, juga tidak berkelas. Cukup untuk membuatnya terlihat seperti pria biasa. Seorang calon sopir.

Noah mengenakannya tanpa banyak komentar. Ia berdiri di depan cermin. Menatap dirinya sendiri. Lalu tangannya naik ke rambutnya. Yang biasanya selalu tertata rapi dan wangi— kali ini sengaja ia biarkan sedikit berantakan. Tapi tidak terlalu kacau. Namun cukup untuk menghapus kesan sempurna.

Ia menatap bayangannya beberapa detik. Diam. Menilai. Lalu sedikit memiringkan kepala.

“Bagaimana penampilanku?” tanyanya akhirnya.

Brian menatapnya dari belakang. Beberapa detik. Seolah benar-benar mempertimbangkan jawabannya. Namun kemudian—ia menghela napas kecil dan berkata jujur,

“Anda… masih terlihat keren, Tuan.”

Noah mengangkat alis tipis.

“Mungkin aura memang tidak bisa dihilangkan,” lanjut Brian tanpa ragu.

Untuk sesaat—hening. Lalu sudut bibir Noah terangkat tipis. Bukan tersenyum. Lebih seperti… menerima kenyataan.

“Bagiku ini Cukup,” ujarnya singkat.

Ia tidak perlu terlihat sempurna. Ia hanya perlu— cukup meyakinkan.

Seorang pelayan datang dengan menunduk hormat. “Tuan, sarapan sudah siap.”

Noah hanya mengangguk singkat. Ia berjalan turun dari lantai atas, langkahnya tenang menyusuri tangga besar menuju ruang makan. Ruangan itu luas—terlalu luas untuk satu orang.

Meja marmer panjang dengan kursi-kursi yang berjajar rapi. Biasanya digunakan untuk pertemuan penting. Namun di pagi seperti ini—hanya ada dua orang. Noah… dan Brian.

Noah duduk tanpa banyak bicara. Pelayan segera menyajikan sarapan, namun ia tidak langsung menyentuhnya.

“Ponselku?” tanyanya singkat.

Brian langsung mengangguk, lalu merogoh saku jasnya.

“Sudah saya siapkan, Tuan.” Ia menyerahkan sebuah ponsel sederhana. Murah. Tanpa ciri khas. Dengan nomor baru yang tidak terhubung dengan apa pun.

Noah mengambilnya, menatap benda itu sejenak. Identitas baru. Peran baru. Semuanya harus bersih. Ia menyalakan ponsel itu, memastikan semuanya berfungsi. Lalu meletakkannya di samping piringnya.

Matanya sedikit menyipit. Hari ini— ia akan meninggalkan semua kemewahan ini. Dan masuk ke dunia yang berbeda. Dunia di mana ia harus berpura-pura menjadi seseorang yang jauh di bawah dirinya.

Setelah sarapan selesai, Noah dan Brian masuk ke dalam mobil.

Perjalanan berlangsung tenang. Tidak banyak percakapan. Hingga di tengah jalan— Noah tiba-tiba bersuara, “Berhenti di sini.”

Mobil melambat, lalu berhenti di pinggir jalan. Brian menoleh sedikit, namun tidak bertanya. Ia sudah terbiasa.

“Aku lanjut sendiri,” ujar Noah singkat.

Sebelum keluar, ia menatap Brian sejenak.

“Jika ada masalah saat aku pergi… segera kirimkan info.”

“Baik, Tuan.” Nada Brian tegas. Tanpa ragu. Ia tahu betul tanggung jawab yang kini berada di tangannya.

Usia mereka memang tidak jauh—hanya terpaut satu tahun—namun kepercayaan Noah pada Brian sudah terbentuk sejak lama.

Noah keluar dari mobil. Tidak lama kemudian, ia menghentikan sebuah taksi.Ia naik dan melanjutkan perjalanan… sebagai orang biasa. Tanpa pengawal. Tanpa kemewahan.

Beberapa menit kemudian— taksi itu berhenti. Di depan sebuah gerbang besar. Rumah milik Alberto Chaplin.

Gerbang besi tinggi berdiri kokoh. Penjagaan terlihat cukup ketat. Beberapa petugas berjaga dengan sikap waspada, memeriksa setiap orang yang datang.

Noah turun dari taksi. Membayar dengan uang tunai. Lalu berdiri sejenak di depan gerbang itu. Matanya mengamati sekitar. Tenang. Terukur. Seperti predator yang sedang menilai wilayahnya.

Hari ini—ia bukan penguasa. Bukan sosok yang ditakuti. Melainkan… seorang pelamar kerja.

Noah melangkah mendekat ke gerbang. Salah satu pengawal yang berjaga langsung menghentikannya.

“Keperluan?”

“Seleksi sopir pribadi,” jawab Noah singkat, suaranya datar namun cukup meyakinkan.

Pengawal itu mengangguk, lalu memberi isyarat untuk pemeriksaan.

Tubuh Noah diperiksa dengan teliti. Dari atas hingga bawah. Memastikan tidak ada senjata. Tidak ada benda mencurigakan.

Noah berdiri tenang selama proses itu. Wajahnya biasa saja. Seolah ia memang hanya pria biasa yang datang untuk melamar pekerjaan.

Padahal— ia tahu betul bagaimana cara menyembunyikan sesuatu jika ia menginginkannya.

“Masuk!,” ujar pengawal itu akhirnya.

Noah melangkah melewati gerbang besi besar itu. Dan untuk pertama kalinya— ia benar-benar memasuki wilayah Alberto Chaplin.

Halaman rumah itu luas. Sangat luas. Rumput hijau terawat, jalan setapak yang rapi, dan beberapa titik penjagaan yang terlihat jelas.

Ia berjalan mengikuti arahan pengawal menuju area yang telah disiapkan.

Di sana— sudah ada beberapa orang. Para calon lainnya. Beberapa tampak gugup. Beberapa lainnya terlihat angkuh dan percaya diri. Noah hanya melirik sekilas. Menilai. Mengukur. Namun tanpa menunjukkan apa pun.

Ia berdiri di salah satu sisi. Tenang. Seolah tidak tertarik dengan sekitar. Padahal pikirannya bekerja.

Saat ini— pukul setengah tujuh. Aturan yang diberikan sudah dijelaskan— semua calon harus sudah berada di tempat sebelum pukul tujuh. Sementara proses seleksi baru akan dimulai pukul delapan.

Mata Noah perlahan menyapu area itu sekali lagi. Tiga hari sebelumnya—seleksi tahap pertama sudah dilakukan. Semua calon diuji kemampuan mengemudi mereka dalam berbagai kondisi. Jalan besar, jalan sempit, jalan rusak, hingga jalur terjal, menanjak, dan berkelok tajam.

Bukan sekadar mengemudi biasa— melainkan bagaimana mereka mengendalikan kendaraan dalam situasi sulit.

Dari banyak peserta— hanya sepuluh orang yang lolos. Dan salah satunya adalah Cristian Noah Alexander.

Kini—mereka berada di tahap berikutnya. Tahap yang jauh lebih serius. Bukan lagi soal mengemudi. Melainkan...melindungi.

Noah berdiri diam, mendengarkan penjelasan dari salah satu pengawas di depan.

“Hari ini,” ucap pria itu tegas, “kalian akan diuji kemampuan melindungi tuan kalian saat terjadi bahaya di tengah perjalanan.”

Beberapa peserta langsung tampak tegang. Yang lain mencoba tetap tenang. Namun jelas—ini bukan ujian biasa. Ini bukan hanya soal kekuatan. Tapi juga refleks. Kecepatan berpikir. Dan keberanian menghadapi situasi tak terduga.

Noah sedikit menundukkan kepala. Senyum tipis hampir tak terlihat di bibirnya.

Melindungi…Ia sudah terlalu terbiasa dengan hal seperti itu. Bahkan—lebih dari yang mereka bayangkan. Membunuh dengan kejam.

1
Gricelda Pereira
💪💪💪💪 semangat truuuuus yaaa ka update nya
Gricelda Pereira
tolongg lanjuuut updateee yaaa kaa sangat baguuus
Gricelda Pereira
sangat bagus tolong dilanjutkan yaaa
Gricelda Pereira
kaaaak tolong updeat lagiiiii yaaa biaaar rameee
irma rofiah: ditunggu ya 🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!