NovelToon NovelToon
Mengejar Si Cinta Sampai Ke Desa

Mengejar Si Cinta Sampai Ke Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:848
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Rasyid adalah calon Bupati muda yang dikelilingi wanita-wanita cantik yang mengincar posisi Istri Bupati.

Tetapi hati Rasyid sudah terpaut pada Ami, gadis desa lulusan SMA yang benar-benar tak tertarik padanya.

Perjuangan Rasyid untuk mendapatkan Ami, dibantu oleh ajudan setianya, Andre.

Ketika Rasyid sudah mendapatkan Ami, lawan politik menyerang hingga mereka dipisahkan takdir.

Andre hadir untuk mengisi posisi kosong itu tanpa niat buruk.

Namun, ketika keadaan kembali seperti semula, Ami memutuskan kembali ke desa, mencari ketenangan hingga dijemput kembali oleh lelaki pilihannya.

~~Kita bisa merencanakan sesuatu, namun takdir yang menentukan akhirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akhirnya Bertemu Juga

Ami tampak sibuk memperhatikan tanaman sambil sesekali mencatat sesuatu kecil di buku lusuhnya. Namun beberapa detik kemudian gadis itu mendadak berhenti bergerak. Perlahan Ami menoleh. Dan tepat bertemu dengan tatapan Rasyid. Wajahnya langsung berubah panik. “Pak Rasyid?!”

Rasyid yang ketahuan hanya tersenyum kecil sambil keluar dari persembunyiannya.

Sedangkan Ami spontan celingukan ke sekitar kebun dengan gelisah. “Bapak ngapain ke sini?!” Nada suaranya tertahan panik. Tatapannya sibuk memastikan tidak ada warga yang melihat keberadaan calon bupati itu di kebunnya pagi-pagi begini.

“Tenang,” kata Rasyid santai. “Nggak ada orang.”

“Justru itu!” Ami mendesis pelan. “Kalau ada yang lihat gimana?”

Rasyid malah melangkah mendekat dengan tenang. “Saya cuma mau ketemu kamu.”

Ami benar-benar hampir pusing menghadapi laki-laki itu. “Pak…” suaranya melemah. “Kenapa sih Bapak begini?”

Rasyid menatapnya beberapa detik sebelum menjawab pelan, “Karena kamu menghilang.”

Ami terdiam.

“Saya kirim pesan nggak dibalas.” Tatapan Rasyid berubah lebih serius. “Ditelepon juga nggak aktif.”

Ami menggigit bibir bawahnya pelan. Dan tanpa sadar, jantungnya kembali berdetak kacau saat melihat ada kekhawatiran nyata di mata laki-laki itu.

Ami menarik napas panjang sebelum akhirnya berkata cepat, seolah takut keberaniannya hilang kalau terlalu lama menatap Rasyid. “Saya akan jawab lamaran Bapak.”

Rasyid langsung diam memperhatikannya.

Ami menggenggam keranjang kecil di tangannya lebih erat. “Saya menolaknya.”

Kalimat itu akhirnya keluar juga. Angin pagi berembus pelan di antara kebun cabai dan bawang yang mulai menguning. Namun wajah Rasyid justru terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja ditolak.

Ami memaksa dirinya melanjutkan. “Saya tidak ingin jadi istri Bapak.” Suaranya mulai bergetar tipis. “Ataupun istri bupati.”

Tatapan Rasyid tidak lepas darinya sedikit pun. Dan justru ketenangan laki-laki itu membuat Ami semakin gugup. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya Rasyid berkata pelan, “Sayangnya… sudah nggak ada lagi opsi menolak, Mi.”

Ami langsung membelalak. “Kenapa?” Tatapannya mulai panik. “Bapak mau memaksa saya?”

“Bukan begitu,”

“Nggak akan bisa!” Ami memotong cepat dengan napas tak teratur. “Saya nggak mau dan Bapak nggak bisa begitu!”

Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, Ami benar-benar terlihat marah pada Rasyid. Namun laki-laki itu justru mendekat selangkah dengan tatapan serius. “Saya nggak pernah berniat memaksa kamu.”

“Lalu maksud Bapak apa?!”

Rasyid menghela napas kecil. “Karena…” sorot matanya melembut, “…saya sudah terlalu jauh jatuh hati sama kamu.”

Ami langsung kehilangan suara.

Rasyid melanjutkan dengan nada tenang tetapi penuh keyakinan, “Dan sekarang saya nggak tahu caranya berhenti.”

Jantung Ami berdetak kacau.

Sementara Rasyid terus menatapnya lurus. “Saya tahu kamu takut. Saya tahu keluarga saya membuat kamu terluka.” Rahangnya sedikit mengeras mengingat ucapan Paman Badri. “Tapi kalau alasan kamu menolak cuma karena merasa nggak pantas…” suaranya merendah, “maka saya nggak akan menyerah.”

Ami memalingkan wajah cepat karena matanya mulai panas. “Pak…” suaranya melemah. “Dunia kita beda.”

“Terus kenapa?”

“Saya cuma perempuan kampung!”

“Tapi kamu perempuan yang saya pilih.”

Jawaban itu membuat Ami benar-benar kehilangan pertahanan sesaat.

Rasyid menatap kebun di sekitar mereka lalu kembali pada Ami. “Kamu pikir saya peduli orang bilang apa?”

“Tapi saya peduli!” sahut Ami cepat. “Saya capek kalau nanti hidup saya terus dipandang rendah!” Kalimat itu akhirnya pecah keluar bersama emosi yang sejak tadi ia tahan. Ami menunduk sambil menahan napas gemetar. “Saya tahu diri, Pak…”

Dan untuk pertama kalinya, Rasyid benar-benar bisa melihat betapa besar ketakutan yang disimpan gadis itu di balik sikap kuatnya selama ini.

Melihat mata Ami yang mulai memerah dan tubuhnya sedikit gemetar menahan emosi, Rasyid spontan melangkah maju. Tanpa banyak berpikir, ia langsung menarik Ami ke dalam pelukannya. Sebuah gerakan refleks. Murni karena ingin menenangkan perempuan yang sejak tadi terlihat menahan terlalu banyak beban sendirian.

“Ami…” bisiknya pelan. “Lihat saya.”

Namun Ami justru membeku dalam pelukan itu. Jantungnya seperti berhenti berdetak sesaat. Karena selama ini, tidak pernah ada laki-laki yang memperlakukannya sehangat itu.

Sebelum salah satu dari mereka sempat tersadar, “Heh?!” Suara beberapa laki-laki tiba-tiba terdengar dari arah jalan kebun. “Ami?!”

Keduanya langsung menoleh bersamaan. Sekelompok petani yang baru lewat menuju ladang tampak membelalak kaget melihat pemandangan di depan mereka.

Mata Ami langsung melebar panik. Refleks, ia buru-buru mendorong tubuh Rasyid menjauh lalu memalingkan wajah laki-laki itu agar tidak terlalu terlihat jelas. “Ya Allah…” Wajah Ami langsung pucat.

Sementara para petani itu mulai saling berbisik. Karena meski Rasyid menyamar sederhana, postur dan wajahnya tetap sulit tidak dikenali. Dan kalau sampai mereka sadar siapa laki-laki itu habislah semuanya.

“Please…” bisik Ami panik dengan napas tidak beraturan. “Tolong… cepat pergi dari sini!” Tangannya mendorong dada Rasyid pelan agar menjauh.

Tatapan gadis itu benar-benar ketakutan sekarang. Bukan takut pada dirinya. Tetapi takut pada omongan orang-orang setelah ini.

Sementara dari kejauhan, salah satu petani mulai menyipitkan mata curiga. “Itu… jangan-jangan…”

Rasyid langsung mengerti situasinya. Dan untuk pertama kalinya sejak tadi, ia sadar bahwa kedekatan mereka mulai benar-benar berbahaya bagi Ami.

Rasyid menatap Ami beberapa detik. Ia bisa melihat kepanikan nyata di wajah gadis itu. Bibirnya gemetar. Tatapannya terus mengawasi para petani yang masih berdiri tak jauh dari jalan kebun sambil berbisik-bisik penasaran.

Kalau situasi ini makin lama, identitas Rasyid pasti terbongkar. Dan yang akan paling terkena dampaknya bukan dirinya. Melainkan Ami. Karena di kampung kecil seperti Lembah Embun, kabar bisa menyebar lebih cepat dari angin.

Tanpa banyak bicara lagi, Rasyid akhirnya mundur satu langkah. “Maaf,” katanya lirih.

Namun Ami justru semakin panik mendengar suara langkah para petani mulai mendekat. “Cepat pergi, Pak…” Nada suaranya hampir memohon.

Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, Rasyid melihat Ami benar-benar ketakutan. Bukan karena dirinya. Tetapi karena kehormatan dan nama keluarganya bisa jadi bahan omongan warga. Dan kesadaran itu membuat dada Rasyid terasa sesak. Akhirnya ia mengangguk pelan.

Sebelum pergi, Rasyid sempat menatap Ami sekali lagi. Tatapan yang penuh penyesalan sekaligus keteguhan. “Aku nggak akan nyerah, Mi,” katanya sangat pelan, hanya cukup untuk didengar Ami. Lalu ia berbalik cepat menyusuri jalan kebun.

Beberapa petani yang tadi melihat kejadian itu spontan memperhatikan punggungnya dengan curiga. “Itu siapa tadi?”

Ami buru-buru menjawab sebelum mereka makin mendekat. “Orang dinas pertanian.”

“Dinas pertanian mana tinggi amat badannya,” celetuk salah satu bapak sambil tertawa kecil. "Bukannya yang biasa datang itu badannya kecil, ya?"

Yang lain mulai ikut bercanda. Tetapi Ami sama sekali tidak bisa tertawa. Karena jantungnya masih berdetak keras akibat kejadian barusan. Dan lebih parah lagi pelukan singkat Rasyid tadi masih terasa hangat di tubuhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!