Merlin percaya bahwa cinta cukup untuk membuat seseorang tetap tinggal disisinya. Sampai suatu hari, ia menyadari bahwa, cinta tidak selalu kalah oleh cinta pada orang ketiga. Melainkan, ia kalah oleh tanggung jawab.
Reyno tidak pernah benar-benar pergi dari sisinya. Dia masih pulang. Masih memanggil nama Merlin seperti biasa.
Tapi perlahan, kehadirannya berubah. Perhatiannya terbagi. Waktunya bukan lagi milik satu hati. Dan tanpa disadari, Merlin mulai kehilangan seseorang yang masih ada di sisinya.
Di antara kewajiban dan perasaan,
siapa yang seharusnya dipilih?
Dan ketika semuanya sudah terlambat,
apakah cinta masih punya tempat untuk kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Green_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yhtp *27
Dan saat telepon akhirnya tersambung, suara Reyno terdengar santai dari seberang sana. Latar belakang suaranya terdengar seperti di ruang sedikit tertutup. Karena ada gema yang terdengar cukup jelas di sana.
"Halo? Ada apa, Mer? Aku bentar lagi pulang kok, bentar aja ya. Kamu tunggu aja di rumah."
"Rey ..." suara Merlin pecah total, tak ada kekuatan sama sekali. Napasnya tersengal-sengal menahan rasa sakit yang luar biasa. "Aku sakit ... Rey ... aku sakit banget ...."
Reyno yang saat itu sedang duduk di samping Yara di apartemen wanita itu langsung berdiri tegak. Wajahnya berubah tegang dan panik seketika.
"Mer? Kamu kenapa? Ada apa? Sakit di mana!" serunya cepat.
"Aku ... aku ...." Merlin menangis, tangannya mencengkeram perutnya yang makin terasa sakit dan panas. "Darah, Rey. Ada darah banyak banget ...." Merlin berucap dengan susah payah.
Dug! Jantung Rey serasa dihantam palu besi berat. Darahnya berhenti mengalir seketika. Seluruh tubuhnya menjadi dingin membeku.
"DARAH?!" Suara pria itu langsung meninggi sambil bergetar karena ketakutan. Ia mulai berjalan cepat menuju pintu. "MERLIN, TUNGGU! AKU PULANG SEKARANG! TAHAN SEDIKIT LAGI, AKU DATANG!"
Namun sebelum Merlin sempat menjawab apa-apa lagi, rasa lemas yang luar biasa menyergap seluruh tubuhnya. Pandangan matanya mulai kabur, berputar, dan perlahan menghitam. Suara-suara di sekitarnya terdengar menjauh, samar, dan tak jelas.
"Rey ...." bisiknya terakhir kali, air matanya terus jatuh membasahi pipi yang dingin. "Sakit sekali. Tolong, selamatkan anak kita ...."
Dan sambungan telepon itu terputus begitu saja. Panik Rey semakin besar memenuhi hati dan pikiran. Langkah besar sedikit berlari. Namun, sayangnya, usaha itu akan tetap sia-sia saja.
"MERLIN! MERLIN JAWAB! HEI!"
Reyno berteriak histeris ke ponsel yang sudah mati sambungannya itu. Wajahnya pucat pasi. Tangannya gemetar hebat sampai ponsel itu hampir terlepas dari gengaman. Tanpa pikir panjang, tanpa menoleh ke arah Yara yang memanggil namanya dengan nada bingung, Reyno langsung berlari keluar apartemen itu, menuruni tangga dua tingkat sekaligus.
Untuk pertama kalinya dalam hubungan ini, rasa takut yang sesungguhnya, rasa takut kehilangan yang nyata, menghantam dada Reyno dengan kekuatan yang menghancurkan.
Sepanjang perjalanan pulang, Reyno terus mencoba menelepon Merlin berkali-kali. Berkali-kali pula nada sambungnya saja yang terdengar. Tidak ada jawaban. Tidak ada suara.
Dan semakin lama ia menyetir dengan kecepatan tinggi menerobos hujan, semakin dalam rasa sesak di dadanya. Sesak yang seolah meremas paru-parunya sampai ia sulit mengambil napas.
"Angkat ... angkat dong, Merlin. Tolong angkat," gumamnya berulang kali, matanya berkaca-kaca karena panik. "Ya Tuhan ... jangan apa-apain dia ... aku mohon ...."
Pikirannya kacau bukan kepalang. Tubuhnya dingin seperti mayat. Dan entah kenapa, hatinya merasakan ketidaktenangan yang begitu besar, rasa kehilangan yang mendahului kejadian itu sendiri.
Saat akhirnya mobil yang Rey kendarai tiba di halaman tempat ia tinggal, mobilnya ia parkirkan sembarangan di depan gedung. Rey pun berlari secepat kilat masuk ke dalam. Menaiki lift dengan napas memburu.
Saat sampai di depan pintu apartemennya, tangannya yang gemetar susah payah memasukkan kunci. Hingga akhirnya berhasil, lalu pintu pun terbuka.
"MERLIN!" Teriak Rey dengan nada yang bercampur aduk.
Ruangan itu sunyi senyap. Hanya suara hujan dari luar yang terdengar. Dan beberapa detik kemudian, dunia Reyno runtuh seketika.
Di lantai ruang tamu, tidak jauh dari sofa, Merlin terbaring lemah. Tubuhnya meringkuk kecil karena rasa sakit. Wajahnya putih pucat seperti kertas, bibirnya membiru, dan matanya terpejam lemah. Tubuhnya masih gemetar kecil karena rasa sakit yang menggerogoti.
Dan di bawah tubuh wanita itu, di lantai keramik yang dingin, ada genangan darah yang terlihat. Sangat banyak berwarna merah pekat. Itu terlihat sangat nyata dan mengerikan.
"MERLIN!!!"
Reyno berteriak sekuat tenaga, teriakan keputusasaan yang memilukan. Ia langsung jatuh berlutut di samping tubuh istrinya. Tangannya gemetar hebat saat mencoba mengangkat dan menopang tubuh dingin itu ke dalam pelukannya.
"Hey ... hey ... lihat aku ... Merlin, lihat aku dong. Aku di sini sekarang, aku udah pulang ..." suaranya pecah, penuh kepanikan. Ia menepuk-nepuk lembut pipi istrinya yang dingin. "Jangan tutup mata kamu, Mer. Tetap bangun ya ... dengerin aku ...."
Perlahan, mata Merlin terbuka sedikit. Pandangannya kabur, namun ia bisa melihat wajah suaminya di sana. Ia menangis lemah di pelukan Reyno, tangannya yang dingin mencengkeram kemeja suaminya dengan sisa tenaga yang ada.
"Rey ..." suaranya nyaris tak terdengar.
"Iya ... iya aku di sini. Aku nggak ke mana-mana ... aku ada di sini sama kamu," jawab Reyno cepat, air matanya mulai jatuh deras membasahi wajah istrinya. Matanya sudah memerah total. "Maafin aku ... Merlin. Maafin aku ya ... aku jahat, aku bodoh."
Wanita itu menangis semakin keras, tubuhnya berguncang hebat karena isak tangis yang bercampur rasa sakit. Tangannya yang gemetar bergerak perlahan, menyentuh perutnya sendiri, lalu menatap wajah Reyno dengan pandangan yang penuh kepedihan.
"Anak kita ...."
Kalimat itu keluar lirih, namun terasa seperti petir di siang bolong bagi Reyno.
"Ap-- apa?" tanya pria itu sedikit berbisik, takut salah dengar. Takut salah dalam memahami maknanya yang baru saja telinganya dengar.
Air mata Merlin jatuh semakin deras, mengalir masuk ke sela-sela pelukan mereka.
"Aku hamil, Rey ...."
Dug. Dunia Reyno benar-benar berhenti berputar. Jantungnya terasa berhenti berdetak.
Pria itu langsung menatap wajah istrinya dengan mata membesar tak percaya.
Matanya berputar liar mencari penjelasan, mencari kebenaran. Di sela-sela bantal sofa, ia melihat selembar kertas yang tergeletak tidak jauh dari situ. Gambar yang samar namun masih bisa di baca dengan sangat jelas. Di sana tertulis dengan sangat nyata tulisan medis yang menyatakan hasil USG tentang keberadaan anaknya.
Hancur. Seketika, hatinya hancur lebur menjadi debu. Penyesalan yang teramat besar langsung menenggelamkan dirinya. Ia tidak tahu. Ia tidak pernah tahu. Ia terlalu sibuk dengan orang lain, sampai ia tidak sadar ada kehidupan baru yang sedang tumbuh di dalam tubuh istrinya sendiri.
Namun sebelum ia sempat berkata apa-apa, sebelum ia sempat menangis bahagia atau meminta maaf, Merlin kembali menangis lirih di dadanya. Suaranya penuh keputusasaan dan kesedihan yang sangat besar.
"Dia pergi, Rey .... Anak kita pergi ...."
Dan untuk pertama kalinya dalam hidup seorang Reyno, ia merasakan rasa kehilangan yang begitu besar, begitu menyakitkan, dan begitu menghancurkan. Sehingga membuat napasnya sendiri terasa sakit.
Kalimat itu menggantung berat di udara, menindih dada Rey sampai ia rasakan sulit sekali bernapas. Anak kita pergi. Tiga kata itu berputar-putar di kepalanya, menghantam kesadarannya berulang kali, lebih keras dari apa pun yang pernah ia rasakan seumur hidupnya.
🥹🥹