NovelToon NovelToon
Cinta Sesuai Takdir

Cinta Sesuai Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan
Popularitas:468
Nilai: 5
Nama Author: Hsnwy

Amelia hanya gadis desa biasa yang hidup dalam kekurangan dan percaya bahwa kerja keras cukup untuk bertahan hidup.

Sampai suatu malam…

orang yang paling dia percaya menjualnya untuk melunasi hutang.

Dibawa ke kota asing dan dijadikan barang di tempat pelelangan ilegal, Amelia mengira hidupnya sudah berakhir.

Namun di malam yang sama—

dia bertemu pria yang seharusnya tidak pernah masuk ke dunianya.

Lorenzo Moretti.

Pria dingin, berbahaya, dan ditakuti seluruh dunia bawah tanah.

Awalnya Lorenzo hanya berniat memburu pengkhianat.

Tapi satu keputusan kecil membuat semuanya berubah—

dia membawa pulang gadis desa yang bahkan tidak mengenal namanya.

Amelia pikir mansion megah itu akan menjadi tempat perlindungan.

Dia salah.

Karena sejak malam itu, dia justru masuk lebih dalam ke dunia penuh darah, pengkhianatan, dan perang kekuasaan.

Dan ketika organisasi misterius mulai mengincarnya…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hsnwy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 — Serangan di Malam Berdarah

Bab 8 — Serangan di Malam Berdarah

Dor! Dor! Dor!

Suara tembakan menggema keras dari lantai bawah gedung mewah itu. Musik langsung berhenti. Gelas-gelas anggur jatuh pecah ke lantai. Para pria kaya yang tadi duduk santai kini mulai panik dan berteriak ketakutan.

“Ada penyerang!”

“Tutup semua pintu!”

“Siapa mereka?!”

Suasana berubah kacau dalam hitungan detik. Beberapa wanita menjerit histeris. Sebagian penjaga langsung mengeluarkan pistol dan berlari keluar ruangan. Sementara Amelia Santoso berdiri membeku di tempat dengan tubuh gemetar.

Ia bahkan belum sempat memahami apa yang sedang terjadi.

Pria tua yang tadi mencengkeram lengannya langsung melepaskannya kasar. “Brengsek! Apa polisi datang?!”

Dor!

Suara tembakan lain terdengar lebih dekat. Jeritan keras menggema dari koridor luar. Tubuh Amelia langsung bergetar hebat. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia berada di tengah baku tembak sungguhan.

Elena buru-buru menarik tangan Amelia. “Ini kesempatan kita!”

“Apa?”

“Kita harus kabur sekarang sebelum semuanya terlambat!”

Mereka langsung berlari menuju pintu belakang bersama beberapa wanita lain yang mulai panik. Langkah mereka kacau. Sebagian menangis. Sebagian hampir jatuh karena ketakutan.

Namun belum sempat jauh—

BRAK!

Pintu besar di ujung koridor terbuka paksa.

Beberapa pria berpakaian hitam masuk sambil membawa senjata otomatis. Tatapan mereka dingin dan mematikan.

Salah satu penjaga gedung langsung menembak lebih dulu.

Dor! Dor!

Namun pria-pria berpakaian hitam itu bergerak lebih cepat.

Dor!

Penjaga tersebut roboh seketika dengan darah mengalir dari kepalanya.

Amelia langsung menutup mulut menahan teriakan. Tubuhnya melemas. Darah. Mayat. Tembakan. Semua terasa seperti mimpi buruk.

“Naik ke atas!” salah satu wanita berteriak panik.

Mereka semua langsung berlari menuju tangga darurat. Elena menarik Amelia sekuat tenaga. “Cepat!”

Napas Amelia mulai memburu saat menaiki tangga sempit yang gelap. Kakinya terasa lemas.

“Aku takut…” lirihnya dengan suara gemetar.

“Kita harus keluar dari sini!”

Namun saat mereka tiba di lantai berikutnya, dua pria bersenjata tiba-tiba muncul dari ujung lorong.

“Berhenti!”

Elena langsung membeku. Wajah Amelia pucat pasi.

Salah satu pria itu menyeringai sambil mengangkat pistol. “Mau kabur ke mana?”

Jantung Amelia terasa berhenti. Pria itu mulai berjalan mendekat perlahan.

“Kalian tetap milik bos.”

Elena menggenggam tangan Amelia erat. “Lari!”

Mereka langsung berbalik.

Dor!

Peluru menghantam dinding tepat di samping Amelia. Ia menjerit ketakutan. Langkah mereka semakin kacau.

Namun tiba-tiba—

Dor! Dor!

Dua tembakan baru terdengar dari arah belakang.

Tubuh kedua pria bersenjata tadi langsung roboh ke lantai.

Sunyi.

Lorong mendadak hening. Hanya suara napas panik Amelia yang terdengar jelas.

Lalu suara langkah kaki perlahan mulai mendekat dari ujung lorong gelap.

Tok.

Tok.

Tok.

Beberapa pria berpakaian hitam muncul lebih dulu. Aura mereka sangat mengerikan. Tatapan tajam, tubuh penuh luka, dan senjata di tangan mereka dipenuhi darah.

Namun yang paling menakutkan adalah pria tinggi yang berjalan di belakang mereka.

Jas hitam panjangnya masih dipenuhi bercak darah segar. Wajahnya tampan. Sangat tampan. Namun dingin seperti iblis.

Matanya abu-abu tajam tanpa emosi.

Dan auranya membuat seluruh lorong terasa sesak.

Lorenzo Moretti.

Amelia tidak tahu siapa pria itu. Namun hanya dengan melihatnya saja, tubuhnya langsung gemetar.

Salah satu pria di belakang Lorenzo menunduk hormat. “Bos, area atas sudah aman.”

Lorenzo tidak langsung menjawab. Tatapan matanya perlahan menyapu lorong, lalu berhenti tepat pada Amelia.

Beberapa detik.

Namun Amelia merasa seperti seluruh tubuhnya membeku. Tatapan pria itu terlalu tajam. Seolah mampu melihat seluruh ketakutan dalam dirinya.

Elena langsung menunduk gugup. Sementara Amelia bahkan lupa cara bernapas.

Lorenzo melirik dua mayat di lantai tanpa ekspresi. “Bersihkan.”

“Baik, Bos.”

Beberapa pria langsung menyeret mayat pergi begitu saja.

Dan hal itu membuat Amelia semakin ketakutan. Bagaimana mungkin seseorang bisa setenang itu melihat kematian?

Pria ini…

siapa sebenarnya dia?

Suara langkah tergesa terdengar dari belakang.

“Bos!”

Marco De Luca muncul sambil membawa pistol. “Kita harus pergi sekarang. Polisi mulai bergerak.”

Lorenzo mengangguk pelan. Namun sebelum pergi, tatapannya kembali tertuju pada Amelia.

Gadis itu terlihat ketakutan. Tubuh kecilnya gemetar. Namun anehnya, ia masih berdiri melindungi Elena di belakangnya.

Tatapan Lorenzo sedikit berubah.

Kebanyakan orang hanya memikirkan diri sendiri saat takut.

Tapi gadis desa itu berbeda.

Marco mengikuti arah pandang Lorenzo lalu mengernyit kecil. “Siapa mereka?”

“Korban perdagangan manusia,” jawab salah satu anak buah.

Marco mengumpat pelan. “Bajingan.”

Lorenzo tetap diam. Tatapannya belum lepas dari Amelia.

Dan saat Amelia menunduk, sebuah foto kecil jatuh dari tasnya.

Foto lama dirinya bersama Nenek Hana.

Sederhana. Hangat. Dan sangat bertolak belakang dengan dunia gelap tempat mereka berdiri sekarang.

Entah kenapa, sesuatu terasa aneh di dada Lorenzo. Perasaan yang sudah sangat lama tidak ia rasakan.

“Bos?” panggil Marco lagi.

Lorenzo akhirnya mengalihkan pandangan. “Keluarkan semua wanita dari tempat ini.”

Marco tampak sedikit terkejut. Biasanya Lorenzo tidak pernah peduli urusan seperti ini.

Namun ia tetap mengangguk. “Baik.”

Beberapa pria Moretti segera mulai membantu para wanita keluar lewat jalur belakang.

Elena terlihat lega setengah mati. “Kita selamat…”

Namun Amelia masih belum bisa tenang. Karena pria bernama Lorenzo itu masih terasa sangat menakutkan baginya.

Saat semua orang mulai bergerak turun—

Dor!

Suara tembakan keras menggema dari bawah.

Salah satu anak buah Moretti langsung roboh.

“PENYERGAPAN!”

Suasana kembali kacau.

“Lindungi Bos!”

Puluhan pria bersenjata muncul dari luar gedung. Ternyata kelompok rival Moretti sudah menunggu.

Dor! Dor! Dor!

Tembakan kembali bersahutan. Marco langsung menarik Lorenzo berlindung.

“Romano mengirim orang!”

Lorenzo mencabut pistolnya dengan tenang. Aura dingin langsung kembali memenuhi udara.

“Bunuh semuanya.”

Amelia membeku melihat perubahan pria itu. Beberapa detik lalu ia terlihat tenang. Namun sekarang…

ia benar-benar seperti monster.

Dor!

Lorenzo menembak pria pertama tanpa ragu. Tubuh pria itu langsung jatuh dari tangga.

Jeritan terdengar di mana-mana.

Elena menarik Amelia panik. “Kita harus pergi!”

Namun saat Amelia hendak bergerak, seorang pria bersenjata tiba-tiba muncul dari belakang lorong dan mengarahkan pistol tepat ke kepalanya.

“JANGAN BERGERAK!”

Wajah Amelia langsung pucat.

Pria itu mencengkeram lengannya kasar lalu menyeretnya mundur. “Aku dapat gadisnya!”

Marco langsung mengangkat pistolnya. “Lepaskan dia!”

Pria bersenjata itu tertawa dingin. “Kalau mau Bos Moretti hidup…”

Ia menekan pistol lebih kuat ke kepala Amelia.

“Gadis ini ikut dengan kami.”

Tubuh Amelia gemetar hebat. Air matanya mulai jatuh. Ia benar-benar takut mati.

Namun yang lebih membuatnya takut adalah tatapan Lorenzo saat itu.

Tatapan dingin.

Gelap.

Dan penuh kemarahan mematikan.

Untuk pertama kalinya malam itu, monster dari Italia tersebut terlihat benar-benar marah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!