"Tuhan!, tidak banyak yang ku pinta, hanya kuatkan hati ku, bimbing langkahku, agar aku selalu sabar dan ikhlas dengan semua kehendak dan ketentuan mu ini".
Kisah perjuangan hidup seorang anak manusia, seorang remaja miskin, putra dari seorang penderita odgj bernama Kaenan.
Hinaan, caci maki, fitnah dan perundungan bahkan kekerasan fisik, sudah menjadi lauk makan sehari hari.
Meskipun hidup dalam kemiskinan dan tak punya siapa siapa, satu hal yang masih di yakini Kaenan, dia masih punya Allah dan doa doa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvinoor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Diantara saung saung ini, ada beberapa yang berdinding kalsibort, yang dilapisi ijuk, sebagai ruang privasi kelas VIP yang bisa di pesan.
Saung saung ini biasanya agak jauh kebelakang, sedikit terlindung.
"Maaf!, aku mau kebelakang sebentar ya, kalian tunggu saja disini, sebentar saja kok!" ujar Kaenan berjalan kebelakang mencari WC menurut plang petunjuk jalan nya.
Ternyata letak WC ini berada di belakang ruang VIP atau ruang privasi.
Baru saja berjalan melewati sebuah saung tertutup, Kaenan mendengar sebuah suara asing ditelinga nya, seperti suara rintihan halus seorang wanita.
"Aduh sayang!, jangan berhenti, teruskan, pokok nya aku tidak mau menikah kalau bukan sama kamu, kamu sudah bikin aku ketagihan terus!" ucap seorang wanita setengah berbisik lirih, namun cukup nyaring untuk diabaikan.
Sebenar nya Kaenan tidak ada niatan untuk mencuri dengar pembicaraan kedua insan ini, seandainya nya tidak ada satu nama yang disebutkan.
"Tapi jika kau tidak mau di jodohkan dengan adik sepupu mu itu, bagai mana caranya kita bisa menguras kekayaan tuan besar Baskoro yang serakah itu?" suara seorang pria bertanya.
"Tapi sayang, aku tidak bisa pisah lama lama sama si otong kecil kesukaan ku ini" ....
"Kita masih bisa melakukan nya kapan saja sayang, kau menikah dengan anak bodoh itu sekedar hanya formalitas saja sayang, setelah empat puluh persen saham kekek mu kau genggam, kau bisa menendang nya jauh jauh, kau paham?" ....
"Bagai mana dengan Syafea, dia juga pemilik tiga puluh persen saham kakek" ....
"Ah itu mudah sayang, gadis bodoh itu akan menyerahkan sisa tiga puluh persen saham itu kepada mu dengan suka rela" ....
"Cara nya?" ....
"Aku akan pura pura merayu nya, setelah dia takluk dan menyerahkan sisa saham itu kepada ku, dia akan ku tendang, dan Hanggada group menjadi milik kita berdua, kita dengan mudah menendang pria tua itu, setelah kita kuras seluruh harta kekayaan nya" suara seorang pria.
Kaenan buru buru pergi ke WC yang terdapat tidak jauh dari saung VIP itu.
Saat Kaenan kembali setelah selesai buang air kecil dan melewati saung itu, Kaenan masih mendengarkan suara rintihan rintihan asing di telinga nya, disertai suara decikan aneh, dan jeritan kecil dua anak manusia.
Tiba-tiba di saung, Niken dan Sarah masih menunggu nya, sementara itu, pesanan mereka juga sudah tiba.
Kaenan sengaja duduk di sisi yang menghadap kearah saung tertutup di belakang, tempat dia insan melakukan hal aneh tadi.
Setelah beberapa lama, terlihat pintu saung terbuka, dan dari dalam saung, muncul seorang pemuda tampan.
Yang membuat jantung Kaenan berdetak kencang adalah, wanita di belakang pemuda tadi adalah Gracia, yang berjalan berpegang tangan.
Kaenan kembali merubah tempat duduk nya, sedikit membelakangi saung tertutup itu, hingga sepasang muda mudi itu berjalan melewati tempat itu.
Beberapa kali Kaenan meyakinkan penglihatan nya, bahwa yang dia lihat itu memang benar Gracia dan pacarnya.
Setelah selesai makan, Kaenan membayar harga makanan mereka di kasir.
"Maaf Niken!, Sarah!, terpaksa kalian ku tinggalkan dulu ya, aku mau ke proyek, mengantarkan gaji para pekerja" ujar Kaenan.
"Kalau kau ke proyek, aku ikut dong Kae!" tawar Niken.
"Maaf Niken, aku tidak ke Garuda tempat ayah mu bekerja, tapi aku ke Prampangan, proyek yang lain nya, mungkin sekalian ke Citra Raya, maaf ya Niken" ucap Kaenan menolak secara halus.
Dengan wajah cemberut, Niken berlalu bersama Sarah, sementara Kaenan pun pergi sendirian.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata menatap kearah mereka dengan tatapan yang tidak suka.
Setelah selesai mengantarkan uang untuk gaji para pekerja, Kaenan tidak langsung pulang, tapi mampir di sebuah taman di pinggir Danau buatan, atau mungkin waduk penampungan air hujan.
Di tempat ini, Kaenan duduk menyendiri, menatap Danau buatan yang lumayan indah itu.
"Aku harus menggagalkan upaya jahat mereka apapun resiko nya, aku tidak ingin meneruskan perjodohan ini jika mudarat nya jauh lebih besar dari manfaatnya, seandainya nya kakek marah, biarlah aku yang menanggung akibat nya, dari pada ku teruskan dan semuanya akan hancur, biarlah kakek menunjuk seorang CEO saja sebagai pemimpin perusahaan nya, aku tidak berminat sedikitpun juga!" pikir Kaenan sambil melamun menatap kearah Danau.
Cukup lama Kaenan melamun menatap kearah Danau, namun sebenarnya dia tidak melihat Danau, karena pikiran nya melayang entah kemana.
Bahkan magrib pun, dia sholat magrib di surau dekat taman itu juga.
Setelah sholat magrib, barulah dia pulang ke Rumah, disambut dengan puluhan pertanyaan dari sang nenek.
Untuk sementara waktu, dia tidak ingin bercerita apapun juga, hingga nanti waktu nya tiba.
Hari hari berlalu seperti biasa nya, tak ada yang berubah, hanya saja, kini setiap Kaenan ke proyek dan bertemu dengan Syarif, anak muda itu seolah olah sengaja menghindar.
Hingga akhir nya, seratus hari kerja hampir habis, dan bangunan sudah selesai finishing semua nya. Kali ini Kaenan mendapat untuk lebih dari seratus juta rupiah, sehingga kini uang Kaenan di Bank menjadi dua ratus lima puluh juta rupiah.
Untuk sementara, Kaenan tidak ikut lelang tender, karena ada hal yang ingin dia selesaikan satu persatu terlebih dahulu. Mulai dari masalah Syarif yang terlihat sengaja menjauh dari nya.
Sore itu adalah sore Sabtu, Kaenan sengaja tidak langsung pulang, tapi mampir ke pondok Syarif terlebih dahulu.
Nampak sekali jika Syarif sangat tidak menyukai kedatangan Kaenan saat itu.
Dengan wajah masam dan kaku, Syarif menatap kearah Kaenan, "ada apa lagi kau kesini Kae, tempat mu bukan disini, tapi di Rumah Gedung itu, aku tahu kau sekarang sudah kaya Raya, kau bisa menggaet siapa saja, gadis mana saja!, kau munafik Kaenan!, kau menyembunyikan sifat jahat mu di balik topeng agama, aku sudah tahu jika kau pampat diluar, rencong di dalam, munafik!" suara Syarif bergema di tempat itu.
Kaenan terpaku mendengar ucapan Syarif yang begitu panas di dalam telinga.
"Ada apa sebenar nya mas?, aku tidak mengerti kenapa tiba-tiba kau menyambut ku dengan marah marah?" tanya Kaenan tidak mengerti duduk permasalahan nya.
Syarif menudingkan telunjuk nya ke wajah Kaenan, "hei munafik!, kau memang pandai bersandiwara, bermuka manis berwajah dua, dengar!, melainkan sekarang, tidak ada hubungan apa apa antara kita berdua, pergilah menjauh dari ku, aku tahu kau sudah kaya sekarang, sementara aku hanya orang miskin, pergilah!, aku muak melihat wajah mu!" teriak nya.
"Mas!, setidak nya katakan apa salah ku?" ....
"Huh!, dasar munafik!, dengar ya!, kau tahu jika aku berpacaran dengan Niken, tapi tega teganya kau rebut dia dari ku, aku benci dengan mu Kae, kau bukan teman ku!" ....
"Oooh ini tentang Niken mas?, dengar ya, antara aku dan Niken tidak ada hubungan apa apa, hanya hubungan kenal saja, bahkan aku tidak pernah jalan sama dia, paling hanya sekali waktu kami makan bakso, itu juga karena kebetulan ketemu, tidak ada acara khusus kok, terserah mas mau percaya atau tidak!, tapi demi Allah, tidak ada hubungan khusus antara aku dan Niken mas" ujar Kaenan mencoba meyakinkan Syarif.
Syarif tertawa sinis menatap kearah Kaenan, "huh manusia munafik seperti kamu ini, kau kira bisa di percaya?, Iya?, mentang mentang kau memiliki banyak uang, kau mudah saja merebut pacar orang, dasar munafik!, kau lupa diri Kae, kau lupa jika kau dibesarkan oleh seorang wanita odgj, odgj Kae!, odgj!" ....
Tiba-tiba wajah Kaenan terlihat mengeras, orang boleh menghinanya apa saja, tapi tidak dengan menghina ibu nya. Wanita itu meskipun odgj, tetapi hati nya bak malaikat.
"Baiklah mas!, kau memang benar, ibu ku seorang penderita odgj, kau benar mas!, tidak usah kau ulang ulang juga semua orang sudah tahu!, terimakasih atas kebaikan mas selama ini, aku terima tuduhan mas, tapi ingatlah mas, waktu yang akan menjelaskan hal sebenar nya, aku tidak mengakui tuduhan mu, tidak pula membantahnya, biarlah waktu yang berbicara!" ujar Kaenan melangkah kearah motor metik nya lalu pergi begitu saja.
Sementara Syarif masuk sambil membanting pintu, mengomel panjang lebar, bahkan terdengar sampai memukul dinding pondok.
Selesai!… selesai sudah kisah persahabatan antara Kaenan dan Syarif, semua hanya karena rasa iri dan dengki melihat keberhasilan orang lain, sementara dirinya tidak bisa berbuat apa apa.
Kaenan tidak ingin menangisi kejadian itu, hatinya terlalu sakit dengan penghinaan yang dilontarkan Syarif kepada almarhum ibu nya.
Seandainya hanya dia yang dikatakan munafik, sejuta kali pun dia tidak akan memasukan kedalam hati nya, tetapi tidak jika itu menyangkut almarhum ibu nya, orang yang paling dihormati nya, orang yang telah berkorban nyawa untuk nya.
Lepas isya, barulah Kaenan pulang ke Rumah kakek nya, saat itu kedua orang tua itu telah menunggu diri nya di ruang tengah.
Setelah selesai mandi, Kaenan menemui kedua orang tua yang dihormati nya itu.
"Kau dari mana saja Kae?" tanya nenek Carla sesaat setelah Kaenan duduk di samping nya.
"Dari rumah Syarif nek" sahut nya lembut.
"Kae!, kau jangan terlalu banyak keluyuran yang tidak ada gunanya!, sebentar lagi kau akan menikah dengan Gracia, pikirkan masa depan mu, jangan hanya bersenang senang saja!" suara tuan besar Baskoro meninggi. entah ada persoalan apakah di kantor nya, sehingga amarah nya terbawa sampai rumah.
"Kek! Saya memutuskan untuk tidak menikah dengan kak Caca kek!" ucap Kaenan setelah memaksakan suaranya keluar.
"Apa?!" .....
Suara tuan besar Baskoro meninggi sambil bangkit dari tempat duduk nya.
"Sa… saya tidak ingin menikah dengan kak Caca kek!" ....
"Anak sial!, anak tidak tahu di untung!, tidak tahu terimakasih!, inikah balasan mu setelah ku angkat dari lumpur?, kau justru membalas dengan mempermalukan aku!" teriak tuan besar Baskoro murka.
"Bukan begitu kek!, hanya saja mudarat nya sangat besar bagi seluruh keluarga jika saja pertunangan ini diteruskan" jawab Kaenan pelan.
"Apa kau bilang heh?, dasar anak setan kau ini!, ini akibat kau bergaul terlalu lama dengan wanita odgj itu, pikiran mu juga ikut menjadi gila!" teriak tuan besar Baskoro.
"Terserah kakek mau bilang apa saja!, saya memang anak penderita odgj, dan itu nyata, tidak bisa di pungkiri dengan apapun juga kek, tapi ingat kek, penderita odgj itu tidak pernah ada niat untuk mencelakai orang lain, menghancurkan usaha orang lain, menghalalkan segala cara, dia jauh lebih mulia dari pada orang yang merasa paling mulia di Dunia ini!" suara Kaenan ikut meninggi.
...****************...