Area GxG ya~
******
Satu sekolah, beda kelas, tapi ributnya bisa tiap hari. Kara dan Narisa, dua anak SMA yang sepertinya lahir tanpa kemampuan berdamai.
Awalnya semua biasa saja. Sampai suatu hari... mereka menikah.
Iya. Menikah.
Kok bisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Narisa masih bengong waktu Femi tiba-tiba pamit pulang.
"Tante pulang dulu ya. Kalau kurang, datang aja ke rumah. Masih banyak di kulkas."
Narisa langsung tersadar.
"Lah, nyetok, Tan?"
"Iya," jawab Femi santai sambil pakai sandal. "Soalnya Eri suka."
Narisa mengangguk pelan sambil memperhatikan Femi keluar pagar.
Begitu pagar tertutup, dia langsung menoleh ke Kara yang masih santai mengunyah tahu bakso.
"Santen, kenapa lo malah ngaku?"
"Emang kenapa?"
"Lah, goblok." Narisa langsung menghadap penuh. "Ini kan rahasia. Ngapa malah lo sebar?"
Kara diam sebentar sebelum akhirnya mendengus kecil.
"Yang lebih banyak tau malah kubu lo kali."
" Siapa?"
"Tuh tiga curut geng lo."
"Mereka mah aman."
"Nah, Tetangga juga aman." Kara mengambil satu tahu lagi. "Ya kali mereka nyebarin."
"Maksudnya mereka sama?"
"Ya gitu."
Narisa masih kelihatan tidak tenang. "Tapi Tante Femi gak pernah ngaku."
Kara malah ketawa kecil. "Mereka juga hati-hati lah."
"Maksud lo?"
"Artinya lo belum cukup dipercaya."
Narisa mengernyit.
"Liat aja." Kara menun juk malas ke arah rumah sebelah, "Abis ini mereka pasti beda depan lo."
"Beda gimana?"
"Ya liat aja sendiri."
Narisa makin bingung. Tapi justru karena itu rasa penasarannya makin besar. Dan akibat rasa penasaran itu, dia batal ikut Kara ke kafe malam itu.
Begitu Kara berangkat ker ja, Narisa malah melipir ke rumah sebelah,
Tok. Tok. Tok.
"Tante"
Beberapa detik kemudian Femi membukakan pintu dan tersenyum kecil melihat Narisa.
"Masuk, Ris."
Rumah itu tenang sekali. Lampu ruang tengah berwarna hangat, televisi menyala kecil tanpa benar-benar ditonton. Eri duduk santai di sofa sambil membaca sesuatu di tablet, masih memakai kaus rumahan dan celana panjang longgar.
Narisa langsung duduk selonjoran di karpet tanpa sungkan.
"Rumah Tante gak pernah berisik ya."
Femi tertawa kecil sambil menuangkan teh ke tiga gelas.
"Emang rumah kamu sama Kara gimana?"
"Perang bacot mulu tiap hari."
Eri yang duduk santai di sofa langsung melirik sekilas.
"Seru dong."
Narisa langsung mendecih. "Seru dikit. Soalnya kalau sepi aku malah takut."
Femi dan Eri saling pandang kecil. Tatapan orang yang sudah terlalu lama bersama sampai kadang tidak perlu bicara buat mengerti isi kepala satu sama lain. Melihat itu malah bikin Narisa makin penasaran.
"Tante."
"Hm?"
"Kalian tuh... udah lama ya?"
Femi tidak terlihat kaget. Dia malah menyandarkan siku ke sofa sambil menoleh ke Eri.
"Berapa lama kita, yank?"
Eri berpikir sebentar.
"Dari SMA lah,"
Narisa langsung bengong. "Hah?"
"Kaget?" tanya Femi sambil tersenyum kecil.
"Lah iya!" Narisa otomatis duduk tegak. "Berarti dari seumuran aku sama santen? Terus... nikahnya di mana?"
Femi diam sebentar sebelum akhirnya menggeleng pelan.
"Kita gak nikah."
Narisa makin melongo. "Kenapa?"
"Hm.." Femi menatap langit-langit sebentar. "Mungkin karena dari awal kita sama- sama gak pernah ngebayangin hidup sama orang lain."
Eri menambahkan santai, "Kita gak terlalu mikirin status."
Narisa menggaruk kepala pelan. Hubungan model
begini masih susah masuk ke logikanya. Selama ini dia cuma tahu cowok sama cewek pacaran, nikah, selesai. Tapi dua orang di depannya kelihatan biasa saja. Santai. Bahkan terlalu santai.
"Keluarga Tante tau?"
"Taunya Tante gak mau nikah," jawab Femi ringan. "Sisanya ya... gak usah dijelasin juga."
Narisa mengangguk-angguk pelan meski sebenarnya masih bingung.
"Kamu gimana sama Kara?" tanya Femi balik.
"Dia nyebelin."
"Itu bukan jawaban, sayang."
"Kita disuruh nikah. Dijodohin gitu," jawab Narisa jujur sambil mengambil bantal sofa buat dipeluk. "Yang sering dateng ke rumah tuh mama aku atau mama santen. "
Eri dan Femi langsung saling lihat lagi.
"Jarang banget sih," gumam Femi pelan. "Aku malah baru kali ini denger."
"Mungkin ada sesuatu?" tanya Eri santai.
"Memang ada," Narisa refleks menjawab, tapi langsung menutup mulut sendiri. "Pokoknya ribet."
Femi tidak memaksa. Dia cuma mengangguk kecil.
"Mau dijodohin atau enggak, tapi kalian keliatan nyaman."
"Nyaman darimana, Tan?" Narisa langsung protes. "Si santen itu ganjen banget orangnya. Ceweknya dimana-mana."
"Oh.. Cemburu?"
"Dih, kagak lah, Cuma heran aja."
Eri sampai menurunkan tabletnya sedikit. "Heran kenapa?"
"Ya.." Narisa mengerutkan hidung. "Kesel aja liat dia deket cewek lain."
Femi menahan tawa. "Itu definisi cemburu loh."
"Bukan!" Narisa menunjuk asal. "Pokoknya bukan!"
Femi akhirnya tertawa kecil. "Jadi kalian dijodohin sebelum kenal?"
"Kita satu sekolah, Tan. Kelasnya malah sebelahan." Narisa mendecih lagi kalau sudah membahas Kara. "Aku gak pernah akur sama dia dari kelas sepuluh."
"Oya?" Femi mulai tertarik. "Awalnya gimana?"
Narisa langsung mengingat-ingat.
"Kayaknya pas... aku aduin dia bolos. "
"Hah?"
Narisa langsung semangat sendiri.
"Jadi waktu itu.."
. . . .
Dua tahun yang lalu~
~
Narisa, Putri, Fahri, dan Putra baru saja berhasil bolos untuk pertama kalinya hari itu. Dengan napas ngos-ngosan mereka mendarat di balik pagar sekolah satu persatu.
"Anjir, deg-degan juga," Putri memegangi dada.
"Lo yang paling lama naik pagernya," sahut Fahri.
Narisa baru mau ikut nyolot waktu seseorang tiba-tiba melompat turun dari atas pagar dengan santainya.
Bruk.
Empat orang itu refleks menoleh.
Cewek tinggi dengan rambut pendek dan celana training hitam itu mendarat mulus, bahkan masih sempat merapikan tas di pundaknya seperti habis turun tangga biasa.
"Dih, itu siapa?" Putri bengong.
"Kayaknya anak kelas sebelah," gumam Putra.
"Santai banget dia," Fahri ikut melongo.
"Kayaknya udah langganan."
Narisa menyipitkan mata. "Dari mukanya aja udah keliatan bandel."
Cewek itu melirik sekilas ke arah mereka, lalu jalan begitu saja tanpa rasa bersalah.
"Sombong amat najis," tambah Narisa sewot. "Sesama kriminal ini."
"Udah lah," Putra langsung merangkul pundak Fahri.
"Mending mikir mau nongkrong di mana."
.
Besoknya, empat orang itu dipanggil ke ruang Bk. Narisa sebenarnya sudah pasrah dihukum. Yang bikin dia bingung, cuma mereka berempat yang dipanggil.
"Bu, kenapa cuma kita?" tanyanya polos.
Bu Rahayu menghela napas panjang khas guru Bk yang stok sabarnya tinggal seperempat.
"Yang lain sudah."
Narisa langsung mengernyit.
"Lah, yang kemarin satu lagi mana?"
Bu Rahayu balik menatap.
"Satu lagi?"
"Iya, Bu. Yang tinggi, rambut pendek, pake training. Mukanya kayak monyet."
"Tidak boleh begitu, Narisa."
"Tapi emang mirip."
Putri langsung menyikut pinggang Narisa pelan.
Bu Rahayu mengingat-ingat sebentar. Memang ada satu anak yang akhir-akhir ini sering kedapatan lompat pagar, tapi entah kenapa lolos terus. Dan kemarin dia bahkan tidak masuk radar pak Kasim.
.
Hari itu mereka dihukum membersihkan area belakang sekolah. Narisa sedang menyapu setengah hati waktu bayangan seseorang tiba-tiba. berhenti di depannya.
"Lo aduin gw?"
Narisa langsung mendongak.
Lah, monyetnya datang.
"Dih, apcan lo?" Narisa berdiri sambil memegang sapu lidi. "Gak seneng?"
"Harusnya sesama bolos saling nutupin. Ngapa lo malah ngoceh?"
"Lo tau dari mana gw yang ngomong? Kan masih ada tiga biji lagi."
"Gak perlu tau, Lo ember banget."
"Ember pala lo." Narisa. langsung maju setengah langkah. "Tanggung jawab, njir. Udah salah, maunya enak sendirian, Cupu lo."
"Kalau kemarin kalian yang lolos, gw bakal diem. Sampai sini paham?"
"Gak mau paham!" Narisa nyolot. "Lo nyamperin ke sini mau nyari ribut kan?"
"Berarti lo bego."
"Eh-eh-eh, bentar!" Putri buru-buru nyelip di tengah. " Jangan ribut napa sih? Kenalan kek. Gw Putri."
Cewek itu mendecih pelan, tapi akhirnya buka mulut juga.
"Kara."
"Putra."
"Fahri."
Tinggal Narisa yang masih melipat tangan jutek.
"Dia Narisa," kata Putri cepat sebelum perang dunia pecah.
"Oh."
Jawaban Kara datar banget. Narisa langsung makin sebel.
Oh apaan oh.
Setelah itu Kara malah jongkok, mulai mengumpulkan daun-daun kering seolah Narisa sudah tidak menarik lagi buat diajak ribut.
Dan anehnya, sejak hari itu mereka malah makin sering ketemu. Makin sering ketemu, artinya makin sering ribut.
. . . .
Femi dan Eri yang mendengarkan sampai tersenyum sendiri. Entah karena ceritanya lucu, atau karena mereka jadi ikut ingat masa sekolah dulu. Ribut-ribut kecil yang waktu dijalani terasa menyebalkan, tapi setelah lewat malah jadi manis.
"Dia itu nyebelin, Tan," Narisa masih semangat mengeluh. "Mulutnya sampai sekarang suka kurang ajar."
Femi terkekeh kecil. "Memangnya gak ada bagus-bagusnya?"
"Si santen?"
"Iya."
Narisa langsung diam sambil mikir.
"Ya." Dia menggaruk pipinya pelan. "Dia suka ngerjain bagianku di rumah kalau aku ngambek. Terus suka ngasih jajan juga."
Belum selesai, Narisa mendadak melotot sendiri.
"Dia juga pernah cium aku. Kurang ajar banget kan?"
"Oya?" kali ini Eri yang tertarik.
"Iya, kak. Katanya kesel gara-gara aku ngomel."
Femi mulai senyum-senyum, "Kamu sendiri pernah minta cium gak?"
"Gak-"
Narisa mendadak berhenti ngomong. Wajahnya langsung berubah panik sendiri sebelum buru-buru menutup muka pakai bantal sofa.
Femi ketawa kecil. "Kenapa?"
Suara Narisa langsung mengecil dari balik bantal.
"Pernah,.. sekali."
"Nah."
"Tapi itu gak beneran mau!" Narisa cepat-cepat menurunkan bantalnya. "Cuma ngetes doang."
"Iya-iya," sahut Femi santai, jelas tidak percaya penuh.
Narisa langsung manyun. "Kalian jangan senyum gitu dong."
"Soalnya lucu," jawab Eri pendek.
Narisa hanya mendengus kesal.
"Kara itu perhatian loh," kata Femi sebelum menyeruput teh. "Capek pulang kerja aja masih suka jemput kamu ke sini."
"Iya," timpal Eri. "Padahal cuma di sebelah."
"Mungkin karena udah malam, dia khawatir."
Narisa langsung mengernyit. "Itu biasa aja kan? Dia tau aku penakut."
Femi menatap Narisa beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum tipis.
"Saran Tante cuma satu. Jangan kebanyakan denial."
Narisa spontan mendelik. "Lah aku gak suka dia, Tan."
Femi malah makin geli melihat reaksinya.
"Berarti gak masalah dong kalau nanti Kara pacaran sama orang lain?"
"Eh?"
"Kan kamu gak suka."
Kali ini Narisa langsung diam, Lama. Sangat lama. Kalau mau pakai alasan mereka sama-sama cewek, ada dua contoh hidup di depan matanya yang langsung mematahkan logika itu mentah-mentah.
Femi dan Eri sudah bersama lebih dari dua puluh tahun. Santai, harmonis, bahkan kelihatan lebih cocok dibanding banyak pasangan lain yang dia kenal.
Jadi alasan itu tidak bisa dipakai.
Lalu.. kalau Kara pacaran sama Cantika? Atau mungkin salah satu cewek dari kafe?
Narisa langsung menggeleng sendiri sebelum bayangan itu selesai...
"Aku gak mau dia punya pacar, Tan."
"Nah,"
"Bukan gitu!" Narisa cepat-cepat protes. "Nanti jatah jajanku berkurang. Uangnya dipake buat ceweknya. Najis amat."
Femi dan Eri akhirnya ketawa bareng.
"Lucu banget sih kamu," kata Femi sambil mencubit pipi Narisa gemas.
Narisa malah makin curiga sendiri. Sepertinya ada yang salah. Tapi dia belum mengerti salahnya di mana.
~
~
Hampir jam sebelas malam saat mobil Eri berhenti di depan kafe Skubidu. Dua orang itu entah kenapa tiba-tiba ingin mencoba camilan di sana. Semua bermula dari Narisa yang sejak tadi semangat mempromosikan apapun yang pernah Kara bawakan pulang.
"Kamu beneran gak ikut masuk?" tanya Femi heran.
Narisa. langsung menggeleng.
"Bungkus aja kan? Pokoknya Tante sama kak Eri jangan bilang aku ikut."
"Memangnya kenapa?" Femi sudah mulai menahan tawa.
"Pokoknya jangan."
Femi akhirnya menyerah dan turun dari mobil bersama Eri.
Dari balik kaca kafe, Narisa bisa melihat suasana di dalam yang masih ramai. Semua meja penuh. Musik pelan bercampur suara orang ngobrol dan bunyi gelas dari bar. Waiters mondar-mandir tanpa berhenti.
Dan di tengah semua itu, matanya langsung menangkap satu orang yang paling dia kenal. Kemeja putih dan apron hitamnya masih terpasang rapi. Rambut pendeknya sedikit berantakan karena sibuk jalan sana-sini sejak sore. Tangannya membawa nampan penuh minuman sambil langkahnya tetap cepat.
Narisa tanpa sadar membuka pintu mobil lalu turun pelan. Dia berdiri sambil memperhatikan Kara yang baru selesai mengantar pesanan, lalu langsung berbalik lagi ke kasir tanpa sempat diam.
"Capek banget keliatannya." gumam Narisa.
Padahal biasanya kalau lihat Kara, yang muncul di kepala Narisa cuma: nyebelin.
Tapi sekarang malah... Keren juga.
Narisa buru-buru membuang pikiran itu jauh- jauh.
Apaan sih.
Di dalam, Kara tiba-tiba berhenti di dekat Femi dan Eri. Mereka ngobrol sebentar sebelum akhirnya kepala Kara menoleh ke arah luar.
Narisa langsung melotot.
"Lah, goblok. Ngapa Tante Femi malah ember."
Belum selesai dia ngedumel, Kara sudah izin sebentar ke seniornya lalu ber jalan keluar kafe.
"Woy, Bonar." Kara berhenti di depan Narisa. "Lo ngapa gak ikut masuk?"
Narisa langsung melipat tangan, berusaha terlihat biasa saja.
"Emang ada meja kosong?"
"Ya enggak sih." Kara melirik ke dalam sekilas. "Tapi aneh aja liat lo berdiri sendirian kayak anak ilang."
Narisa tidak menjawab. Tatapannya malah bergeser ke dalam kafe lagi. Beberapa pengunjung perempuan kelihatan melirik ke arah Kara seolah memperhatikan setiap gerakannya.
Narisa langsung mendecih kecil.
"Ganjen lo kan?"
"Tuh cewek-cewek pada liatin ke sini. Pasti lo abis tebar pesona."
"Gw kerja, peak." Kara menghela napas capek." Ini kaki udah mau copot dari sore gak berhenti jalan."
Narisa refleks melirik ke bawah, ke kaki Kara. Setelah itu dia langsung buang muka lagi.
"Yaudah. Nanti dipijetin."
Kara langsung ketawa kecil. "Pasti gara-gara gw gajian hari ini."
"Lo emang gak bisa dibaikin dikit."
"Iya dah."
Kara mengusap tengkuknya sebentar sebelum kembali menatap Narisa.
"Masuk aja yuk. Di luar dingin."
"Ini pake sweater."
"Tipis gitu."
"Gak dingin kok. Udah lo masuk sana."
Kara menghela napas pasrah.
"Mau dibikinin apa?"
"Gak usah."
"Yaudah. Gw masuk dulu. Lo berdirinya jangan jauh banget. Diculik baru tau lo."
Narisa mengangguk kecil.
Dia diam saja waktu Kara mengusap kepalanya sekilas sebelum masuk lagi ke dalam kafe. Dan entah kenapa, setelah itu Narisa malah terus berdiri di sana memperhatikan dari luar.
Ternyata Kara sesibuk ini. Selelah ini. Sementara uang yang dikasih Kara selalu habis entah buat beli barang lucu, atau ngemil random yang bahkan kadang Narisa sendiri lupa belinya kapan. Sedikit sih, karena Kara bilang hanya uang dari tip mingguan. Tapi... Kara tidak mendapatkannya dengan duduk-duduk santai.
Dada Narisa tiba-tiba terasa aneh.
Beberapa menit kemudian Femi dan Eri keluar sambil membawa kantong makanan.
"Ayuk." ajak Femi.
Narisa menggeleng. "Aku nunggu santen aja, Tan."
Femi langsung senyum tipis.
"Yaudah. Tapi nunggunya di dalam."
"Iya."
Mereka akhirnya pulang setelah memastikan Narisa masuk ke kafe. Begitu pintu terbuka, Jamal yang sedang berdiri dekat bar langsung melirik.
"Wih. Ada yang kece nih."
"Om-om buaya lo," sembur Sofian geli.
Tapi sebelum Jamal sempat mendekat, Kara sudah lebih dulu muncul.
"Kok masih di sini?"
"Nunggu lo balik aja dah. Bentar lagi kan?"
Kara bengong. "Hah?"
"Gak boleh?" Narisa langsung mendelik. "Kalau gak boleh yaudah. Gw pesen ojek."
Kara memutar mata malas.
"Tukang ngomel. Tukang ngambek."
Narisa baru mau nyolot waktu Kara sudah lebih dulu berjalan.
"Ayo."
Kara membawanya ke meja yang baru saja kosong. Setelah Narisa duduk, Kara langsung membersihkan meja itu cepat-cepat sambil tetap sesekali melirik ke pengunjung lain.
"Kak, tambah kentang satu," panggil meja sebelah.
Kara langsung menoleh.
"Oke."
Selesai membersihkan meja, dia berdiri sambil menatap Narisa.
"Lo gw bawain milk tea anget ya."
Narisa mengangguk.
"Kak, minumnya tambah lagi yang kayak gini," ujar meja lainnya.
"Oke."
Kara langsung pergi dan mencatat pesanan tambahan dari meja-meja tadi.
Sementara itu Narisa diam sambil memperhatikan. Ternyata Kara memang beda waktu kerja. Lebih cepat. Lebih serius. Tapi tetap sabar. Dia bahkan bingung mencari sisi menyebalkan yang biasanya muncul.
Sambil pura-pura sibuk membuka ponsel, telinganya menangkap obrolan tiga cewek di meja sebelah.
"Si kakak itu gak pernah mau ngasih sosmed tau."
"Iya. Apalagi nomor hape."
"Padahal gw udah sengaja pindah tongkrongan ke sini."
"Orangnya cuek banget. Bikin penasaran."
Narisa melirik sekilas. Cantik-cantik sih, kayak anak kuliahan.
Tapi fokusnya malah berhenti di satu hal. Dari percakapan barusan, jelas sekali Kara tidak pernah membagikan nomor ponselnya.
Senyum tipis Narisa muncul tanpa sadar.
"Dasar tukang bohong," gumamnya pelan.
.