Tolong tinggalkan Like Dan comment yah ❤😍
Danny sudah memantapkan pilihannya pada Rose, gadis yang lebih mudah darinya. Rose sudah terlanjur hidup dalam gelapnya masa lalunya, begitu berhasil mendapatkan Rose, ada saja cobaan dalam hubungan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jesicca26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Percobaan bunuh diri Rose
Pagi-pagi sekali HP Danny berbunyi membuatnya terbangun dari tidur singkatnya, dia nggak bisa tidur dengan tenang karna mencari Rose yang nggak ada kabar keberadaannya. Semua suruhannya dia kerahkan untuk mencari Rose namun nihil, dan pagi itu panggilan telpon Hendrik membangunkannya.
"Yah?" ucap Danny sambil menggaruk alisnya
"Dia ijin sakit , Dan. Baru aja mamanya nelpon kesini, katanya Rose lagi sakit. Mamanya juga ngirim foto di wa, surat dokternya." kata Hendrik diseberang
"Sakit??" Danny terperanjat kaget "Dirumah sakit mana??"
"Kalo itu mamanya nggak bilang, yang jelas keterangan disurat sakit dia ijin tiga hari."
"Oke, Hen. Makasih infonya." Danny mengakhiri telponnya dengan Hendrik dan bergegas keluar dari rumahnya
Pak Sam sekertarisnya seperti biasa pagi-pagi sekali sudah memanasi mobil dan memeriksa keadaan mobil, dia heran melihat Danny keluar memakai baju biasa dan terburu-buru.
"Pak, tolong antar saya kerumah Rose." perintah Danny lalu masuk kedalam mobil tanpa menunggu pak Sam membukakan pintu mobil
"Baik." ucap pak Sam lalu masuk kedalam mobil dan menjalankan mobil
Sepenjang perjalanan Danny terus berpikir dengan keadaan Rose, Danny menebak Rose pasti dirumah mengingat jiwa hemat dan perhitungan Rose yang tidak mau membuang-buang uang. Sialnya Danny harus terjebak macet karna adanya penutupan jalan dibeberapa titik karna adanya demo besar-besaran dari mahasiswa dan buruh.
Pemandangan menyesakkan hati disugukan begitu Danny tiba dirumah Rose, ayahnya tengah menggendong anak gadisnya yang nggak sadarkan diri diiringi tangisan mama yang histeris. Billy tampak gelisah menutup pintu rumah sambil sesekali menelpon taksi untuk menjemput mereka, secepat kilat Danny turun dari mobil dan berlari mendatangi keluarga Rose. Dilihatnya wajah Rose yang pucat nggak sadarkan diri, darah segar masih mengalir dari pergelangan tangannya.
"Rose kenapa bu??" tanya Danny panik
Kedua orangtua dan adik Rose tampak bingung namun masih tetap panik.
"Kamu siapa? kita mau antar Rose kerumah sakit." jawab Billy sambil terus mencoba menelpon
"Biar saya antarkan bu, ayo naik mobil saya. Saya bosnya Rose." jawab Danny sambil menuntun mereka kemobil.
Karna panik keluarga Rose menurut saja, mereka memasukkan Rose didalam mobil dan mobil langsung melaju meninggalkan kediaman Rose dan keluarganya. Jantung Danny terasa sesak, dia merobek kaosnya dan mengikat pergelangan tangan Rose agar berhenti mengeluarkan darah. Pak Sam ngebut mengabaikan semua lampu lalu lintas, dia menekan-nekan klakson meminta jalan pada pengendara lain.
"Kenapa kamu melakukan hal bodoh ini Rose??" ucap Danny sambil terus meremas tangan Rose agar pendarahan bisa berkurang "Ayo lebih cepat pak Sam!!!" teriaknya panik
Suara tangisan mama terdengar memiluhkan hati, papanya ikut menangis sambil sesekali memukul-mukul dadanya.
Tiba dirumah sakit Rose langsung dibawah masuk kedalam UGD dan ditangani dokter dan perawat, diluar Danny dan keluarga Rose menunggu dengan cemas.
"Kenapa Rose berbuat begini ma?? Dia nggak pernah terlihat ada masalah." Tanya papa sambil terus menunduk dengan kedua tangan menyentuh dinding
"Tadi malam mama dengar Rose bermimpi, dia menangis sambil menyebut Juna! Dia mengutuk Juna, menyebut kalo Juna sudah merusak kebahagiaannya." jawab mama dengan suara sesenggukan menangis
"Merusak kebahagiaannya???" ulang papa. Wajahnya menunjukkan kemarahan yang tak terucap "Akanku bunuh dia!!!" geram papa lalu berjalan mau keluar dari depan pintu UGD
Spontan Danny dan Billy menahan papa, papa meronta minta dilepaskan agar bisa pergi mencari Juna. Dalam pikirannya hanya satu, Juna harus mati. Pikiran papa benar-benar gelap, perasaan dendamnya benar-benar tak terbendung. Anak gadisnya disentuh oleh adiknya sendiri, anak gadis yang dia besarkan tanpa pernah sekalipun dipukul atau dikasari.
"Omm, sabar om." seru Danny mencoba meredam amarah ayah Rose "Om Juna sudah dipenjara sekarang, kemarin dia ditangkap." beritahu Danny
Tubuh papa seketika tenang, dia berhenti mengamuk. Papa melihat Danny penuh pertanyaan, kehadirannya tiba-tiba dan dia juga tau soal Juna membuat pertanyaan dalam pikiran papa bertambah.
"Sebenarnya kamu siapa? Kenapa kamu tau Juna??" tanya papa
"Saya Danny, om. Saya bosnya Rose, kemarin Rose bertemu om Juna dan om Juna berusaha melecehkan Rose." jawab Danny hati-hati "Dia sekarang ada dikantor polisi, om bisa pergi cek setelah amarah om sudah redah."
"Antar saya kesana, sekarang!" perintah Papa. Wajahnya memerah karna marah
"Om, lebih baik kita fokus dulu menunggu keadaan Rose. Om tenang saja, saya bisa mengatur tempat untuk om bertemu om Juna. Saya bisa bantu om untuk memberi pelajaran pada om Juna." janji Danny
Kenapa dia begitu peduli dengan Rose? Siapa dia? Dia terlihat bukan orang sembarangan. Papa membathin
Seorang suster keluar dari ruang UGD "Pasien butuh dua kantong darah, kebetulan kami ada stok darah tapi hanya satu kantong. Salah satu keluarga bisa bantu cari di PMI." beritahu suster sambil menyerahkan lembaran pengantar untuk mengambil darah
"Biar sekertaris saya yang pergi om, tante. Om dan tante bisa menunggu Rose disini." pinta Danny
Papa mengangguk, sementara mama masih menangis sambil menunggu kabar baik soal putrinya. Danny langsung memberi kode pada pak Sam, pak Sam langsung mengambil lembaran kertas pengantar lalu pergi.
"Pa, biarkan Billy pergi habisin om Juna, pa. Dia harus menerima ganjaran untuk perlakuannya, Billy nggak puas kalo dia cuma dipenjara!!" pinta Billy setengah memaksa
"Jangan Billy, kita tunggu kakak kamu disini." pinta mama dengan nada suara memohon "Jangan tambah beban pikiran mama, kita fokus dulu sama kakak kamu."
Nafas Billy terdengar berat dan cepat, dadanya naik turun menghirup udara yang berasa benar-benar panas. Dia marah dengan perbuatan Juna, sejak dulu mereka memang nggak pernah suka dengan kehadiran Juna. Kehadirannya hanya menyusakan keluarga, kakek dari Billy terkena serangan jantung karna naik darah memarahi Juna yang sudah menjual tanah satu-satunya peninggalan keluarga. Dan nenek dari Billy meninggal terkena serangan jantung juga saat rentenir datang mengobrak-ngabrik rumah mereka mencari Juna, disusul juga kedatangan polisi mencari Juna atas laporan penipuan.
"Om Juna benar-benar terkutuk! Manusia laknat! banyak pelacur diluar sana, kenapa harus kak Rose!" geram Billy nggak terima
Danny berdiri bersandar didinding menghadap pintu UGD, pikirannya dipenuhi rasa khawatir dan cara untuk membuat Juna tobat. Jiwa kriminalnya seakan sedang diuji, dia sudah memikirkan cara kotor untuk membalas Juna dengan caranya tanpa menjebloskan dia dipenjara.
Lama menunggu, seorang dokter keluar dari pintu UGD.
"Pasien sudah dalam kondisi stabil, keluarga tinggal mengurus beberapa berkas dan pasien bisa dipindahkan keruang rawat inap." beritahu dokter
"Saya sudah bisa melihat anak saya dok?" tanya mama
"Silahkan, tapi tolong jangan menimbulkan suara keras. Bisa mengganggu pasien lain." jawab dokter lalu meninggalkan keluarga Rose
Mereka berempat langsung masuk kedalam dan melihat keadaan Rose, mama langsung duduk disamping Rose sambil memegang tangan Rose. Ditatapnya anak gadisnya sedang terbaring lemah tak sadarkan diri, wajah Rose masih pucat dan dipasangi alat bantu pernafasan. Darah menetes dari kantong darah yang mengalir masuk kedalam nadi Rose.
"Maafin mama Rose, harusnya mama lebih pekah dengan perubahan kamu." ucap mama. Airmatanya mengalir deras sambil sesekali terdengar suara sesenggukan.
"Kamu harus kuat sayang, papa janji, Juna akan mendapat pembalasan yang nggak akan dia lupakan." ucap papa sambil meneteskan airmatanya.
Danny berdiri disamping tempat tidur Rose, dilihatnya wajah cantik gadis yang dicintainya. Meski perkenalan mereka singkat, tapi Danny tetap pada pendiriannya, dia nggak pernah salah dalam menentukan pilihan hidupnya. Danny berusaha tegar menghadapi keadaan Rose saat ini, berusaha fokus untuk proses penyembuhan Rose lebih dulu. Untuk masalah Juna bisa belakangan, Danny sudah memastikan Juna nggak akan lolos kali ini.
Sekalian kasih rekomen novel yang rapi juga, judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, wajib pakek tanda kurung ya nyarinya
mampir juga di ceritaku yh thor
"love with enemy