Dua jam sebelum akad, Devon tiba-tiba dijebak masuk penjara. Demi harga diri keluarga, Liam terpaksa turun tangan menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Mira Hazelya.
Namun, malam pertama yang seharusnya indah justru berubah menjadi neraka. Liam murka saat mendapati fakta bahwa istri barunya ternyata sudah tidak lagi perawan!
"Kau memanfaatkanku?! Kau menjebakku untuk menjadi penanggung jawab dosa orang lain?!" bentak Liam penuh amarah, siap melayangkan talak.
Tepat sebelum Liam melangkah pergi, sebuah rahasia besar terbongkar. Noda di tubuh Mira bukan karena ia wanita murahan, melainkan bukti pengorbanan berdarah demi menyelamatkan keluarga Liam dari kehancuran.
Saat rasa benci dalam semalam berubah menjadi rasa bersalah yang mencekik dada, sanggupkah Liam menyembuhkan luka di hati Mira? Sementara di kampus, mereka harus bersandiwara seolah tidak saling kenal!
Kita Simak Yuk Kisah Selanjutnya Di Novel => Istri Pengganti Yang Terluka.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Pagi pertama setelah malam badai itu datang dengan keheningan yang berbeda. Di dalam ruang perpustakaan pribadi kediaman megah keluarga Oliver, aroma kertas tua berpadu dengan keharuman kopi arabika yang baru saja diseduh.
Sinar matahari pagi menerobos celah jendela tinggi, menyinari debu-debu halus yang melayang di udara, menciptakan garis-garis cahaya vertikal yang dramatis di atas meja kayu ek hitam yang panjang.
Di salah satu sisi meja, Arkan Oliver duduk dengan postur tubuh tegap sempurna. Ia mengenakan kemeja kasual berwarna biru dongker dengan lengan yang digulung rapi hingga ke siku, memperlihatkan pergelangan tangan yang kokoh dan jam tangan mewah berwarna perak yang melingkar elegan.
Rambut hitamnya ditata sedikit berantakan di bagian depan, memberikan kesan effortlessly handsome khas mahasiswa tingkat akhir yang populer namun tidak tersentuh.
Di hadapannya, terletak dua bundel dokumen fisik bermaterai yang baru saja dicetak.
Di sisi lain meja, duduk Hilmira Hazelya. Wanita itu mengenakan gamis sederhana berwarna abu-abu pastel yang anggun dengan khimar senada. Sebuah cadar sifon hitam yang baru melekat pas di wajahnya, hanya menyisakan sepasang mata bulat yang indah.
Mira menunduk dalam-dalam, menatap kosong pada kertas putih di depannya sembari meremas jemarinya sendiri di bawah meja. Ada kecanggungan yang luar biasa pekat di antara mereka.
"Aku tidak suka membuang waktu," suara bariton Arkan memecah kesunyian, terdengar sangat rendah, dingin, namun memiliki ketegasan yang tidak bisa dibantah.
Ia memutar salah satu bundel dokumen itu ke hadapan Mira dengan ujung jari telunjuknya. Sebuah gerakan yang begitu tenang namun memancarkan dominasi mutlak.
"Ini draf kontrak fisik pernikahan kita. Durasi kesepakatan - Satu Semester. Tepatnya, enam bulan dari hari ini, atau hingga hari kelulusanku tiba. Setelah sidang skripsiku selesai dan kondisi kesehatan Papa benar-benar stabil, kita akan mengurus perceraian secara diam-diam dan terhormat."
Mira perlahan mengangkat kepalanya. Netra bulatnya yang sayu menatap Arkan dari balik cadar hitamnya. Ia tidak bersuara, namun tatapannya menyiratkan pertanyaan tentang isi dokumen tersebut.
Arkan bersandar pada sandaran kursi kayunya, melipat kedua tangan di depan dada bidangnya. Matanya yang setajam elang mengunci pandangan Mira tanpa sedikit pun keraguan.
"Mengingat kita berdua kuliah di kampus yang sama, meskipun berbeda fakultas, ada beberapa aturan ketat yang wajib kau patuhi demi kelancaran sandiwara ini. Aku tidak ingin kehidupan pribadiku terusik, dan yang paling penting, ini demi keselamatanmu sendiri."
Arkan mengetuk ujung draf kontrak tersebut dengan pena saku berlapis emas miliknya.
"Aturan pertama," ujar Arkan, suaranya mendadak turun satu oktaf, menjadi begitu dingin dan menekan. "Garis Pembatas Kampus. Begitu kita melewati gerbang luar kampus, status kita sebagai suami istri lebur sepenuhnya. Di area akademis, kita adalah dua orang asing yang tidak saling mengenal. Kau dilarang keras menegurku, menyapaku, atau memberikan gestur apa pun yang menunjukkan bahwa kita memiliki hubungan."
Mira mengangguk perlahan. Tangannya yang mungil bergerak meraih pena yang disediakan, bersiap untuk menandatangani kertas tersebut. Namun, Arkan belum selesai.
"Aturan kedua," lanjut Arkan, menghentikan gerakan tangan Mira. "Tidak boleh berada di satu area sosial yang sama dalam waktu bersamaan. Jika kau melihatku berada di kantin fakultas, di perpustakaan utama, atau di koridor tengah, kau harus segera berbalik arah dan mencari tempat lain. Aku tidak ingin ada mata-mata musuh keluarga kita yang mencurigai interaksi sekecil apa pun di antara kita."
Arkan mencondongkan tubuh tegapnya ke depan, menaruh kedua siku di atas meja marmer hitam hingga jarak wajah mereka kian memangkas.
Aroma parfum maskulin bercampur kesegaran mint dari tubuh Arkan langsung menyergap indra penciuman Mira, membuat jantung wanita itu berdegup sedikit lebih kencang karena intimidasi visual yang begitu kuat.
"Dan aturan ketiga," Arkan menatap lurus ke dalam netra Mira. "Berangkat dan pulang kuliah dengan mobil terpisah. Sopir pribadi rumah ini akan mengantarkanmu menggunakan sedan hitam biasa melewati gerbang samping, sementara aku akan membawa mobilku sendiri melalui gerbang utama. Kita tidak boleh terlihat turun dari kendaraan yang sama."
Mendengar aturan-aturan ketat yang terasa seperti pengucilan tersebut, Mira tidak menunjukkan tanda-tanda tersinggung atau marah. Sebaliknya, di balik cadar hitamnya, ia justru menghela napas lega yang sangat samar.
Baginya, aturan-aturan ini adalah sebuah berkah. Berada jauh dari Arkan di kampus berarti ia tidak perlu terus-menerus berhadapan dengan aura intimidatif pria itu, sekaligus melindunginya dari perhatian publik yang bisa memicu serangan paniknya.
Dengan jemari yang sedikit gemetar, Mira menggoreskan tanda tangannya di atas materai draf kontrak pertama, lalu beralih ke draf kedua. Gerakannya begitu tenang dan anggun, membuat Arkan yang sejak tadi memperhatikannya tanpa berkedip tertegun sejenak.
'Dia sama sekali tidak membantah? Tidak mengajukan keberatan? Aturan ini sangat egois, tapi dia menerimanya seolah ini adalah hal yang paling dia inginkan,' batin Arkan, merasakan sedikit goresan aneh di dalam egonya yang angkuh.
"Sudah," suara Hilmira terdengar sangat lirih, hampir berupa bisikan halus di balik cadarnya saat ia menggeser kembali dokumen tersebut ke arah Arkan.
Arkan berdehem kecil, mencoba menepis kegusaran aneh di hatinya. Ia mengambil pena emasnya, lalu menggoreskan tanda tangannya dengan cepat dan mantap. Dua berkas fisik itu kini telah sah secara hukum kontrak pribadi mereka.
"Bagus. Mulai pagi ini, sandiwara kita resmi berjalan," ucap Arkan dingin sembari bangkit berdiri. Ia merapikan kemejanya, menyambar tas kulitnya, dan melangkah keluar dari perpustakaan tanpa menoleh lagi ke belakang.
~~
Satu jam kemudian, di gerbang samping Universitas Indonesia Baru.
Sebuah sedan hitam biasa berhenti dengan tenang di bawah naungan pohon mahoni yang rimbun. Pintu belakang terbuka, dan Hilmira melangkah turun dengan anggun.
Ia memeluk buku-buku tebalnya erat-erat di dada, menundukkan kepalanya dalam-dalam saat melangkah melewati pos penjagaan gerbang samping. Cadar hitamnya sedikit bergoyang tertiup angin pagi yang sejuk.
Hilmira berjalan menyusuri trotoar kampus yang mulai ramai oleh mahasiswa baru yang berlarian menuju kelas masing-masing.
Berada di lingkungan terbuka seperti ini selalu membuat dadanya terasa sedikit sesak karena sisa-sisa trauma masa lalunya, namun ia mencoba memfokuskan pikirannya pada materi kuliah yang harus ia pelajari hari ini.
Tiba-tiba, suara deru mesin mobil sport yang sangat bising dan familier memecah kebisingan trotoar.
Dari arah gerbang utama, sebuah mobil Maserati hitam mengkilap meluncur mulus, menarik perhatian hampir seluruh mahasiswa yang sedang berjalan kaki. Mobil itu melambat saat melewati area persimpangan dekat fakultas ekonomi, tepat di tempat Hilmira sedang berdiri menunggu lampu penyeberangan jalan.
Melalui kaca mobil yang tidak terlalu gelap, Hilmira bisa melihat dengan jelas sosok Arkan yang sedang mengemudi dengan satu tangan santai di atas kemudi. Wajah tampannya tampak begitu dingin dan berkelas dari balik kacamata hitam yang ia kenakan.
Di samping mobilnya, beberapa mahasiswi tampak berbisik-bisik heboh sembari curi-curi pandang, mengagumi pesona sang pewaris tunggal Oliver Group yang begitu populer di kampus.
Arkan sempat melirik ke arah trotoar. Melalui kaca spion samping, netra tajamnya menangkap sosok Hilmira yang sedang berdiri memeluk buku di antara kerumunan mahasiswa.
Ada dorongan aneh di dalam dada Arkan untuk menghentikan mobilnya, membukakan pintu, dan menyuruh wanita itu masuk agar tidak perlu berdesakan di trotoar yang panas. Namun, kata-kata dalam kontrak 'Satu Semester' yang ia susun sendiri dengan angkuh pagi tadi seketika terngiang di telinganya.
'Di area akademis, kita adalah dua orang asing.'
Arkan mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Ia menginjak pedal gasnya lebih dalam, membuat Maserati hitam itu melesat cepat meninggalkan area penyeberangan jalan, menciptakan garis pembatas yang nyata dan tak kasat mata di antara mereka di gerbang kampus pagi itu.
Di bawah kepulan asap tipis dan tatapan kagum orang-orang, Arkan melaju menjauh, meninggalkan sang istri yang kembali berjalan menunduk dalam kesunyian jalannya sendiri.
...----------------...
To Be Continue ....
marah tandanya sayang 🤗
Arkan kamu sudah lupa dengan perjanjian itu 🤸🏼♀️😅
padahal bagus Liam
makanya jangan sok berkuasa 🫤🫤
emangnya seperti apa?