Bagaimana jadinya jika kamu mengakhiri sebuah hubungan tanpa sebab lalu meninggalkan kekasihmu begitu saja karena suatu alasan?
Begitu pula dengan Serena, ia meninggalkan kekasih nya begitu saja hanya karena suatu alasan yang kurang jelas. Hingga suatu saat ia melamar pekerjaan disebuah perusahaan ternama milik mantannya dan bahkan saat ini seorang president.
apakah yang akan terjadi pada kehidupan Serena selanjutnya?
guyss mampir yuk, istirahat sebentar dinovel aku❤️❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Austrea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
My Ex⁵
Beberapa hari berlalu.
"kamu dipecat"
"dipecat? tapi aku tidak melakukan kesalahan apapun hari ini" ucap Serena begitu panik saat pemilik restoran memecatnya tanpa sebab.
"kau mengatakan tidak memiliki kesalahan apapun? aku sudah menerima 10× pesan dari beberapa orang jika kau bermalas-malasan saat bekerja"
"tidak pak, itu tidak benar"
"tidak ada alasan, cepat angkat kakimu dari restoran ini"
Dengan menahan air mata, Serena menundukkan kepalanya dan melangkah keluar dari sana.
semua karyawan restoran menatap kearahnya dengan tatapan mengerikan, bahkan ada yang menertawakan nya.
Serena pulang kerumah dengan muka lesu. Gadis itu masuk kedalam kamar dan langsung merebahkan tubuhnya diatas ranjang.
Hari ini benar-benar hari yang melelahkan baginya, ia meringkuk dan menangis dalam diam.
ponsel miliknya bergetar hingga membuat sang pemilik sedikit terganggu.
"ini nomor siapa...? mengganggu aku saja" ucapnya dengan perasaan kecewa.
"halo"
"apakah benar ini keluarga dari tuan Casta dan juga ibu Tasya?"
"iya benar, ada apa ya?"
"kami dari pihak rumah sakit ingin memberitahukan bahwa tuan Casta dan ibu Tasya saat ini menjalani perawatan dirumah sakit akibat kecelakaan maut"
"APA??!" teriak Serena langsung terduduk diatas ranjang dengan perasaan gundah.
"kami akan mengirim alamat rumah sakitnya"
sambungan telepon terputus, Serena dengan cepat menuju rumah sakit untuk menemui kedua orang tuanya.
"ayah, ibu, mengapa semua ini bisa terjadi pada kalian" ucapnya sembari menangis disepanjang jalan.
Sesampainya dirumah sakit, Serena langsung menuju administrasi untuk mencari kamar kedua orang tuanya.
saat sudah mendapatkannya, Serena berlari sekuat tenaga dengan perasaan campur aduk.
"aku mohon, selamatkan mereka" ucapnya dengan panik.
tak lama dokter keluar dari ruangan dengan wajah lesu semakin membuat Serena panik dan segera mendekati dokter.
"Dokter, bagaimana keadaan orang tua saya?"
"apakah anda keluarganya?"
"saya anaknya" jawab Serena dnegan cepat.
Dokter menganggukkan kepalanya.
"saat ini, ibu Tasya sedang kritis dan ia koma tapi kami tidak tahu kapan dia kembali sadar, karena pembuluh darahnya pecah dibagian belakang kepala"
"sementara ayah anda....." dokter terhenti sejenak, Serena menunggu lanjutan dari dokter.
"Saya dengan berat hati mengucapkan hal ini tapi, saya turut berduka cita atas meninggalnya tuan Casta karena tulang tengkorak yang telah pecah"
Mendengar hal itu, sontak tubuh Serena luruh dan jatuh keatas lantai.
Kakinya tidak sanggup untuk menopang tubuhnya. Pandangannya kosong dan air matanya semakin berjatuhan.
"Ayah....aku mohon jangan tinggalkan ibu dan juga Serena" tangis wanita itu penuh kesakitan.
"aku berjanji akan menjadi lebih baik lagi..." tangisnya sesegukan.
*
*
*
*
Hari itu, tuan Casta langsung dimakamkan. Semua orang sudah pulang dan kini yang tersisa hanyalah Serena dengan payung hitam yang melindunginya dari hujan.
Pandangannya kosong, ditangannya terdapat secarik kertas putih dari pihak rumah sakit.
Yaitu biaya pengobatan operasi ibunya yang saat kini masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
"kemana aku harus mencari uang untuk pengobatan ibuku?" ucapnya dengan nada lesu.
"aku harus segera mencari pekerjaan, kalau tidak nyawa ibu akan berada dalam bahaya" pikirnya dengan perasaan cemas.
Saat ini, satu-satunya orang yang ia sayangi hanya ibunyalah tersisa.
Pertama Dirga, kedua ayahnya.
Serena tidak mau Ibunya ikut menyusul ayahnya ke alam baka, maka dari itu ia akan mencari cara untuk membayar biaya pengobatan sang ibu.
Air matanya menetes semakin deras, hatinya terasa begitu sempit seolah-olah ada batu besar yang menghimpit dadanya.
"ibu, aku mohon bertahan demi aku"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...
Bersambung.....
Hai para readers kesayangan Author, terimakasih sudah menjadi para pembaca yang setia dan selalu menemani hari² author💞🌹 Love You buat kalian semua yang selalu tinggalkan jejak sehat dan bahagia selalu ya🍃