NovelToon NovelToon
Dendam Maharani

Dendam Maharani

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Iblis / Dendam Kesumat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: neng_86

Maharani, gadis manis tapi pemalu yang menyukai seorang laki-laki anak kepala desa yang tampan bernama Andrean.

cinta yang tulus tapi dibalas oleh sebuah kejahatan.

maharani hanya menuntut tanggung jawab, tapi dia dijebak, lalu di rud*p*ksa oleh Andrean bersama dua rekannya.

maharani di tolong oleh seroang nenek yang kemudian memberinya ilmu kanuragan untuk balas dendam pada orang-orang yang menyakitinya.

akankah para pelaku ditangkap atau berakhir tragis, yuk simak kisahnya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

warga mengamuk

Kabar grasak-grusuk tentang perempuan cantik dihutan pinus yang dituding sebagai Maharani telah sampai ketelinga pak Rahman.

Warga berbondong-bondong menuju rumah sederhana tersebut guna meminta klarifikasinya.

Bu Sukma dan pak Rahman yang baru saja pulang dari ladang tentu tampak kebingungan karena melihat warga yang beramai-ramai datang kerumahnya.

"Nah itu mereka..." tunjuk salah seorang warga.

"Ada apa ini? Kenapa kalian beramai-ramai kerumah kami?" tanya pak Rahman kebingungan.

"Alah...! Tidak usah berlagak tidak tahu kau Rahman! Desas-desus itu sudah jelas! Putri yang kau sebut hilang itu kini telah menebar teror dikampung ini! Kalian harus bertanggungjawab atas kematian beberapa warga termasuk nona Meri dan bayinya!" teriak seorang warga yang di setujui oleh yang lain.

"Usir mereka dari kampung ini...!!" teriak seseorang memprovokasi.

"Ya.. Benar! Usir mereka!!" teriak semuanya.

"Pergi kau Rahman! Kalian hanya bisa membawa malapetaka bagi kami!!"

Prang....!!!

Rumah pak Rahman dilempari batu oleh warga.

Mereka menuntut keluarga pak Rahman agar pergi dari kampung.

"Pak...." cicit bu Sukma yang bersembunyi dibalik punggung suaminya.

"Tunggu...!! Hentikan! Kalian ini bicara apa? Kenapa harus membawa-bawa Maharani? Kami saja kehilangan dia dan belum ditemukan hingga detik ini..." tutur pak Rahman yang tetap bertahan di teras rumahnya.

"Alah... Tidak usah pura-pura tidak tahu kalian!! Semua ini ulah putrimu yang dendam karena nona Meri lebih cantik darinya... Makanya dia bekerjasama dengan dukun supaya bisa menyingkirkan nona Meri dari sisi suaminya, pak Andrean" ucap warga lagi.

Bu Sukma dan pak Rahman saling pandang.

Mereka benar-benar tidak mengerti akan tuduhan warga pada Maharani.

Bagi keduanya, Rani adalah gadis baik dan pendiam. Dia tidak mungkin memiliki perasaan tersebut apalagi mencelakai orang lain.

"Kalian salah! Rani ku tidak seperti itu!" tutur bu Sukma.

"Alah, kau saja tidak tahu Sukma! Putrimu itu seringkali menggoda pak Andre ketika bekerja. Banyak saksinya, benarkan ibu-ibu, bapak-bapak" ujar laki-laki yang merupakan kaki tangan juragan Kardi.

Pak Rahman tahu betul siapa laki-laki itu.

Dia pernah ditolak lamarannya karena Rani memang tidak menyukainya.

"Diam kau Tejo...! Putriku bukan perempuan seperti apa yang kau tuduhkan barusan. Apa kau sakit hati karena pernah ditolak oleh Rani makanya kau merancang fitnah ini!" tuding pak Rahman.

Laki-laki bernama Tejo sempat ciut karena beberapa warga saling berbisik.

Tapi dirinya tidak hilang akal, dia terus menghasut warga agar keluarga pak Rahman diusir dari kampung. Dendamnya karena ditolak masih membekas.

"Cih... Aku bersyukur tidak jadi menikahi putrimu. Bisa saja putrimu itu sudah tidur dengan banyak laki-laki.... Aku jadi mendapat bekas!" ucapan nyelekit Tejo membuat pak Rahman naik pitam.

"Diam kau Tejo! Jangan hina putriku! " suara pak Rahman terdengar bergetar.

Hatinya sakit ketika ada orang lain yang menjelek-jelekan Maharani.

Dia tidak bisa terima itu.

Ditengah situasi yang tidak kondusif, mobil patroli polisi melintas.

"Ada apa ramai-ramai dirumah pak Rahman?" gumam Hasan.

Tio ikut menoleh.

Perasaannya tidak enak.

Gegas, Tio menepikan mobil dan turun menyibak kerumunan warga.

"Tenang bapak-bapak, ibu-ibu....! Apa yang terjadi? Jangan berbuat anarkis!" pinta Tio menenangkan amarah warga.

"Minggirlah pak polisi! Ini bukan urusan bapak!" teriak Tejo tanpa takut.

Tio memberi kode kepada rekannya Hasan.

"Jika kalian tidak bubar, maka saya selaku pihak keamanan akan menyebut ini tindakan provokasi dan kalian akan diproses secara hukum...!" tegas Tio dengan nada tegas.

Warga saling pandang.

Yang tadinya semangat berapi-api mulai redup.

Satu-persatu mereka mundur dan membubarkan diri.

"Ayo pulang... Aku tidak mau dipenjara" seru satu warga yang di iyakan oleh yang lain.

"Iya... aku juga tidak...."

"Ayo...ayo..Padiku sedang dijemur...."

"Ya benar.... "

Semua orang tadi yang ikut berdemo dirumah pak Rahman mulai bubar satu-persatu.

Akhirnya hanya tinggal Tejo dan dua orang rekannya yang nampak saling sikut.

"Kalian kenapa masih disini?" tegur Hasan kepada tiga orang yang masih betah berdiri dihalaman rumah pak Rahman.

Tejo memandang sengit pada dua orang laki-laki yang mengenakan jaket kulit.

"Ingat pak Rahman, ini belum usai. Aku akan cari bukti lagi akan keterlibatan Rani dalam insiden ini!! Akan aku pastikan, Rani itu telah bekerja sama dengan dukun...." ancam Tejo sebelum pergi dari sana.

Pak Rahman terduduk di kursi teras kayu dengan memegangi dada sebelah kiri.

Tiba-tiba jantungnya berdenyut kuat.

"Pak... Bapak kenapa?" jerit bu Sukma menahan lengan suaminya.

"Dada bapak sakit bu..." erang pak Rahman sebelum dirinya tak sadarkan diri.

"Ayo bawa ke puskesmas San... Mobil...." teriak Tio pada rekannya.

"Pak... jangan tinggalkan ibu... Ibu mohon bangun...." isak bu Sukma.

Hasan mengemudikan mobil dengan kecepatan diatas rata-rata.

Dia harus berpacu dengan waktu agar bisa membawa pak Rahman tepat waktu.

Bersyukur ada dokter jaga yang standby di sana sehingga pak Rahman bisa ditangani dengan cepat.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

"Bapak.... Ibu...." suara Bagas terdengar bergetar.

"Gas... " sambut bu Sukma pada putra keduanya.

"Pak Rahman baik-baik saja. Tadi beliau hanya terkejut dan sedikit syok... Tapi dokter sudah memeriksanya dan kondisinya sudah jauh lebih baik. Sekarang beliau sedang beristirahat karena pengaruh obat" jelas Tio pada remaja tanggung itu.

Bagas memandang lemah pada tubuh pak Rahman yang dipasangi infus.

Lalu beralih pada ibunya yang nampak lelah dan mata yang sembab.

"Terima kasih atas bantuannya... Tapi kenapa bapak bisa seperti ini?" tanya Bagas setelah dirinya sedikit tenang.

"Kita bicara diluar, ayo..." ajak Tio yang diikuti oleh Hasan.

Rahang Bagas nampak mengeras setelah mendengar penuturan Tio dan rekannya.

"Tejo..." lirih Bagas dengan mata penuh amarah.

"Maaf sebelumnya.. Tapi apakah kakakmu tidak ada teman atau kenalan?"

"Mbak Rani itu pendiam. Sejak masih sekolah dia selalu dirundung oleh nona Meri, putri juragan Kardi. Meskipun mbak Rani mengelak, tapi aku tahu dia tertekan. Tapi mbak Rani tidak mungkin melakukan hal itu. Dia dengan d*rah saja sudah j*ik dan ngeri apalagi harus berurusan dengan dukun yang pasti akan ada tumbalnya. Tuduhan warga itu tidak mendasar..." ujar Bagas.

Tio dan Hasan saling pandang.

Mereka semakin tertarik dengan kasus ini.

Pasti ada orang-orang kuat yang ikut terlibat didalamnya, setidaknya itulah feeling Tio sebagai penyidik yang telah hampir 15 tahun berada di pekerjaan ini.

"Bisa kami lihat foto Maharani, kakakmu itu..." pinta Tio tiba-tiba yang membuat Bagas menatap penuh selidik.

"Siapa tahu kami pernah melihatnya" ralat Tio cepat.

"Oh... sebentar..." Bagas merogoh saku celana sekolahnya dan mengeluarkan dompet yang didalamnya ada foto dirinya bersama Rani yang diambil belum lama setelah Rani menghilang.

Kening Tio membentuk garis dua.

"Dia..." lirihnya yang hanya dirinya yang dengar.

"Apa kalian pernah melihatnya?" tanya Bagas ingin tahu.

"Belum... Mungkin ini hanya perasaan ku saja.. " tukas Tio cepat.

"Maksudnya?"

"Tidak apa-apa. Kalau gitu, kami permisi dulu.. Kami harus kembali ke kantor.. Kalau ada apa-apa, kamu bisa hubungi aku di nomor ini..." ujar Tio menyerahkan satu lembar kartu nama ketangan Bagas.

Bagas memandangi punggung kedua petugas tersebut dengan banyak pertanyaan dikepalanya.

Dia yakin, laki-laki yang bernama Tio itu tahu sesuatu.

Cara Tio melihat foto Maharani sudah bisa menjelaskan semuanya.

bersambung...

1
Astuti Puspitasari
Mbahe iku jahat apa ngga ya kok makan janin /Grimace/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!