10 Cara Melihat Hantu adalah kisah misteri yang menggabungkan rasa penasaran manusia terhadap dunia gaib dengan konsekuensi menakutkan yang tak terduga. Cerita ini berpusat pada seorang remaja bernama Alin yang menemukan sebuah buku tua berdebu berjudul sama—10 Cara Melihat Hantu—di sudut perpustakaan yang hampir terlupakan.
Awalnya, buku itu tampak seperti panduan biasa yang berisi sepuluh metode berbeda untuk membuka “mata batin” dan melihat makhluk tak kasatmata. Mulai dari ritual sederhana seperti menatap cermin di tengah malam, hingga cara yang lebih ekstrem seperti mengunjungi tempat angker seorang diri. Didorong oleh rasa ingin tahu, Alin mencoba satu per satu cara tersebut, tanpa menyadari bahwa setiap langkah yang ia ambil semakin menarik dirinya lebih dalam ke dunia yang seharusnya tidak ia sentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Gudang yang Mengingat
Langit sore menggantung kelabu saat Raka tiba di belakang sekolah.
Tempat itu… tidak berubah.
Gudang tua itu masih berdiri dengan dinding kusam dan
pintu kayu yang setengah lapuk.
Rumput liar tumbuh tinggi di sekelilingnya, seolah tempat itu memang sengaja dilupakan.
Raka berhenti beberapa langkah dari pintu.
Jantungnya berdegup pelan… tapi berat.
“Inilah awalnya…” gumamnya.
Angin berhembus pelan, membuat pintu gudang berderit.
Seperti memanggil.
Raka menggenggam ponselnya.
Pesan terakhir dari nomor tak dikenal itu masih terpampang.
“Aku sudah di dalam.”
Ia menelan ludah.
Dengan satu tarikan napas panjang, Raka melangkah maju.
Tangannya menyentuh pintu kayu itu.
Dingin.
Perasaan yang sama seperti saat pertama kali ia menemukannya.
Perlahan, ia mendorong pintu.
Kreeeet…
Suara itu menggema panjang.
Gelap menyambutnya.
Raka melangkah masuk.
Aroma lembap langsung menusuk hidung.
Debu beterbangan di udara, menari dalam cahaya samar yang masuk dari celah-celah dinding.
“Hallo…?” panggil Raka pelan.
Tidak ada jawaban.
Hanya suara tetesan air… dan napasnya sendiri.
Ia melangkah lebih dalam.
Setiap langkah terasa berat.
Seolah lantai itu menahannya.
“Katanya kamu di sini…” bisiknya.
Tiba-tiba—
“Raka.”
Suara itu datang dari belakangnya.
Raka langsung berbalik.
Seorang gadis berdiri di dekat pintu.
Wajahnya pucat, matanya cekung, tapi masih terlihat manusia.
“Aku… yang kirim pesan itu,” katanya pelan.
Raka menatapnya lekat.
“Kamu siapa?”
Gadis itu terdiam sejenak, lalu menjawab, “Namaku Sinta.”
Raka mengangguk perlahan, meskipun matanya tetap waspada.
“Kamu juga baca buku itu?”
Sinta tersenyum tipis.
“Bukan cuma baca.”
Ia melangkah mendekat.
“Aku melakukan semuanya… sampai cara terakhir.”
Raka merasa tenggorokannya kering.
“Dan…?”
Sinta menatapnya dalam.
“Tidak ada jalan kembali.”
Sunyi.
Kata-kata itu menggantung berat di udara.
“Apa maksudmu?” tanya Raka.
Sinta tidak langsung menjawab.
Ia menoleh ke sudut gudang.
“Tempat itu…” katanya pelan. “Di situlah aku menemukannya.”
Raka mengikuti arah pandangannya.
Sudut gelap… tempat ia pertama kali melihat buku itu.
Semuanya terasa seperti berulang.
“Kamu masih punya bukunya?” tanya Sinta.
Raka mengangguk.
“Ada.”
“Bagus…” Sinta tersenyum, tapi senyumnya terasa aneh. “Berarti mereka belum sepenuhnya mengambilmu.”
Raka mengernyit.
“Mereka?”
Sinta tidak menjawab.
Ia berjalan ke tengah gudang.
Langkahnya pelan… terlalu pelan.
Seperti bukan berjalan… tapi melayang.
Raka mulai merasa tidak nyaman.
“Kamu bilang kita harus ketemu. Kenapa?”
Sinta berhenti.
Membelakangi Raka.
“Karena…” suaranya pelan.
“Cuma satu dari kita yang bisa keluar.”
Raka membeku.
“Apa?”
Perlahan—
Sinta menoleh.
Matanya… berubah.
Hitam.
Pekat.
Seperti yang pernah Raka lihat di cermin.
“Kamu pikir kamu satu-satunya yang dipilih?” katanya dengan suara yang bukan lagi miliknya.
Raka mundur.
“Tidak… kamu bohong…”
Sinta tertawa pelan.
Suara itu menggema, memenuhi seluruh gudang.
“Atau mungkin… kita berdua sama-sama dipilih.”
Tiba-tiba, pintu gudang tertutup sendiri.
KRAAK!
Raka menoleh cepat.
Pintu itu… terkunci.
“Tidak…” bisiknya.
Saat ia kembali menatap Sinta—
Gadis itu sudah berdiri sangat dekat.
Terlalu dekat.
“Kamu sudah membuka pintu,” bisiknya.
“Sekarang… kita lihat siapa yang cukup kuat untuk menutupnya.”
Raka mendorongnya mundur.
“Aku tidak mau ikut permainan ini!”
Sinta tersenyum lebar.
“Kamu sudah di dalamnya.”
Lampu tua di gudang tiba-tiba menyala.
Sekejap terang—
Lalu redup.
Dan saat cahaya itu stabil—
Gudang itu berubah.
Dindingnya bukan lagi kayu lapuk.
Melainkan… cermin.
Di mana-mana.
Raka terengah.
Setiap sisi memantulkan dirinya.
Dan… Sinta.
Namun tidak semua pantulan bergerak sama.
Beberapa… terlambat.
Beberapa… tersenyum.
Beberapa… tidak memiliki mata.
“Apa ini…” bisiknya.
“Ini…” suara Sinta terdengar dari segala arah.
“Tempat di mana mereka memilih.”
Raka berputar, mencoba mencari sumber suara.
Namun Sinta sudah tidak terlihat.
Hanya pantulan.
Ratusan.
Ribuan.
“Keluar!” teriak Raka.
Tidak ada jawaban.
Tiba-tiba—
Salah satu pantulan bergerak keluar dari cermin.
Langsung ke arah Raka.
Ia terjatuh ke lantai.
Sosok itu—
Dirinya sendiri.
Dengan wajah kosong.
Lalu satu lagi keluar.
Dan satu lagi.
Semua versi dirinya… mulai muncul.
“Tidak… tidak…!” Raka merangkak mundur.
Suara Sinta terdengar lagi.
“Kalau kamu kalah… kamu jadi salah satu dari mereka.”
“Dan kalau aku menang?” teriak Raka.
Sunyi sejenak.
Lalu—
“Kamu keluar.”
Raka mengepalkan tangan.
Ini bukan soal menang atau kalah.
Ini soal bertahan.
Ia berdiri perlahan.
Menatap semua versi dirinya yang mendekat.
“Kalau begitu…” katanya pelan.
“Aku tidak akan kalah.”
Salah satu sosok menyerang.
Raka menghindar.
Ia meraih pecahan kaca dari lantai.
Menggunakannya untuk menangkis.
Setiap sentuhan terasa dingin… seperti menyentuh mayat.
Satu per satu ia menjauh.
Namun jumlah mereka terlalu banyak.
Ia terdesak.
Napasnya semakin berat.
Pandangan mulai kabur.
“Ini… tidak mungkin…” bisiknya.
Tiba-tiba—
Ia teringat sesuatu.
Cermin.
Semua ini berasal dari pantulan.
Kalau tidak ada pantulan…
Ia menoleh cepat.
Ke salah satu dinding.
Dengan sisa tenaga, ia melempar pecahan kaca itu.
PRAANG!
Cermin pecah.
Dan satu sosok langsung menghilang.
Raka terdiam.
“Itu dia…”
Ia mengambil pecahan lain.
Dan menghantam cermin berikutnya.
Satu per satu.
Setiap cermin pecah—
Satu sosok hilang.
Jeritan memenuhi ruangan.
Sosok-sosok itu mulai panik.
Mereka menyerang lebih cepat.
Namun Raka tidak berhenti.
Ia terus memecahkan.
Sampai akhirnya—
Tersisa satu cermin.
Di tengah ruangan.
Dan di dalamnya—
Sinta.
Ia tersenyum.
“Kamu cepat belajar,” katanya pelan.
Raka terengah.
“Ini belum selesai…”
Sinta mengangguk.
“Memang belum.”
Ia mengangkat tangannya.
Dan dari dalam cermin—
Sesuatu muncul.
Bukan manusia.
Bukan bayangan.
Tapi… sesuatu yang lebih gelap.
Lebih besar.
“Ini yang sebenarnya menunggu kita,” bisiknya.
Raka mundur perlahan.
Jantungnya berdegup kencang.
“Kamu… bawa ini semua…”
Sinta tersenyum tipis.
“Bukan aku.”
Matanya kembali hitam.
“Tapi sekarang… kamu juga bagian darinya.”
Makhluk itu keluar sepenuhnya dari cermin.
Udara menjadi berat.
Suhu turun drastis.
Raka hampir tidak bisa bernapas.
Namun kali ini—
Ia tidak mundur.
Ia menatap makhluk itu.
Dengan sisa keberanian yang ada.
“Kalau ini akhir…” katanya pelan.
“Aku yang akan menentukan.”
Dan untuk pertama kalinya—
Makhluk itu berhenti bergerak.
Seolah… mendengar.
Bab ini belum berakhir.
Dan pertarungan yang sebenarnya…
Baru saja dimulai.