NovelToon NovelToon
Matahari Untuk Erlan

Matahari Untuk Erlan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Erlan Pratama, seorang direktur muda yang ambisius, berhasil memenangkan sengketa hukum atas sebidang tanah strategis yang ditempati rumah susun tua. Dengan rencana besar di kepalanya, ia memutuskan melakukan penggusuran demi proyek pembangunan yang diyakininya akan membawa keuntungan besar. Namun, hari eksekusi yang seharusnya berjalan lancar justru menjadi titik balik dalam hidupnya.

Di tengah kericuhan warga yang menolak digusur, Erlan dikejutkan oleh kehadiran Linda Sari, mantan kekasihnya yang pernah menghilang tanpa kabar. Linda terlihat berbeda, lebih rapuh, namun tetap tegar. Di pelukannya, seorang bayi perempuan berusia tiga tahun menangis ketakutan melihat situasi di sekitarnya. Tatapan Erlan terpaku pada anak itu, memunculkan pertanyaan yang tak bisa ia abaikan.

Pertemuan tak terduga itu membangkitkan kembali kenangan lama, sekaligus membuka luka yang belum sembuh. Erlan mulai meragukan keputusannya, sementara Linda menyimpan rahasia besar yang bisa mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 4

Hari itu terasa lebih panjang dari biasanya bagi Linda. Matahari bahkan belum benar-benar tinggi ketika ia sudah berjalan menyusuri jalanan kota dengan langkah pelan namun pasti. Tas kecil yang ia bawa berisi beberapa lembar dokumen lamaran kerja, yang sudah berkali-kali ia cetak ulang, seakan menjadi saksi betapa kerasnya ia mencoba bertahan.

Sejak rumah susun tempat tinggalnya digusur, kehidupan Linda berubah drastis. Ia tidak lagi memiliki tempat tetap untuk mengajar les anak-anak seperti dulu. Suara riuh anak-anak yang memanggil namanya, tawa polos mereka, dan kebiasaan kecil yang dulu terasa biasa, kini justru menjadi hal yang paling ia rindukan.

Kini, semua itu hilang.

Ia menumpang di rumah sahabatnya, Anita. Meski Anita tidak pernah mengeluh, Linda tetap merasa tidak enak. Ia tahu, selama ini ia hanya menjadi beban tambahan.

“Aku tidak bisa terus seperti ini…” gumam Linda pelan, hampir tidak terdengar oleh siapa pun.

Ia berhenti sejenak di depan sebuah gedung perkantoran. Pintu kaca besar di depannya memantulkan bayangannya sendiri. Wajahnya terlihat lelah, namun matanya masih menyimpan tekad yang kuat.

Linda menarik napas dalam, lalu melangkah masuk.

 

Sudah beberapa perusahaan ia datangi hari itu.

Namun hasilnya sama.

Penolakan.

Atau lebih menyakitkan lagi, tatapan merendahkan.

Seorang petugas HRD bahkan sempat menatapnya dari ujung kepala hingga kaki sebelum berkata dengan nada dingin,

“Maaf, posisi ini membutuhkan fleksibilitas tinggi. Kami khawatir Ibu tidak bisa memenuhi itu.”

Linda mengangguk pelan.

Ia tahu maksudnya.

Bukan soal kemampuan.

Tapi statusnya.

Seorang ibu tanpa suami.

Di tempat lain, bahkan lebih terang-terangan.

“Maaf ya, Bu. Kami butuh kandidat yang… lebih fokus.”

Linda hanya tersenyum tipis, meskipun hatinya terasa diremas.

Setelah keluar dari gedung terakhir, langkahnya melambat. Rasa lelah mulai terasa di seluruh tubuhnya. Namun bukan hanya fisik yang lelah, pikirannya juga terasa berat.

Ia menunduk sejenak.

“Apa aku benar-benar tidak punya tempat lagi?” bisiknya.

Namun bayangan wajah kecil Kirana segera muncul di benaknya.

Anaknya.

Alasannya untuk terus berdiri.

Linda mengepalkan tangannya.

“Tidak. Aku tidak boleh menyerah.”

 

Setelah berjalan tanpa tujuan yang jelas, matanya menangkap sebuah papan kecil di depan sebuah restoran sederhana.

“Dibutuhkan Pelayan.”

Linda berhenti.

Ia menatap tulisan itu beberapa detik, seakan memastikan bahwa itu nyata.

Tanpa berpikir panjang, ia langsung melangkah masuk.

Restoran itu tidak terlalu besar, namun terlihat bersih dan rapi. Aroma masakan hangat memenuhi ruangan, membuat perutnya yang sejak tadi kosong terasa semakin lapar.

Seorang pria paruh baya yang sedang berdiri di dekat kasir menoleh ke arahnya.

“Ada yang bisa dibantu?” tanya pria itu ramah.

Linda menunduk sedikit, lalu berkata dengan sopan,

“Maaf, Pak. Saya melihat ada lowongan pelayan di luar. Saya ingin melamar.”

Pria itu tersenyum.

“Silakan duduk dulu.”

Linda duduk dengan ragu di salah satu kursi. Tangannya saling menggenggam, mencoba menenangkan dirinya sendiri.

Beberapa saat kemudian, pria itu kembali membawa segelas air.

“Nama saya Rahman,” katanya. “Pemilik restoran ini.”

Linda segera berdiri sedikit, lalu kembali duduk dengan canggung.

“Linda, Pak.”

Pak Rahman mengangguk.

“Punya pengalaman kerja sebelumnya?”

“Saya dulu mengajar les anak-anak, Pak. Dan… saya juga pernah membantu di warung milik tetangga.”

Pak Rahman mengamatinya sejenak.

“Kenapa berhenti?”

Linda terdiam sebentar, lalu menjawab pelan,

“Tempat tinggal saya digusur, Pak.”

Keheningan sejenak terasa.

Namun tidak ada tatapan merendahkan.

Tidak ada penilaian aneh.

Hanya keheningan yang terasa… manusiawi.

Pak Rahman kemudian tersenyum tipis.

“Saya tidak butuh orang yang punya gelar tinggi,” katanya santai. “Saya butuh orang yang mau kerja dan tidak mudah menyerah.”

Linda menatapnya, sedikit terkejut.

“Saya akan bekerja keras, Pak,” jawabnya cepat.

Pak Rahman mengangguk.

“Besok mulai kerja.”

Linda hampir tidak percaya.

“Pak… saya diterima?”

“Kalau tidak, saya tidak akan menyuruh datang besok,” jawabnya ringan.

Mata Linda langsung berkaca-kaca.

“Terima kasih banyak, Pak.”

Pak Rahman hanya melambaikan tangan.

“Jangan terima kasih dulu. Kerjanya yang baik.”

Linda mengangguk cepat.

“Iya, Pak.”

 

Perjalanan pulang hari itu terasa jauh lebih ringan.

Langkahnya bahkan terasa lebih cepat dari biasanya.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada rasa lega di dalam hatinya.

Ia berhenti di depan sebuah toko kecil.

Matanya tertuju pada freezer berisi es krim.

Senyum kecil muncul di wajahnya.

“Kirana pasti senang…”

Ia masuk dan membeli satu es krim cokelat.

Sederhana.

Namun berarti.

Saat berjalan pulang, pikirannya dipenuhi bayangan Kirana yang tertawa kecil sambil memakan es krim itu.

“Sedikit lagi… kita pasti bisa hidup lebih baik,” bisiknya.

 

Di rumah Anita, suasana cukup ramai.

Anita sedang duduk di depan kamera, wajahnya tampak cerah dengan senyum khas seorang streamer.

“Halo semuanya! Terima kasih sudah masuk ke live hari ini!” ucap Anita dengan semangat.

Di sampingnya, Kirana duduk kecil sambil memainkan boneka.

“Lihat nih, aku lagi ditemani keponakan online kita semua!” kata Anita sambil menggendong Kirana sedikit mendekat ke kamera.

Kolom komentar langsung ramai.

“Lucu banget!”

“Anaknya siapa kak?”

“Gemes banget!”

Anita tertawa.

“Kirana, ayo sapa semuanya.”

Kirana hanya menatap kamera dengan bingung.

Anita mencoba mengajarinya,

“Bilang… halo…”

Kirana membuka mulutnya.

“Ha…lo…”

Namun ucapannya masih belum jelas.

Justru itu membuat penonton semakin gemas.

Donasi mulai berdatangan.

Anita tersenyum semakin lebar.

“Wah, terima kasih banyak ya!”

Live streaming itu terus berjalan.

Produk kecantikan yang ia jual mulai laku satu per satu.

Namun yang paling mengejutkan, tiba-tiba muncul sebuah donasi besar.

Nominalnya tidak kecil.

Dan itu terjadi bukan hanya sekali.

Berulang kali.

Anita sempat terdiam beberapa detik.

“Ini… serius?” gumamnya pelan.

Total donasi itu akhirnya mencapai lima puluh juta rupiah.

Pesan yang tertera singkat.

“Untuk Kirana.”

Anita menatap layar dengan ekspresi campur aduk.

Lalu ia tertawa kecil.

“Wah… Kirana, kamu dapat rezeki besar hari ini.”

Kirana hanya menatapnya tanpa mengerti.

Anita kembali ke kamera.

“Terima kasih banyak ya! Ini benar-benar luar biasa!”

 

Dua jam kemudian, live streaming berakhir.

Anita meregangkan tubuhnya.

“Capek juga…”

Namun wajahnya jelas menunjukkan kepuasan.

Ia menatap Kirana yang kini sudah mulai mengantuk.

“Untung kamu anak baik,” katanya sambil mengelus kepala Kirana.

Anita kemudian membuka aplikasi untuk mengecek saldo.

Angkanya membuatnya tersenyum.

Tanpa berpikir lama, ia menarik saldo tersebut.

Lalu membuka aplikasi bank.

Tangannya bergerak cepat.

Ia mentransfer lima puluh juta rupiah ke rekening Linda.

Setelah itu, ia mengambil screenshot dan langsung mengirimkannya.

“Biar dia tidak panik,” gumamnya.

 

Tak lama kemudian, ponsel Anita berdering.

Nama Linda muncul di layar.

Anita mengangkatnya.

“Halo?”

“Anita! Ini… ini apa?” suara Linda terdengar panik.

Anita tertawa kecil.

“Tenang saja. Itu dari live tadi.”

“Lima puluh juta, Nit…” suara Linda bergetar.

“Iya. Ada yang donasi banyak banget. Katanya untuk Kirana.”

Di ujung telepon, Linda terdiam.

Air matanya mulai jatuh.

“Aku… tidak tahu harus bilang apa…”

Anita bersandar santai.

“Ya bilang terima kasih saja ke yang di atas.”

Linda tertawa kecil di tengah tangisnya.

“Terima kasih, Anita…”

“Sudah, tidak usah terlalu dipikirkan. Aku cuma menyalurkan.”

Linda mengangguk meskipun Anita tidak bisa melihatnya.

“Ini sangat berarti untukku… dan Kirana.”

“Ya jelas. Itu memang buat dia.”

Beberapa detik mereka terdiam.

Lalu Anita berkata pelan,

“Kamu sudah dapat kerja?”

Linda tersenyum.

“Iya. Besok mulai.”

“Bagus.”

Nada suara Anita terdengar lega.

“Kamu memang tidak boleh kalah.”

Linda menatap langit senja dari jalan tempat ia berdiri.

“Aku tidak akan kalah.”

 

Di tempat lain, seseorang menatap layar ponselnya dengan tenang.

Nama akun Anita masih terpampang.

Riwayat donasi terlihat jelas.

Jumlahnya tidak sedikit.

Pria itu menutup ponselnya perlahan.

Erlan.

Tatapannya kosong sejenak, lalu berubah menjadi sesuatu yang sulit dijelaskan.

Ia bersandar di kursinya.

“Setidaknya… itu bisa membantu.”

Tidak ada yang tahu.

Tidak Linda.

Tidak Anita.

Bahwa donasi itu berasal darinya.

Dan mungkin…

Ia memang tidak ingin mereka tahu.

1
Nessa
udalah balikan aja kalean
onimaru rascall: bapaknya ga bolehin karena pengen menantu yang setara keluarganya dari segi kekayaan 🤫🤫🤫
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!