Alya Gabrielsen terpaksa menikah dengan pria asing demi menyelamatkan status keluarganya. ayahnya, Tyo, bangkrut dan terlilit hutang yang membuatnya hampir masuk penjara. Dengan paksaan sang ibu, Alya mau tak mau rela menikah di usia muda dengan pria yang sama sekali tak ia kenali. Bagaimana kisah Alya? saksikan hanya disini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DinaSafitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CDK. 34
Malam semakin larut.
Di tengah hutan yang lebat dan jauh dari keramaian kota, berdiri sebuah bangunan tua yang tampak suram di bawah cahaya bulan.
Suasana di sekitar tempat itu begitu sunyi.
Hanya suara serangga malam yang terdengar sesekali memecah kesunyian.
Tak lama kemudian, sebuah mobil hitam memasuki area tersebut.
Begitu melihat kendaraan itu, beberapa pria yang berjaga langsung bergerak cepat membuka gerbang besi yang tinggi.
Mobil itu berhenti tepat di depan bangunan.
Pintu belakang terbuka.
Max turun dengan langkah tenang.
Namun siapa pun yang melihatnya pasti bisa merasakan tekanan mengerikan yang terpancar dari pria tersebut.
Wajahnya terlihat dingin.
Sorot mata emas kecokelatannya tampak tajam dan sulit ditebak.
Tak ada senyum.
Tak ada emosi.
Hanya ketenangan yang justru terasa lebih menakutkan.
"Bos."
Jayden berjalan mendekat.
Max hanya mengangguk tipis.
"Laporan."
"Dia sudah sadar beberapa kali, lalu kembali diam. Sampai sekarang belum mau bicara."
"Oke."
Tanpa mengatakan apa pun lagi, Max melangkah masuk ke dalam gedung.
Setiap anak buah yang dilewatinya langsung menyingkir memberi jalan.
Tak seorang pun berani menghalangi.
Di dalam ruangan utama...
Helena terikat di sebuah kursi.
Rambutnya berantakan.
Wajahnya terlihat pucat akibat syok dan kelelahan.
Saat mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat, wanita itu perlahan mengangkat kepala.
Matanya langsung membelalak.
"Max..." suara Helena terdengar serak.
Ia segera berusaha melepaskan diri.
Namun sia-sia.
Tali yang mengikat tubuhnya tidak memberinya ruang untuk bergerak bebas.
Max berhenti beberapa langkah di depannya.
Tatapannya datar.
Dingin.
"Membuka ikatan seseorang tidak akan mengubah keadaanmu saat ini."
Suara pria itu terdengar tenang.
Justru terlalu tenang.
Helena langsung murka.
"Dasar bajingan!"
"Kau pikir kau siapa?!"
"Lepaskan aku sekarang juga!"
Namun Max bahkan tidak berkedip.
Seolah semua umpatan itu tidak berarti apa-apa.
"Aku bilang lepaskan aku!"
"Aku ibu mertuamu!"
Kali ini Max tertawa kecil.
Tawa yang sama sekali tidak mengandung kehangatan.
"Ibu mertua?" tatapannya menajam.
"Lucu sekali mendengar kata itu keluar dari mulutmu."
Helena langsung terdiam.
Max berjalan perlahan mengelilinginya.
"Aku ingin jawaban."
"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan!"
"Kau tahu." nada suara Max tetap rendah.
Namun tekanan di balik kata-katanya membuat udara di ruangan terasa semakin berat.
"Sejak awal ada sesuatu yang tidak masuk akal."
Helena berusaha mengalihkan pandangan.
Namun Max terus berbicara.
"Saat keluarga Wijaya meminta calon pengantin dari keluargamu, nama yang muncul adalah Ella."
"Tapi pada akhirnya yang menikah denganku justru Alya."
Max berhenti tepat di depan Helena.
"Dan yang paling aneh..."
Tatapannya menusuk lurus ke mata wanita itu.
"Kau tampak marah ketika Alya menjadi pilihanku." Helena membeku.
"Aku juga melihat hal lain."
"Perlakuanmu terhadap Alya dan Ella terlalu berbeda."
"Jauh berbeda." Max menyipitkan mata.
"Kau memperlakukan Alya seperti beban."
"Sedangkan Ella seperti harta yang paling berharga." ruangan mendadak sunyi.
Jayden yang berdiri di sudut ruangan pun ikut memperhatikan.
Karena pertanyaan itu sebenarnya juga pernah terlintas di benaknya.
Max melanjutkan.
"Awalnya aku mengira itu hanya favoritisme biasa."
"Tapi setelah semua rahasia terbongkar..."
"Aku tidak percaya lagi pada kebetulan." Helena menelan ludah.
Jantungnya mulai berdetak lebih cepat.
"Apa lagi yang kau sembunyikan?"
Wanita itu memalingkan wajah.
"Aku tidak tahu apa-apa."
Max terdiam cukup lama.
Mempelajari setiap perubahan ekspresi di wajah Helena.
Dan saat itu ia melihat sesuatu.
Ketakutan.
Bukan kemarahan.
Bukan kebencian.
Melainkan ketakutan.
Seolah ada rahasia yang jauh lebih besar daripada perselingkuhan yang telah terungkap.
"Siapa yang kau lindungi?"
Helena langsung menatapnya.
"Aku tidak melindungi siapa pun."
"Kau berbohong, Ibu mertua." tekan Max menegaskan kalimat ibu Mertua
"Aku tidak berbohong!"
Bentakan Helena menggema.
Namun sesaat kemudian wanita itu menyesal.
Karena reaksinya justru semakin memperkuat kecurigaan Max.
Pria itu terdiam.
Lalu perlahan mengembuskan napas.
"Menarik."
Helena kembali menunduk.
Dalam benaknya, bayangan Farid terus bermunculan.
Janji.
Rahasia.
Dan sesuatu yang selama bertahun-tahun mereka sembunyikan rapat-rapat.
Sesuatu yang bahkan belum diketahui Tyo.
Belum diketahui Alya.
Belum diketahui siapa pun.
Max memperhatikan perubahan wajah wanita itu.
Semakin lama, keyakinannya semakin kuat.
Masih ada kebenaran lain yang belum terungkap.
Dan kebenaran itu tampaknya cukup besar untuk membuat Helena tetap memilih diam meskipun seluruh hidupnya sudah runtuh.
"Aku akan memberimu satu kesempatan lagi."
Suara Max terdengar dingin.
"Ceritakan semuanya."
Helena memejamkan mata.
Bibirnya bergetar.
Ia hampir saja berbicara.
Hampir saja.
Namun detik berikutnya ia kembali menggeleng.
"Tidak."
Max menatapnya tanpa ekspresi.
Beberapa detik berlalu.
Lalu ia berbalik membelakangi Helena.
"Baiklah." Jayden mengangkat alis.
Max berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia berhenti sejenak.
"Jangan biarkan dia pergi ke mana pun."
"Dan jangan biarkan dia melukai dirinya sendiri."
Jayden mengangguk.
"Dimengerti."
Max melirik Helena untuk terakhir kalinya.
Tatapannya tetap dingin.
"Aku tidak akan berhenti sampai mengetahui kebenaran yang sebenarnya."
Pintu ruangan tertutup.
Brak!
Meninggalkan Helena seorang diri bersama ketakutan yang semakin membesar.
Sementara di luar gedung tua itu, Max berdiri menatap gelapnya hutan.
Instingnya mengatakan satu hal.
Rahasia terbesar keluarga itu...
Masih belum terungkap.