NovelToon NovelToon
Di Balik Tirai Luka

Di Balik Tirai Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: wyzy

Bagi Alya, pernikahan adalah sebuah janji suci. Namun, di usianya yang ke-22, janji itu berubah menjadi transaksi gelap. Demi menyelamatkan ayahnya dari jeratan hukum akibat kebangkrutan besar dan serangan jantung ibunya, Alya terpaksa menerima pinangan Arka Dirgantara, seorang pengusaha muda nan dingin yang memiliki kekuasaan mutlak.
Alya mengira dia hanya akan menjalani pernikahan tanpa cinta. Namun, kenyataan jauh lebih pahit: Arka tidak menginginkan hatinya, ia menginginkan kehancurannya.
Arka menyimpan dendam masa lalu yang membara. Ia meyakini bahwa ayah Alya adalah penyebab kematian tragis ibunya bertahun-tahun silam. Baginya, menikahi Alya adalah cara paling elegan untuk menyiksa musuhnya melalui tangan orang yang paling dicintai sang musuh. Di mansion megah yang lebih menyerupai penjara emas, Alya harus bertahan menghadapi dinginnya sikap Arka, intimidasi ibu mertua yang kejam, hingga kehadiran masa lalu Arka yang terus memojokkannya.
Namun, di tengah badai air mata dan perlak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wyzy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 15. Pencarian

Aroma antiseptik yang tajam menusuk indra penciuman Alya sebelum ia benar-benar mampu membuka matanya. Suara detak monitor jantung yang ritmis terdengar seperti lonceng di kejauhan, memberitahunya bahwa ia masih berada di dunia manusia, bukan di alam keabadian yang sempat ia dambakan di dermaga itu.

Perlahan, Alya membuka kelopak matanya yang terasa seberat timah. Langit-langit ruangan itu berwarna putih bersih, bukan beton abu-abu gudang yang pengap. Ia mencoba menggerakkan tangannya, namun rasa nyeri di punggung tangannya membuatnya meringis. Ada selang infus yang tertancap di sana.

"Jangan banyak bergerak dulu, Al. Tubuhmu masih sangat lemah."

Alya menoleh dengan kaku. Di samping tempat tidurnya, duduk seorang pria dengan kemeja hitam yang lengannya digulung. Wajahnya tampak lelah, namun matanya memancarkan kelegaan yang luar biasa.

"Reno?" bisik Alya parau. Suaranya hampir tidak keluar.

Reno tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sudah bertahun-tahun tidak Alya lihat sejak pria itu pindah ke Singapura untuk melanjutkan studi dan bisnisnya. Reno adalah kakak kelasnya, sahabat masa kecil, dan orang yang selalu menjaganya sebelum badai kemiskinan menghancurkan keluarga Prasetyo.

"Ini aku, Al. Kau aman sekarang. Tidak ada yang akan menyakitimu lagi," ucap Reno sambil membetulkan letak selimut Alya dengan penuh perhatian.

Ingatan tentang malam di dermaga kembali menghantam Alya seperti ombak besar. Air matanya seketika mengalir, membasahi bantal rumah sakit. "Ibu... Ibuku, Ren. Arka membatalkan operasinya. Sisil bilang... dia bilang aku yang membunuh Ibuku sendiri."

Reno meraih tangan Alya yang bebas dari infus, menggenggamnya erat. "Dengarkan aku. Ibumu tidak apa-apa. Begitu aku menemukanmu, aku langsung mengirim tim medis pribadiku ke rumah sakit pusat. Aku sudah mengambil alih semua biayanya. Operasi ibumu tetap berjalan sesuai jadwal, bahkan dipimpin oleh dokter bedah terbaik yang kubawa langsung dari luar negeri."

Alya tertegun. Ia menatap Reno seolah pria itu adalah malaikat yang turun dari langit. "Benarkah? Kau tidak bohong padaku?"

"Aku tidak pernah membohongimu, Alya. Tidak akan pernah. Sekarang tugasmu hanyalah sembuh. Jangan pikirkan pria brengsek itu lagi."

Sementara itu, di sisi lain kota, mansion Dirgantara terasa seperti sedang berada di dalam pusaran badai. Arka berdiri di tengah ruang kerjanya yang kini berantakan. Berkas-berkas berserakan di lantai, dan sebuah gelas kristal pecah berkeping-keping di dekat kaki mejanya.

"Belum ada kabar?!" suara Arka menggelegar, membuat asisten pribadinya, Bayu, menunduk dalam ketakutan.

"Maaf, Tuan. Mobil hitam itu ditemukan terabaikan di pinggir hutan, beberapa kilometer dari dermaga. Plat nomornya palsu. Namun, kami menemukan jejak ban mobil lain di lokasi dermaga. Seseorang tampaknya telah membawa Nyonya Alya pergi sebelum kami sampai," lapor Bayu dengan suara bergetar.

Arka mencengkeram pinggiran mejanya. Pikirannya kalut. Jika Alya kabur karena ingin mencuri uangnya, kenapa mobil itu dibuang? Kenapa dia harus berada di dermaga tua di tengah hujan badai? Dan siapa pria yang membawanya pergi?

"Cek semua CCTV di jalur keluar dermaga. Aku ingin tahu siapa pemilik mobil kedua itu!" bentak Arka.

Tepat saat itu, Sisil masuk ke ruangan dengan wajah yang dibuat-buat sedih. "Arka, Sayang... berhentilah menyiksa dirimu sendiri. Alya sudah pergi. Dia sudah mendapatkan apa yang dia mau. Mungkin dia sekarang sedang bersenang-senang dengan pria simpanannya menggunakan uangmu."

Arka menoleh perlahan. Tatapannya begitu tajam hingga Sisil merasa bulu kuduknya merinding. "Pria simpanan? Alya tidak punya siapa-siapa, Sisil. Ayahnya bangkrut, semua temannya meninggalkannya."

"Kau tidak tahu apa yang dilakukan wanita di belakang suaminya, Arka. Mungkin dia sudah merencanakan ini sejak awal pernikahan kalian," Sisil mencoba memegang lengan Arka, namun Arka menyentaknya dengan kasar.

"Keluar," perintah Arka rendah.

"Tapi, Arka—"

"AKU BILANG KELUAR!"

Sisil tersentak dan segera berlari keluar dari ruangan itu. Di dalam hatinya, ia mulai merasa takut. Arka tidak terlihat seperti suami yang marah karena dikhianati, melainkan seperti pria yang sedang kehilangan separuh nyawanya.

Kembali di rumah sakit swasta tempat Alya dirawat.

Reno sedang berdiri di balkon kamar perawatan, berbicara dengan seseorang melalui telepon. "Pastikan semua akses ke lantai ini dijaga ketat. Jangan biarkan siapapun dengan nama keluarga Dirgantara masuk. Jika Arka menemukan tempat ini, berikan dia perlawanan yang setimpal."

Reno menutup teleponnya dan kembali masuk ke dalam. Ia melihat Alya yang sedang mencoba duduk. Wajah gadis itu masih dipenuhi memar, biru dan ungu yang kontras dengan kulitnya yang pucat. Rasa geram kembali membakar dada Reno.

"Al, katakan padaku. Apakah dia... apakah Arka yang melakukan ini padamu?" Reno menunjuk lebam di pipi Alya.

Alya terdiam. Ia menyentuh pipinya sendiri. Rasa sakit fisiknya mulai memudar, namun luka di hatinya jauh lebih dalam. Ia teringat bagaimana Arka menjambaknya, bagaimana Arka menamparnya di gudang bawah tanah, dan bagaimana pria itu menuduhnya sebagai pencuri tanpa memberikan kesempatan untuk menjelaskan.

"Dia membenciku, Ren. Dia menikahiku hanya untuk membalas dendam pada Ayah. Aku hanyalah alat baginya," bisik Alya dengan air mata yang kembali mengalir.

"Pria itu pengecut," desis Reno. "Menggunakan wanita untuk menebus kesalahan pria lain. Alya, ikutlah denganku ke Singapura setelah ibumu pulih. Mulailah hidup baru di sana. Kau tidak perlu kembali ke neraka ini."

Alya menatap Reno dengan ragu. "Tapi... aku masih istri sahnya. Dia punya kekuasaan yang besar, Ren. Dia akan mencariku."

"Biarkan dia mencari. Dia tidak akan bisa menyentuhmu selama kau bersamaku. Aku punya cukup kekuatan untuk menghancurkannya jika dia berani melangkah lebih jauh."

Malam harinya di mansion, Arka duduk di lantai kamarnya, di tempat Alya biasa meringkuk. Ia memegang botol racun yang ia temukan di dermaga. Pihak forensik kantornya baru saja mengirimkan laporan: cairan itu adalah obat penenang dosis tinggi yang bisa mematikan jika tidak segera ditangani.

Jantung Arka berdegup kencang. Jika Alya ingin lari membawa uang, kenapa dia membawa racun? Kenapa ada orang yang ingin dia tertidur selamanya?

Ia membuka laci nakas Alya. Di sana, ia menemukan sebuah kertas kecil yang terselip di bawah tumpukan pakaian yang tidak sempat dibawa Alya. Kertas itu berisi coretan tangan Alya yang tampak terburu-buru.

> *"Aku tidak pernah mengambil uang itu, Arka. Aku bersumpah. Tapi jika keberadaanku hanya membuatmu menderita dan membenci dunia, maka aku akan pergi. Tolong, jangan sakiti Ibu. Biarlah aku yang menanggung semua benci ini."*

>

Arka meremas kertas itu hingga hancur. Ia merasa seperti baru saja disiram air es di tengah musim dingin. Coretan itu bukan tulisan seorang pencuri yang licik. Itu adalah tulisan seseorang yang sudah menyerah pada hidup.

"Bayu!" teriak Arka melalui interkom.

Asistennya masuk dalam hitungan detik. "Ya, Tuan?"

"Bawa Sisil ke gudang bawah tanah sekarang juga. Jangan biarkan dia pergi. Dan cari tahu siapa yang melakukan transfer 500 juta itu dari akun perusahaan. Jangan gunakan sistem kantor, gunakan peretas eksternal. Sekarang!"

Arka berdiri, matanya berkilat dengan amarah yang kini terarah ke tujuan yang benar. Ia mulai menyadari bahwa ia telah menjadi pion dalam permainan yang dibuat oleh orang-orang terdekatnya sendiri. Ia telah menghancurkan wanita yang sebenarnya mencoba menanggung bebannya.

"Alya... di mana pun kau berada, tolong bertahanlah," bisik Arka parau. "Aku akan menjemputmu, dan kali ini, aku akan membakar siapa pun yang telah menyentuhmu."

Namun Arka tidak tahu, bahwa di sebuah rumah sakit yang sangat rahasia, Alya sedang menatap paspor baru di tangannya. Ia sedang bersiap untuk menghilang selamanya dari hidup Arka Dirgantara, membawa luka yang mungkin tidak akan pernah bisa sembuh.

Pencarian baru saja dimulai, namun jarak di antara mereka sudah terasa sejauh ribuan mil, dipisahkan oleh pengkhianatan yang tak termaafkan dan cinta yang terlambat disadari.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!