"Saya nikahkan engkau dengan Rasti Nugroho binti Adi Nugroho dengan mas kawin satu set perhiasan emas dan uang seratus juta rupiah di bayar tunai"
"Saya terima nikah Rasti Nugroho binti Adi Nugroho dengan mas kawin tersebut tunai" sahut Xena.
"Sah"
" Sah"
Air mata Rasti mengalir deras. Dengan cepat ia mengusapnya agar tak terlihat oleh ibu dan adiknya. Sementara itu Budi ayah Xena tersenyum senang. Namun berbeda dengan Mira istrinya ,raut wajahnya menunjukkan ketidaksenangan melihat pernikahan putranya. Namun ia sebisa mungkin menutupinya.
"Selamat ya Nak, kini kau sudah menjadi seorang istri." ucap Siti, ibu Rasti sambil memeluk putrinya.
Rasti hanya bisa mengangguk pelan. Sungguh ini suatu mimpi buruk baginya. Ia tak pernah mengira akan menikah dengan pria yang sama sekali belum mengenalnya bahkan untuk melihat juga belum pernah.
"Siti, terima kasih atas semuanya. Akhirnya hutangku pada sahabatku lunas. Kini aku akan menjaga Rasti seperti putriku sendiri." Ujar Budi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irh Djuanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Detak yang tak biasa
Tubuh Rasti jatuh tepat pada Xena. Kedua mata mereka bertemu. Satu...Dua...tiga detik berlalu. Rasti membeku begitu juga dengan Xena. Tak ada satu pun dari mereka bergerak. Xena mulai menatapnya dari mata hingga turun pada wajah cantik Rasti.
Tanpa ia sadari sesuatu yang tidak ia perhatian sejak pertama. Degup jantung Rasti terasa semakin deras, hingga dia sendiri pun mampu mendengarnya. Sementara Xena rahangnya menegang.
"Apa kau tidak hati-hati,?" ucap Xena akhirnya, suaranya lebih rendah dari biasanya.
Rasti langsung tersadar, ia buru-buru menjauh sedikit meski tangan Xena masih memegangnya.
"Aku...tidak sengaja," jawabnya pelan.
Xena langsung melepas tangannya begitu ia menyadarinya. Cepat. bahkan sangat cepat.
"Perhatikan langkahmu," ucapnya datar.
Rasti menunduk kecil," iya."
Rasti segera keluar dari ruangan itu. Tangannya lebih hangat, masih sama ketika Xena memegangnya. Jantungnya berdesir. Rasti melangkah menjauh dari ruangan itu dengan cepat. Tangannya perlahan menekan dadanya sendiri.
"Kenapa jadi begini..." bisik nya pelan.
Padahal jelas tidak ada apa-apa di antara mereka. Itu hanya kejadian tidak sengaja. Namun tubuhnya seakan tidak mau diajak berpikir logis. Sementara di dalam ruangan, Xena berdiri diam di tempatnya. Matanya masih tertuju ke arah pintu yang sudah tertutup.
Ia menghela napas panjang, lalu mengusap wajahnya kasar.
"Sial..." gumamnya.
Ia berjalan mendekati lemari, tapi langkahnya berhenti lagi. Bayangan tadi masih melekat. Tatapan Rasti, wajahnya yang terlalu dekat dan reaksi dirinya sendiri. Itu tang paling mengganggu.
"Tidak seharusnya seperti itu," ucapnya pelan.
Ia menatap tangannya sendiri sejenak. Tangan yang tadi memegang Rasti.
"Ahhh..."
Xena langsung meraih kaosnya, mengenakannya dengan cepat seolah ingin menyingkirkan pikiran itu.
Malam semakin larut. Rasti sudah berada di tempat tidur, memeluk bantal kecil di sisinya. Lampu kamar masih redup. Matanya terbuka. Ia menatap langit-langit kamar. Pikirannya berputar mengingat kejadian tadi.
Rasti memejamkan mata kuat-kuat, "Ini salah."
Ia membalikkan tubuh, membelakangi sisi kosong di ranjang. Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Xena keluar, langkahnya pelan. Ia melihat ke arah ranjang.
"Kau tidak mandi?," ucapnya akhirnya.
"Tidak," ucap Rasti, sambil matanya terpejam. Bukan tidur tapi lebih menahan sesuatu.
"Hmm,"
Xena berdiri sejenak, seolah memastikan sesuatu. Lalu akhirnya ia berjalan ke sisi lain tempat tidur. Tanpa suara. Namun Rasti merasakannya.
"Apa kau tidur di sini juga?," ucap Rasti akhirnya.
"Apa,?"
"Kau,?" ucap Rasti tanpa menoleh.
"Tentu saja. Ini kamarku. Dan ini... ranjang ku," jelas Xena.
Rasti terdiam. Jawaban itu memang masuk akal. Tidak ada yang salah Tapi tetap saja ada sesuatu yang terasa ganjil.
"Iya, aku lupa," jawabnya pelan.
Ia semakin membelakangi Xena, seolah ingin menciptakan jarak yang lebih jauh lagi. Xena menatap punggung Rasti beberapa detik.
"Lalu kau pikir aku akan tidur di mana?" tanya Xena tiba-tiba.
Rasti terdiam sejenak, lalu menjawab pelan, "Aku pikir kau punya banyak pilihan."
Nada bicaranya tidak menyindir.Dan itu membuat Xena sedikit mengernyit.
"Kau juga punya," balasnya.
Rasti tersenyum tipis, meski tidak lihat," Iya. Tapi aku tamu di sini."
"Itu bukan alasan,"
" Memang bukan," jawab Rasti singkat.
Xena terdiam beberapa detik. Kalimat itu sederhana, tapi entah kenapa terasa seperti menamparnya pelan.
"Ini rumahmu sekarang," ucap Xena akhirnya.
Rasti tidak langsung menjawab, Ia menatap kosong ke depan.
"Rumah..," ulangnya lirih.
Hening lagi. Xena bangkit dari ranjang dan membawa sebuah bantal bersamanya.
"Aku akan tidur di sofa," ucap Xena akhirnya.
Rasti langsung membuka matanya. Refleks, " Kenapa?"
"Agar kau nyaman," jawabnya singkat.
"Aku tidak meminta itu tapi...,"
" Tapi apa,"
" Jangan melewati batasan,"
Xena tersenyum smirk," Maksudmu?"
" Kita bukan layaknya pasangan suami istri, semua itu hanya berlaku saat di depan orang tua saja," ucap Rasti.
"Memang, aku juga tau itu. Jangan berpikir aku sudah menerima mu," jawab Xena tegas.
Rasti terdiam.Kalimat itu tepat sasaran. Tidak ada nada tinggi. Tidak ada emosi berlebihan. Tapi justru karena itu, rasanya jauh lebih menusuk.
"Iya, aku tau," jawabnya singkat.
Tidak ada bantahan. Tidak ada pembelaan. Dan itu membuat Xena sedikit mengernyit. Entak kenapa ia justru tak menyukai reaksi itu.
"Bagus kalau kau paham,"
"Sejak awal aku sudah paham,"
DEG
Xena terdiam. Rasti kembali membelakangi Xena, menarik selimut hingga menutupi sebagian wajahnya.
"Jadi, jangan repot-repot pindah ke sofa.Aku tidak akan melewati batas."
Kalimat itu terdengar tenang. Xena menatap punggung Rasti cukup lama. Ada sesuatu yanga terasa aneh di dadanya , sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Seharusnya ini yang ia inginkan. Tapi kenapa rasanya tidak benar. Xena menghela nafas panjang, lalu melempar bantal yang ia bawa tadi.
"Aku tidak bilang aku tidak bisa tidur di sini," ucapnya.
Rasti tidak menoleh, " Iya,"
Xena akhirnya berbaring di sisi lain ranjang. Jarak diantara mereka tetap ada. Tidak terlalu dekat. Tapi juga tidak sejauh sebelumnya. Lambu dimatikan Gelap menyelimuti ruang itu.
Beberapa menit berlalu dalam diam. Namun kali ini suasana berbeda. Lebih berat dan tidak nyaman. Xena menatap langit-langit, matanya terbuka pikirannya berisik.
"Tadi... kau menangis," ucap Xena akhirnya.
"Tidak," jawab Rasti singkat.
" Kau tidak pandai berbohong,"
Rasti membuka matanya," Kenapa kau peduli,"
"Tidak. Aku tidak peduli,"
"Lalu,"
"Aku hanya...,"
"Hanya apa?"
Xena terdiam, tidak langsung menjawab. Rasti membalikkan tubuh namun tak mampu melihat Xena di dalam kegelapan.
"Aku tidak menangis untukmu. Aku hanya menangis kenapa aku harus diposisi seperti ini," katanya lirih.
"Kau menyesal?"
"Sangat,"
Xena kembali diam.Hening kembali. Xena tak lagi membalas begitu juga dengan Rasti. Malam itu, mereka tidak benar-benar tidur. Mereka pada pikiran mereka masing-masing.
***
Pagi pun tiba, Rasti sudah di dapur membantu Siti menyiapkan sarapan. Mira yang juga berada di sana, hanya menatap gerak- gerik menantunya itu. Ada yang berbeda dengan penampilan Rasti hari ini.
"Hmm...cantik," bisiknya dalam hati.
Mira menilai diam-diam penampilan menantunya itu. Cara berpakaian dan mengatur rambutnya sungguh sangat berbeda dari kemarin.
"Masak apa kalian?" tanya Mira tiba-tiba.
Rasti dan Siti sama-sama menoleh,
"Mama," ucap Rasti pelan.
"Nyonya muda yang memasak, Nyonya," sahut Siti pelan.
Mira menatap beberapa makanan di atas meja bar. Lalu mengangguk-angguk kecil melihat semua makanan itu. Ada tempuran, telur sambal, dan sup ayam yang sudah siap dihidangkan.
"Bawa ke meja makan, Bu. Sebentar lagi suamiku dan Xena akan turun," kata Mira padanya.
Siti mengangguk cepat,lalu memindahkan satu persatu makanan ke atas meja.Aroma masakan hangat memenuhi ruangan, memenuhi ruangan yang seharusnya terasa nyaman. Namun tidak dengan Rasti.
Langkah kaki terdengar melangkah turun. Rasti refleks menoleh. Xena turun dengan langkah tenang,mengenakan kemeja rapi seperti biasa. Wajahnya kembali datar, seolah tidak terjadi apa-apa semalam. Walau memang nyatanya tak terjadi apa-apa.
Di belakangnya, Budi ikut turun mengekor di belakang.
"Selamat pagi," ucap Budi.
"Pagi, Pa," sahut Mira dan Rasti bersamaan.
Rasti menunduk sopan, Xena hanya melirik sekilas ke arah Rasti. Singkat tanpa ekspresi. Namun cukup untuk membuat Rasti mengalihkan pandangan. Mereka semua duduk di meja makan.
Suasana awalnya tenang. Sendok dan garpu beradu pelan. Tidak ada percakapan berarti.
" Ini... siapa yang masak?" tanya Budi seketika.
Rati terdiam. Tubuhnya tiba-tiba tegang mendengar pertanyaan itu. Xena ikut berhenti mengunyah. Matanya menatap ayahnya lalu menatap Rasti bergantian.
"Kenapa, Pa?" ucapnya pelan.
"Enak" jawab Budi singkat.
Rasti menghela nafas lega. Sementara Xena masih menatapnya. Lalu kembali menyuapkan nasi ke mulutnya.
"Memang enak," ucapnya lirih.
Rasti menoleh, lalu kembali menunduk. Ada senyum tipis tapi bukan senyum senang yang benar-benar senang. Hanya senyum biasa.