Araya Lin dipaksa menjadi pengantin
pengganti bagi kakak tirinya. la dinikahkan dengan Arkanza Aditama, seorang CEO miliarder yang dirumorkan kejam, dingin, dan cacat akibat sebuah kecelakaan tragis. Keluarga Araya tertawa, mengira mereka telah membuang anak tak berguna ke dalam 'neraka'.
Namun, di malam pertama pernikahan mereka, Araya terkejut saat melihat pria jangkung dengan tatapan setajam elang berdiri sempurna di hadapannya-tidak cacat sedikit pun. Di sisi lain, Arkanza mengira ia hanya menikahi gadis udik yang bisa ia kendalikan. la tidak tahu bahwa istri kecilnya yang terlihat lugu ini adalah "Z", seorang peretas jenius misterius yang selama ini dicari-cari oleh perusahaannya sendiri.
Ketika dua pembohong ulung terjebak dalam satu atap, akankah pernikahan kontrak ini berakhir dengan pertumpahan darah, atau justru memicu romansa yang tak terhentikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orang_Cuman_Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15: Konfrontasi di Pelabuhan Barat
Malam itu, langit di atas Jakarta seolah ikut berkonspirasi dengan rencana Araya. Hujan turun rintik-rintik, menciptakan kabut tipis yang menyelimuti tumpukan kontainer karatan di Pelabuhan Barat. Bau garam laut yang tajam menusuk hidung, bercampur dengan aroma minyak solar yang pekat.
Araya berdiri di tengah gudang nomor 07 yang terbengkalai. Ia tidak lagi mengenakan gaun pastel atau piyama sutra. Kali ini, ia sepenuhnya menjadi "Z". Mengenakan pakaian serba hitam yang pas di tubuh, rambutnya diikat tinggi, dan tatapan matanya sedingin es. Di tangannya, ia menggenggam sebuah tablet kecil yang terhubung langsung ke satelit ilegal.
"Kau tepat waktu, Kuncoro," ucap Araya tanpa berbalik, suaranya bergema di ruangan luas yang sunyi itu.
Dari balik bayangan kontainer di ujung gudang, seorang pria tua bertubuh tegap melangkah keluar. Meskipun usianya sudah kepala lima, auranya masih memancarkan bahaya yang nyata. Dialah Kuncoro, sang "Pembersih" yang menghantui masa lalu Araya.
"Putri Radit Lin ternyata punya nyali yang besar," Kuncoro terkekeh, suara seraknya terdengar seperti gesekan amplas. "Kau memancingku ke sini hanya untuk menyerahkan nyawamu lebih cepat? Seperti ayahmu?"
Rahang Araya mengeras. "Siapa yang memerintahkanmu membunuh mereka? Aditama? Atau... Keluarga Lin sendiri?"
Kuncoro mengeluarkan sebilah pisau lipat taktis dan memainkannya dengan lincah. "Dunia ini terlalu rumit untuk otak kecilmu, Nak. Ayahmu tahu terlalu banyak tentang 'proyek' itu. Dan kau... kau adalah variabel yang seharusnya sudah mati dua puluh tahun lalu."
Tanpa peringatan, Kuncoro menerjang. Gerakannya sangat cepat untuk pria seusianya. Araya menghindar dengan gerakan parkour yang presisi, berguling di bawah alat berat yang mangkrak dan membalas dengan lemparan pisau kecil yang ia sembunyikan di lengannya.
Srett! Pisau Araya menggores pipi Kuncoro.
"Bocah kurang ajar!" geram Kuncoro. Ia mencabut senjata api dari balik mantelnya.
DOR!
Peluru itu memecahkan kaca jendela di atas kepala Araya. Araya segera berlindung di balik pilar beton. Jantungnya berdegup kencang. Ia tahu ia tidak bisa menang secara fisik melawan pembunuh profesional ini sendirian. Ia butuh pengalihan.
"Tunggu dulu, Kuncoro!" teriak Araya dari balik pilar. "Kau pikir aku ke sini sendirian? Aku sudah meretas sistem kepolisian. Dalam lima menit, tempat ini akan dikepung!"
"Bohong!" Kuncoro melangkah maju, moncong senjatanya mengarah tepat ke pilar tempat Araya bersembunyi. "Aku sudah mematikan semua sinyal di area ini!"
"Dia tidak berbohong soal bantuan, Kuncoro. Tapi bukan polisi yang datang."
Sebuah suara bariton yang berat dan sangat otoriter memecah ketegangan. Dari pintu masuk gudang, siluet tinggi besar melangkah masuk dengan tenang, seolah-olah ia sedang berjalan di lobi kantornya sendiri.
Arkanza Aditama. Di belakangnya, Leon dan sepuluh orang penjaga bersenjata lengkap mengikuti dengan formasi tempur.
Kuncoro tertegun, tangannya sedikit bergetar. "T-Tuan Muda Arkanza? Apa yang Anda lakukan di sini? Saya sedang membereskan tikus kecil ini untuk keluarga Anda!"
Arkanza berhenti tepat di samping Araya. Ia tidak menatap Kuncoro, melainkan menatap Araya yang masih dalam posisi siaga. Arkanza menarik napas panjang, lalu melepaskan jas mahalnya dan menyampirkannya ke bahu Araya yang sedikit basah karena hujan.
"Istriku bukan tikus, Kuncoro," desis Arkanza, suaranya begitu rendah hingga membuat bulu kuduk siapa pun berdiri. "Dia adalah pemilik rumah yang kau masuki tanpa izin semalam."
Araya menatap Arkanza dengan tidak percaya. "Kau... kau membuntutiku?"
Arkanza meliriknya sekilas dengan senyum miring yang misterius. "Aku membiarkanmu bermain, Araya. Tapi aku tidak akan membiarkan mainanku dirusak oleh sampah seperti dia."
Arkanza kembali menatap Kuncoro. Tatapannya berubah menjadi sangat mematikan. "Kau melakukan kesalahan besar dengan menyebut nama kakekku dalam rencana pembunuhanmu. Kuncoro, kau pikir aku tidak tahu kalau kau bekerja untuk paman Araya, bukan untuk keluargaku?"
Wajah Kuncoro pucat pasi. "T-Tuan Muda, itu tidak benar! Saya—"
"Diam," potong Arkanza. Ia memberi isyarat pada Leon. Dalam sekejap, moncong senjata sepuluh penjaga itu mengarah ke Kuncoro.
Arkanza mendekati Kuncoro yang kini sudah berlutut karena ketakutan. Ia mengambil pistol dari tangan Kuncoro dengan gerakan merendahkan. "Kau tahu rahasia tahun 1998 itu? Aku sudah membakar semua dokumen aslinya. Dan sekarang, kau adalah satu-satunya saksi yang tersisa."
Araya tersentak. "Apa? Arkanza, jangan! Aku butuh dia untuk bersaksi!"
Arkanza menoleh ke arah Araya, matanya berkilat penuh obsesi yang gelap. "Kau tidak butuh saksi, Araya. Kau hanya butuh aku. Kebenaran yang kau cari... ada di tanganku. Dan untuk mendapatkannya, kau harus tetap berada di sampingku. Selamanya."
DOR!
Sebuah tembakan peringatan dilepaskan Leon ke arah kaki Kuncoro, membuat pria tua itu pingsan karena syok.
Arkanza kembali mendekati Araya, membelai pipinya yang kotor karena debu dengan ibu jarinya. "Permainan hackermu berakhir di sini, Z. Selamat datang di realita yang sesungguhnya. Realita di mana kau adalah milikku, dan musuhmu adalah musuhku."
Araya merasa dunianya berputar. Arkanza bukan sekadar CEO dingin. Pria ini adalah pengatur serangan yang jauh lebih berbahaya daripada Kuncoro. Dan sekarang, ia baru saja masuk ke dalam perangkap yang jauh lebih besar: Perlindungan Arkanza yang menyesakkan.