Berulang kali patah hati oleh pemuda yang sama, membuat Lova berusaha melepas mimpinya menjadi kekasih Afnan, dan pasrah menerima perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya.
Namun siapa sangka, nyatanya lelaki pilihan mama dan papa adalah Afif sang guru mengaji yang juga putra dari teman papa. Bukan karena jarak usia mereka yang terpaut cukup jauh, namun sosok Afif yang terkenal anti perempuan apalagi jika perempuan itu termasuk ke dalam golongan manusia minus akhlak dan ilmu agama sepertinya yang membuat Lova berpikir lebih baik ia diciptakan menjadi sebuah debu saja.
***
Disaat ia sudah bisa menerima semua yang terjadi, justru sosok pemuda impiannya itu hadir kembali di kehidupan Lova.
Akankah Afnan mampu menggoyahkan hati Lova, bagaimana pula Afif membimbing Lova demi membawa bahtera rumah tangga keduanya hingga mampu menepi di jannahnya Allah?
~~~
"Kenapa mesti surat Ar-Rahman dan surat An-Nisa yang jadi mahar?"
"Terus kamu maunya apa? Yassin? Al Jinn?"
.
.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Aku ingin jadi teman nyamanmu
Lova
Afnan, pemuda itu memang sependiam itu nyatanya. Baik di sekolah maupun di rumah. Lova sempat mencuri tatap, tepatnya secara tak sengaja melihat ketika ia membereskan meja makan membantu umi, pemuda itu melintas dan kembali ke area atas. Seolah, jika dunianya memang sebatas area atas saja, no lep di bawah sini.
Lova penasaran sekali ada apa di atas sana yang bikin betah selain dari kamarnya yang berada di lantai atas.
Dan yeah, tentu saja...no interaksi dengannya, seperti biasanya--seperti sebelumnya. Bahkan ia terlihat menghindar saat tatapan mereka bertemu, bagus lah! Memudahkan Lova untuk melupakannya.
Lagipula...
"Udah bantuin uminya? Ayo..." si pria yang wajahnya mulai memasang tampang-tampang siap menerkamnya bila salah itu sudah memintanya masuk kamar.
"Ngapain?" Lova melipat kedua tangannya di dada, membuat umi menyemburkan tawanya dan Afif berdecak, "geeerrrr, ngaji lah."
"Ya ampun neng..." umi menggeleng.
"Abisnya umi, mas Afif mau buka celana di depan aku tadi. Siapa yang ngga suudzon coba?!"
Praktis saja Afif merasa kikuk meskipun hal itu tak kentara terlihat di raut wajahnya yang lempeng itu. Umi sampai tergelak menutup mulutnya, "astagfirullah." Begitu polosnya sang menantu, "mas...jangan dibuka dulu, istrinya masih butuh adaptasi, masih anak kecil." Tatap umi usil menggoda.
Tawa Lova meledak sampai-sampai abi yang baru saja keluar dari kamar ikut bertanya, "ada apa nih, rame bener?"
Tentu saja dia Afif, yang wajahnya datar saja, meskipun kondisi hatinya siapa yang tau, "dia sudah tau kok, umi. Jangan dikira mantu umi ini anak kecil baik-baik, dia anak nakal..."
Lova kembali tertawa ingat dengan kalimatnya yang menyebut Afif raja kingkong. Tak sangka jika pria yang ia kira pendiam, galak, jutek, anti perempuan ini justru asik diusili dan nyambung diajak bercanda.
"Mas, ngga ada libur dulu gitu ngajinya mas? Cuti nikah deh cuti nikah?" tapi Lova tak urung menyusul Afif ke kamar setelah menaruh sejenak lap tangan di meja, wanita dengan jilbab yang tetap menutupi daster panjangnya ini menggeleng melihat interaksi anak dan menantunya, berucap syukur begitu banyak pada Yang Maha Kuasa, telah membuat satu putranya memiliki makmum yang tepat.
Afif menggeleng, "kalo dibalik pertanyaannya gimana? Mau dikasih libur---terima rejeki--dari Allahnya? Atau libur nafas dulu?"
"Ihh, jahat. Kok disamain sama nafas...sama rejeki." Masih terdengar sayup suara Lova samar lalu pintu kamar tertutup tidak sampai rapat.
Lova, dalam balutan mukena yang belum ia rapikan setelah isya membuka sampul beludru di atas sajadah. Iya! Al-Qur'an yang dipakai Afif ketika memberikan mahar dan hadiah pernikahan untuk Lova, kini Afif berikan sebagai hadiah lainnya yang datang kesekian kali untuk Lova.
"Lanjutan surat yang terakhir nih?" tanya Lova menatap sejenak diangguki Afif di depannya. Hanya berbatas rekal kayu lipat bermotif ukiran di atas sajadah yang sama.
"Iya lah. Mau yang mana memangnya?"
"Padahal udah say good bye juga..." gerutunya masih saja tak terima merasa dibohongi orang orang dewasa.
Afif tertawa kecil, "seniat itu ya mau kabur."
Lova menatap wajah berbingkai alis tebal itu, yang entahlah sejak kapan---jika ia tersenyum atau tertawa kecil begitu, terlihat sekali kadar ketampanannya bertambah. Benar, memang benar...lelaki matang di depannya itu lebih tampan dari Afnan. Ia sangat yakin. 100 persen yakin.
"Kenapa mas ngga bilang waktu itu. Bilang kalo yang mau ta'aruf sama aku tuh mas Afif? Sengaja ya?!" tatapnya tajam.
Afif mengangguk, "iya. Ngga tega sama muka kamu yang udah seneng begitu mau pamitan." Ia masih merasa geli dan lucu saja dengan kesalahan pahaman kemarin, "lagian kamu nanti ngga akan percaya kalo saya bilang, saya bakal calon suami kamu, jadi sekalian saja nanti pas semua sudah kumpul."
Alih-alih segera mengaji dan membaca, Lova justru hanya memainkan ujung lembaran halaman Al Qur'an dan bicara lagi, "mas. Aku boleh tanya?"
"Apa?" wajah serius itu kembali ke stelan awal, datar dan kalem.
"Kenapa tiba-tiba kepikiran buat masukin CV mas Afif sendiri? Lova kira ayah cuma minta mas Afif sama Abi jadi perantara aja?" ia baru saja terpikirkan hal penting yang harusnya ia tanyakan sejak kemarin kemarin.
"Hm. Iseng-iseng berhadiah..." jawab Afif sekenanya, ia terkekeh sendiri tapi tentu saja Lova tak ingin ikut tertawa, ia justru menutup Al Qur'annya dan beranjak dengan memasang tampang keruh, membuat Afif harus membujuknya yang mendadak merajuk naik ke atas kasur dan bergulung disana, "eh...bercanda. Lagian kamu ngomong terus kapan mau ngajinya, ini? Hayuk cepetan, saya masih punya kerjaan."
"Yang bener jawabnya kek!"
"Iya karena kalo ngga ikut masukin, rasanya sayang aja...sudah susah susah cape ajarin dari nol, nanti dilanjutnya sama orang lain." Jawab Afif lagi, tapi Lova masih merasa belum boleh luluh.
Hingga akhirnya....salah ia yang juga usil, sebab Afif kini sudah menarik tangannya, mengajaknya duduk di kasur
"Karena saya mau. Karena jawaban istikharah saya ya kamu." Jelas Afif menghela nafasnya penuh kesabaran, "udah ayuk cepetan, jadi mau ngaji ngga?"
Lagi-lagi, Lova tertawa tawa meski hanya dalam hatinya karena rasa hangat menjalari hingga ke ubun-ubun, apakah ia sedang di rayu versi Afif part 2 setelah hadiah dan mahar kemarin?
Lova beringsut turun juga akhirnya dan membuka kembali lembaran Al Qur'an.
Benar, Afif membimbingnya, membersamainya, mengajarinya. Meski terkadang ucapan bernada datar nan tinggi ia lemparkan saat Lova salah, tapi sekarang ia tak sejutek saat mereka belum menikah, bahkan....tanpa disadari kini posisi mereka tak lagi berjauhan.
Berkali-kali tangan Afif menyentuh tangan Lova, menunjuk bibir lembabnya memberikan sengatan listrik yang tak disadari oleh Afif dan berdampak buruk untuk kesehatan jantung Lova, gadis itu berdehem tentang hatinya, tentang jantungnya yang berdegup kencang dan mendadak gugup.
"Mas udah ah! Capek..." keluhnya memasang tampang mengenaskan di atas sajadah.
Afif mengangguk. Sementara Lova dengan secepat kilat sudah naik ke atas kasur dan menjatuhkan badannya begitu saja terlentang, "mas. Kira-kira kalo aku punya keraguan, bisa dapat jawabannya kalo solat istikharah ngga ya?"
Afif yang sempat membuka songkok dan kokonya itu menoleh menatap Lova, sempat ia terdiam sejenak memancing Lova untuk mengangkat kepalanya demi melihat Afif yang mendadak diam seribu bahasa, apakah suami matangnya itu malah tidur atau pergi?
"Mas?"
"Apa yang kamu ragukan? Apakah ada hubungannya dengan....*kita*? " tanya Afif justru jadi boomerang untuk Lova, ia bangkit dari posisi terlentangnya dengan wajah panik, syok namun----Afif memberikan senyuman tipis, duduk di samping Lova, "saya tau. Hubungan ini mungkin bukan didasari cinta, tapi karena kamu bilang karena Allah, karena ayah--bunda, bisakah sedikit sisakan ruang untuk cinta?"
"Saya pun akan mencobanya, Va...atau mungkin sudah..." tatapnya itu, Lova tak bodoh untuk tau jika Afif tengah menatapnya dengan sorot memohon dan menyayangi.
"Kita belajar, belajar untuk jadi teman ternyaman dulu...keluhkan setiap keluh kesahmu pada saya, selain sama Allah..."
Lova diam, menatap dan menyelami mata kelam Afif di bawah siraman lampu kamar, perlahan namun pasti ia mengukir senyuman, "insyaAllah."
Lalu Afif teringat sesuatu yang hampir terlupakan, "ah ini..." padahal sudah ia siapkan di atas meja. Dua buah tiket yang tersimpan di amplop coklat berpita, "Minggu depan kita pakai?"
Lova menutup mulutnya merasa harus membekap teriakannya yang siap meledak kala ingat ucapan Alika, *honeymoon*?
.
.
.
.
jgn bikin ambyaaarrrr teh sin
pas Afif tau tentang Afnan
jujur kpn va tentang Afnan ny
Va bukan dibuang ajj sih kertas ny