NovelToon NovelToon
Garis Takdir Baru

Garis Takdir Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: USR

Nata Prawira mati dalam kehancuran mental dan kemiskinan, meninggalkan kedua adiknya dalam penderitaan. Namun, takdir membawanya kembali ke tahun 2014, tepat di masa SMA-nya.
​Berbekal memori masa depan dan kepribadiannya yang dingin serta kalkulatif, Nata bertekad menulis ulang nasib. Dari gang sempit yang kumuh, ia mulai merancang strategi investasi di dunia BitCore dan industri teknologi yang baru tumbuh. Bukan sekadar mencari kekayaan, Nata adalah seorang arsitek yang sedang membangun kekaisaran bisnis untuk melindungi Kirana yang lembut dan Arya yang penuh semangat. Di dunia yang kejam, ia akan membuktikan bahwa kecerdasan strategis adalah senjata paling mematikan untuk menjungkirbalikkan kasta sosial.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: TITIK BUTA SANG PERENCANA

Selama ini, Nata Prawira selalu merasa selangkah lebih maju dari siapa pun. Namun, di Singapura, ada satu kekuatan yang tidak bisa dilawan hanya dengan algoritma atau gertakan: Internal Security Department (ISD) dan Monetary Authority of Singapore (MAS).

​Pagi itu, suasana di kondominium Marina Bay yang biasanya tenang berubah menjadi mencekam. Saat Nata baru saja menyelesaikan sarapannya, pintu apartemennya diketuk dengan ketegasan yang tidak biasa. Elena, yang biasanya sigap, tampak pucat saat melihat melalui lubang intip pintu.

​"Bos... ini bukan keluarga Chen. Ini otoritas," bisik Elena.

​Nata berdiri, merapikan kemejanya. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang mulai berpacu. "Buka pintunya, Elena. Jangan berikan mereka alasan untuk melakukan kekerasan."

​Empat orang pria berpakaian sipil namun dengan aura otoritas yang kental masuk. Pemimpin mereka, seorang pria paruh baya berkacamata tanpa bingkai bernama Tuan Lim, menunjukkan tanda pengenalnya.

​"Tuan Nata Prawira? Kami dari divisi investigasi kejahatan finansial khusus. Kami memiliki surat perintah untuk membekukan semua perangkat elektronik di lokasi ini dan membawa Anda untuk dimintai keterangan terkait aliran dana lintas batas yang tidak wajar melalui protokol Aquatic Nexus."

​Nata tetap tenang, meski di dalam kepalanya, ia sedang memutar ribuan skenario. "Saya seorang mahasiswa, Tuan Lim. Saya rasa ada kesalahpahaman."

​"Mahasiswa tidak memiliki pergerakan likuiditas sebesar dua ratus juta dolar dalam satu malam di Pelabuhan Klang," jawab Lim dingin. "Bawa dia."

​Nata dibawa ke sebuah gedung abu-abu di kawasan yang tidak mencolok. Ruang interogasinya tidak seperti di film-film; ruangan itu putih bersih, sangat dingin, dan hanya berisi satu meja serta dua kursi. Namun, bagi Nata, ini adalah penjara yang jauh lebih mematikan daripada sel mana pun.

​Tuan Lim duduk di hadapannya, meletakkan tumpukan dokumen tebal. "Kami tahu tentang Prawira Global. Kami tahu tentang hubunganmu dengan Arthur Chen. Dan yang paling penting, kami tahu bahwa kamu menggunakan enkripsi tingkat militer untuk menyembunyikan asal-usul aset digitalmu."

​"Melindungi privasi bukan berarti melakukan kejahatan, Tuan Lim," balas Nata.

​"Di Singapura, menyembunyikan asal-usul dana sebesar itu dari otoritas adalah kejahatan serius. Kamu dituduh melakukan sabotase stabilitas moneter regional karena memicu fluktuasi di Malaysia untuk kepentingan akuisisi logistikmu," Lim mencondongkan tubuh. "Kami bisa mendeportasimu, menyita seluruh asetmu, dan memastikan namamu masuk dalam daftar hitam perbankan dunia selamanya."

​Nata terdiam. Ini adalah titik butanya. Ia terlalu fokus pada musuh-musuh bisnisnya sampai ia lupa bahwa di negara semaju Singapura, pergerakan uang yang terlalu besar dan "cerdas" akan dianggap sebagai ancaman keamanan nasional. Ia tidak sedang melawan orang serakah; ia sedang melawan sistem yang sangat efisien.

​"Apa yang kalian inginkan?" tanya Nata, langsung ke inti permasalahan.

​Lim tersenyum tipis. "Kami tahu kamu bukan pencuci uang biasa. Kamu terlalu pintar untuk itu. Kami tertarik pada protokol yang kamu buat. Protokol yang bisa membuat transaksi logistik berjalan tanpa terdeteksi radar bea cukai konvensional. Berikan kami kunci utamanya, dan kami mungkin bisa membicarakan tentang 'kesepakatan'."

​Nata mengepalkan tangannya di bawah meja. Jika ia menyerahkan kuncinya, Prawira Global akan menjadi milik pemerintah. Ia akan menjadi pion mereka selamanya. Jika tidak, ia kehilangan segalanya hari ini.

​Sementara itu, di luar ruang interogasi, Elena bergerak dalam kegelapan. Ia tahu ia sedang diawasi, namun ia memiliki satu kartu as yang belum pernah ia ceritakan pada Nata. Sebagai mantan peretas yang pernah menembus sistem keamanan regional, Elena memiliki "jalur tikus" di jaringan komunikasi pemerintah.

​Ia duduk di sebuah kafe internet kumuh di pinggiran Geylang, jauh dari jangkauan sensor Marina Bay. Jari-jarinya menari di atas keyboard usang.

​"Maaf, Bos, tapi kali ini aku harus melanggar protokolmu," gumam Elena.

​Ia tidak mencoba meretas ISD—itu bunuh diri. Sebaliknya, ia mengirimkan data yang sangat spesifik kepada Marcus Chen. Data itu berisi bukti bahwa Vincent Chen, yang kini diasingkan di Australia, sebenarnya bekerja sama dengan faksi radikal di Malaysia untuk menyabotase kesepakatan Naga Laut agar keluarga Chen bisa mengambil alih secara paksa saat Nata ditangkap.

​Elena tahu Marcus akan panik. Jika Nata jatuh dan menyeret nama keluarga Chen ke dalam skandal sabotase negara, bank mereka akan ditutup dalam semalam. Satu-satunya cara Marcus selamat adalah dengan menggunakan pengaruh politik ayahnya untuk menarik Nata keluar sebelum interogasi Lim masuk ke tahap penuntutan resmi.

​Kembali di ruang putih, tekanan semakin berat. Lim telah memutar rekaman percakapan Nata dengan Zulkifli di Johor Bahru.

​"Ini adalah bukti pemerasan, Nata. Kamu menggunakan data rahasia untuk memaksa pejabat asing. Kamu pikir kamu siapa? Tuhan yang bisa mengatur nasib orang?" tanya Lim tajam.

​Nata merasakan keringat dingin di punggungnya. Ia menyadari satu kesalahan fatalnya: ia terlalu percaya diri pada kerahasiaan pertemuannya. Di dunia intelijen, tidak ada tempat yang benar-benar sepi.

​"Saya hanya penyeimbang, Tuan Lim. Zulkifli melakukan korupsi selama tiga puluh tahun. Saya hanya membuatnya menggunakan uang itu untuk hal yang lebih produktif," jawab Nata, suaranya mulai sedikit bergetar karena kelelahan dan dinginnya ruangan.

​"Cukup!" Lim memukul meja. "Kamu punya waktu satu jam. Tanda tangani penyerahan akses protokol Aquatic Nexus, atau kita akan mulai memproses deportasi dan penyitaan aset adik-adikmu di Jakarta."

​Mendengar nama Kirana dan Arya disebut, kemarahan Nata memuncak. Ia hampir saja meledak, namun ia menahannya. Ia menutup matanya, memanggil kembali setiap memori dari masa depannya, setiap strategi yang pernah ia baca.

​Jika mereka menekan dari satu sisi, buatlah sisi lain runtuh, batin Nata.

​Tiba-tiba, lampu di ruangan itu berkedip. Seorang petugas masuk dan membisikkan sesuatu ke telinga Lim. Wajah Lim yang semula penuh kemenangan mendadak berubah menjadi tegang.

​Di luar, Arthur Chen baru saja melakukan panggilan telepon kepada salah satu menteri senior di Singapura. Marcus telah menunjukkan kepadanya bahwa jika Nata "bernyanyi" di bawah tekanan ISD, maka seluruh aliran dana gelap keluarga Chen selama dua dekade terakhir akan terbongkar. Nata memiliki data itu di dalam protokol "bom waktu" digitalnya yang akan meledak jika ia tidak melakukan check-in manual setiap 12 jam.

​Arthur harus memilih: membiarkan Nata hancur dan ikut tenggelam, atau menyelamatkan Nata untuk menjaga rahasia keluarganya sendiri.

​Lim kembali menatap Nata, namun kali ini tatapannya penuh kebencian yang tertahan. "Kamu... kamu sangat beruntung. Ada tekanan dari 'pihak atas' yang mengatakan bahwa investigasi ini harus dilakukan secara tertutup dan kamu akan dilepaskan dengan jaminan pengawasan ketat."

​Nata tidak menunjukkan emosi, tapi di dalam hati ia mengembuskan napas lega. Ia tahu ini bukan karena keadilan, tapi karena ketakutan bersama.

​"Namun, jangan salah sangka," Lim mendekat ke wajah Nata. "Kamu tidak bebas. Mulai hari ini, setiap langkahmu, setiap sen yang kamu gerakkan, akan diawasi oleh tim saya. Jika kamu melakukan kesalahan sekecil apa pun, saya sendiri yang akan memastikan kamu membusuk di penjara Changi."

​Nata keluar dari gedung itu dengan kaki yang terasa lemas. Elena sudah menunggunya di dalam mobil sedan hitam yang diparkir agak jauh. Begitu pintu tertutup, Nata bersandar dan memejamkan mata.

​"Elena... apa yang kamu lakukan?" tanya Nata parau.

​"Aku memicu perang di dalam keluarga Chen untuk memaksa Arthur bergerak, Bos. Maaf, aku melanggar perintahmu untuk tetap di bayang-bayang," jawab Elena pelan.

​Nata membuka matanya, menatap Elena. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa ia hampir saja kehilangan segalanya. Ia terlalu arogan menganggap dirinya tak tersentuh. Singapura telah memberinya pelajaran paling berharga: di atas langit, selalu ada langit yang lebih tinggi—dan langit itu bernama Negara.

​"Kamu menyelamatkanku, Elena. Dan Prawira Global," ucap Nata tulus. "Tapi Lim benar. Kita sekarang berada di bawah radar mereka. Naga Laut tidak bisa lagi bergerak bebas di permukaan. Kita harus menyelam lebih dalam."

​"Apa rencana kita sekarang, Bos?"

​Nata menatap ke luar jendela, ke arah gedung-gedung pencakar langit yang kini terasa seperti menara pengawas. "Kita akan mengubah struktur Prawira Global menjadi entitas yang tidak memiliki pusat. Kita akan menghilang dari sistem perbankan tradisional. Kita akan masuk ke dunia dark-pool yang bahkan ISD pun akan kesulitan melacaknya."

​"Dan keluarga Chen?"

​"Arthur menyelamatkanku hanya karena dia takut. Itu bukan aliansi, itu adalah kebencian yang tertunda. Kita harus mulai menarik semua aset kita dari bank mereka secara perlahan sebelum mereka menemukan cara untuk mematikan 'bom waktu' digital yang aku buat," Nata mengepalkan tangannya.

​Malam itu, Nata tidak tidur. Ia duduk di meja kerjanya, melihat data yang kini dipenuhi jejak pelacak otoritas. Ia bukan lagi sekadar mahasiswa yang bermain bisnis. Ia adalah target operasi negara.

​Garis takdir ini semakin rumit dan berbahaya. Nata menyadari bahwa untuk melindungi adik-adiknya dan kekaisarannya, ia harus menjadi lebih dari sekadar perencana. Ia harus menjadi hantu yang mengendalikan sistem dari celah-celah yang tidak pernah diketahui oleh Lim atau Arthur Chen sekalipun.

​"Permainan ini baru saja menjadi mematikan," gumam Nata sambil menghapus satu demi satu jalur komunikasi lamanya. "Dan aku tidak akan pernah terjebak di ruang putih itu lagi."

Bersambung.....

1
YoMi
Lanjutkan Thor, aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!