NovelToon NovelToon
MAHAR LUKA: Menikahi Janda Sang Kakak

MAHAR LUKA: Menikahi Janda Sang Kakak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:63.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: Ramanda

Maheer Arasyid terjebak dalam wasiat yang terasa seperti kutukan. Kepergian Muzammil, sang kakak yang tewas demi melindunginya dari maut di parkiran rumah sakit, meninggalkan duka sekaligus beban berat: Assel Salsabila.

Bagi Maheer, Assel bukanlah sekadar janda kakaknya, melainkan musuh bebuyutan sejak masa sekolah yang sangat ia benci. Alasan Maheer melarikan diri ke luar negeri bertahun-tahun hanyalah satu: menghindari fakta bahwa wanita "berbisa" itu telah menjadi bagian dari keluarganya.
Kini, demi menunaikan janji terakhir Muzammil dan menjaga senyum kecil Razka Arasyid, Maheer terpaksa mengikat janji suci dengan wanita yang paling ia hindari. Di balik benci yang membara, tersimpan rahasia masa lalu dan luka yang belum sembuh. Bisakah pernikahan yang dibangun di atas rasa bersalah ini berubah menjadi cinta, ataukah dendam lama justru akan menghancurkan segalanya?

Temukan jawabannya dalam kisah pengabdian dan benci yang berujung cinta ini. Dan jangan lupa berikan dukungannya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JEBAKAN SANG PREDATOR.

Malam yang semula sunyi di mansion itu mendadak pecah oleh kepanikan. Assel tidak bisa berpikir jernih setelah membaca pesan ancaman yang ditunjukkan Archie. Pikirannya hanya dipenuhi bayangan Maheer yang terbaring lemah di rumah sakit, menjadi sasaran empuk bagi orang suruhan Paman Khalid. Dengan tergesa-gesa, ia membangunkan Razka dan memaksa Archie untuk segera berangkat.

"Cepat, Archie! Nyawa Maheer dalam bahaya!" seru Assel sambil menggendong Razka yang masih setengah mengantuk masuk ke dalam mobil.

Archie sebenarnya ragu, namun ancaman itu terasa begitu nyata. Ia mengerahkan tiga mobil pengawal untuk mengiringi mereka menuju rumah sakit. Namun, apa yang mereka anggap sebagai misi penyelamatan justru berubah menjadi bencana. Di tengah perjalanan yang melewati area perbukitan sepi, jalanan tiba-tiba diblokade oleh deretan truk besar.

"Ini jebakan! Putar balik!" teriak Archie melalui radio panggil.

Belum sempat mobil mereka bermanuver, puluhan pria bersenjata keluar dari semak-semak dan balik truk. Mereka menghujani ban mobil pengawal dengan peluru hingga kendaraan-kendaraan itu kehilangan kendali. Archie dan anak buahnya berusaha melawan sekuat tenaga, namun jumlah lawan terlalu timpang. Satu per satu pengawal Maheer tumbang.

Assel menjerit saat pintu mobilnya ditarik paksa. Seorang pria bertubuh kekar menyeretnya keluar, sementara pria lain mengunci pergerakan Razka. Archie yang sudah bersimbah darah berusaha merangkak mengejar, namun ia justru dibiarkan tergeletak di aspal.

"Bawa wanita dan bocah itu. Biarkan asisten ini hidup agar dia bisa menyampaikan salam kita pada Maheer," perintah salah satu penculik dengan nada dingin.

Beberapa saat kemudian, Archie dengan sisa tenaganya berhasil sampai ke rumah sakit dengan bantuan pengendara yang lewat. Ia masuk ke ruang rawat Maheer dengan napas tersengal dan baju yang robek.

"Tuan... maafkan saya... Nyonya Assel dan Den Razka... mereka dibawa pergi," ucap Archie lirih sebelum jatuh terduduk.

Maheer yang sedang berdiskusi dengan keempat temannya seketika mematung. Matanya yang semula sayu langsung berkilat dengan amarah yang meledak-ledak. Ia mencengkeram pinggiran ranjang hingga buku jarinya memutih.

"Khalid... bajingan itu benar-benar menantang maut," desis Maheer. Suaranya rendah namun bergetar hebat karena emosi. "William! Oliver! Panggil tim elit sekarang juga. Aku tidak peduli berapa biaya yang harus dikeluarkan, hancurkan siapa pun yang menghalangi jalan kalian!"

Maheer berusaha bangkit dan mencabut paksa infus di tangannya, namun William segera menahan bahunya dengan kuat.

"Kau gila, Maheer! Kau baru saja dioperasi. Jika tulang belakangmu terkena benturan lagi sekarang, kau akan lumpuh permanen!" seru William.

"Istri dan anakku sedang dalam bahaya, Will! Kau pikir aku bisa diam saja di sini?" bentak Maheer.

"Dengarkan aku!" potong Oliver dengan nada tak kalah keras. "Biar kami yang menjalankan misi ini. Kami adalah timmu, bukan? Serahkan pada kami. Leo, Noah, dan aku akan memimpin tim elit. Kau tetaplah di sini, Archie akan menjagamu. Kami berjanji akan membawa mereka pulang dengan selamat."

Maheer terengah-engah, menatap mata sahabat-sahabatnya satu per satu. Ia melihat kesungguhan dan kesetiaan di sana. Akhirnya, dengan berat hati, ia kembali bersandar. "Jika ada satu helai rambut mereka yang hilang, aku akan meratakan tempat itu dengan tanah. Mengerti?"

"Kami mengerti, Bos," jawab Leo singkat sebelum mereka berempat bergegas keluar untuk memulai operasi penyelamatan.

Sementara itu, di sebuah gudang tua yang tersembunyi di tengah hutan lebat, suasana terasa sangat mencekam. Cahaya lampu yang remang-remang membuat bayangan di dinding tampak seperti monster yang mengancam. Assel dan Razka diikat di kursi kayu yang keras, tangan dan kaki mereka terkunci rapat.

Razka menangis tanpa suara, tubuhnya gemetar hebat karena ketakutan. Assel berusaha memberikan tatapan menenangkan, meski hatinya sendiri hancur berkeping-keping. Tak lama kemudian, derap langkah sepatu kulit terdengar mendekat.

Seorang pria paruh baya muncul dari kegelapan. Wajahnya sangat mirip dengan ayah mertua Assel, namun matanya memancarkan kebencian yang murni. Pria itu adalah Khalid, paman Maheer.

"Selamat malam, keponakan menantuku yang cantik," sapa Khalid dengan senyum yang mengerikan. "Maafkan tempat yang kurang nyaman ini, tapi aku butuh privasi untuk menyelesaikan urusan keluarga kita."

Assel menatapnya dengan penuh kebencian. "Kau pria keji! Apa maumu sebenarnya?"

Khalid tertawa kecil sambil berjalan mengelilingi kursi Assel. "Mauku sederhana. Aku hanya ingin mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku. Ayah mertuamu yang sombong itu mengusirku seperti anjing sepuluh tahun lalu. Dan sekarang, aku sedang memetik buah dari kesabaranku."

"Hanya karena dendam masa lalu, kau tega mencelakai keluargamu sendiri?" tanya Assel dengan suara bergetar.

"Keluarga? Mereka bukan keluargaku sejak mereka membuangku," sahut Khalid tajam. Ia kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga Assel. "Kau tahu, kecelakaan yang merenggut nyawa suamimu, Muzammil... itu bukan kecelakaan biasa. Itu adalah mahakarya pertamaku."

Mata Assel membelalak sempurna. Jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat. "Apa kau bilang? Mas Muzammil... kau yang membunuhnya?"

"Tentu saja. Dia adalah ahli waris utama, penghalang terbesar bagiku untuk menguasai aset Arasyid di Indonesia," ucap Khalid tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Jangan salahkan aku, Assel. Salahkan mertuamu yang telah membuatku menderita di pengasingan."

"Kau iblis! Kau pembunuh!" teriak Assel histeris. Air mata kemarahan mengalir deras di pipinya. "Aku bersumpah, aku akan membuatmu membusuk di penjara paling gelap! Kau akan membayar setiap tetes darah yang tumpah!"

Khalid tertawa keras hingga suaranya bergema di seluruh gudang. "Penjara? Sayang sekali, kau tidak akan punya kesempatan untuk melaporkanku. Setelah aku menghabisi Maheer, aku akan melenyapkan semua keturunan Arasyid, termasuk bocah kecil ini."

Khalid menoleh ke arah Razka dan menyentuh pipi bocah itu dengan tangannya yang dingin. Razka menjerit ketakutan dan berusaha menghindar.

"Jangan sentuh anakku! Jangan sentuh dia, kau monster!" teriak Assel sekuat tenaga, berusaha melepaskan ikatan di tangannya hingga pergelangan tangannya berdarah.

"Sstt... diamlah. Kematian akan datang dengan cepat jika kau tidak berisik," desis Khalid sambil mengeluarkan sebilah pisau kecil dari balik jasnya.

Di luar gudang, di kegelapan hutan yang pekat, bayangan-bayangan hitam mulai bergerak mendekat dengan senyap. Tim elit yang dipimpin oleh William, Noah, Leo dan Oliver telah sampai di titik koordinat. Mereka mengamati melalui teropong inframerah, bersiap untuk melepaskan serangan yang akan menentukan hidup dan mati. Ketegangan memuncak di udara, sementara di dalam gedung, maut seolah tinggal sejengkal lagi dari leher Assel dan Razka. Apakah bantuan akan datang tepat waktu, ataukah dendam Khalid akan menelan sisa-sisa keluarga Arasyid malam ini?

1
Lia siti marlia
semangat will perbaiki agama dan diri sendiri👍💪lah ahel ahel kasian kamu yah harus nahan 🤭🤭🤭
partini
menjadi lebih baik kali sempurna itu kata yg wow Will, sempurna hanya milik sang pencipta bukan manusia
Lia siti marlia
untung nya semua bisa di bicarakan 😍😍👍
Lia siti marlia
aduh aduh jangan sampai kata kata assel merenggangkan hubungan mereka ...sabar yah mahher 💪😍😍
partini
good story
Lia siti marlia
selamat yah acel dan ahel atas kehamilanya 😍👍
Lia siti marlia
jangan jangan razka mau punya adek🤭🤭
Eliermswati
jngn2 hamil lg thor klo iya wah razka bkl punya ade nih😂😂 bkl ad anggota bru keluarga arasyid smng baik-baik sj y, smngt thor up nya
azzura faradiva
bagus
azzura faradiva
yeeeyyyy.... akhirnya bakalan launching Maher/asel versi sachet
Radya Arynda
semangaaay will
Radya Arynda
semangaaat wiiiilllll💪💪💪💪
Radya Arynda
mantap,,,
Lia siti marlia
semoga kalian berjodoh linda willian kan jodoh di tangam authorrr🤭🤭👍
Lia siti marlia
sabar yah william jodoh gak akan kemana💪💪💪
partini
semoga nanti berjodoh
Lia siti marlia
selamat yah willian kamu udah sunat semoga kedepanya Alloh permudah jalanmu untuk mendapatkan linda 🤭😍💪💪💪
Lia siti marlia
hahaha willian kamu ada ada aja🤣🤣🤣
partini
seru nih kisah William
di bikin novel sendiri aja Thor
Lia siti marlia
bahagianya yang dapat jodoh🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!