Santaka, anak dari pemilik pesantren besar di Solo—yang berprofesi sebagai chef pastry—terpaksa menikah dadakan dengan Nandini, tetangga sekaligus montir bengkel langganannya.
ini semua karena mereka tertangkap basah di mobil Santaka dalam kondisi mengundang fitnah.
"Gus Taka dan Dini tertangkap di mobil! Suaranya mencurigakan, apalagi baunya..."
Itu kesaksian pihak yang menangkap basah. Tak tanggung-tanggung, tiga orang jadi saksi.
Bisakah Santaka—gus yang lembut—menjadi imam bagi Nandini—montir bengkel yang keras?
Kini kehidupan Nandini bukan lagi tentang oli dan kunci inggris, tapi umat dan pesantren. Sanggupkah sang montir bengkel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22 Hati yang Mulai Goyah
Ahsan menyesali keputusannya untuk sok rapi dalam mengeksekusi sabotase. Hasilnya malah seperti ini. Nandini yang memang tak bisa dibohongi jadi tahu ini adalah tindakan sengaja.
“Itu... tikus?” Ahsan meringis.
“Iyo, tikus pake peci sama sarung. Anak kyai lagi.” Nandini memiringkan bibirnya. Ahsan terkekeh.
“Sepertinya aku khilaf Din. Ngelindur kayaknya aku, jadi ndak sadar maen kabel.” Ahsan menggigit bibirnya.
“Wis ngawur-ngawur... Aku ndak mau ya Gus, dibohongin kayak gini lagi.” Nandini merengut. Ia mengambil isolasi hitam kemudian membebat kabel yang terluka karena ulah Ahsan.
Ahsan menatap Nandini dalam senyum. Ia yakin Nandini tak benar-benar marah padanya. Sedikit banyak ia mengenal karakter Nandini hampir delapan bulan ini.
“Maaf Dini... Waktu aku liat kamu manasin mobil, kamu bilang kamu ndak bisa hidup tanpa mesin.
Setelah nikah sama Gus Taka kan ndak mungkin kamu tetep jadi montir. Jadi, aku inisiatif jadiin motor aku qurban buat kamu maenin.
Kamu seneng kan ngotak-ngatik mesin lagi?” Ahsan mengerlingkan matanya.
Nandini terhenyak. Memang ada kesenangan tersendiri yang tadi ia rasakan saat mengurut kabel, menjelajahi area kelistrikan. Tapi ia juga tak suka dibohongi oleh Ahsan.
“Dhih, memangnya sapi jadi qurban. Terima kasih Gus, buat perhatiannya. Tapi jangan diulang lagi seperti ini. Ndak baik. Megang mobil sama motor Gus Taka, sudah cukup buat aku sekarang.”
Ahsan memiringkan bibir. Ia kesal upayanya hari ini kurang berbuah manis. Tapi ia yakin esok hari atau setelahnya, masih ada jalan lain mendekati Nandini.
Gus muda itu malah semakin penasaran pada Nandini. Ia harus mencari cara yang lebih rapi dan pas. Tunggu saja Nandini.
*
*
"Enak?" Santaka tersenyum geli melihat pipi Nandini yang menggembung ketika mengunyah.
"Ndak enak!" Nandini menjulurkan lidahnya.
Santaka menjawil hidung bangir Nandini kemudian membelai kepala wanita itu. "Masa? Tapi ngunyahnya semangat banget. Lagian ndak boleh bilang ndak enak sama makanan.
Kalau enak, puji. Kalau ndak enak, diam. Tapi saya yakin sih ini enak. Wong tinggal seperempat lagi, ndak enak bagian mananya."
Nandini tergelak mendengar ucapan suaminya. Tentu saja tadi ia berbohong. Lasagna buatan suaminya sangat enak. Heran Nandini, kok bisa tangan itu begitu luwes dalam mengolah rasa.
"Enak, Gus. Enak banget. Aaa..." Nandini mengangakan mulutnya, minta diisi ulang. Santaka melayangkan sendok ke dalam bibir sang istri. Ia elus lembut bibir itu sambil tersenyum.
Nandini tertunduk. Ia merasa wajahnya panas. "Gus, fokus nyuapin saja," rengek Nandini.
"Kenapa? Mulai tegang ya, saya pegang?" Nandini menonjok pelan lengan Santaka, yang membuat lelaki itu terpingkal.
"Ciri-ciri orang salting ini," goda Santaka. Nandini kembali menonjok, keras.
"Aaw, Mbak. KDRT ini. Udah hak saya ditahan, dipukulin lagi." Santaka terkekeh.
Nandini terdiam. Walaupun Santaka bercanda, ia khawatir ada pesan satir di balik candaan itu. Sudah satu bulan setengah mereka menikah, ia belum juga menunaikan hak Santaka.
Haruskah Nandini menyerahkannya dalam waktu dekat? Jika ya, maka berarti ia telah menyerahkan diri seutuhnya pada Santaka dan pada kehidupan Ndalem. Mereka adalah satu paket.
Terikat pada Ndalem ini yang lebih berat bagi Nandini. Jika melihat sosok Santaka pribadi, jujur saja, sisi kewanitaan Nandini sudah mulai tergoda.
Lebih dari satu bulan ini, Nandini semakin merasa bersyukur memiliki suami seperti Santaka. Ia pernah meremehkan sosok sang suami, lemah dan kurang greget.
Ternyata suaminya adalah sosok yang kuat dalam menghadapi dirinya. Terbukti hampir dua bulan sekasur dengannya, ia masih terjaga. Itu bukti kekuatan lelaki kan?
Mampu menahan hawa nafsu yang kerap menjadi musuh utama kaum Adam. Padahal atas nama agama, Santaka berhak untuk marah dan memaksa Nandini.
Bukannya Nandini tak tahu kalau Santaka kerap menahan diri. Bukti terbesarnya adalah kejadian yang baru saja terjadi sehari lalu.
Nandini teringat kemarin, kala Santaka pulang cepat. Biasa di kisaran jam setengah enam sore, waktu itu jadi jam setengah lima sore.
Nandini baru saja selesai mandi dan keluar dari kamar mandi. "Mbak Dini, saya bawa ku...e..." Santaka terdiam. Ia terlihat menelan ludah. Napasnya jadi cepat. Pandangannya tak putus pada sang istri.
Nandini berdiri membeku. Ia tak menyangka Santaka pulang cepat. Ia keluar kamar mandi hanya berbalut handuk. Parahnya, handuknya hanya sepanjang setengah paha.
Pandangan mereka saling terkunci. Santaka langsung berdiri dan mendekati Nandini. Langkahnya begitu perlahan.
Nandini memutus tatapan mereka, ia melihat ke arah tengah tubuh Santaka. Suaminya ternyata telah bereaksi. Wajar, satu bulan lebih tertahan. Nandini panik. Ia berlari ke dalam kamar mandi.
Nandini menyandarkan tubuhnya ke pintu kamar mandi. Napasnya terengah-engah. Ia bimbang. Haruskah ia menyerahkan dirinya sekarang? Menerima Santaka dan kehidupan pondok sebagai jalan hidupnya. Tak ada jalan memutar.
Mata Nandini terpejam. Dadanya terasa sesak. Ragu, takut, sedih bercampur dalam kalbunya. Campuran rasa yang berjelaga di hatinya selama ini.
Air menetes dari mata besar nan indah itu. Ia tergugu. Tangis pertamanya setelah menikah dengan Santaka. Ia tak mampu menahannya lagi. Benteng emosinya akhirnya jebol.
Segala emosi yang tertahan dari sejak digerebek oleh warga, dipaksa menikah, tekanan dari Sarah dan Abyasa, tugas-tugas dari Lastri dan Sarah—meluap melalui tangisan itu. Nandini merosot hingga terduduk di kamar mandi.
Santaka menyandarkan tubuhnya di balik pintu yang sama. Hatinya retak mendengar tangisan pilu Nandini. Ternyata istrinya belum menerima pernikahan ini.
Santaka memejamkan mata. Berusaha memahami apa yang dirasakan Nandini. Berupaya mengenyahkan perasaan tertolak oleh istrinya sendiri.
Lelaki itu bangkit dan mengambil baju dari lemari. Ia keluar kamar.
Lebih dari lima belas menit kemudian Nandini keluar. Kamar telah kosong. Ia gegas memakai baju.
Santaka tak kembali hingga lepas Isya. Ia baru kembali mendekati pukul sembilan malam. Nandini pura-pura sudah tidur. Santaka juga tak bertanya apa pun. Untuk pertama kalinya setelah guling diangkat, mereka tidur saling memunggungi.
Esok paginya atau tadi pagi, Santaka bersikap biasa lagi. Membangunkan Nandini tahajud, mengelus kepala Nandini saat berbaring di pangkuannya.
Santaka bahkan tetap membuatkan sarapan saat Nandini memanaskan mobil. Tetap menyuapinya. Dan sekarang, pulang-pulang membawa lasagna hasil olahannya di dapur SS. Menyuapi Nandini kembali. Luar biasa.
Hati Nandini sampai berteriak, ingin bertanya pada dunia. Apakah ia istri yang jahat?
"Gus, maaf ya... Soal kemarin... Maaf saya masih belum bisa serahin diri ke Gus Taka. Saya masih takut, bukan ke Gus, tapi...." Nandini mengusap air mata yang mengalir di pipinya. Ia terisak.
Santaka tersenyum. Ia hapus air mata yang berjatuhan di pipi lembut sang istri. "Takut sama kehidupan istri gus ya?"
Nandini mengangguk lemah. "Saya janji akan siapin hati saya. Tunggu ya, Gus." Tangis Nandini pecah.
Santaka menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Takdir telah memaksa mereka, yang berasal dari dunia yang berbeda jauh, menyatu dalam ikatan suci.
Mengubah kehidupan yang telah berjalan. Merombak segala rencana hidup yang diharapkan.
"Iya Mbak... Jangan sedih ya, saya masih bisa sabar kok."
pas mau Unboxing ehhhh passa tamu tak diundang datang tanpa kodess 😤🤣🤣🤣 ditunda minggu depan yaaa Takaaa 😆
istri Gus Taka, te ou pe be ge te. aku padamu mb Dini... 😘😘
Rasainnnn kelennnn 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Rasain Ahsan, emang enak lihat bekas kemesraan Taka & Dini... ? suruh tuh abahmu belain kamu, agar Taka kena sanksi Krn bekas mesranya Taka+ Dini terlihat. biar semua sadar, siriknya si Mahmud+ Ahsan
g tidur ah, nungguin Ahsan + Yai Mahmud angkat kaki balik ke Magelang 😄😄
panaaaaassss nihhhh Ahsannn panass yaaaaa.... yaaa panassss dongggg pastinyaaaa 🤣🤣😏 Nandini ituu sama Santaka udah saling sayang saling cinta jadi otomatis saling menguatkan satu sama lainn.. kamuuu iriiiiii ? ya tentu sajaaaa, maka nikmati dg baikkkk wahai sampahhhh pondok 😏😏😏😤
semoga Gus Abi bijak dlm mensikapi. tendang aj Ahsan dr Al Fatih. biar dia penerus PP Al Irsyad aj