Di jantung kota Sisilia yang kelam, Kaivan Vittorio, sang "Re Re Nero" (Raja Hitam) yang memimpin sindikat mafia paling ditakuti di Italia, hidup dalam bayang-bayang dendam masa lalu. Ia dingin, kejam, dan tidak percaya pada hal tak kasat mata. Namun, wibawanya runtuh seketika saat ia bertemu Gendis, gadis asal Indonesia yang sedang bepergian ala backpacker ke Italia.
Gendis bukan gadis biasa; dia adalah indigo "semprul" yang hobi memarahi hantu penunggu kastil Kaivan karena berisik saat ia sedang makan mi instan. Pertemuan mereka dimulai dari salah paham maut: Gendis mengira Kaivan adalah cosplayer "om-om galak" dan menawari jasa pembersihan aura karena melihat ribuan arwah korban Kaivan sedang mengantre minta maaf. Di balik komedi situasi yang absurd, ada benang merah dendam yang ternyata menyatukan masa lalu keluarga mereka. Kaivan yang terbiasa memegang senjata, kini harus belajar memegang kemenyan dan sabar menghadapi tingkah ajaib Gendis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Tato di Punggung Sang Raja
Setelah keberhasilan mereka mengambil dokumen manifes di Gudang Sektor 7, ketegangan di Palermo bukannya mereda, justru semakin memuncak. Kaivan tahu bahwa Moretti tidak akan tinggal diam. Namun, ada satu hal yang mengusik pikiran Kaivan lebih dari sekadar ancaman perang: rahasia yang dibisikkan ibunya melalui perantara Gendis.
Malam itu, hujan turun dengan deras, membasuh dinding-dinding batu mansion Vittorio. Kaivan berdiri di ruang kerjanya yang luas, menatap api yang menari di perapian. Ia melepaskan jasnya, lalu kemeja sutra hitamnya, hingga menyisakan tubuh bagian atas yang kokoh namun penuh dengan bekas luka—saksi bisu dari setiap pertempuran yang pernah ia lalui.
Gendis masuk ke ruangan itu dengan membawa nampan berisi wedang jahe hangat yang ia racik sendiri dari dapur. "Kak, ini diminum dulu... lho?"
Gendis terpaku di ambang pintu. Nampannya hampir miring. Untuk pertama kalinya, ia melihat punggung Kaivan secara utuh. Bukan hanya karena otot-ototnya yang atletis, tapi karena sebuah karya seni yang menutupi hampir seluruh permukaan kulit punggung pria itu.
Sebuah tato besar berbentuk burung elang yang sayapnya membentang dari bahu ke bahu. Namun, itu bukan tato biasa. Di sela-sela bulu sayap elang tersebut, terdapat deretan angka-angka kecil dan simbol-simbol kuno yang tersamar dengan sangat rumit.
"Kak... itu punggung apa peta harta karun?" bisik Gendis, perlahan mendekat tanpa bisa menahan rasa penasarannya.
Kaivan menoleh sedikit, ekspresinya tampak lelah. "Ibuku yang memintanya. Tato ini dibuat saat aku berusia sepuluh tahun, beberapa hari sebelum ledakan itu terjadi. Dia bilang, jika suatu saat aku kehilangan arah, punggungku akan menunjukkan jalan."
Gendis meletakkan nampan di meja dan berdiri di belakang Kaivan. Ia melepaskan kacamata batinnya—maksudnya, ia mulai memfokuskan pandangan indigonya. "Boleh saya sentuh, Kak?"
Kaivan mengangguk pelan.
Saat jemari Gendis menyentuh kulit dingin Kaivan, sensasi itu datang lagi. Namun kali ini, bukan aliran listrik statis yang ia rasakan, melainkan sebuah denyutan emosi yang sangat pedih. Gendis memejamkan mata.
"Kak... tato ini nggak cuma gambar," bisik Gendis. "Ini dirajah pakai tinta yang dicampur dengan... air mata dan doa. Ada aura pelindung yang kuat banget di sini, tapi ada bagian yang 'terkunci'."
Gendis menelusuri garis sayap elang itu. "Tunggu... Kak, angka-angka ini. Ini bukan angka acak. Ini adalah koordinat dan kode enkripsi bank di Swiss!"
Kaivan tersentak. Selama bertahun-tahun ia mengira itu hanyalah simbol kehormatan klan. "Apa kau yakin?"
"Yakin seribu persen! Dan lihat ini..." Gendis menunjuk ke arah bagian tengah punggung Kaivan, tepat di tulang belakang. "Di sini ada gambar kunci perak kecil yang sama persis dengan kunci di kalung Kakak tadi. Tapi kuncinya nggak punya 'lubang'. Dia butuh sesuatu untuk diaktifkan."
Gendis mulai merapalkan doa-doa lembut. Ia bisa melihat hantu-hantu kecil di ruangan itu—arwah pelayan lama dan penjaga masa lalu—mulai berkumpul di sekitar mereka, menatap punggung Kaivan dengan takjub. Bahkan Don Alessandro muncul di pojok ruangan, wajah zirahnya tampak sangat serius.
"Kak, kakek buyut Kakak bilang... 'Buka penutupnya dengan api dan air'," lapor Gendis.
Kaivan mengerutkan kening. "Api dan air?"
Gendis berpikir sejenak, lalu matanya berbinar. "Jahe ini! Jahe ini kan panas kayak api, dan dia air! Eh, bukan deng... maksudnya, Kakak harus berkeringat!"
Gendis tiba-tiba mulai melakukan gerakan senam di depan Kaivan. "Ayo Kak! Push up! Lari-lari di tempat! Pokoknya badan Kakak harus panas supaya pori-porinya terbuka!"
Kaivan menatap Gendis seolah gadis itu baru saja kehilangan akal sehatnya. "Gendis, aku sedang serius."
"Saya juga serius, Silit! Eh, Kak Kaivan!" Gendis memukul lengan Kaivan. "Ayo cepetan! Kakek buyut bilang panas tubuh Kakak itu kuncinya!"
Dengan helaan napas pasrah, Kaivan mulai melakukan push up satu tangan dengan kecepatan luar biasa. Lima puluh, seratus, seratus lima puluh. Tubuhnya mulai memanas, uap tipis keluar dari kulitnya, dan keringat mulai membasahi tato elang tersebut.
Dan keajaiban terjadi.
Saat suhu tubuh Kaivan naik, tinta tato yang tadinya berwarna hitam pekat perlahan berubah warna menjadi merah darah di beberapa bagian tertentu. Simbol-simbol baru muncul di antara bulu-bulu elang yang tadinya tidak terlihat.
"ITU DIA!" teriak Gendis. Ia segera mengambil ponselnya (yang untungnya kameranya 4K sesuai permintaan "author") dan memotret punggung Kaivan. "Kak, lihat! Ini bukan cuma koordinat bank. Ini adalah denah rahasia di bawah mansion ini yang menghubungkan ke brankas pusat klan Vittorio yang hilang sejak zaman Mussolini!"
Kaivan berhenti dan berdiri, napasnya memburu. Ia melihat hasil foto di ponsel Gendis. Matanya melebar. "Selama ini... kunci untuk mengembalikan kejayaan klan ada di tubuhku sendiri?"
"Iya, Kak. Dan ibumu sengaja nyembunyiin ini pakai teknik 'tinta termokromik' kuno yang cuma bisa muncul kalau suhu tubuh orang itu mencapai titik tertentu—titik di mana orang itu sedang berjuang atau dalam bahaya," jelas Gendis.
Namun, kegembiraan mereka terhenti. Gendis tiba-tiba memegang kepalanya dan jatuh terduduk.
"Gendis! Ada apa?" Kaivan menangkap tubuh Gendis.
"Kak... Moretti... dia tahu," bisik Gendis dengan suara gemetar. "Dia punya orang indigo juga di pihaknya. Saya bisa ngerasain ada mata-mata gaib yang lagi ngintip kita dari balik gorden itu!"
Kaivan segera menyambar pistolnya dan menembak ke arah gorden jendela yang tertutup.
DOR!
Tidak ada manusia di sana, namun sebuah bayangan hitam kecil seperti burung gagak bermata merah terbang menembus kaca jendela dan menghilang ke kegelapan malam.
"Itu 'Kutilanak' versi Italia atau apa?!" seru Gendis ketakutan.
"Itu adalah spia d'ombra—mata-mata bayangan," geram Kaivan. "Moretti sudah melampaui batas. Dia menggunakan ilmu hitam untuk memata-matai kita."
Kaivan segera memakai kembali kemejanya. "Gendis, dengarkan aku. Mansion ini sudah tidak aman. Mata-mata itu sudah melihat peta di punggungku. Kita harus segera membuka brankas bawah tanah itu malam ini juga, sebelum Moretti datang dengan pasukannya."
"Tapi Kak, Kakak masih capek habis push up tadi!"
"Tidak ada waktu lagi, Gendis. Marco!" Kaivan berteriak memanggil tangan kanannya.
Marco masuk dengan tergesa-gesa. "Ya, Tuan?"
"Siapkan tim pembersih. Kita turun ke ruang bawah tanah paling dasar. Bawa peralatan peledak jika perlu, tapi fokus utamanya adalah melindungi Gendis."
Mereka bergerak menuju sebuah gudang anggur tua di bagian paling bawah mansion. Kaivan mengandalkan denah yang tadi muncul di punggungnya. Gendis berjalan di tengah, memegang sapu lidi saktinya dengan erat.
"Kak, di sini hantunya beda," bisik Gendis. "Mereka nggak nakal, tapi mereka sedih. Banyak banget arwah pelayan yang terjebak di sini."
Mereka sampai di sebuah dinding batu yang tampak biasa saja. Kaivan menekan beberapa batu dengan urutan yang sesuai dengan kode angka di tato punggungnya.
KREEEEK...
Dinding itu bergeser, menampakkan tangga spiral yang menuju ke kegelapan yang lebih dalam. Mereka turun perlahan. Aroma uang lama, emas, dan debu sejarah memenuhi udara.
Di dasar tangga, mereka menemukan sebuah pintu perak raksasa dengan lambang elang Vittorio. Di tengah pintu itu, ada lubang kecil yang sangat pas untuk kunci perak milik Kaivan.
"Ini dia," ucap Kaivan. Ia memasukkan kuncinya.
KLIK.
Pintu terbuka, namun bukannya tumpukan emas yang mereka lihat pertama kali, melainkan sebuah ruangan yang penuh dengan foto-foto keluarga dan surat-surat pribadi. Di tengah ruangan, terdapat sebuah peti besi kecil yang tertutup kain beludru.
Gendis mendekati peti itu. "Kak... ini bukan harta karun uang. Ini harta karun kebenaran."
Gendis menyentuh peti itu, dan sebuah proyeksi emosi meledak di pikirannya. Ia melihat wajah ayah Kaivan yang sedang tertawa, memeluk Kaivan kecil. Dan ia melihat sosok pria lain yang berada di balik pengkhianatan itu—pria yang selama ini dianggap Kaivan sebagai sekutu paling setianya.
"Kak Kaivan..." Gendis menatap Kaivan dengan mata berkaca-kaca. "Bukan Moretti yang ngebunuh orang tua Kakak."
Kaivan terpaku. "Apa maksudmu?"
"Moretti cuma pion. Yang masang bom di mobil itu... yang nyuruh ngerajah punggung Kakak supaya dia bisa nyuri kodenya suatu hari nanti... adalah Don Lorenzo."
"Paman Lorenzo?" Kaivan menggeleng tak percaya. "Dia yang membesarkanku! Dia yang mengajariku cara menembak!"
"Dia yang pengen jadi Raja, Kak," ucap Gendis pelan. "Dan hantu ibumu di sini... dia bilang, 'Maaf karena Ibu harus merahasiakan ini di kulitmu, karena hanya kau yang bisa menjaga rahasia ini dengan nyawamu'."
Tiba-tiba, suara tepuk tangan bergema dari arah tangga spiral.
"Bravo... bravo... Gendis memang luar biasa."
Sesosok pria tua dengan setelan jas abu-abu yang elegan muncul dari kegelapan. Lorenzo. Di belakangnya, puluhan anak buah bersenjata lengkap sudah mengepung ruangan itu.
"Paman?" suara Kaivan bergetar karena amarah yang tertahan.
"Kaivan, keponakanku yang malang," Lorenzo tersenyum licik. "Terima kasih sudah memunculkan peta itu. Aku sudah menunggu selama dua puluh tahun agar kau tumbuh cukup kuat—dan cukup bodoh—untuk membawa gadis indigo ini ke sini."
Lorenzo menatap Gendis. "Nona Gendis, terima kasih atas bantuannya. Sekarang, Kaivan, lepaskan kemejamu. Aku ingin memotret punggungmu dengan lebih jelas sebelum aku mengirimmu bertemu orang tuamu."
Gendis berdiri di depan Kaivan, merentangkan tangannya. "Nggak boleh! Om Lorenzo jahat! Mukanya kayak pantat panci gosong! Aura Om itu item banget sampai-sampai setan aja jijik liatnya!"
"Minggir, Gadis Kecil, atau kau akan mati duluan," ancam Lorenzo sambil mengarahkan pistolnya ke dahi Gendis.
Kaivan menarik Gendis ke belakang tubuhnya. Mata elangnya kini berubah menjadi merah penuh dendam. "Kau menyentuhnya, dan aku akan memastikan kematianmu menjadi legenda paling berdarah di Italia, Paman."
"Oh, benarkah? Dengan sepuluh senapan mesin yang mengarah ke kepalamu?" Lorenzo tertawa.
Namun, Gendis tidak tinggal diam. Ia memejamkan matanya, memanggil seluruh kekuatan batinnya. "DON ALESSANDRO! KAKEK SEMUANYA! SEKARANG!"
Tiba-tiba, suhu di ruangan bawah tanah itu turun hingga ke titik beku. Lampu-lampu meledak satu per satu. Di tengah kegelapan, muncul ribuan bayangan putih dan hitam—arwah-arwah klan Vittorio yang selama ini menjaga brankas itu. Mereka marah. Sangat marah karena pengkhianat berani menginjakkan kaki di tanah suci mereka.
"Apa ini?! Apa yang terjadi?!" teriak anak buah Lorenzo panik saat senjata mereka mendadak macet dan tangan-tangan tak terlihat mulai mencekik leher mereka.
"Ini adalah keadilan, Paman!" teriak Kaivan. Di tengah kekacauan gaib itu, Kaivan menerjang Lorenzo.
Baku hantam pecah di dalam brankas bersejarah itu. Kaivan bertarung bukan hanya dengan otot, tapi dengan seluruh amarah dari masa lalunya yang terkhianati. Gendis sibuk menggunakan sapu lidinya untuk menepis arwah-arwah bayangan yang dikirim oleh dukun indigo milik Lorenzo.
"Makan nih lidi! Rasain! Jangan berani-berani sentuh Kak Kaivan!" seru Gendis sambil menyabetkan lidinya ke arah gagak bermata merah yang tadi mengintip mereka. Gagak itu meledak menjadi asap hitam.
Di sudut lain, Kaivan berhasil melumpuhkan Lorenzo dan menempelkan pistol di pelipis pria tua itu. "Katakan padaku, kenapa?!"
"Karena aku... aku yang seharusnya menjadi Raja! Ayahmu terlalu lemah!" rintih Lorenzo.
Kaivan menatap wajah pria yang selama ini ia anggap sebagai ayah kedua. Ia melihat tato elang di tangannya sendiri yang kini berdenyut, seolah-olah arwah orang tuanya sedang memberikan restu.
"Kau salah, Paman," bisik Kaivan. "Kekuatan sejati bukan pada takhta, tapi pada mereka yang kau lindungi."
Kaivan tidak menarik pelatuknya. Ia memukul Lorenzo hingga pingsan. "Membunuhmu terlalu mudah. Kau akan membusuk di penjara bawah tanah ini, ditemani oleh arwah-arwah yang kau khianati selamanya."
Keadaan perlahan tenang. Arwah-arwah itu menghilang, meninggalkan ruangan yang berantakan namun kini terasa "bersih" dari kegelapan.
Gendis mendekati Kaivan, tubuhnya lemas luar biasa. "Kak... sudah selesai?"
Kaivan berbalik, menatap Gendis. Ia menarik gadis itu ke dalam pelukannya, memeluknya dengan sangat erat seolah takut kehilangan satu-satunya cahaya dalam hidupnya. "Ya, Gendis. Semuanya sudah selesai."
"Berarti... saya boleh tidur sekarang?" tanya Gendis lemah.
"Tidurlah. Aku ada di sini."
Gendis pingsan di pelukan Kaivan. Marco masuk bersama tim pembersih, membereskan anak buah Lorenzo yang masih hidup namun trauma berat akibat serangan gaib tadi.
Malam itu, rahasia di punggung Sang Raja telah terungkap. Bukan hanya soal peta harta karun, tapi soal pengampunan dan perlindungan. Kaivan Vittorio akhirnya tahu siapa musuh aslinya, namun ia juga tahu siapa sekutu terbaiknya: seorang gadis indigo semprul yang tidak takut pada peluru, tapi selalu siap bertarung dengan sapu lidi demi dirinya.
Di punggung Kaivan, tato elang itu kini tampak lebih bercahaya, sayapnya seolah benar-benar melindungi sang pemilik dan gadis yang berada di pelukannya.
aku like banget
seribu jempol
aku like...