Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.
Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.
Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.
Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.
Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:
Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.
Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-
Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(ARC 1) Chapter 29: Handuk
Langit Baldr mulai gelap.
Udara dingin khas pegunungan turun perlahan, menyelinap di antara bangunan batu rendah dan cerobong-cerobong asap yang masih mengepul. Cahaya api dari bengkel-bengkel terbuka memantul di jalan batu, membuat kota para dwarf itu tampak seperti masih menyimpan bara meski malam sudah datang.
Suara palu masih terdengar dari kejauhan.
Lebih pelan dari siang hari.
Namun tidak pernah benar-benar berhenti.
Grachius dan Daji berjalan berdampingan melewati jalanan kota. Keduanya baru saja selesai membantu membereskan kekacauan di bar milik Helga—meja hancur, gelas pecah, kursi patah, dan jendela yang menjadi korban tubuh Daji.
Daji berjalan sambil menguap kecil.
“Aku masih merasa Helga sengaja membuatku kerja lebih banyak.”
Grachius menatap lurus ke depan.
“Kau merusak banyak meja.”
“Aku yang dilempar.”
“Tetap saja rusak.”
Daji meliriknya tajam.
“Kau mulai terdengar seperti Helga.”
“Berarti masuk akal.”
Daji mendecak.
Namun bibirnya sedikit tersenyum.
Malam terasa lebih ringan setelah pertarungan sore tadi. Tresaders telah diseret pergi dalam keadaan tidak berdaya, Rocky entah menghilang ke mana, dan para dwarf kembali minum seolah keributan besar adalah hiburan harian.
Namun saat mereka tiba di depan penginapan Thorgar Skáli—
dua sosok sudah berdiri menunggu.
Thorgar.
Dan Varkun.
Thorgar berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Janggut tebalnya tampak bergerak sedikit karena napas yang jelas ditahan-tahan. Matanya tajam seperti palu yang siap menghantam landasan.
Varkun berdiri di sampingnya dengan ekspresi tenang.
Terlalu tenang.
Sampai Daji curiga ia sedang menahan tawa.
Thorgar langsung menunjuk Grachius.
“Kau.”
Grachius berhenti.
“Ya.”
“Kenapa kau menghancurkan jendela kamar?”
Daji langsung menutup mulut.
Grachius sedikit menegang.
Hanya sedikit.
Namun cukup untuk terlihat.
“Situasi mendesak.”
Thorgar melotot.
“Situasi mendesak bukan berarti kau harus menerobos jendela seperti batu ketapel!”
“Aku harus cepat.”
“Ada pintu!”
Grachius diam sejenak.
“…pintu lebih jauh.”
Daji tidak tahan lagi.
“Pffft—”
Thorgar menoleh padanya.
“Kau juga jangan tertawa! Jendela bar Helga rusak karena mu!”
Daji langsung menunjuk dirinya sendiri.
“Aku dilempar!”
“Tetap saja rusak!”
Grachius menoleh pada Daji.
“Lihat.”
Daji menatapnya tidak percaya.
“Kau memihak dia?”
“Argumennya konsisten.”
Varkun akhirnya batuk kecil, jelas menahan tawa.
Thorgar menghela napas berat.
“Aku tahu kau menyelamatkan dia. Dan aku tahu kau mengalahkan tiga pembuat masalah itu.”
Ia menunjuk penginapan.
“Tapi merusak jendela orang lain bukan jalan pintas.”
Grachius menunduk sedikit.
“Aku akan mengganti jendelanya.”
Thorgar mendengus.
“Tidak perlu.”
Grachius mengangkat mata.
“Kenapa?”
“Karena kau sudah meminjamkan Enjin padaku.”
Suara Thorgar sedikit lebih rendah saat menyebut pedang itu.
Namun kemudian ia segera menunjuk Grachius lagi.
“Tapi itu bukan izin untuk merusak jendela.”
“Dipahami.”
“Bagus.”
Hening sebentar.
Daji tersenyum lebar.
“Aku tidak pernah menyangka akan melihatmu dimarahi seperti anak kecil.”
Grachius menatapnya datar.
“Itu tidak terjadi.”
“Itu baru saja terjadi.”
Varkun menunduk sedikit, bahunya bergetar halus.
Thorgar menatap Varkun.
“Kau tertawa?”
“Tidak.”
“Kau tertawa.”
“Aku sedang berdoa.”
“Kau berbohong.”
Varkun tersenyum lembut.
“Sedikit.”
Daji tertawa keras.
Untuk sesaat, malam di depan penginapan itu terasa hangat.
Bukan karena api.
Namun karena hal sederhana yang tidak berhubungan dengan pertempuran, dewa, atau dendam.
Hanya orang-orang yang saling mengomel.
Dan seorang pria berambut putih yang untuk pertama kalinya tampak benar-benar kalah.
...—...
Setelah menerima ceramah panjang dari Thorgar, Grachius dan Daji akhirnya kembali ke kamar.
Kamar itu masih sama.
Dua kasur terpisah.
Dinding kayu.
Lampu kecil yang memancarkan cahaya kuning lembut.
Namun setelah hari yang panjang, ruangan sederhana itu terasa seperti tempat berlindung.
Grachius duduk di kasurnya.
“Ini malam terakhir kita di Baldr.”
Daji duduk di kasur seberang, melepaskan sepatu sambil menghela napas.
“Besok pergi?”
“Ya.”
Daji menatap langit-langit.
“Baldr ternyata cukup menyenangkan.”
Grachius menoleh sedikit.
“Kau menikmati bekerja?”
“Aku tidak mengatakan itu.”
“Kau tersenyum saat dwarf meneriakkan namamu.”
“Itu berbeda. Mereka menghargai bakatku.”
Sebelum Grachius menjawab—
perutnya berbunyi sangat keras.
Grrruuuk.
Ruangan hening.
Daji menatapnya.
Grachius menatap ke depan.
Wajahnya tetap datar.
“Lapar sekali.”
Daji langsung tertawa.
Tertawa sampai tubuhnya sedikit membungkuk.
“Tentu saja lapar! Kau tidak makan dan minum selama tiga hari penuh!”
“Aku bermeditasi.”
“Itu bukan alasan untuk membuat perutmu terdengar seperti monster bawah tanah.”
Grachius memegang perutnya sebentar.
“Masuk akal.”
Daji mengusap sudut matanya.
“Baiklah. Aku traktir makan malam.”
Grachius menatapnya.
“Kau punya uang?”
Daji mengangkat dagu bangga.
“Aku sudah digaji Helga.”
Grachius tampak sedikit lebih cerah.
Hampir tidak terlihat.
Namun Daji melihatnya.
“Kau senang?”
“Aku lapar.”
“Itu artinya senang.”
Grachius tidak membantah.
Daji berdiri.
“Tapi mandi dulu. Pakaianmu penuh debu dan darah.”
"Dan aku baru keringat."
Grachius melihat pakaiannya.
“Benar.”
“Aku duluan.”
Daji masuk ke kamar mandi kecil di sudut ruangan.
Grachius menunggu dengan tenang.
Beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka.
Daji keluar dengan rambut basah, tetesan air masih jatuh dari ujung rambutnya, dan hanya mengenakan handuk yang melilit tubuhnya.
Grachius langsung membeku.
Wajahnya memerah.
Ia memalingkan kepala begitu cepat hingga Daji berkedip.
“Kenapa kau hanya memakai handuk?”
Suaranya lebih tinggi dari biasanya.
Daji menatapnya.
Lalu senyum licik perlahan muncul.
“Oh?”
Grachius menutup mata rapat.
“Cepat pakai baju.”
Daji berjalan pelan mendekat.
“Grachius.”
“Pakai baju.”
“Kau panik?”
“Tidak.”
“Wajahmu merah.”
“Tidak.”
Daji tertawa geli.
“Pria yang membakar Ksatria Templar, menghajar Tresaders, tidak terpengaruh godaan ku dan melompat keluar jendela… ternyata takut pada handuk.”
“Aku tidak takut.”
“Lalu lihat aku.”
Grachius semakin memalingkan wajah.
“Tidak perlu.”
Daji tertawa lagi, ringan dan puas.
“Lucu sekali.”
“Daji.”
“Iya, iya. Aku pakai baju.”
Ia akhirnya mengambil pakaiannya dan kembali masuk sebentar.
Grachius membuka mata perlahan setelah pintu tertutup.
Lalu menghela napas kecil.
Pertarungan lebih mudah daripada ini.
...—...
Setelah keduanya selesai mandi dan berganti pakaian, mereka turun ke lantai bawah.
Grachius mengenakan pakaian bersih dari penginapan. Rambut putih panjangnya masih sedikit basah, jatuh di bahu sebelum diikat kembali. Daji mengenakan pakaian merah gelap, rambutnya terurai, dan dua ekornya bergerak pelan di belakang.
Sebelum mereka keluar, Thorgar memanggil.
“Grachius.”
Grachius menoleh.
Thorgar berdiri dekat meja, memegang Enjin dengan kedua tangan.
Nada suaranya lebih tenang dari biasanya.
“Ini.”
Grachius menerima pedang itu.
Thorgar memperhatikan Enjin sesaat sebelum melepaskannya.
“Aku belajar banyak darinya.”
“Bagus.”
Grachius mengikat Enjin kembali di pinggang.
Thorgar menatapnya.
“Kalian mau ke mana malam-malam?”
“Makan.” jawab Daji.
Grachius menambahkan, datar.
“Lapar.”
Thorgar mendengus.
“Tentu saja. Tubuh sebesar itu tidak akan cukup hidup tiga hari hanya dari udara dan meditasi.”
Grachius tidak menjawab.
Thorgar melipat tangan.
“Kalian pergi besok?”
Grachius mengangguk.
“Ya.”
Hening sebentar.
Thorgar memalingkan wajah sedikit.
“Jangan mati sebelum kembali ke Baldr.”
Grachius menatapnya.
“Aku usahakan.”
Thorgar langsung mendengus keras.
“Itu jawaban yang buruk.”
Namun sudut bibirnya sedikit naik.
Varkun yang duduk tidak jauh hanya tersenyum tenang.
Daji berbisik pada Grachius saat mereka berjalan keluar.
“Dia menyukaimu.”
Grachius menjawab datar.
“Dia menyukai Enjin.”
“Dia menyukaimu dan Enjin.”
“Tidak.”
“Kau buruk sekali dalam memahami orang.”
Grachius diam.
Daji tertawa pelan.
...—...
Jalan malam Kota Baldr masih hidup.
Lampu api tergantung di depan toko-toko batu. Udara pegunungan terasa dingin di kulit, namun panas dari bengkel dan perapian membuat kota itu tidak pernah benar-benar beku.
Jalan batu masih ramai.
Para dwarf berjalan membawa alat kerja. Beberapa petualang tertawa di depan kedai. Dari kejauhan, suara palu masih terdengar samar.
Daji berjalan di samping Grachius sambil melihat sekeliling.
“Setelah ini, langsung menuju Aetherion?”
“Ya.”
Grachius menatap jalan di depan.
“Tujuan tetap sama.”
“Membunuhnya?”
“Ya.”
Nada itu masih datar.
Namun tidak sedingin dulu.
Daji memperhatikannya dari samping.
“Kau berubah sedikit.”
Grachius melirik.
“Tidak.”
“Mungkin meditasi tiga hari membuatmu lebih tenang.”
“Aku memang tenang.”
“Atau mungkin kau mulai belajar menjadi manusia normal.”
Grachius langsung menjawab.
“Aku memang normal.”
Daji tertawa.
“Tidak ada orang normal yang menghancurkan jendela untuk keluar kamar.”
“Itu situasi mendesak.”
“Kau akan memakai kalimat itu terus?”
“Karena benar.”
Daji menggeleng sambil tersenyum.
...—...
Mereka tiba di sebuah restoran sederhana namun ramai.
Aroma daging panggang, sup panas, roti, rempah, dan sesuatu seperti ayam bakar memenuhi udara begitu mereka masuk.
Meja-meja kayu hampir penuh, namun mereka menemukan satu meja kosong dekat dinding.
Seorang pelayan dwarf datang membawa papan kecil.
“Mau pesan apa?”
Grachius langsung menjawab.
“Daging panggang. Sup. Roti. Nasi. Sayuran. Ayam utuh. Dua porsi tambahan daging. Tiga mangkuk sup lagi.”
Pelayan itu menatapnya.
Daji juga menatapnya.
Grachius menambahkan.
“Dan air.”
Pelayan berkedip.
“Untuk… berapa orang?”
“Untukku.”
Daji menahan tawa.
Grachius menatap pelayan itu.
“Lapar.”
Pelayan itu mengangguk pelan.
“Baik… Tuan lapar.”
Saat makanan datang, meja mereka penuh.
Benar-benar penuh.
Grachius mulai makan dengan cepat, namun tetap tenang. Tidak rakus. Tidak berantakan. Hanya… terus makan tanpa jeda berarti.
Daji memegang sendok nya sambil menatap.
“Apakah perutmu sebenarnya lubang tanpa dasar?”
Grachius mengunyah.
“Tidak.”
“Kau yakin?”
“Ya.”
“Kau baru menghabiskan setengah ayam dalam waktu satu napas.”
“Aku bernapas pelan.”
“Itu bukan pembelaan!”
Grachius mengambil roti.
Daji tertawa kecil, lalu mulai makan juga.
Di tengah makan, Grachius tiba-tiba berhenti sebentar.
Ia menunjuk samar ke belakang Daji.
“Ekor mu bertambah.”
Daji menoleh ke dua ekornya.
“Oh. Itu.”
Grachius menunggu.
Daji menyandarkan punggung ke kursi.
“Siluman rubah bertambah kuat lewat jiwa, energi, dan kultivasi. Kalau kekuatan kami meningkat, jumlah ekor juga bertambah.”
Grachius mendengarkan dengan tenang.
“Semakin banyak ekor, semakin kuat?”
“Ya. Siluman rubah berekor sembilan dikatakan mampu mengguncang negara.”
Grachius mengangguk.
“Bagus.”
Daji mengangkat alis.
“Itu saja reaksimu?”
Grachius menatapnya.
Lalu tersenyum lembut.
Bukan senyum tipis yang hampir tidak terlihat.
Bukan senyum canggung.
Senyum itu hangat.
Tulus.
“Aku ikut senang.”
Daji terdiam.
Untuk beberapa saat, suara restoran terasa menjauh.
Dadanya berdebar aneh.
Grachius sudah kembali makan seperti biasa, seolah tidak menyadari apa pun.
Daji cepat-cepat memalingkan wajah.
Pipinya terasa panas.
Dia berbahaya.
Bukan hanya karena kekuatannya.
Bukan hanya karena api hitamnya.
Namun karena ia bisa membuat perasaan Daji bergerak tanpa sengaja.
Dan itu jauh lebih merepotkan.
Di luar restoran, Baldr tetap hidup.
Suara logam masih terdengar dari kejauhan. Api menyala di depan toko-toko. Udara malam pegunungan bergerak pelan di antara jalan batu.
Untuk sesaat, perjalanan mereka terasa sedikit lebih manusiawi.
Makan malam.
Percakapan ringan.
Tawa kecil.
Jeda singkat dari darah dan dendam.
Namun besok—
mereka akan meninggalkan Baldr.
Dataran Tinggi Aetherion menunggu di timur.
Sagitta.
Sunchaser.
Dan perang yang perlahan mendekat.
Malam itu adalah jeda terakhir sebelum jalan kembali menjadi berbahaya.
Dan di bawah cahaya hangat restoran kecil Kota Baldr, Grachius dan Daji menikmati ketenangan itu—
meski keduanya tahu…
ketenangan seperti ini tidak akan bertahan lama.
...A Novel By Franzzz...