NovelToon NovelToon
MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Saniaa96

Membelenggu Liarmu dengan Mahar

​Shania Ayunda Salsabilla, gadis remaja berusia 18 tahun yang hidup liar dan pemberontak, dipaksa menikah oleh ayahnya dengan seorang pria religius bernama Zain Malik Muammar. Bagi Shania, pernikahan ini adalah penjara, sementara bagi Zain, ini adalah amanah untuk membimbing jiwa yang tersesat.

​Di malam pertama yang dingin, ketegangan memuncak saat Shania menabuh genderang perang dan menolak tunduk pada aturan agama.

Namun, ia justru dihadapkan pada ketegasan Zain yang tak tergoyahkan oleh provokasinya. Dimulai dari paksaan bangun Subuh hingga aturan berpakaian, Shania bertekad membuat Zain menyerah dan menceraikannya dalam sebulan.

Di sisi lain, Zain memulai misi besarnya: menundukkan keliaran hati Shania bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kekuatan prinsip dan keteguhan iman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

BAB 10: "Silsilah, Cinta, dan Protes di Meja Makan"

​Matahari mulai meninggi di langit Kediri, namun bagi Shania, cahaya yang masuk melalui celah jendela kamar itu terasa seperti alarm yang menakutkan. Ia baru saja selesai mandi dan mengganti gamisnya yang terkena getah mangga dengan setelan tunik panjang berwarna pastel. Harum sabun zaitun masih menguar dari tubuhnya, tetapi pikirannya tidak setenang aroma itu.

​Di atas meja rias, sebuah buku tipis bersampul hijau tua sudah menunggu dengan angkuh. Zain menaruhnya di sana sesaat sebelum ia kembali ke kantor pesantren. Judulnya sederhana namun membuat bulu kuduk Shania meremang:

Ringkasan Silsilah Keluarga dan Nasab Rasulullah SAW.

​"Satu juz setiap hari atau hafal silsilah ini dalam dua hari sebagai tebusan aksi 'monyet' tadi," suara Zain kembali terngiang di telinganya.

​Shania mengembuskan napas panjang, meniup poni yang menutupi dahinya. Ia duduk di pinggiran tempat tidur, membuka halaman pertama buku itu. Matanya langsung disuguhi deretan nama-nama yang terdengar asing namun berirama.

​"Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushay..." Shania mulai mengeja dengan suara pelan.

"Aduh, Mas Zain... ini mah lebih susah daripada menghafal lirik lagu techno terbaru atau urutan brand tas mewah dari Paris!"

​Ia baru sampai pada kakek buyut Nabi, dan kepalanya sudah mulai berdenyut. Shania merebahkan tubuhnya di kasur, menatap langit-langit kamar dengan perasaan campur aduk. Ia senang karena hubungannya dengan Zain mulai mencair, tapi ia tidak menyangka "bimbingan" yang dimaksud suaminya akan langsung seberat ini.

“​Pergulatan di Balik Buku Hijau”

​Dua jam berlalu. Shania masih di posisi yang sama, bedanya sekarang ia duduk bersila sambil memegang kepala.

​"Bin Abdil Uzza bin Qushay... eh, bukan. Qushay itu bapaknya siapa tadi?" Shania menggerutu. "Ya Allah, ini kenapa namanya mirip-mirip semua sih? Kenapa nggak ada yang namanya simpel kayak Kevin atau Justin gitu?"

​Ia menutup buku itu dengan keras. Rasa kantuk dan bosan mulai menyerang. Namun, bayangan wajah tegas Zain saat berada di atas pohon tadi kembali muncul. Ada sesuatu pada cara Zain menatapnya—campuran antara marah, khawatir, dan kasih sayang yang tersembunyi—yang membuat Shania tidak ingin mengecewakannya lagi.

​"Oke, Shania. Focus! Kalau kamu bisa hafal rute jalan tikus dari Kemang ke Senopati jam lima sore, masa hafal silsilah orang paling mulia di dunia saja nggak bisa?" ia menyemangati dirinya sendiri.

​Ia mulai membuat metode sendiri. Ia mengambil kertas dan spidol warna-warni dari laci meja. Shania menggambar sebuah pohon besar—mengingatkannya pada pohon mangga tadi pagi—dan mulai menuliskan nama-nama itu di setiap dahan.

​"Aha! Ini baru namanya belajar ala Shania," gumamnya bangga.

"Adnan di akar, lalu naik ke atas... Fihr yang jadi julukan Quraisy... oke, oke, aku mulai paham."

​Namun, baru saja ia merasa percaya diri, ia sampai pada bagian istri-istri dan putra-putri Nabi.

"Khadijah binti Khuwailid, Saudah binti Zam'ah, Aisyah binti Abu Bakar... wah, banyak ya. Terus putra-putrinya: Qasim, Abdullah, Ibrahim... Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, Fatimah..."

​Shania terdiam sejenak. Ia menyentuh nama "Zainab".

"Zainab... Zain. Mirip ya namanya. Apa jangan-jangan Mas Zain dikasih nama itu biar punya sifat kayak putri Nabi? Tapi tunggu ... Umi kan juga namanya Umi Zainab?" ia mulai melantur.

​Satu jam kemudian, pintu kamar terbuka. Zain masuk dengan wajah yang nampak lelah namun bersih setelah berwudhu. Ia melihat Shania yang sedang tenggelam di antara kertas-kertas warna-warni dan buku hijau.

​"Sudah sampai mana?" tanya Zain sambil melepas peci hitamnya.

​Shania mendongak, matanya sedikit merah karena terlalu lama membaca.

"Mas, ini beneran harus hafal semua? Sampai ke Adnan?"

​Zain duduk di kursi meja belajar, menatap hasil karya istrinya yang penuh warna. Ada sedikit binar kagum di matanya melihat kreativitas Shania, meski ia mencoba tetap terlihat datar.

​"Sampai ke Adnan adalah standar minimal bagi seorang istri ustadz di sini, Shania. Tapi untuk permulaan, saya hanya minta kamu hafal sampai ke kakek kelima dan nama-nama putra-putrinya. Bagaimana? Sanggup?"

​Shania mengerucutkan bibirnya.

"Kalau aku bilang nggak sanggup, hukumannya ditambah?"

​"Tentu. Mungkin satu juz-nya benar-benar saya tagih," jawab Zain tenang.

​"Ih, Mas Zain jahat! Ini kan otaku belum sinkron sama materi begini. Di Jakarta, aku itu pakarnya balap motor, fashion dan marketing, bukan pakar sejarah kuno," keluh Shania sambil menyandarkan kepalanya di meja.

​Zain berjalan mendekat, ia berdiri di belakang Shania. Tanpa diduga, ia meletakkan tangannya di atas kepala Shania, mengusapnya pelan.

"Belajar sejarah Nabi bukan belajar sejarah kuno, Shania. Itu belajar tentang akar kita, tentang cinta yang sesungguhnya. Kamu bilang ingin saya bicara banyak padamu? Menghafal ini adalah salah satu cara agar kita punya topik pembicaraan yang lebih mulia daripada sekadar bertanya soal makan siang."

​Shania tertegun. Sentuhan Zain selalu berhasil mematikan semua argumen pembangkangannya.

"Tapi Mas... namanya susah diingat. Ada yang bin ini, bin itu. Kenapa nggak pakai nama keluarga aja sih kayak di luar negeri?"

​Zain terkekeh kecil, suara tawa yang sangat jarang didengar Shania.

"Itu tradisi Arab, untuk menjaga kemurnian nasab. Sudah, jangan mengeluh terus. Sekarang, coba sebutkan silsilah dari Muhammad sampai Qushay."

​Shania menarik napas dalam-dalam, menutup matanya rapat-rapat.

"Bismillah... Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushay!"

​"Bagus," puji Zain. "Lanjut, putra-putrinya?"

​"Qasim, Abdullah, Ibrahim... Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan... yang paling bungsu favorit semua orang, Fatimah Az-Zahra!"

Shania membuka matanya dan tersenyum lebar seperti anak kecil yang baru mendapat nilai seratus.

​"Pintar," ucap Zain singkat, namun ada nada bangga di sana.

"Tapi itu baru seperempat dari buku itu. Masih ada silsilah istri-istri dan paman-paman beliau."

​Senyum Shania langsung luntur.

"Mas! Ini kan baru hari pertama! Masa langsung digas pol?"

“​Makan Malam yang Penuh Siasat”

​Malam harinya, suasana di meja makan kediaman Ustadz Zain tampak lebih hangat. Shania memasak sayur lodeh dan ikan asin—menu yang ia pelajari dari Mbok Nah, asisten rumah tangga di ndalem. Meskipun rasanya sedikit terlalu asin menurut standar Zain, sang suami tetap memakannya dengan lahap.

​"Mas..." panggil Shania sambil mengaduk-aduk nasinya.

​"Ya?"

​"Boleh nggak, kalau hafalan silsilahnya aku cicil sambil kita jalan-jalan? Maksudku, jangan di kamar terus. Aku merasa seperti sedang di dalam sel penjara yang penuh dengan nama-nama orang Arab."

​Zain meletakkan sendoknya. Ia menatap Shania yang kini tampak lebih "manusiawi" dengan kerudung kaosnya.

"Kamu, mau jalan-jalan ke mana? Di sini tidak ada mall, Shania."

​"Nggak usah ke mall! Ke sawah kek, ke pasar malam di kota kek, atau minimal ke kedai es campur depan pesantren. Aku butuh udara segar. Kalau aku di kamar terus, nama 'Abdul Muthalib' bisa berubah jadi 'Abdul Mall' di otakku."

​Zain terdiam sejenak, memikirkan permintaan itu. Sebenarnya, ia memang berencana mengajak Shania keluar untuk membelikannya beberapa keperluan, sekaligus sebagai bentuk apresiasi karena istrinya itu mulai mau belajar.

​"Baiklah. Besok sore setelah pengajian ashar, kita ke pasar kota. Tapi syaratnya, di sepanjang jalan, kamu harus menyetorkan hafalan paman-paman Nabi."

​Shania memutar bola matanya.

"Ya ampun, Mas! Itu mah namanya bukan jalan-jalan, itu namanya ujian lisan on the road!"

​"Mau atau tidak?" tantang Zain dengan alis terangkat.

​"Mau! Mau banget!" seru Shania.

"Asalkan keluar dari tembok pesantren ini sebentar saja, aku rela deh ngafalin sampai ke Nabi Adam kalau perlu."

​Zain tersenyum tipis.

"Jangan berlebihan. Sampai Adnan saja kamu sudah mau pingsan."

​"Habisnya Mas Zain kaku banget sih jadi guru. Coba deh Mas sekali-kali ngajarinya pakai gaya yang lebih seru. Kayak... kasih hadiah gitu kalau aku lancar. Reward and punishment, Mas. Itu teori psikologi modern."

​Zain menatap istrinya dengan saksama.

"Hadiah? Apa yang kamu inginkan?"

​Shania langsung bersemangat. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Zain.

"Kalau aku lancar hafal silsilah paman dan bibi Nabi besok, aku mau... Mas Zain nggak boleh manggil aku 'kamu' atau 'Shania' lagi kalau kita lagi berdua."

​Zain mengerutkan dahi.

"Lalu saya panggil apa? 'Monyet pohon'?"

​"Iiiih! Mas Zain!"

Shania memukul pelan lengan Zain.

"Panggil... 'Sayang' gitu, atau 'Dek', atau apa lah yang lebih manis. Mas itu suamiku, bukan guru ngajiku!"

​Wajah Zain seketika berubah kaku. Ada rona merah tipis yang merayap di telinganya. Ia berdehem keras, mencoba mengalihkan pandangan ke piringnya yang sudah kosong.

​"Itu... hal yang tidak perlu dibahas sekarang. Selesaikan makanmu," ujar Zain gugup.

​"Tuh kan! Mas Zain malu! Berarti setuju ya? Kalau besok aku lancar, Mas harus panggil aku pakai nama panggilan sayang," goda Shania dengan tawa renyah yang mulai kembali menghiasi rumah itu.

“​Pelajaran Hidup di Bawah Rembulan”

​Setelah makan malam, mereka duduk di teras belakang. Shania masih membawa bukunya, sementara Zain sedang meninjau beberapa berkas pesantren. Suara jangkrik bersahutan, memberikan irama alami di keheningan malam Kediri.

​"Mas..."

Shania memulai pembicaraan, kali ini suaranya lebih tenang.

​"Hmm?"

​"Kenapa Mas Zain sabar banget sama aku? Maksudku... tadi pagi aku benar-benar keterlaluan. Aku tahu aku memalukan Mas di depan santri-santri."

​Zain meletakkan berkasnya. Ia menatap ke arah kegelapan kebun.

"Sabar itu bukan berarti tidak marah, Shania. Sabar itu adalah menahan diri agar kemarahan tidak merusak apa yang sudah dibangun. Kamu adalah amanah. Papamu menitipkanmu pada saya bukan untuk saya patahkan semangatnya, tapi untuk saya arahkan 'liar'nya itu ke jalan yang benar."

​Shania menunduk, merasa tersentuh.

"Aku, cuma takut, Mas. Aku takut kalau aku jadi terlalu 'ustadzah', aku bakal kehilangan diriku. Aku takut aku nggak bisa asyik lagi, nggak bisa ketawa lepas lagi."

​Zain berbalik menatapnya, kali ini tatapannya sangat teduh.

"Shania, Islam tidak datang untuk membunuh karakter seseorang. Aisyah RA adalah wanita yang cerdas dan lincah, bahkan sering berlomba lari dengan Rasulullah. Beliau tetap menjadi dirinya sendiri, namun dalam bingkai ketakwaan. Kamu tidak perlu menjadi orang lain. Kamu hanya perlu memberikan 'pakaian' yang lebih indah untuk jiwamu."

​Shania terdiam lama, meresapi kata-kata itu.

"Jadi, kalau aku tetap suka bercanda dan sedikit 'ajaib' begini, nggak apa-apa?"

​"Selama tidak melanggar syariat dan tidak membahayakan nyawamu dengan memanjat pohon mangga lima meter," jawab Zain dengan sindiran halus.

​Shania tertawa kecil.

"Oke, oke. Janji, nggak bakal panjat pohon lagi. Tapi kalau panjat pagar gimana?"

​"Shania!"

​"Hehe, bercanda Mas! Ampun!"

Shania mengangkat dua jarinya membentuk simbol peace.

​Ia kembali membuka buku hijaunya. Di bawah sinar lampu teras, ia mulai menghafal lagi. Kali ini bukan karena takut hukuman, tapi karena ia ingin membuktikan pada Zain bahwa "Shania yang liar" ini juga bisa menjadi Shania yang berilmu.

​"Hamzah bin Abdul Muthalib, Abbas bin Abdul Muthalib, Abu Thalib..." suara Shania mengalun pelan, beradu dengan suara angin malam.

​Zain kembali pada berkasnya, namun sudut matanya terus memperhatikan istrinya. Ada rasa hangat yang menjalar di hatinya. Ternyata, menghadapi keliaran Shania tidak melulu soal ketegasan, tapi juga soal bagaimana ia bisa masuk ke dalam dunia istrinya tanpa harus kehilangan prinsipnya.

​"Besok sore jangan lupa, Mas. Panggilan sayang itu taruhannya," celetuk Shania tiba-tiba tanpa menoleh dari bukunya.

​Zain hanya bisa menghela napas panjang, menutupi senyum yang hampir pecah di wajahnya. Ia tahu, hari-hari ke depannya di pesantren tidak akan pernah membosankan selama ada Shania di sisinya. Shania, gadis yang membelenggu keliarannya dengan mahar, namun justru mulai membelenggu hati sang Ustadz dengan cara yang paling tak terduga.

​Bersambung ....

1
Dian Fitriana
up lg thor
falea sezi
katanya ustadz istrinya di gantung klo mau cerai ya cerai malah kabur g bgt sifat ne laki
falea sezi
ustadz kok didikan nya pake kekerasan alon2 talah ustadz hadeh
partini
saling cinta tapi Ego setinggi langit
pak ustadz kamu agak salah caranya secara wanita tuh gampang banget nething
Saniaa96: benar. makasih udah luangkan waktu untuk baca 🙏🙏🙏 semoga sehat selalu. aamiin🤲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!