Setelah hidup selama 500 tahun penuh pengkhianatan, kesengsaraan, dan perjuangan, Tian Hao akhirnya kembali ke masa lalu.
Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya, ia memperoleh Warisan Mutiara Surgawi yang mempercepat jalur kultivasinya.
"Kali ini... aku akan mencapai keabadian."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Dataran tengah
Baginya, kemegahan Zhongzhou hanyalah sebuah pemandangan lain. Ia tidak terpukau oleh arsitektur kota-kota terapung atau kuil-kuil emas yang terlihat dari kejauhan.
Di matanya, semua itu hanyalah tumpukan material yang suatu hari nanti akan runtuh.
Jika dunia adalah sebuah teater, maka Zhongzhou adalah salah satu panggung utamanya, tempat di mana topeng-topeng pahlawan dan penjahat dipakai dengan lebih rapi, namun di balik itu, bau busuk keserakahan tetaplah sama.
Tian Hao berjalan menyusuri jalan setapak yang menuju ke Kota Lingjian, salah satu penghubung perdagangan utama di Dataran Tengah. Di sepanjang jalan, ia melihat pemandangan yang kontras.
Kultivator dengan jubah sutra mahal terbang di atas pedang spiritual mereka, sementara di pinggir jalan, para pengungsi dari konflik sekte kecil mengemis sisa-sisa batu energi.
Ia melewati sebuah desa kecil yang baru saja dihancurkan. Tidak ada mayat yang dikubur, semuanya dibiarkan membusuk atau dimakan oleh binatang buas. Tian Hao berhenti sejenak, menatap seorang anak kecil yang menangis di samping reruntuhan rumahnya.
Ingatan tentang pria tua yang pernah menolongnya kembali berdenyut. Namun, alih-alih rasa iba, yang muncul hanyalah sebuah pemikiran yang dingin: Anak ini menangis karena ia merasa kehilangan sesuatu yang ia anggap miliknya. Ia belum sadar bahwa di bawah langit ini, tidak ada yang benar-benar menjadi milik siapa pun.
Tian Hao tidak berhenti untuk menolong. Ia juga tidak berhenti untuk menyakiti. Ia hanya terus berjalan. Baginya, ikut campur dalam penderitaan orang lain tanpa tujuan yang jelas adalah sebuah pemborosan energi.
Ia bukan pahlawan yang ingin memperbaiki dunia, dan ia bukan monster yang ingin menghancurkannya tanpa sebab. Ia adalah bayangan yang mencari keabadian di tengah kerumunan yang fana.
Saat ia memasuki kawasan Hutan Bambu Hitam yang mengelilingi pinggiran Kota Lingjian, hawa keberadaannya tertangkap oleh indra orang lain.
Lima orang pria dengan seragam abu-abu murid dari sekte penegak lokal muncul dari balik rimbunnya batang bambu yang gelap.
Mereka membawa tombak panjang yang dialiri energi listrik biru. Pemimpin mereka, seorang pria dengan bekas luka bakar di lehernya, menatap Tian Hao dengan pandangan curiga.
"Berhenti, Pengembara. Siapa kau dan apa urusanmu di wilayah Lingjian?" tanya pemimpin itu. Suaranya mengandung otoritas yang dipaksakan.
Tian Hao tidak berhenti. Langkahnya tetap tenang, ritmenya tidak berubah sedikit pun. "Hanya lewat."
"Lancang! Buka tudungmu dan tunjukkan kartu identitasmu, atau kau akan kami anggap sebagai mata-mata dari Sekte Wuhun!"
Tombak-tombak itu diturunkan, ujung-ujungnya mengarah tepat ke leher Tian Hao. Jarak mereka hanya tersisa lima langkah.
Tian Hao berhenti. Ia mendongak sedikit. Di balik bayangan tudung, matanya berkilat dengan warna kuning bumi yang redup, hasil dari penyerapan kristal esensi. "Jalan ini milik bumi. Bumi tidak butuh identitas."
Pemimpin penjaga itu kehilangan kesabaran. Dengan raungan pendek, ia menusukkan tombaknya. Energi listrik meledak, menciptakan suara desis yang memecah kesunyian hutan.
Srett!
Tian Hao tidak mundur. Ia justru melangkah maju, tubuhnya bergeser hanya beberapa milimeter dari mata tombak. Tangannya meluncur keluar dari lengan jubah secepat pagutan ular.
Prak!
Ia menangkap batang tombak tersebut. Dengan satu sentakan tangan yang dialiri Manifestasi Qi Tahap 2, ia mematahkan kayu keras itu seolah-olah itu adalah ranting kering. Bagian ujung tombak yang patah tetap berada di genggamannya.
Dalam satu gerakan melingkar yang mulus, Tian Hao menggunakan ujung tombak itu untuk menebas tenggorokan pemimpin penjaga tersebut.
Darah hangat menyemprot ke batang bambu hitam, namun tidak setetes pun mengenai jubah Tian Hao.
Empat penjaga lainnya terpaku selama satu detik. Itu adalah kesalahan fatal.
Tian Hao melepaskan Bai Kecil. Ular putih itu melesat seperti anak panah perak dari balik lehernya.
Bai bergerak di udara, melewati kepala para penjaga dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Setiap kali Bai bersentuhan dengan kulit mereka, sebuah lubang kecil yang menghitam muncul.
Dua penjaga langsung tumbang, tubuh mereka membiru dalam sekejap karena racun yang telah diperkuat oleh energi mutiara surgawi.
Dua sisanya mencoba lari, namun Tian Hao menghentak bumi dengan tumitnya. Gelombang energi bumi merambat melalui akar bambu, menyebabkan tanah di bawah kaki mereka meledak dan menjepit kaki mereka.
Tian Hao berjalan mendekat. Ia tidak menghunuskan pedang, ia hanya mengangkat tangannya dan membentuk jari-jari seperti cakar. Energi Qi memadat di ujung jemarinya, membentuk bilah-bilah transparan yang tajam.
Crash! Crash!
Tanpa ada dialog, tanpa ada permohonan ampun yang didengarkan, Tian Hao menyelesaikan pekerjaannya.
Ia menghancurkan titik-titik meridian mereka dengan serangan presisi, memastikan tidak ada satupun dari mereka yang bisa bangun kembali.
Setelah suasana kembali hening, Tian Hao berdiri di tengah mayat-mayat itu. Ia memanggil Bai Kecil kembali ke pangkuannya. Ular itu mendesis puas setelah menelan sedikit energi spiritual dari para korban.
Tian Hao mengeluarkan botol kecil berisi cairan korosif sebuah alat pembersih yang selalu ia bawa. Ia meneteskan cairan itu ke mayat-mayat tersebut.
Dalam hitungan menit, tubuh-tubuh itu menyusut dan menyatu dengan tanah, hanya menyisakan bau tanah yang baru dicangkul.
"Moralitas adalah kemewahan bagi mereka yang tidak memiliki musuh," bisik Tian Hao.
Ia merapikan kembali jubahnya. Kekacauan kecil ini tidak memberikan kesenangan padanya, namun ia merasa puas dengan kemajuan kekuatannya. Di Dataran Tengah, setiap pertarungan adalah pelajaran, dan setiap kematian adalah nutrisi bagi jalannya sendiri.
Ia menoleh ke arah peta mentalnya. Kota Lingjian sudah dekat. Di sana, ia berencana mencari informasi tentang reruntuhan kuno yang menurut ingatannya menyimpan salah satu fragmen dari Mutiara Surgawi lainnya.
Targetnya bukan hanya menjadi kuat, tapi menjadi absolut. Dan jika ia harus mengubah Dataran Tengah menjadi hamparan abu untuk mencapai itu, ia tidak akan ragu sedetik pun.
Tian Hao melangkah keluar dari Hutan Bambu Hitam saat matahari mulai tenggelam, cahayanya yang jingga menyinari wajahnya yang datar, wajah seseorang yang sudah lama membuang kemanusiaannya demi sebuah janji keabadian yang dingin.