NovelToon NovelToon
Penyihir Gila Dari Jurang Hantu

Penyihir Gila Dari Jurang Hantu

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Isekai / Balas Dendam
Popularitas:737
Nilai: 5
Nama Author: AbdulRizqi60

Cakrawala Dirga Samudra adalah seorang Pangeran kerjaan Nirlata yang dibuang kedalam jurang saat umurnya baru menginjak 6 tahun. namun bukannya mati, di dalam sana ia justru bertemu sosok misterius yang membuat dirinnya menjadi penyihir gila. 7 tahun berlalu ia kembali dengan kekuatan baru untuk menuntut balas, merebut takhta yang seharusnya menjadi miliknya, dan mengungkap rahasia di balik tembok istana

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AbdulRizqi60, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Latihan Indra Pendengaran dan Sihir Alam

Samudra bangkit seraya menggerutu, ia kemudian langsung bergegas menuju ke tempat dia biasa latihan dengan Guru Genta Gelap.

Tempat itu adalah sebuah telaga kecil...

Whus....!!!

Tampak tubuh Samudra melesat dengan cepat di atas air, menuju ke area bagian tengah telaga kecil tersebut.

Telaga kecil di malam hari tampak seperti cermin sunyi yang memantulkan langit kelam, dikelilingi pepohonan rimbun yang membentuk siluet hitam tebal. Suasananya sangat hening, dingin, dan menenangkan, seringkali hanya dipecah oleh suara jangkrik atau desiran angin lembut di antara dedaunan. Permukaan air telaga tampak tenang, berwarna gelap, namun berkilau memantulkan cahaya bintang dan bulan.

Guru Genta Gelap duduk bersila di atas permukaan air tengah tengah telaga kecil itu dengan sangat tenang.

Ketika Samudra sudah berada di tempat Guru Genta Gelap berada ia langsung menyatukan kedua tangannya memberikan salam hormat.

Guru Genta Gelap memang sangat berbeda dari kera lain, Guru Genta Gelap bisa di bilang lebih disiplin dalam mengajar jika di ibaratkan mungkin ia adalah guru matematika di sekolah, berbeda dengan Guru Samudra lainnya yang mengajar lebih gila dan seolah eksekusi mati.

Kedua matanya buta, namun ia memiliki kemampuan yang sangat unik, ia mampu mendengar tetesan embun walaupun jaraknya puluhan kilometer.

"Sebutkan teknik atau sihir apa yang paling kau sukai dariku, bocah?" Tanya Guru Genta Gelap yang duduk bersila di atas air dengan sangat tenang.

Samudra terdiam sesaat kemudian berucap, "Teknik Gema Seribu Gendang, Guru." Jawab Samudra tegas.

"Bagus, sekarang kau coba gunakan teknik itu, coba dengarkan detak jantungku.. tebak lah apa yang sedang aku rasakan, ingat baik baik bocah apa yang keluar dari mulut bagai pisau bermata dua, sedangkan irama suara deguban jantung itu hanya memiliki satu makna, yaitu kejujuran sejati. Apakah kau mengerti Samudra?" Ucap Guru Genta Gelap datar dan wajahnya tetap tenang, setenang permukaan air di telaga kecil itu.

Samudra memgangguk cepat, mengerti dengan ucapan Guru Genta Gelap, ia kemudian menutup matanya dan segera menajamkan indra pendengarannya melalui Teknik Gema Seribu Gendang.. pengguna Teknik ini mampu mendengar dan mendeteksi suara sehalus apapun yang berada di sekitarnya.

Sejenak suara di area danau itu sangat sunyi dan senyap, dan setelah beberapa tarikan nafas lagi akhirnya mata kanan Samudra yang terpejam terbuka lebar. Senyuman kecil terukir di sudut bibirnya.

"Aku sudah tau guru!!" Ucap Samudra penuh dengan semangat.

Guru Genta Gelap membalasnya dengan senyuman tipis, ia kemudian berucap, "sekarang katakan, apa yang kau ketahui tentang apa yang sekarang kau rasakan."

Samudra terlihat ragu sedikit mengatakan apa yang ia rasakan walaupun sebelum ini ia tampak begitu semangat.. namun detik berikutnya ia memberanikan diri, "guru sepertinya guru saat ini sedang sakit perut dan sedang menahan untuk membuang hajat!" Ucap Samudra penuh percaya diri atas apa yang ia ketahui, namun seketika itu juga...

Plak!

Tamparan angin tidak terlihat menghantam pipi kanannya dan di susul bentakan marah gurunya.

"Salah!!"

***

Pagi hari berikutnya... tampak Samudra sedang tidur di dalam goa beralaskan dedaunan pohon.

"Hei bocah, bangun dasar pemalas!" Suara seorang pria terdengar di atas Samudra, namun Samudra tak kunjung membuka matanya, ia terlalu lelap dengan tidurnya karena kelelahan.

Fyuuuhhhh

Semilir angin tiba tiba mengelilingi tubuh Samudra dan mengangkat Samudra begitu saja, sontak Samudra terbangun dari tidurnya.

"Ap.. apa yang terjadi? Angin puting beliung! Tidaak...!!!"

"Diamlah bocah bodoh! Sudah dini hari, sudah waktunya kau berlatih denganku!"

Samudra menatap ke atas, di langit goa itu tampak seekor kera berbulu coklat, memakai topi caping bambu, dan memakai jubah coklat pudar duduk bersila dengan posisi terbalik.

Ia adalah Resi Ngambang Sungsang...

"Astaga guru, matahari bahkan belum terlihat dan guru sudah datang. Ayolah apa tidak bisa memulai latihan ketika matahari sudah terlihat?" Tanya Samudra sambil mengucek matanya yang sangat ngantuk.

"Jangan bangun saat matahari bersinar, bangunlah lebih awal biarkan matahari yang melihatmu bersinar." Ucap Resi Ngambang Sungsang.

"Ayo cepat! Aku tunggu di tempat biasa." Resi Ngambang Sungsang menghilang begitu saja.

Samudra mencuci mukanya dan bergegas menuju ke tempat ia biasa berlatih dengan Resi Ngambang Sungsang.

Tempat Samudra dan Resi Ngambang Sungsang berlatih adalah di air terjun besar..

Tampak Samudra duduk terbalik penuh khidmat di langit langit goa belakang air terjun, di depannya Resi gambang Sungsang juga duduk secara terbalik.

Suara Resi Ngambang Sungsang terdengar dari wajah terbaliknya yang di tutupi oleh janggut dan kumis coklat panjangnya.

"Untuk menguasai sihir alam kau harus mampu menyatu dengan alam. Kau harus menanggalkan egomu Samudra dan juga pakaianmu." Ucapnya lirih namun penuh dengan tekanan.

Ketika mendengar itu mata Samudra melotot dan bibirnya tampak maju kedepan.

"Tapi guru, yang bagian pakaian itu? Apakah wajib?" Tanya Samudra ragu akan apa yang sudah di ucapkan Resi Ngambang Sungsang.

"Ya. Sihir alam hanya akan menyatu kepada seseorang yang memiliki hati dan jiwa yang murni, dan salah satu syaratnya adalah telanjang. Semua yang melekat pada tubuh itu hanya akan menjadi halangan bagimu untuk bisa mencapi titik menyatu dengan unsur alam murni." Jawab Resi Ngambang Sungsang dengan lugas dan tegas.

Pada saat ini Samudra hanya bisa pasrah dan menurut dengan perintah Sang Resi untuk duduk bersila tanpa selembar benangpun. Samudra kemudian duduk di bawah air terjun, membiarkan air membasahi tubuh telanjangnya.. hempasan air itu menghantam tubuhnya dengan keras dan kuat, semakin lama hempasan air terjun itu semakin berat, membuat tubuh Samudra secara tidak sadar bergetar dan terguncang hebat.

Namun pada saat ini ebtah datang dari mana seekor monyet liar, hitam dan besar mendadak langsung mengambil celana dan pakaian milik Samudra yang tergeletak begitu saja.. Samuda yang menyadari itu menatap monyet itu, monyet itu tampak menepuk nepuk pantatnya sendiri kemudian kabur dengab cara bergelantungan dari pohon ke pohon.

"Woiiii..!!!! Kembali kau monyet sialan...!!!" Teriakan marah Samudra terdengar, dengan cepat ia keluar dari hempasan air terjun dan langsung mengejat monyet hitam itu.

Kedua mahluk ciptaan tuhan itu kini tampak kejar kejaran, yang membedakan mereka Samudra polos tanpa sehelai benangpun sementara monyet itu tubuhnya masih tertutupi bulu.

Kejadian itu seketika membuat para kera tua yang menyaksikan itu tertawa terbahak bahak..

"Itu baru namanya latihan, jika mengejar monyet saja kau tidak bisa maka jangan pernah bermimpi kau dapat mengalahkan manusia!" Suara Ki Bronjol Buntung terdengar penuh semangat.

Resi Ngambang Sungsang langsung berseru, "Samudra kembali, selesaikan latihanmu!" Suaranya membuat wilayah jurang hantu itu bergetar.

1
anggita
nama ilmu yg keren. mantra api jiwa👏
anggita
ikut dukung ng👍like, 2x☝☝iklan. moga novelnya lancar.
anggita
novel laga lokal👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!