"Papa, posisi kakimu salah. Satu inci lagi, dan sensor laser akan membelah jas mahalmu."
Damian Xavier, sang Raja Mafia 'Vipera' yang tak kenal ampun, tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan dikendalikan oleh sepasang kembar berusia 8 tahun. Ia mengira telah menemukan anak rahasianya, namun kenyataannya, ia menemukan dua penguasa bayangan yang sedang mencari 'pion' untuk melindungi ibu mereka.
Leo adalah reinkarnasi sang Marsekal Perang Legendaris yang tewas dikhianati, sementara Lea adalah mantan Profiler Kriminal FBI yang ahli dalam bedah jiwa manusia. Bagi mereka, Damian hanyalah aset strategis yang perlu dijinakkan, dan Qinanti—ibu mereka yang lembut—adalah satu-satunya harta yang harus dilindungi.
Selamat datang di papan catur keluarga Xavier, di mana sang Raja Mafia hanyalah salah satu pion dalam strategi besar anak-anaknya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: CATUR DI LANTAI ENAM PULUH
POV: DAMIAN XAVIER
Vipera Tower biasanya adalah tempat di mana aku merancang kehancuran lawan, namun pagi ini, kantor pusatku terasa lebih seperti labirin emosional yang rumit. Aku berdiri di depan cermin besar di ruang kerjaku, merapikan kerah jas charcoal yang kukenakan. Untuk pertama kalinya dalam sembilan tahun, ada kehangatan yang tertinggal di bahuku—sisa pelukan Qinanti sebelum ia berangkat ke ruang kurasinya yang berada tepat di sebelah ruanganku.
"Papa, frekuensi detak jantung Papa meningkat 10 bpm sejak Mama masuk ke ruangan sebelah," suara Leo memecah keheningan.
Aku menoleh. Leo sedang duduk di sofa kulit hitam, tabletnya menyala, namun matanya menatapku dengan tatapan Marsekal yang kini kuketahui adalah identitas aslinya. Ia tidak lagi tampak seperti anak kecil bagiku; ia adalah sekutu paling mematikan yang pernah kumiliki.
"Aku hanya ingin memastikan dia nyaman, Leo," jawabku datar, mencoba mempertahankan wibawaku.
"Nyaman secara fisik sudah terjamin. Aku sudah memasang filter udara kelas medis dan sistem pencahayaan yang mensimulasikan sinar matahari pagi untuk menjaga mood-nya," Leo kembali menatap layarnya. "Tapi secara sosial? Papa punya variabel pengganggu yang baru saja memasuki lobi. Namanya Bianca klan Valerius."
Aku membeku. Bianca. Putri dari klan mafia rival yang dulu pernah mencoba dijodohkan denganku oleh dewan direksi lama sebelum aku bertemu Qinanti. Dia adalah wanita yang haus kekuasaan, licik, dan tidak mengenal kata 'tidak'.
"Kenapa dia di sini?" tanyaku, auraku seketika mendingin.
"Dia mengklaim memiliki kontrak kerjasama legal yang ditandatangani oleh Tuan Haris sebelum kita 'memecatnya' tempo hari. Dia menuntut audiensi," Leo menyipitkan mata. "Dan berdasarkan analisis Lea, dia datang bukan untuk bisnis. Dia datang untuk menandai teritorialnya karena mendengar Papa membawa seorang wanita ke gedung ini."
Tepat saat itu, pintu ruang kerjaku terbuka tanpa ketukan.
Seorang wanita dengan gaun merah yang sangat berani dan sepatu hak tinggi yang berbunyi tajam di lantai marmer melangkah masuk. Bianca Valerius. Rambut pirangnya tertata sempurna, dan senyumnya adalah jenis senyum yang biasanya ada di wajah pemenang lotre.
"Damian, sayang! Lama sekali kita tidak bertemu," ucap Bianca dengan nada yang sengaja dibuat manja. Ia mengabaikan Marco di pintu dan langsung berjalan menuju mejaku.
Namun, ia harus berhenti mendadak karena seorang bocah laki-laki dengan jas mini berdiri tepat di jalurnya.
"Jarak minimal untuk pengunjung yang tidak memiliki janji temu adalah tiga meter, Nona Bianca," ucap Leo tanpa ekspresi. "Dan Papa sedang tidak dalam mood untuk mendengarkan basa-basi tentang kontrak palsu Tuan Haris."
POV: LEA (Jiwa Sang Profiler)
Aku sedang berada di ruang kurasi Mama, membantu Mama menata beberapa lukisan abstrak. Mama tampak sangat tenang, jemarinya yang lentik menyentuh bingkai emas dengan penuh kasih. Bagiku, ini adalah pemandangan paling damai di seluruh Vipera Tower.
Namun, radarku menangkap getaran negatif dari arah koridor luar.
“Kak, singa betina bergaun merah itu mulai menunjukkan taringnya. Dia mencoba mendekati Papa dengan cara fisik. Sangat klise,” lapor kuku lewat Shadow Talk.
“Tenang saja, Lea. Aku sedang membuat sistem pemadam api di koridor depan ruang Papa mengalami 'kerusakan teknis' jika dia mencoba melampaui batas. Tapi kau, pastikan Mama tetap di dalam ruangan. Aku tidak ingin variabel emosi Mama terganggu oleh wanita rendah ini,” balas Leo.
Aku menatap Mama yang sedang tersenyum menatap sebuah lukisan mawar. Aku tidak bisa membiarkan senyum itu hilang.
"Mama," panggilku dengan suara paling imut. "Lea lapar. Bisakah kita pesan camilan? Tapi Lea ingin camilan dari kafe di lantai bawah, bukan dari pantry kantor."
Qinanti menoleh, matanya melembut. "Tentu, Sayang. Mari kita pesan lewat interkom."
"Tidak, Ma. Lea ingin Mama yang memilihkan. Kafe itu punya kue-kue yang cantik," aku menarik tangan Mama, menuntunnya ke sofa yang posisinya membelakangi pintu kaca transparan ruangan ini. Aku harus memastikan dia tidak melihat Bianca jika wanita itu lewat.
Tiba-tiba, suara Bianca yang melengking terdengar dari koridor, meski suaranya teredam dinding kedap suara.
"Damian! Siapa anak kecil tidak sopan ini?! Dan siapa wanita kurator miskin yang kau bawa itu? Kau benar-benar merusak reputasi klan Xavier!"
Aku melihat bahu Mama menegang. Ia mengenali suara itu. Bianca pernah merundung Mama sembilan tahun lalu sebelum Mama melarikan diri. Ini adalah pemicu trauma yang besar.
“Kak, variabel meningkat. Mama mulai mengenali suara Bianca. Lakukan distraksi total sekarang!” perintahku lewat pikiran.
“Diterima. Memulai protokol 'Semburan Dingin',” balas Leo.
Tepat saat Bianca hendak mendekati pintu ruang kurasi Mama dengan wajah penuh amarah, sistem sprinkler di atas kepalanya mendadak menyala—hanya di satu titik tepat di atas Bianca.
Syuuuuut!
Air dingin mengguyur gaun merah mahalnya dalam sekejap. Bianca menjerit histeris, maskaranya luntur, dan rambut pirangnya kini menempel di wajahnya seperti rumput laut basah.
POV: DAMIAN XAVIER
Aku berdiri di ambang pintu, menatap Bianca yang kini basah kuyup di tengah koridor. Marco mencoba menahan tawa di balik tangannya, sementara Leo masih berdiri tenang dengan tablet di tangannya, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"Sepertinya sistem pemadam api kita sedang mendeteksi adanya 'hawa panas' yang tidak diinginkan, Bianca," ucapku dingin, tanpa ada niat sedikit pun untuk membantunya.
"Damian! Kau... kau membiarkan anak ini mengerjaiku?!" teriak Bianca, menunjuk Leo dengan jari gemetar.
"Anak ini adalah ahli strategiku," aku melangkah maju, auraku kini benar-benar mencekam. "Dan wanita yang kau sebut 'miskin' itu adalah nyawa klan ini. Jika kau menyebut namanya sekali lagi dengan nada seperti itu, aku akan memastikan klan Valerius kehilangan seluruh hak distribusi mereka di pelabuhan selatan sebelum matahari terbenam."
Bianca terengah, wajahnya yang cantik kini tampak mengerikan karena amarah dan rasa malu. Ia melihat ke arah ruang kurasi, di mana ia bisa melihat siluet Qinanti dari balik kaca film yang gelap.
"Kau akan menyesal, Damian! Kau memilih wanita lemah itu daripada aliansi yang kuat!" Bianca berbalik, mencoba berjalan anggun meskipun sepatu hak tingginya berbunyi 'blep-blep' karena basah.
Saat ia sudah menjauh, aku menoleh pada Leo. "Leo, kau terlalu nakal."
"Efisiensi, Papa," Leo merapikan kerah jasnya. "Membersihkan kuman dengan air adalah cara paling alami. Sekarang, Papa punya waktu lima menit untuk masuk ke ruangan Mama dan menenangkannya sebelum Lea mulai melakukan 'bedah jiwa' padanya."
Aku mengangguk, lalu melangkah menuju ruang kurasi. Di dalam, aku menemukan Qinanti yang tampak pucat, sedang dipeluk oleh Lea.
"Damian..." Qinanti menatapku. "Itu Bianca, kan?"
Aku berlutut di depannya, menggenggam tangannya yang dingin. "Dia sudah pergi, Qin. Dan dia tidak akan pernah kembali lagi. Aku berjanji."
Lea melirikku, matanya yang genius seolah sedang memberikan skor padaku. “Poin tambahan untuk Papa karena sudah membela Mama secara terbuka. Tapi Papa, Bianca baru saja menelepon Baron lewat jalur enkripsi pribadinya saat menuju lift. Dia sedang merencanakan sesuatu yang lebih besar dari sekadar siraman air,” lapor Lea lewat Shadow Talk.
Aku menegang. Jadi Bianca beraliansi dengan Baron? Ini adalah perpaduan yang berbahaya antara dendam wanita dan kerakusan mafia.
"Leo," panggilku, suaraku kembali menjadi pemimpin klan Vipera.
Leo muncul di pintu, wajahnya yang kecil tampak sangat serius. "Aku sudah tahu, Papa. Aku sudah meretas ponsel Bianca sejak dia masuk ke lobi. Mereka berencana menyabotase pameran seni perdana Mama besok malam. Mereka ingin mempermalukan Mama di depan kolektor internasional agar Papa terlihat tidak kompeten melindungi istrimu."
Aku mengepalkan tangan. "Mereka ingin menyerang Qinanti di dunianya?"
"Mereka ingin bermain catur di wilayah yang salah," Leo menyeringai, sebuah seringai yang sangat identik dengan seringai perangkku. "Papa, biarkan mereka melakukan langkah pembuka. Kita akan menggunakan pameran itu sebagai kuburan bagi reputasi klan Valerius dan Baron sekaligus."
Lea bangkit, memeluk boneka kelincinya dengan erat. "Dan Lea akan memastikan setiap tamu yang datang besok adalah saksi dari kejatuhan mereka. Mama akan menjadi bintang, sementara mereka akan menjadi lelucon."
Aku menatap kedua anak kembarku. Di satu sisi, aku merasa ngeri melihat betapa cepatnya mereka merancang kehancuran orang lain. Namun di sisi lain, aku merasa sangat bersyukur. Sembilan tahun lalu, aku membiarkan Qinanti pergi karena aku tidak tahu cara melindunginya dari intrik seperti ini.
Tapi sekarang... aku memiliki dua penguasa bayangan di sisiku.
"Lakukan," perintahku. "Berikan mereka skakmat yang tidak akan pernah mereka lupakan."
Malam itu, Vipera Tower tidak pernah tidur. Leo sedang memetakan setiap tamu undangan, Lea sedang menyusun profil psikologis para pengkhianat yang mungkin menyusup, dan aku... aku hanya duduk di samping Qinanti yang tertidur lelap, bersumpah bahwa pameran besok bukan hanya soal seni, tapi soal pernyataan perang kepada siapa pun yang berani menyentuh harta paling berhargaku.
Checkmate, Bianca. Kau baru saja mengundang badai yang tidak akan bisa kau kendalikan.