NovelToon NovelToon
Dunia Akan Hancur Lagi Dan Aku Sudah Pernah Mati

Dunia Akan Hancur Lagi Dan Aku Sudah Pernah Mati

Status: sedang berlangsung
Genre:Hari Kiamat / Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Ruang Ajaib
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rizqi Handayani Mu'arifah

Aku sudah mati sekali di hari kiamat.

Sekarang aku kembali—3 hari sebelum semuanya dimulai.

Aku tahu siapa yang akan mati.
Aku tahu monster apa yang akan muncul.
Aku tahu dunia ini tidak bisa diselamatkan.

Jadi kali ini…
aku akan mengubah semuanya.

Atau menghancurkannya dengan caraku sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizqi Handayani Mu'arifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 21 reina kehilangan kendali

Reina menggigit bibirnya, menahan rasa sakit.

Matanya berubah. Lebih tajam. Lebih dingin.

“…aku tetap akan mengakhirinya.”

Pedangnya mulai bersinar, bereaksi dengan sesuatu yang lebih gelap dari sekadar kekuatan.

Darah menetes dari bahu Reina. Akar yang menembus tubuhnya masih berdenyut, tertinggal dan seolah mencoba meminum kehidupannya dari dalam.

DUM! DUM! DUM!

Detak jantung raksasa itu semakin cepat.

Kabut menebal.

Jeritan semakin keras.

Seperti banyak orang yang sedang meminta tolong dari bawah tanah.

“REINAAA!!” suara Dandi nyaris tenggelam dalam kekacauan mencoba untuk tetap bertahan.

Tapi Reina, tidak bergerak.

Kepalanya tertunduk. Rambutnya menutupi wajahnya.

Sunyi.

Seperti ada yang bangkit.

“…jadi ini rasanya…” gumamnya pelan.

Tangannya perlahan mencengkeram akar yang menusuk bahunya.

Akar itu bergetar. Lalu,

KREEEKKK!!

Reina menariknya keluar sendiri. Darah menyembur. Tapi dia tidak berteriak. Sebaliknya, energi dari pedangnya mulai berubah.

Bukan sekadar cahaya.

Tapi sesuatu yang lebih liar, lebih gelap. seperti menanggapi keberadaan pohon itu sendiri.

Di kejauhan, Santo membelalak.

“Itu, bukan cuma kekuatannya…”

Andri mengertakkan gigi. "Senjatanya, bereaksi sama monster itu! Seolah energi monster itu ingin menyatu.”

Pedang kembar Reina berdenyut, Selaras dengan jantung monster itu.

DUM… DUM…!

Untuk sesaat, tidak jelas. Apakah dia melawannya, atau terhubung dengannya.

Reina mengangkat wajahnya. Matanya berubah. Satu tetap seperti biasa, yang satu lagi merah gelap, berdenyut seperti inti di depan mereka.

“Aku buka jalan lagi!” teriak Prisma.

“Jangan!” bentak Andri. Tapi terlambat.

Reina sudah bergerak dengan sangat cepat.

HILANG.

Dalam sekejap, dia sudah di antara akar-akar. Gerakannya bukan lagi manusia biasa.

Lebih cepat. Lebih tajam, Lebih… kejam.

Setiap tebasan hanya meninggalkan bayangan.

SHRAAK! SHRAAK! SHRAAK!

Akar-akar terpotong sebelum sempat bereaksi.

Makhluk kecil yang jatuh langsung terbelah tanpa sempat mendekat.

“Dia, gak nahan lagi…” gumam Dandi.

Kabut mencoba masuk lagi. Suara-suara, Ilusi. Kenangan.

Tapi kali ini Reina tidak melawan. Dia mengabaikan semuanya. Dan terus menyerang maju kedepan.

Seolah pikirannya sudah tenggelam ke sesuatu yang lebih dalam dan lebih gelap.

Jantung itu sekarang tepat di depannya.

Berdebar cepat. Seolah, takut.

Akar-akar menggila, mencoba melindungi inti, tapi terlambat.

Reina melompat.

Kedua pedangnya menyilang. Energi gelap dan merah berputar di sekitarnya.

Di bawah inti, orang yang tergantung itu kembali bergerak.

Matanya menatap Reina. “…tolong… hentikan…”

Bukan memohon diselamatkan. Tapi, dibebaskan.

Untuk sesaat mata Reina kembali normal.

Sadar.

Penuh emosi.

“…iya.” Satu kata pelan. Tapi pasti.

SLAAASH!!

Dua pedang menembus jantung itu dan tubuh yang terikat di bawahnya sekaligus.

"Kaell" teriak andri dan yang lainnya saat melihat seseorang terlepas dari gantungan.

Dengan cepat dandi melompat dan menangkap kael untuk menyelamatkannya.

Detak jantung inti berhenti. Tidak ada suara. Tidak ada gerakan.

Lalu,

KRRRRRRRRAAAAAAAAAA!!!

Seluruh tubuh pohon bergetar hebat. Akar-akar menggeliat liar, lalu membeku.

Kabut tersedot kembali ke dalam inti. Tubuh-tubuh yang tergantung jatuh satu per satu.

Batang raksasa itu runtuh.

Membusuk dalam hitungan detik.

Menjadi lumpur daging yang tidak lagi hidup.

Tanah, akhirnya diam.

Setelah pertarungan, Reina mendarat.

Tubuhnya goyah.

Pedangnya jatuh dari tangannya.

Matanya kembali normal, lalu dia langsung jatuh berlutut.

“Reina!” Santo berlari mendekat.

Prisma menyusul, masih terengah.

Andri mendekat pelan, tapi ekspresinya tidak tenang.

Dandi berdiri paling belakang, menatap Reina dalam diam.

“Dia menang…” kata Dandi.

“Tapi…” potong Andri. “…kalian ngerasain juga kan?”

Sunyi.

Santo akhirnya bicara. “Yang tadi itu, bukan cuma kekuatan Reina.”

Dia menatap pedang Reina yang tergeletak.

“Itu, kekuatan akar pohon daging neraka.”

“Dan kalau dia benar-benar menyatu dengan pedang reina..”

Andri melanjutkan pelan, “…dia bisa jadi sesuatu yang sama seperti monster itu.”

Reina mengangkat wajahnya pelan. Napasnya berat, matanya… sekilas kembali berwarna merah.

Lalu normal lagi.

“…kita lanjut.” kata Reina.

Seolah tidak terjadi apa-apa.

Tapi semua orang tahu, sesuatu dalam dirinya sudah berubah.

Malam turun lebih cepat dari biasanya. Reruntuhan itu sunyi.

Terlalu sunyi.

Tidak ada lagi detak.

Tidak ada lagi jeritan.

Tapi, itu tidak berarti semuanya selesai.

Reina duduk sendirian, agak menjauh dari yang lain.

Api kecil menyala di depan mereka, tapi dia memilih menjauh dari cahaya.

Sedangkan Andri mencoba memberikan pertolongan pertama kepada Kael.

Tangan reina gemetar, pelan. Hampir tak terlihat.

Dia membuka sarung tangan di tangan kirinya.

Urat-urat di bawah kulitnya berdenyut merah. Selaras.

Dum… dum…

Seperti sesuatu di dalam dirinya, masih hidup.

Reina langsung menggenggam tangannya kuat-kuat.

“…keluar.”

Tidak ada jawaban.

Tapi denyutan itu, semakin kuat.

Tiba-tiba dunia di sekitarnya berubah, api menghilang.

Suara angin lenyap. Reina kembali berdiri di depan pohon itu.

Utuh kembali, dan tidak hancur.

Jantung itu berdetak lagi.

DUM! DUM! DUM!

“Jadi kamu gak benar-benar mati…” bisik Reina.

Suara dari dalam kegelapan menjawab “Aku tidak pernah pergi.”

Akar muncul kembali. Tapi kali ini bukan dari tanah.

Dari bayangannya sendiri.

Melilit kakinya.

Naik ke tubuhnya.

“Ini, cuma efek sisa…” Reina menggeram.

Dia mencoba menebas tapi pedangnya…

"tidak ada!" batin reina.

Sebagai gantinya tangannya berubah. Kulitnya retak sedikit.

Dan dari dalamnya terlihat tekstur yang sama seperti pohon itu.

Suara itu kembali.

Lebih dekat.

Lebih dalam.

“Kamu sudah merasakannya… kekuatanku.”

“Kenapa menolak?”

Reina terdiam.

Dalam sepersekian detik dia mengingat sesuatu.

Kekuatan tadi.

Kecepatan itu.

Ketajaman itu.

Rasa tak terkalahkan.

Tangannya gemetar.

Bukan karena takut.

Tapi karena.. godaan.

“Kalau aku terima…” gumamnya pelan.

“…aku menang.” Akar di tubuhnya berhenti bergerak. Seolah menunggu.

“Dan kalau aku kalah…” Mata Reina menajam.

“…aku jadi kamu.” kata suara itu.

Reina mengangkat tangannya sendiri yang mulai berubah dan tanpa ragu menghantamkannya ke tanah.

CRAAACK!!

Rasa sakit menjalar.

Nyata.

Brutal.

Dia memaksa dirinya kembali ke kenyataan.

“INI TUBUHKU!” teriaknya.

Akar-akar itu bergetar. Retak.

Reina menggigit tangannya sendiri hingga darah mengalir.

Bukan karena putus asa. Tapi untuk memastikan dia masih manusia.

Masih punya kendali.

Masih bisa memilih.

“Pergi…” suaranya serak.

“…atau aku yang hancurin kamu dari dalam.”

Detak itu mulai melambat.

Dum… …dum…

Kabut memudar.

Akar menghilang.

Suara itu tidak hilang sepenuhnya. Tapi menjauh. “Ini belum selesai…”

Reina tersentak.

Napasnya berat.

Api kecil di depan perkemahan masih menyala.

Semua kembali normal.

Tapi tangannya berlumuran darah. Dan sedikit masih berdenyut.

Andri dan lainnya menyadari energi yang memasuki reina telah bertindak.

Santo berdiri di belakangnya sejak tadi. Namun hanya diam.

“Kamu lihat sesuatu, kan?” tanyanya pelan.

Reina tidak langsung menjawab. “…aku hampir kalah.” ucapnya pelan.

Santo mengangguk. “Dan sekarang?”

Reina menatap tangannya, lalu menggenggamnya. “Kali ini aku akan menang.”

Dia berdiri.

Sedikit goyah.

Tapi tegak.

Di dalam dirinya sisa detak itu masih ada.

Kecil.

Lemah.

Tapi nyata.

Dan menunggu

1
DRR_LOVE
Keren loh, wajib dibaca..
Ellasama
cari referensi Thor supaya tau dan bisa bikin novel yang bagus apalagi reader gak suka type karakter yang lemah apalagi untuk si fl
DRR_LOVE: tentu kak, terimakasih
total 1 replies
Ellasama
gak heran makin dikit yg kasih like
Ellasama
alah ternyata type fl menyek-menye please paling gak suka kalau karakter ny gitu, katanya terlahir kembali dan sudah pernah ngalamin gitu aja gak bisa ngatasin
DRR_LOVE: halo kak, maaf kalau tidak sesuai dengan pemikiran kakak ya.. karena murni hasil dari imajinasi 🙏🙏
total 1 replies
Ellasama
kukira ada zombie ny ternyata dewa-dewi alurnya,,,, agak aneh tp suka kalau ada space entah seterusnya kek mana/NosePick/
Ellasama
Dewi Sinta? film India kah,,,, ada ada aja ni author. pasti ni ada benang merahnya ni🤭
Anime aikō-kā
.
yang
semngat💪
DRR_LOVE: terimakasih suportnya kak😍💪🙏
total 1 replies
yang
hus sana pergi
yang
hmm
DRR_LOVE: halo kak, terimakasih sudah suport😍🙏
total 1 replies
Andira Rahmawati
lanjuttt trusss semangat💪💪💪
DRR_LOVE: terimakasih sudah support kak🙏😍
total 1 replies
Andira Rahmawati
hadir thorrr
DRR_LOVE: Terimakasih kak 😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!