Sequel Pelabuhan Hati
Bagi orang lain Karin adalah si antagonis untuk kehidupan kakaknya, namun siapa sangka di balik sikap yang dia tunjukkan selama ini dia menyimpan banyak luk. Di tambah dengan malam kelam yang terjadi adanya akibat ulah sahabat-sahabatnya, hidup Karin sejak hari itu berubah total.
Sementara itu Aiden sengaja datang ke Indonesia untuk mencari perempuan yang membuatnya selalu dalam rasa bersalah sejak malam itu. Namun siapa yang menyangka jika dirinya tak perlu bersusah payah untuk menemukan perempuan tersebut. Lalu apakah ada ruang untuk Karin di hati Aiden? Atau dia melakukannya hanya karena sebuah rasa bersalah?
“Selalu ada ruang untukmu di hatiku,” Aiden
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9# Bumilku
Saat ini Aiden masih ada di rumah sakit, tidak mungkin dia meninggalkan papa Harun dan mama Indah sendirian dalam situasi seperti ini. Pikirannya terpecah antara Karin dan kondisi Rega yang tidak baik-baik saja, sepupunya tersebut harus segera mendapatkan tindakan operasi untuk menyelamatkan nyawanya.
“Kita harus segera mengurus administrasi agar Rega bisa segera dioperasi,” ucap Dio.
“Aku temani,” sela Aiden.
Dio mengangguk. “Ayo, Aiden! Kita kebagian administrasi,” ajak Dio pada Aiden, ke duanya bergegas untuk mengurus administrasi agar Rega segera mendapatkan penanganan terbaik.
Aiden dan Dio bergegas menuju ruang operasi setelah menyelesaikan urusan administrasi, Rega sudah di bawa ke ruangan operasi. Aiden menatap sendu kearah mama Indah, wanita paruh baya tersebut sudah tidak terisak seperti tadi. Namun air matanya masih tetap menetes, bibirnya sibuk merapalkan doa untuk keselamatan putranya yang sedang bertaruh nyawa di dalam sana.
Seketika Aiden merasa bersalah pada ke dua paruh baya yang sudah dianggapnya orang tua ke dua dalam hidupnya. Tidak jauh dari tempatnya duduk bersama Aldo, ke dua orang tua Rega terlihat sedang di tenangkan salah satu sahabat Rega yang bernama Arka.
Aiden merasa bersalah karena sudah membuat ke dua paruh baya tersebut kecewa, belum lagi dengan kejadian yang menimpa rega saat ini. Hatinya merasakan sakit saat melihat papa Harun dan mama Indah sedih, ternyata jauh lebih menyakitkan bagi Aiden.
Beberapa jam berlalu, operasi Rega selesai dengan baik dan lancar. Selama empat puluh delapan jam ke depan Rega akan selalu dalam pemantauan tim dokter, dia sudah di pindahkan ke ruang ICU.
Aiden menghampiri mama Indah yang duduk di kursi tunggu ICU. “Aiden beli sarapan buat om dan tante, dari semalam kalian belum makan apapun.”
“Tante sedang tidak selera,” jawab mama Indah, begitupun dengan papa Harun.
“Aiden tahu tante, tapi bagaimanapun tante dan om harus makan. Rega butuh tante dan om, kalian berdua bisa ikut sakit kalau begini. Setidaknya makan sedikit om, tante. Biar kalian berdua punya kekuatan untuk menjaga Rega,” bujuk Aiden pada mama Indah dan papa Harun.
Papa Harun lantas mengambil sarapan yang di bawa Aiden, dia membukanya dan menyuapkannya pada sang istri. “Aiden benar, ma. Saat ini Rega butuh kita berdua, mama harus tetap sehat agar bisa selalu merapalkan doa. Bukankah doa ibu yang paling cepat menembus langit?”
Mama Indah menatap bergantian suami dan keponakannya tersebut, ke dua netranya bahkan sudah berkaca-kaca. “Bagaimana aku bisa menelannya dengan baik kalau putraku di dalam sana bahkan tidak bisa makan, pa?” ucap mama Indah dengan suara yang bergetar.
“Kamu harus tetap makan, ma. Anggap saja dengan kamu sedang makan untuk Rega, seperti saat dulu kamu mengandungnya. Kamu memberi asupan nutrisi padanya lewat makanan yang masuk ke dalam perutmu,”
“Mana bisa begitu, pa. Papa ini ada-ada saja,” kesal mama Indah yang memantik senyuman tertahan Aiden dan papa Harun.
“Aaa...” papa Harun kembali menyuapkan makanan pada istrinya.
Mama Indah menghela napas, namun akhirnya dia bersedia makan. Dia butuh energi untuk menjalani hari-hari ke depan sampai Rega pulih sepenuhnya. Aiden tersenyum tipis melihat itu, dia lega karena mama Indah dan papa Harun akhrinya mau makan.
“Aiden!” panggil papa Harun pada keponakannya tersebut.
“Om butuh sesuatu?”
Papa Harun menggeleng.
“Duduk sini, nak! Dekat om kamu,” pinta mama Indah.
Aiden lantas pindah duduk di samping papa Harun.
“Kamu pulanglah dulu, Aiden! Selesaikan masalahmu dengan keluarga Darmawan,” pinta papa Harun. “Harusnya kami mendampingimu, tapi tidak mungkin Rega kami tinggal dalam kondisi seperti ini. Jadilah pria yang bertanggung jawab,” lanjut papa Harun.
Aiden terenyuh, dia langsung menghambur memeluk papa Harun. Di situasi seperti itu papa Harun masih memikirkan masalah diirinya dan Karin.
“Harusnya om dan tante yang pulang lebih dulu, kalian harus istirahat. Di sini ada Aldo, ada Dio dan Arka. Biar kami yang jaga Rega,” Aiden tidak tega melihat mama Indah dan papa Harun, ke duanya belum tidur dari semalam.
“Tantemu tidak akan mau pulang, Aiden. Om tidak mungkin meninggalkan tantemu sendirian di sini, karena itu kamu yang harus pulang. Setyadarma harus ada yang memimpin untuk sementara ini, dan hanya kamu yang om percaya saat ini. Om sudah menghubungi Aiko dan Sandi, mereka akan membantumu. Om minta tolong padamu!” pinta papa Harun.
Aiden tidak bisa menolak saat melihat wajah-wajah lelah dan juga kesedihan yang terpancar dari mama Indah dan papa Harun.
“Aiden akan mengusahakan yang terbaik untuk om dan tante,” Aiden lantas berdiri, dia menghampiri mama Indah dan berjongkok berlutut di hadapannya.
Aiden meraih tangan mama Indah. “Rega pasti sembuh tante! Dia masih harus bertanggung jawab pada Rhea, dia tidak akan membiarkan Rhea di miliki orang lain. Jadi, tante harus sehat. Rega pasti sedih kalau tante ikut sakit,” Aiden mengusap ke dua pipi mama Indah yang berderai air mata.
Mama Indah memegang tangan kanan Aiden yang mengusap pipinya. “Datangi keluarga Darmawan, nak! Minta maaf pada mereka, nikahi Karin. Sejatinya Karin anak yang baik, hanya saja dia terlalu banyak mendapatkan doktrin dari Nirma. Itu salah satu yang membuat tante lebih memilih Rhea,” ucap mama Indah diangguki Aiden.
***
Aiden kembali keapartemennya, dia membersihkan diri dan harus bersiap untuk ke kantor Setyadarma. Dirinya tidak ingin mengecewakan papa Harun dan mama Indah, karena itulah dia hari ini sudah menyusun seabrek rencana. Mebagi waktu untuk Setyadarma dan juga harus menemui keluarga Darmawan.
Aiden mengambil ponselnya.
Aiden
“Bagaimana kabar bumilku pagi ini?”
Karin
“Baik,”
Aiden
“Tolong bilang pada om Andi, sore nanti aku akan datang ke rumah. Seperti janjiku kemarin,”
Karin
“Oke,”
Aiden tersenyum saat membaca pesan singkat dari Karin, dia memang belum mengenal Karin sepenuhnya. Terlebih bisa di bilang itu adalah kali ke tiga mereka bertemu setelah kejadian di hotel beberapa waktu yang lalu.
Tidak berbeda dengan Aiden yang senyum-senyum sendiri karena Karin juga seperti itu saat ini, Karin baru saja menghabiskan sarapannya setelah drama morning sick yang dia alami tadi pagi. Mama Nirma akhirnya turun tangan membuatkan putrinya bubur ayam untuk sarapan.
“Dih. Senyum-senyum sendiri, baru dapat lotre?” Alya baru saja turun dari lantai atas, entah kenapa sikap Alya pada Karin membaik setelah kejadian kemarin.
“Kepo,” jawab Karin sambil tersenyum.
“Ck...bukan kepo, aku hanya takut kakak ke duaku tiba-tiba harus di rujuk ke poli jiwa. Sedih ini aku,” candanya.
Plak...
“Hiss...sakit tahu nyet,” keluh Alya saat mendapatkan geplakan dari sang kakak.
“Alya!” tegur papa Andi karena panggilan si bungsu pada Karin.
“Sukurin!” balas Karin.
“Alhamdulillah,” Alya tak mau kalah.
Alya dan Karin lantas terkekeh, papa Andi tersenyum tipis melihat hal tersebut. Rasanya sudah lama dia tidak melihat dua putrinya itu saling bersikap hangat satu sama lain, selalu ada hikmah di balik setiap musibah yang terjadi.
“Kak Aiden mau ke rumah sore ini, dia mau ketemu papa sama mama. Papa ada waktu?” tanya Karin.
Papa Andi mengangguk. “Suruh datang untuk sekalian makan malam! Kebetulan papa juga mau tanya kondisi Rega, sudah boleh di jenguk atau belum. Harun dari semalam tidak bisa di hubungi,”
Karin mengangguk, dia lantas mengambil ponsel yang dia taruh di samping piringnya.
“Papa bilang datang ke rumah sekalian makan malam,”
Aiden tersenyum tipis saat membaca pesan yang di kirim Karin.
“Oke bumilku,”
Karin langsung bersemu merah saat membaca balasan pesan dari Aiden. “Bumilku,” monolognya sambil memegangi pipinya yang terasa panas karena malu.