karya ini aku buat atas pemikiran aku sendiri,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agnura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEY YANG MASIH DICULIK TAK HENTI MENERIMA SIKSAAN
Di tempat yang gelap dan pengap, jauh dari keramaian kota, tubuh Key terbaring lemah di lantai dingin yang berdebu. Tangannya terikat kuat, pergelangannya penuh luka yang belum sempat mengering. Setiap napas yang ia tarik terasa berat, seolah udara pun enggan bersahabat dengannya. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya—perih, panas, dan tak tertahankan—namun yang lebih menyakitkan adalah perasaan dikhianati.
Sejak tadi, lelaki yang menculiknya tak henti-hentinya menyiksa. Tendangan, pukulan, bahkan luka yang sengaja dibuat di tangannya seolah menjadi hiburan bagi si penculik. Key berusaha menahan teriakan, menggigit bibirnya hingga berdarah, mencoba mempertahankan sisa harga dirinya.
“Aku nggak tahu apa-apa…” gumam Key dengan suara serak.
Namun jawabannya hanya disambut tawa sinis.
“Tugas gue cuma satu,” ucap si penculik dingin. “Bikin lo ngerasain penderitaan.”
Belum sempat Key mencerna kata-kata itu, tiba-tiba suara dering ponsel memecah keheningan. Si penculik berhenti, mengambil ponselnya, lalu menjauh sedikit dari ruangan tempat Key tergeletak. Meski tubuhnya lemah, pendengaran Key masih cukup tajam untuk menangkap percakapan itu.
“Iya, Pak… semuanya sudah saya bereskan,” ucap si penculik dengan nada hormat.
Key menahan napasnya.
“Saya pastikan dia menderita… seperti apa yang Bapak inginkan.”
Jantung Key seakan berhenti berdetak.
“Tenang saja, Pak Ken. Dia nggak akan bisa lolos.”
Nama itu… seperti petir yang menyambar kesadarannya.
Ken.
Tubuh Key gemetar. Rasa sakit yang tadi mendominasi kini tergantikan oleh keterkejutan yang jauh lebih dalam. Tanpa sadar, air matanya mengalir, bercampur dengan debu dan darah di wajahnya.
“Jadi… ini semua…” bisiknya lirih.
Key menutup matanya, mencoba mengingat kembali semua yang telah terjadi. Tatapan dingin Ken, sikapnya yang berubah, kebencian yang perlahan tumbuh sejak kejadian itu—saat Sera ditampar.
Saat itu, Key hanya dikuasai emosi. Ia tak pernah menyangka bahwa tindakannya akan membawa konsekuensi sejauh ini. Ia tak pernah berpikir bahwa Ken akan sejauh ini… hingga merencanakan sesuatu sekejam ini.
Dari balik pintu yang sedikit terbuka, suara si penculik kembali terdengar.
“Iya, Pak. Saya nggak akan mengecewakan Bapak.”
Telepon ditutup. Langkah kaki kembali mendekat.
Key segera memejamkan mata, berpura-pura tak sadar. Namun pikirannya terus berputar, penuh penyesalan dan ketakutan.
“Ken… jadi kamu memang di balik semua ini…” batinnya.
Ada rasa sesak yang tak bisa dijelaskan. Bukan hanya karena rasa sakit fisik, tapi karena kenyataan yang baru saja ia dengar. Orang yang dulu ia kenal… orang yang pernah ia percaya… kini menjadi dalang di balik penderitaannya.
Air mata kembali mengalir.
“Ini semua… karena Sera…” gumamnya pelan.
Namun kali ini, tidak ada kemarahan dalam suaranya. Yang ada hanyalah kesadaran pahit. Bahwa apa pun yang ia lakukan terhadap Sera, sekecil apa pun itu, ternyata memiliki harga yang harus dibayar.
Dan harga itu… adalah penderitaan yang kini ia rasakan.
Langkah si penculik berhenti tepat di depannya. Tanpa banyak bicara, ia kembali melayangkan pukulan. Tubuh Key terhempas, rasa sakit kembali menghantam tanpa ampun. Namun kali ini, Key tidak lagi berteriak.
Ia hanya diam.
Matanya kosong, pikirannya jauh.
“Kalau ini balasannya…” batinnya, “aku pantas menerimanya…”
Namun di sudut hatinya yang paling dalam, ada secercah luka yang lebih besar—luka karena dikhianati.
Ken tidak hanya ingin membalas.
Ken ingin menghancurkannya.
Dan kini Key mengerti satu hal yang tak pernah ia sadari sebelumnya—bahwa dalam dunia Ken, tidak ada yang namanya setengah hati. Sekali seseorang menyakiti orang yang ia lindungi, maka balasannya akan berlipat ganda, tanpa ampun, tanpa belas kasihan.
Ruangan itu kembali sunyi, hanya diisi suara napas Key yang semakin melemah.
Dan di antara rasa sakit yang terus menghantui, satu kesadaran perlahan mengakar di dalam dirinya—
Bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi.
Dan terkadang… konsekuensi itu datang dalam bentuk penderitaan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
😉🤍