Sudah 5 tahun sejak pernikahanku dengan Raymond. Di depan keluarga dan teman, kami adalah pasangan yang harmonis. Tapi ketika di dalam rumah kecilku, aku merasa hampa. Ini terasa seperti aku bermain sandiwara selama 5 tahun lebih. Aku pun tidak tahu apa yang salah dengan diriku sendiri kenapa aku masih memaksa diriku untuk bersamanya. Tapi satu hal yang pasti, suamiku mencintai statusnya sebagai suami bukan mencintaiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12
Dua manusia beda generasi itu kembali saling berhadapan. Prof. Romi terlihat mengabaikan Llyn dan sibuk dengan komputernya sendiri. Sementara itu Llyn hanya berdiri dengan kepala menunduk di depan mejanya. Persis seperti murid yang hendak dihukum oleh gurunya.
Matt menonton dari samping dengan raut khawatir. Sudah hampir lima belas menit mereka berdiam diri seperti ini. "sampai kapan mau diam diam begini?"
Matt sudah tidak tahan, ia menghampiri Prof. Romi dan memutar kursinya menghadap ke arah dirinya. Lalu menarik tangan Llyn agar berdiri di depan sang Profesor.
"ngobrol! kalian ngobrol, jangan diam terus."
"buat apa saya ngobrol sama dia," ucapan sinis Prof. Romi menusuk hati Llyn tepat sasaran.
"Prof., saya minta maaf," ucapnya lantang lalu membungkuk sembilan puluh derajat.
Prof. Romi menghela nafas lalu berdiri dari kursinya dan menepuk bahu Llyn.
Beliau berjalan ke arah sofa di ruangannya lalu mengisyaratkan Llyn untuk duduk di depannya. Karena posisinya masih membungkuk, otomatis ia tidak bisa melihat isyarat tersebut. Untung saja ada Matt yang melihat lalu mengarahkan Llyn untuk duduk di sofa berhadapan dengan Prof. Romi.
"kejadian yang lalu biarkan berlalu, ada apa kamu ke sini?"
Llyn bingung harus mengatakan dari mana. Padahal ia sudah mempersiapkan kalimat yang akan diucapkannya, tapi semuanya sudah hilang. Mental baja yang ia miliki kemarin kemarin, kini benar-benar sudah lenyap.
"kalau tidak ada yang mau dikatakan, silahkan keluar. Jangan buang waktu saya."
Saat sang Profesor hendak berdiri, Matt menahannya. "oh ayolah, duduk dan dengarkan dulu," Matt beralih ke Llyn lalu menyenggol lengannya "jangan diam saja."
Llyn menarik nafas lalu, "saya mau dibimbing lagi oleh Profesor Romi," ucapnya dalam satu tarikan nafas.
"saya tidak mau membimbing orang yang tidak tau mana yang benar dan mana yang salah."
"Prof. saya janji kejadian dulu tidak akan terulang lagi."
"saya tidak butuh janji."
"kalau begitu saya akan buktikan lewat tindakan. Ini surat resign saya dari perusahaan William, lalu ini lampiran surat cerai yang sudah saya ajukan, dan terakhir ini adalah surat registrasi lomba desainer yang sedang diadakan oleh perusahaan M.K."
Llyn sadar betul di mana akar masalahnya, karena itu ia membawa semua dokumen itu sebagai bukti awal bahwa ia benar-benar serius.
"aku tidak akan mengomentari rumah tanggamu, tapi kalau kamu serius secepatnya pindah ke sini."
Llyn tersenyum dan detak jantungnya semakin cepat. Profesor yang ia kenal sudah kembali, ia diterima lagi. Dengan semangat Llyn mengangguk mengiyakan permintaan sang Profesor.
"siap Prof. satu minggu lagi, eh tidak lima hari lagi aku resmi cerai dan resign. Saat itu juga aku langsung pindah ke kota ini lagi."
"aku pegang ucapanmu, ini kesempatan terakhir."
"iya, tolong pegang ucapanku. Kali ini aku pasti akan menepatinya."
Profesor Romi menemukan Llyn saat gadis itu masih baru masuk universitas. Wajahnya polos, pakaiannya sederhana dan tidak ada yang menarik darinya. Sampai ketika ia mengumpulkan tugas yang diberikan. Di satu lembar desain itu, ia menemukan bakat yang sudah lama tidak ia temui.
Tiba-tiba hidupnya menjadi penuh semangat dan hatinya berdebar. Dengan buru-buru ia mengambilnya sebagai murid, padahal di kampus dirinya dikenal tidak pernah memiliki murid pribadi. Llyn yang menerima pengakuan secara mendadak itu pun tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya dan langsung mengiyakan ajakan Profesor Romi.
Bakatnya terus berkembang di bawah didikan langsung sang Profesor. Berbagai kompetisi ia menangkan dan membawa nama kampus semakin naik. Hingga akhirnya Llyn membuat keputusan yang mengecewakan semua pihak di saat mereka semua menggantungkan harapan kepadanya.