Kanaya dan Amira dua sahabat yang tak terpisahkan sejak kecil.
Tak ada rahasia di antara mereka… hingga cinta datang dengan cara yang salah.
Kanaya dipaksa menikah dengan pria pilihan keluarga, Fatan Adrian Mahendra—pernikahan tanpa cinta yang terasa seperti hukuman.
Sementara Amira hidup dalam kebahagiaan, menikahi pria yang ia cintai sepenuh hati—Adrian.
Namun takdir menyimpan rahasia yang kejam.
Pria yang mereka cintai…
adalah orang yang sama.
Satu pria. Dua nama. Dua pernikahan.
Dan satu pengkhianatan yang menghancurkan segalanya.
Saat kebenaran terungkap,
siapa yang akan bertahan?
Dan siapa yang harus merelakan… cinta yang sejak awal tak pernah utuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tangisan Seorang Pria yang Kehilangan Segalanya
Hujan turun sejak sore, membasahi kaca besar di kantor yang kini terasa terlalu luas untuk satu orang. Lampu-lampu kota berpendar samar di kejauhan, namun bagi Fatan, semuanya tampak redup seperti hidupnya yang perlahan kehilangan arah.
Ia duduk di lantai, bersandar pada sofa yang tak lagi ia tempati. Jasnya tergeletak sembarangan, kemejanya kusut, dua kancing teratas terbuka. Meja di depannya dipenuhi dokumen laporan keuangan, surat penagihan, dan satu map yang paling ia hindari sejak pagi.
Kebangkrutan.
Perusahaan yang ia bangun dengan ambisi dan kesombongan itu akhirnya runtuh. Satu per satu investor menarik diri. Proyek gagal. Kepercayaan hilang. Dan hari ini… semuanya resmi berakhir.
Fatan tertawa kecil. Tawa yang tidak memiliki makna selain kelelahan.
“Lengkap sudah,” gumamnya pelan.
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, menarik napas panjang yang terasa berat. Dalam diam itu, satu per satu bayangan muncul Kanaya… Amira…dan kehilangan ayahnya karena serangan jantung
Dan dirinya sendiri.
Ponsel di sampingnya bergetar. Fatan menoleh malas, tapi saat melihat nama yang tertera, tubuhnya menegang.
Amira.
Dengan gerakan cepat, ia meraih ponsel itu.
“Amira…” suaranya serak saat panggilan terhubung. “Akhirnya kamu,,,”
“Aku hanya ingin memastikan satu hal,” potong Amira di seberang sana. Suaranya dingin, jauh berbeda dari yang pernah ia kenal.
Fatan terdiam sejenak. “Apa?”
“Aku sudah mengirimkan surat perceraian kita,tolong tanda tangani dan sampai bertemu di pengadilan"ucap Amira dari sebrang sana
"tega kamu melakukan itu,amira aku terpuruk sekarang,Perusahaanku… benar-benar bangkrut,setidaknya tolong jangan tinggalkan aku?”
"perusahaanmu bangkrut atau tidak ,itu bukan urusanku,Semuanya sudah selesai. Tidak ada lagi yang tersisa.”
Hening sejenak.fatan terdiam
“Kamu mau aku bilang apa fatan?” balas Amira. “Aku sudah memperkirakan ini akan terjadi.”
Fatan terdiam. “Memperkirakan?”
“Iya,” jawab Amira tenang. “Seseorang yang membangun hidupnya di atas kebohongan… biasanya tidak akan bertahan lama.”
Kalimat itu menusuk lebih dalam dari apapun.
“Jadi sekarang kamu meneleponku hanya untuk menghakimi aku?” suara Fatan mulai meninggi. “Setelah semuanya?”
“Aku tidak menghakimi,” jawab Amira. “Aku hanya melihat kenyataan.”
Fatan berdiri, berjalan mondar-mandir dengan gelisah.
“Kenyataan?” ulangnya. “Kenyataan bahwa aku kehilangan segalanya? Itu sudah jelas, Amira! Kamu tidak perlu mengingatkan aku!”
“Aku tidak perlu mengingatkan,” balas Amira datar. “Kamu sudah merasakannya sendiri.”
Fatan terdiam, napasnya memburu.
“Kenapa kamu seperti ini?” tanyanya, suaranya melemah. “Dulu kamu tidak seperti ini amira…”
“Dulu aku tidak tahu siapa kamu sebenarnya,” jawab Amira cepat.
Kalimat itu kembali menjatuhkan sesuatu dalam diri Fatan.
Ia mengusap wajahnya kasar. “Aku sudah kehilangan Kanaya… sekarang kamu juga mau pergi,itu tidak adil bagiku?”
“kamu butuh keadilan tapi kamu sendiri tidak adil pada kami berdua,Aku sudah pergi,jangan paksa aku untuk bertahan dalam pernikahan penuh kebohongan,” jawab Amira tanpa ragu.
Sunyi.
Kalimat itu menggantung di udara, berat dan tidak bisa ditarik kembali.
Amira tidak langsung menjawab. Saat suaranya kembali terdengar, nadanya lebih dalam,bukan lembut, tapi tegas.
“Aku pernah mencintaimu,” katanya.
“Tapi cinta saja tidak cukup untuk mempertahankan hidup.”
Fatan mengepalkan tangan. “Jadi sekarang ini soal uang?”
“Iya,” jawab Amira tanpa basa-basi.
Jawaban itu membuat Fatan membeku.dan terdiam,mencoba mencerna.
“Aku harus realistis,” kata Amira. “Hidup harus tetap berjalan. Dan hidup… membutuhkan uang.”
Setiap kata yang keluar terdengar dingin, tapi jujur.
“Jadi kamu memilih pergi… karena aku tidak punya apa-apa lagi?” tanya Fatan, suaranya bergetar.
“Aku memilih pergi karena aku tidak bisa bergantung pada sesuatu yang tidak pasti,” jawab Amira. “Dan kamu… bukan hanya tidak pasti,dan seorang pembohong,Kamu sudah jatuh,”
Kalimat itu seperti menghancurkan sisa harga diri Fatan.
“Aku bisa bangkit lagi!” bentaknya. “Aku tidak akan selamanya seperti ini!”
“Mungkin,” jawab Amira. “Tapi aku tidak punya waktu untuk menunggu kemungkinan.”
Fatan tertawa, kali ini lebih keras lebih kosong.
“Luar biasa…” katanya. “Jadi ini kamu yang sebenarnya?”
“Aku hanya jujur sekarang,” balas Amira.
Fatan menggeleng pelan, matanya mulai memerah.
“Aku melakukan semuanya demi kamu,” katanya lirih. “Aku menghancurkan pernikahan aku… demi kamu…”
“Jangan pernah bilang itu lagi,” potong Amira tajam.
Fatan terdiam.
“Aku tidak pernah memintamu melakukan itu,” lanjut Amira. “Itu pilihanmu sendiri. Jangan menjadikan aku alasan untuk kesalahanmu dan untuk kebohonganmu.”
Kata-kata itu menamparnya tanpa ampun.
Fatan terhuyung mundur, lalu kembali duduk di lantai.
“Jadi… ini akhir dari semuanya?” tanyanya pelan.
“Iya,” jawab Amira singkat.
Tidak ada ragu. Tidak ada penyesalan dalam suaranya.
Fatan menutup matanya, mencoba menahan sesuatu yang semakin sulit ia kendalikan.
“Dan kamu tidak merasa… kehilangan apa-apa?” tanyanya.
Amira terdiam beberapa detik.
“Aku kehilangan banyak hal,” katanya akhirnya. “Tapi aku tidak akan kehilangan masa depanku.”
Fatan tertawa lirih. “Dan aku… bukan bagian dari itu lagi.”
“Tidak,” jawab Amira.
Satu kata. Tegas. Final.
Napas Fatan tercekat. Ia ingin marah, ingin membantah, ingin memaksa tapi tidak ada yang tersisa untuk dipertahankan.
“Baiklah,” katanya akhirnya, suaranya nyaris tak terdengar. “Kalau itu pilihanmu…”
“Jaga dirimu,dan jangan lupa tanda tangani surat perceraian itu jangan mempersulit segalanya” kata Amira.
Fatan tersenyum pahit. “Lucu… kamu masih bisa bilang itu.”
“Aku tidak membencimu,” lanjut Amira. “Aku hanya memilih untuk tidak tinggal.”
Dan tanpa menunggu jawaban, panggilan itu terputus.
Fatan menatap layar ponselnya yang kini gelap.
Sunyi kembali menguasai ruangan.
Perlahan, tangannya jatuh. Ponsel itu terlepas begitu saja ke lantai.
Ia menunduk, bahunya mulai bergetar.
Untuk pertama kalinya, tidak ada yang tersisa untuk disangkal.
Tidak ada yang bisa ia pertahankan.
Kanaya pergi.
Amira pergi.
Perusahaannya hancur.
Dan ia… sendirian.
Fatan menarik napas dalam, tapi yang keluar justru suara yang pecah. Ia menutup wajahnya, mencoba menahan, tapi kali ini ia gagal.
Tangis itu akhirnya pecah.
Bukan tangis pelan melainkan tangis seseorang yang kehilangan segalanya sekaligus.
“Aku salah…” gumamnya di sela-sela isak. “Aku salah…”
Tapi tidak ada yang menjawab.
Tidak ada Kanaya yang menenangkannya.
Tidak ada Amira yang menggenggam tangannya.
Hanya dirinya sendiri… dan penyesalan yang datang terlambat.
Di luar, hujan masih turun tanpa henti.
Seolah dunia tidak peduli bahwa di dalam ruangan itu, seseorang sedang runtuh sepenuhnya.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Fatan menyadari satu hal yang tidak pernah ia pahami sebelumnya
Bahwa kehilangan bukan hanya tentang ditinggalkan.
Tapi tentang menyadari… bahwa semua itu terjadi karena dirinya sendiri.
hati memang penuh misteri
aku berharap akan seru seterusnya
. tapi kenapa sepi ya?