Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.
Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.
Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.
Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.
Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:
Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.
Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-
Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(ARC 1) Chapter 35: Keajaiban 0,01%
Api unggun mulai meredup.
Sisa bara merah masih menyala di antara kayu yang hampir habis terbakar. Aroma ikan panggang tertinggal lembut di udara malam, bercampur dengan bau rumput basah dan angin dingin padang terbuka.
Daji duduk bersandar di kursi kayu, kedua ekornya terkulai malas di belakangnya.
“Aku kenyang.” gumamnya pelan.
“Untuk pertama kalinya, pertarungan terasa seperti ide buruk.”
Grachius duduk di sisi lain, masih menatap api dengan tenang.
Oriens menghabiskan potongan terakhir ikan panggangnya, lalu berdiri sambil menepuk tangannya ringan.
“Bagus. Kalau begitu, latihan dimulai sekarang.”
Daji langsung menoleh cepat.
“Sekarang?! Setelah makan?!”
Oriens tersenyum.
“Tubuhmu sudah punya bahan bakar.”
“Itu bukan cara kerja istirahat.”
“Itu cara kerja murid yang malas.”
“Aku bukan muridmu!”
“Belum.”
Daji membuka mulut untuk membalas, namun Oriens sudah menjentikkan jari.
SNAP.
Portal biru besar kembali terbuka di tengah padang rumput.
Cahaya di dalamnya berputar seperti pusaran laut yang dipenuhi bintang. Dari dalam portal, belasan Ras Long keluar dengan gerakan cepat dan teratur.
Tanpa banyak bicara, mereka langsung membereskan semuanya.
Kanopi kain diturunkan.
Kursi-kursi kayu dilipat.
Perlengkapan makan dikumpulkan.
Sisa api unggun dipadamkan dengan aliran air tipis yang keluar dari kendi batu.
Dalam beberapa menit, perkemahan kecil itu lenyap seolah tidak pernah ada.
Padang rumput kembali kosong.
Daji menatap mereka dengan heran.
“Aku butuh mereka saat membersihkan bar Helga.”
Oriens melangkah menuju portal.
“Mereka bukan pekerja bar.”
“Mereka lebih cepat dari semua pegawai bar yang pernah kulihat.”
Grachius berdiri dan mengikuti Oriens.
Daji menghela napas panjang, lalu ikut berjalan.
“Kalau aku mati karena latihan setelah makan, aku akan menghantuimu.”
Oriens meliriknya.
“Hantu rubah cerewet. Menarik.”
“Aku serius.”
“Aku juga.”
Mereka melangkah masuk ke dalam portal.
Dan dunia berubah.
Cahaya biru menyelimuti tubuh mereka sesaat. Sensasinya seperti tenggelam di dalam air hangat, namun tanpa basah. Ruang di sekitar mereka melengkung, lalu terbuka.
Ketika Grachius membuka matanya—
ia berdiri di tempat yang sama sekali berbeda.
Langit cerah terbentang luas di atas mereka.
Biru.
Bersih.
Tanpa awan gelap.
Udara terasa segar, jauh lebih murni dibanding Mainland. Di kejauhan, gunung-gunung besar berdiri megah, puncaknya diselimuti kabut putih. Sungai panjang mengalir dari kaki gunung, berkilau di bawah cahaya matahari.
Di sekitar lembah, bangunan-bangunan indah berdiri menyatu dengan alam.
Sebagian terbuat dari batu putih dan kayu biru gelap.
Sebagian menempel di lereng gunung.
Sebagian lain tampak menggantung di udara dengan jembatan panjang yang melintasi jurang.
Ras Long terlihat di mana-mana.
Ada yang bekerja di ladang bertingkat.
Ada yang berbicara di dekat sungai.
Ada yang membawa keranjang buah.
Dan di langit—
beberapa naga panjang berwarna biru, putih, dan perak terbang berkelok di antara awan.
Daji terdiam.
Mulutnya sedikit terbuka.
“...ini…”
Grachius juga diam.
Namun matanya bergerak perlahan, menyerap semua yang ia lihat.
Tempat ini bukan sekadar tersembunyi.
Tempat ini terasa seperti dunia lain.
Damai.
Hidup.
Dan sangat jauh dari kekacauan Mainland.
Oriens berjalan santai beberapa langkah ke depan.
“Selamat datang di wilayahku.”
Sebelum Grachius sempat bertanya, suara kecil terdengar dari kejauhan.
“Nona Oriens!”
Beberapa anak kecil Ras Long berlari ke arah mereka.
Tanduk kecil mereka belum sepenuhnya tumbuh. Ekor mereka masih pendek dan bergerak lincah saat mereka berlari. Wajah mereka cerah penuh kegembiraan.
Mereka langsung memeluk Oriens dari berbagai sisi.
Daji membeku.
Grachius sedikit mengangkat alis.
Oriens, yang sebelumnya tampak angkuh dan menekan, kini hanya menghela napas kecil.
“Kalian terlalu cepat.”
Seorang anak perempuan dengan sisik biru muda di pipinya menatap Oriens sambil tersenyum.
“Oriens lama tidak pulang!”
“Aku baru pergi sebentar.”
“Itu lama!”
Anak lain menunjuk Grachius.
“Siapa dia?”
Beberapa pasang mata kecil langsung berpindah pada Grachius.
Rambut putihnya segera menarik perhatian mereka.
“Rambutnya putih!”
“Seperti salju!”
“Mirip Tuan Occidens!”
Grachius sedikit menegang.
“Occidens?”
Anak-anak saling pandang, namun sebelum mereka menjawab, Oriens bertepuk tangan pelan.
“Jangan menyerbu tamu.”
Mereka mundur sedikit.
Namun rasa penasaran mereka belum habis.
Sementara itu, beberapa anak lain sudah mengelilingi Daji.
“Dia punya telinga!”
“Dan ekor!”
“Dua ekor!”
“Boleh sentuh?”
Daji langsung mundur.
“Tidak boleh!”
Terlambat.
Satu anak menyentuh ujung ekornya.
Ekor Daji langsung berdiri tegang.
“KYAA—! Jangan sentuh sembarangan!”
Anak-anak tertawa.
Daji menutupi kedua ekornya dengan tangan, wajahnya merah karena panik dan malu.
Grachius menatapnya datar.
“Kau populer.”
“Diam!”
Oriens tertawa pelan.
Tawa itu berbeda dari tawa saat ia mengejek Grachius.
Lebih lembut.
Lebih hangat.
Ras Long dewasa yang lewat memberi hormat kepada Oriens, namun tidak dengan rasa takut. Lebih seperti penghormatan kepada seseorang yang mereka cintai.
Grachius memperhatikan itu.
Oriens bukan hanya penguasa tempat ini.
Ia pelindung.
Mungkin bahkan keluarga.
Setelah anak-anak akhirnya dipanggil pergi oleh seorang Ras Long dewasa, suasana menjadi lebih tenang.
Oriens berjalan menyusuri jalan batu putih, diikuti Grachius dan Daji.
“Tempat ini bukan Mainland.” kata Oriens.
“Bukan Forbidden Zone juga.”
Daji menatap sekeliling.
“Lalu apa?”
“Dimensi buatanku sendiri.”
Daji langsung berhenti.
Grachius juga menoleh.
Oriens tersenyum tipis.
“Empat Raja Surgawi masing-masing memiliki dimensi pribadi seperti ini.”
Ia menunjuk langit cerah di atas mereka.
“Dewa biasa tidak mampu menciptakan dunia kecil yang stabil. Mereka bisa membuat ruang sementara, portal, atau domain kecil. Tapi dimensi hidup seperti ini…”
Ia memandang lembah tempat Ras Long hidup damai.
“…hanya sedikit makhluk yang bisa.”
Daji menelan ludah pelan.
“Jadi selama ini Ras Long tinggal di sini?”
“Ya.”
Oriens mengangguk.
“Aku memindahkan mereka saat dunia mulai memburu mereka. Ras Long terlalu kuat, terlalu tua, dan terlalu banyak rahasia. Dunia luar selalu takut pada apa yang tidak bisa dikendalikan.”
Grachius menatap seekor naga muda yang terbang rendah di atas sungai.
“Jadi kau menyelamatkan mereka.”
“Melindungi.” koreksi Oriens.
“Bukan menyelamatkan sekali, lalu pergi.”
Ia menatap anak-anak yang berlarian jauh di depan.
“Aku menjaga mereka.”
Untuk sesaat, Grachius melihat sisi lain Oriens.
Bukan dewi arogan yang bermain ilusi.
Bukan Naga Biru yang menekan lawannya dengan petir.
Melainkan seseorang yang menyimpan satu ras utuh dari dunia yang ingin menghapus mereka.
Mereka tiba di paviliun terbuka dekat sungai.
Angin segar bergerak membawa aroma air dan bunga putih kecil yang tumbuh di tepi jalan.
Oriens duduk di bangku batu.
Grachius dan Daji ikut duduk di hadapannya.
Untuk beberapa saat, suasana hanya dipenuhi suara aliran sungai.
Lalu Oriens bertanya,
“Kenapa kau ingin membunuh para dewa?”
Grachius menatapnya.
Pertanyaan itu tidak terdengar seperti tantangan.
Lebih seperti permintaan.
Grachius diam beberapa saat.
Lalu menjawab.
“Karena mereka membunuh ayahku.”
Oriens menatapnya.
“Siapa ayahmu?”
“Sonne.”
Satu nama.
Namun efeknya langsung terlihat.
Senyum Oriens menghilang.
Matanya melebar sedikit.
Untuk pertama kalinya, ia terlihat benar-benar terkejut.
“...Sonne?”
Grachius memperhatikan reaksinya.
“Kau mengenalnya?”
Oriens tidak langsung menjawab.
Angin bergerak pelan melewati rambut birunya.
“Kami teman dekat.”
Kalimat itu jatuh lembut.
Namun berat.
Grachius terdiam.
Daji juga menoleh cepat pada Oriens.
Oriens menatap Grachius lebih dalam.
“Kau… anak Sonne?”
Grachius mengangguk.
“Dan Rosalia.”
Oriens berdiri perlahan.
Ekspresinya berubah.
Bukan marah.
Bukan tidak percaya sepenuhnya.
Lebih seperti seseorang yang berhadapan dengan sesuatu yang mustahil.
“Itu hampir tidak mungkin.”
Daji mengerutkan kening.
“Maksudmu?”
Oriens menatap Grachius.
“Hubungan antara dewa dan manusia hampir mustahil menghasilkan keturunan.”
Ia berbicara lebih pelan.
“Kemungkinannya sangat kecil. Sekitar 0,01%.”
Daji terkejut.
“Sekecil itu?”
“Ya.”
Oriens menatap Grachius seolah melihat jawaban dari teka-teki lama.
“Kelahiranmu… adalah keajaiban.”
Grachius tidak berkata apa-apa.
Kata itu terasa aneh.
Keajaiban.
Selama ini, keberadaannya terasa seperti kesalahan.
Seperti sesuatu yang diburu.
Sesuatu yang seharusnya tidak ada.
Namun di mulut Oriens, kata itu terdengar berbeda.
Bukan kutukan.
Melainkan sesuatu yang langka.
Sesuatu yang berharga.
Cahaya lembut tiba-tiba muncul di samping paviliun.
Udara menjadi hangat.
Hidup.
Grachius dan Daji langsung menoleh.
Sosok transparan Vita muncul dalam cahaya lembut, seperti bayangan yang dibentuk dari kehidupan itu sendiri.
“Dia benar-benar anak Sonne.”
Suara Vita lembut.
Oriens menatapnya tajam.
“Vita.”
Vita mengangguk pelan.
“Aku yang menolong Rosalia.”
Grachius diam.
Matanya sedikit menurun.
Vita melanjutkan.
“Rosalia memintaku membawa bayinya pergi. Aku membawa Grachius kepada Purus, dan Purus membesarkan serta melatihnya.”
Oriens menatap Vita cukup lama.
Lalu kembali menatap Grachius.
Kali ini, tidak ada keraguan lagi.
“Jadi benar…”
Ia menghela napas pelan.
“Dia anak Sonne.”
Grachius merasa dadanya berat.
Namun bukan seperti saat kebencian muncul.
Ini berbeda.
Seseorang yang benar-benar mengenal ayahnya kini berdiri di hadapannya.
Dan mengakui dirinya.
Oriens perlahan tersenyum kecil.
Bukan senyum angkuh.
Bukan senyum mengejek.
Senyum yang hampir sedih.
“Sekarang semuanya masuk akal.”
Grachius menatapnya.
“Kekuatanmu.”
“Pertumbuhanmu.”
“Zhànqì yang kau kuasai di usia muda.”
“Bahkan cara Qi-mu terasa seperti matahari yang dipaksa hidup dalam tubuh manusia.”
Oriens menatapnya dengan lebih hangat.
“Kau memang anak Sonne.”
Kalimat itu membuat Grachius diam.
Daji memperhatikan dari samping.
Untuk pertama kalinya, ia melihat Grachius terlihat seperti kehilangan kata-kata.
Tidak dingin.
Tidak keras.
Hanya diam.
Seperti seseorang yang akhirnya mendengar sesuatu yang sejak lama ia butuhkan tanpa sadar.
Vita menatap Grachius dengan lembut.
Oriens berdiri di hadapannya dengan mata yang kini tidak lagi memandangnya sebagai rumor dari Nuntius.
Bukan hanya Pemburu Dewa.
Bukan hanya pemuda berambut putih.
Namun sebagai anak dari teman lama yang telah hilang.
Di luar paviliun, Ras Long terus menjalani kehidupan damai mereka.
Anak-anak tertawa di kejauhan.
Naga-naga muda berkelok di langit cerah.
Sungai mengalir tenang melewati lembah.
Grachius berdiri diam di Alam Naga Biru.
Untuk pertama kalinya sejak perjalanan ini dimulai—
identitasnya tidak lagi hanya menjadi alasan untuk diburu.
Tidak lagi hanya menjadi sumber dendam.
Di tempat tersembunyi itu, di hadapan dewi yang pernah mengenal ayahnya—
Grachius mulai benar-benar diakui.
Sebagai anak Sonne.
...A Novel By Franzzz...