“Benciku adalah candu, dan obsesinya adalah penjara paling mematikan.”
Ceisya, seorang santriwati tengil sekaligus hacker cerdas, tiba-tiba terbangun dalam tubuh Ceisyra Valenor—tokoh antagonis yang seharusnya mati tragis.
Namun takdir berubah…
Kaelthas Virelion, penguasa dunia bawah yang dingin dan kejam, justru terobsesi padanya—bahkan menikahinya secara rahasia.
Di tengah fitnah licik sang adik, Clarisse, serta ancaman Axton—rival berbahaya yang mulai kehilangan kendali karena dirinya—Ceisya terjebak dalam permainan yang mematikan.
Haruskah ia melarikan diri dari sangkar emas itu…
atau bertahan dalam perlindungan berbahaya dari pria posesif yang siap menghancurkan dunia demi dirinya?
“Kamu adalah napasku, Ceisyra. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun merebutmu dariku.”
Takdir, obsesi, dan kekuasaan bertabrakan.
Mampukah Ceisya mengendalikan nasibnya sendiri… atau justru tenggelam dalam obsesi yang semakin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah, Obsesi, dan Dua Iblis
Pukul 22:15 Malam – Penthouse Utama, Lantai 88.
Keheningan malam di dalam penthouse pecah seketika oleh suara sirine peringatan yang menderu rendah. Kaelthas masih menggendong Ceisya, namun otot-otot lengannya mengeras seperti baja. Ia menurunkan Ceisya perlahan di belakang pilar marmer besar, menatapnya dengan intensitas yang seolah bisa membakar kulit.
"Tetap di sini. Jangan bergerak satu inci pun dari bayanganku, Ceisyra," perintah Kaelthas. Suaranya bukan lagi sekadar posesif, tapi penuh dengan naluri pelindung yang haus darah.
"Kaelthas, ada apa?! Siapa yang datang?" tanya Ceisya panik, tangannya gemetar meremas ujung kemeja Kaelthas.
Kaelthas tidak menjawab. Tepat saat itu, kaca jendela raksasa di ruang tamu hancur berkeping-keping akibat ledakan kecil dari luar. Tiga orang pria berpakaian taktis hitam meluncur turun menggunakan tali dari helikopter yang melayang di luar. Namun, di antara mereka, ada satu pria yang mendarat dengan keanggunan seorang predator.
Pria itu melepas pelindung wajahnya, memperlihatkan tato ular yang melilit lehernya hingga ke rahang. Matanya yang berwarna kelabu menatap sekeliling dengan remeh, hingga akhirnya tatapannya berhenti tepat pada Ceisya yang bersembunyi di balik pilar.
"Lama tidak jumpa, Kaelthas," suara pria itu terdengar serak dan dingin. "Aku datang untuk mengambil kembali barang yang seharusnya tidak pernah kau miliki."
Kaelthas melangkah maju, menghalangi pandangan pria itu. "Axton. Kau melangkah terlalu jauh dengan menginjakkan kaki di rumah istriku."
Axton tertawa, sebuah tawa kering yang membuat bulu kuduk Ceisya meremang. "Istri? Oh, jadi kabar burung itu benar? Kau menikahi sampah keluarga Valenor ini?" Axton melangkah mendekat, mengabaikan moncong senjata para pengawal Kaelthas yang mulai bermunculan.
Axton memiringkan kepalanya, mencoba mengintip wajah Ceisya dari balik bahu lebar Kaelthas. Begitu matanya menangkap wajah Ceisya yang berjilbab dengan tatapan mata yang berani—bukan ketakutan seperti di alur novel asli—jantung Axton seolah berhenti berdetak sesaat. Ada sesuatu yang berbeda. Ada cahaya liar di mata gadis itu yang belum pernah ia lihat pada wanita mana pun.
"Menarik..." gumam Axton, bibirnya menyunggingkan senyum obsesif. "Dia tidak terlihat seperti sampah. Dia terlihat seperti... bidadari yang tersesat di neraka. Dan aku sangat suka merusak bidadari."
Kaelthas menggeram, ia mencabut pistol dari balik pinggangnya dan mengarahkannya tepat ke dahi Axton. "Satu kata lagi tentangnya, dan aku akan memastikan lidahmu tidak akan pernah bisa bicara lagi."
"Coba saja, Kael," tantang Axton. Ia justru melangkah maju hingga ujung pistol Kaelthas menekan dahinya. "Kau tahu, aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan. Dan sekarang, aku menginginkan dia. Bukan untuk memerasmu, tapi untuk memilikinya sendiri. Aku bisa mencium aroma keberaniannya dari sini... sangat menggoda."
Ceisya yang tidak tahan hanya diam, akhirnya keluar dari balik pilar. "Heh, Tuan Tato Ular! Kamu pikir aku ini barang yang bisa kamu tawar-menawar? Pergi sana sebelum aku pakai jurus silatku untuk membuat ularmu itu gepeng!" teriak Ceisya dengan gaya tengilnya yang tak hilang meski nyawa di ujung tanduk.
Axton tertegun, lalu tertawa terbahak-bahak. Matanya berkilat dengan gairah yang baru tumbuh. "Dia bicara! Dan dia sangat galak! Kaelthas, kau benar-benar beruntung, tapi keberuntunganmu berakhir malam ini."
Pertempuran Meledak. Dalam sekejap, ruangan mewah itu berubah menjadi medan baku hantam. Pengawal Kaelthas menyerbu, sementara anak buah Axton membalas dengan brutal. Kaelthas bergerak dengan kecepatan yang mematikan, ia tidak membiarkan siapa pun mendekati radius satu meter dari Ceisya.
Kaelthas menarik Ceisya ke dalam pelukannya sambil menembakkan senjatanya dengan presisi tinggi. "Tetap dekat denganku, Nyonya Virelion!" teriak Kaelthas di sela deru peluru.
Axton sendiri bergerak menuju Ceisya. Ia berhasil memukul mundur dua pengawal dan menjangkau tangan Ceisya. "Ikut denganku, Sayang. Aku akan memberimu dunia yang lebih bebas daripada sangkar emas pria kaku ini!"
Ceisya langsung melancarkan tendangan ke arah lutut Axton, membuatnya sedikit terhuyung. "Dalam mimpimu, Ular!"
Axton justru semakin terobsesi. Ia meraih dagu Ceisya dengan kasar saat Kaelthas sedang sibuk melawan musuh lain. "Tatapan ini... aku akan membuatnya hanya menatapku, Ceisyra. Ingat namaku, karena aku yang akan menjemputmu dari tangan Kaelthas."
Kaelthas yang melihat istrinya disentuh langsung mengamuk. Ia menerjang Axton dengan tendangan keras yang membuat Axton terlempar menabrak meja kaca hingga hancur. Kaelthas berdiri di depan Ceisya, napasnya memburu, aura haus darahnya menyelimuti seluruh ruangan.
"Guntur! Bersihkan mereka semua! Jangan biarkan satu pun dari mereka keluar hidup-hidup!" perintah Kaelthas murka.
Menyadari situasi tidak menguntungkan, Axton bangkit sambil menyeka darah di bibirnya. Ia menatap Ceisya sekali lagi dengan tatapan penuh hasrat posesif yang gelap. "Ini belum berakhir, Ceisyra. Kamu sudah membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama, dan itu adalah hukuman mati bagimu... karena aku tidak akan pernah berhenti mengejarmu."
Axton melemparkan bom asap, dan dalam sekejap ia beserta anak buahnya menghilang melalui jendela yang pecah, meluncur ke helikopter yang sudah menunggu.
Pukul 23:30 Malam – Pasca Pertempuran.
Ruangan itu hancur berantakan. Kaelthas berbalik arah menuju Ceisya. Wajahnya tampak sangat menyeramkan, dipenuhi jelaga dan percikan darah musuhnya. Ia mencengkeram bahu Ceisya dengan sangat kuat, hingga Ceisya meringis.
"Dia menyentuhmu," desis Kaelthas. "Si ular itu menyentuh kulitmu!"
"Kaelthas, sakit... lepaskan dulu," ucap Ceisya lirih.
Kaelthas tidak melepaskannya, ia justru menyeret Ceisya masuk ke dalam kamar tidur utama yang lebih aman dan membanting pintunya hingga terkunci rapat. Ia mendorong Ceisya ke dinding, mengurungnya dengan kedua tangan.
"Kau dengar apa yang dia katakan? Dia menginginkanmu! Dia jatuh cinta padamu!" Kaelthas berteriak dengan gairah yang bercampur amarah. "Hanya aku yang boleh memiliki hasrat padamu! Hanya aku!"
Tanpa menunggu jawaban, Kaelthas kembali menyerang bibir Ceisya dengan ciuman yang jauh lebih ganas dari sebelumnya. Ciuman ini penuh dengan rasa takut kehilangan dan klaim kepemilikan yang gila. Kaelthas melumat bibir Ceisya berkali-kali, menggigit kecil bibir bawahnya hingga Ceisya mengerang.
"Mmph... Kael... hentikan..." Ceisya mencoba memberontak, namun hasrat Kaelthas sudah mencapai puncaknya.
Kaelthas mencium leher Ceisya, meninggalkan tanda kemerahan di sana. "Kau istriku... kau milikku... raga ini, napas ini, semuanya miliku!" bisiknya di telinga Ceisya dengan suara yang sangat posesif dan penuh gairah.
Kaelthas mencium bibir Ceisya lagi, mengisap seluruh oksigen gadis itu hingga Ceisya merasa hampir pingsan karena gairah dan sesak napas.
Kaelthas mengangkat tubuh Ceisya dan menghempaskannya ke atas ranjang. Ia menindih tubuh kecil itu, menatap matanya dengan tatapan yang sangat haus. "Axton sudah menandai targetnya. Jadi malam ini, aku akan menandaimu lebih dalam agar pria mana pun tahu bahwa kau adalah wilayah terlarang."
Ceisya menatap suaminya dengan perasaan campur aduk. "Kaelthas... jangan begini..."
Kaelthas tidak peduli. Tangannya mulai membuka kancing kemejanya sendiri satu per satu sambil terus menatap Ceisya dengan tatapan predator. "Aku akan menjagamu dengan caraku sendiri, Nyonya Virelion. Dan cara itu dimulai dengan membuatmu tidak bisa berjalan besok pagi."
kok kejam amat
menarik banget alurnya 😃
seperti biasa kutunggu cerita tamat dulu baru ku baca