Demi cinta, Hanum menanggalkan kemewahan sebagai pewaris tunggal Sanjaya Group. Ia memilih hidup sederhana dan menyembunyikan identitas aslinya untuk mendampingi Johan, pria yang sangat membenci wanita kaya. Lima belas tahun lamanya Hanum berjuang dari nol, membangun bisnis otomotif hingga Johan mencapai puncak kesuksesan.
Namun, di tengah gelimang harta, Johan lupa daratan. Ia terjebak dalam perselingkuhan dengan sekretarisnya sendiri. Luka Hanum kian mendalam saat pengabdiannya merawat ibu mertua yang lumpuh justru dibalas pengkhianatan, sang ibu mertua malah mendukung perselingkuhan putranya.
Kini, demi masa depan si kembar Aliya dan Adiba, Hanum harus memilih,tetap bertahan dalam rumah tangga yang beracun, atau bangkit mengambil kembali tahta dan identitasnya sebagai "Sanjaya" yang sesungguhnya untuk menghancurkan mereka yang telah mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ambisi yang membutakan logika
Malam yang dijanjikan akhirnya tiba. Restoran The Grand tampak begitu eksklusif dengan pencahayaan temaram yang memancarkan kemewahan kelas atas. Johan datang dengan setelan jas terbaiknya, didampingi Monica yang tampil glamor dengan gaun hamil berbahan sutra, berusaha menonjolkan status barunya sebagai nyonya besar di hadapan relasi bisnis paling bergengsi di negeri ini.
Namun, di balik polesan riasan tebalnya, Monica tidak bisa menyembunyikan kegelisahan. Ia terus memperhatikan pintu masuk ruangan VVIP yang sudah dipesan khusus atas nama Sanjaya Group.
"Mas, aku pernah mendengar bahwa pimpinan Sanjaya Group itu pria yang dingin dan juga kejam. Kau hati-hati dengannya, entah kenapa aku memiliki firasat yang kurang baik," bisik Monica cemas, jemarinya meremas tas tangan bermerek miliknya.
Johan menoleh, ia justru tersenyum percaya diri dan menggenggam tangan Monica dengan erat.
"Kau itu terlalu mencemaskan ku, Sayang. Tenang saja, aku akan tetap waspada, tapi kau harus tahu, bekerjasama dengan Sanjaya Group adalah impianku sejak lama. Ini adalah jembatan bagiku untuk menjadi pengusaha yang jauh lebih sukses lagi. Kau tahu sendiri sendiri seberapa raksasanya kekuatan mereka, bukan?"
Monica hanya menunduk, sorot matanya sulit diartikan. Ada getaran aneh yang ia rasakan di ulu hatinya. "Maafkan aku, Mas. Mungkin aku terlalu berlebihan," ujarnya pelan.
Johan kembali tersenyum puas, merasa bangga karena memiliki istri yang begitu peduli dan mencemaskannya. Ia merasa hidupnya kini sempurna, jauh dari masa-masa sial saat ia masih bersama dengan Hanum.
Di luar ruangan, sebuah mobil sedan mewah berhenti tepat di depan lobi. Alvaro turun dengan gerakan yang tenang namun memancarkan aura dominasi yang kuat, di sampingnya, Asisten Adam berjalan dengan wajah yang datar, membawa koper berisi dokumen yang akan menjadi awal dari jeratan mereka.
Saat mereka melangkah menuju ruangan VVIP, Alvaro sempat berhenti sejenak di depan pintu kaca, Ia merapikan dasi sutranya, lalu sebuah senyum licik tersungging di bibirnya yang dingin.
"Kau siap, Adam?" tanya Alvaro pelan, matanya berkilat tajam.
"Siap, Tuan," jawab Adam singkat.
Begitu pintu terbuka, Alvaro melihat sosok Johan yang sedang tertawa kecil bersama wanita yang menjadi penyebab hancurnya rumah tangganya Hanum. Pemandangan itu membuat darah Alvaro mendidih, namun ia adalah ahli dalam menyembunyikan emosinya. Baginya, malam ini bukan tentang kerja sama, melainkan tentang meletakkan umpan di dalam perangkap.
Alvaro melangkah masuk dengan langkah yang berwibawa, memecah keheningan ruangan tersebut. Johan yang melihat kedatangan sosok tinggi tegap itu langsung berdiri dengan wajah berbinar dan penuh hormat.
"Selamat malam, Tuan Alvaro, suatu kehormatan besar bagi saya bisa bertemu langsung dengan Anda," ucap Johan sembari mengulurkan tangannya dengan penuh harap.
Alvaro menatap tangan Johan selama beberapa detik tanpa membalasnya, menciptakan suasana canggung yang mencekam, sebelum akhirnya ia menyambut uluran tangan itu dengan cengkeraman yang sangat kuat, seolah sedang meremukkan tangan pria yang telah menyakiti wanitanya.
"Selamat malam, Saudara Johan," sahut Alvaro dengan suara bariton yang berat dan dingin. "Mari kita lihat, seberapa hebat proposal yang kau banggakan itu."
Pertemuan yang akan menentukan nasib perusahaan Go Green itu pun dimulai, tepat di bawah kendali pria yang diam-diam telah bersumpah untuk menghancurkan segalanya.
Alvaro melepaskan jabatan tangannya dan segera mengusap telapak tangannya dengan sapu tangan kecil yang ia ambil dari saku jasnya, seolah-olah baru saja menyentuh sesuatu yang kotor. Tindakan itu dilakukan dengan sangat tenang, namun cukup untuk membuat Johan terpaku dengan wajah kikuk.
"Silakan duduk," ujar Alvaro pendek, suaranya sedingin es.
Johan segera duduk, berusaha menetralkan suasana. "Tuan Alvaro, perkenalkan ini istri saya, Monica. Dia yang selama ini menjadi pendukung utama di balik ide-ide segar perusahaan Go Green."
Monica tersenyum manis, berusaha memikat dengan pesonanya. "Selamat malam, Tuan Alvaro, suatu kehormatan bisa bertemu dengan legenda bisnis seperti Anda."
Alvaro hanya melirik Monica sekilas tanpa ekspresi, lalu beralih ke Asisten Adam yang segera membuka koper dan mengeluarkan draf kontrak.
"Kita tidak punya banyak waktu untuk basa-basi," potong Alvaro tajam. "Proposal mobil listrik mu cukup menarik. Aku sedang mencari mitra untuk pengadaan transportasi ramah lingkungan di resort baru milik Sanjaya Group di Bali. Namun, aku punya satu syarat mutlak."
Johan condong ke depan, matanya berbinar penuh ambisi. "Apapun syaratnya, Tuan, kami pasti akan memenuhinya."
"Aku ingin kontrak ini bersifat eksklusif. Seluruh aset produksi mobil listrik Go Green harus dijadikan jaminan sebagai bentuk komitmen jangka panjang. Jika dalam enam bulan target tidak tercapai, Sanjaya Group memiliki hak penuh untuk mengambil alih manajemen Go Green," jelas Alvaro sembari menatap tajam ke manik matanya Johan.
Johan tertegun sejenak, ia sampai menelan ludahnya, syarat itu sangat berisiko. Menjaminkan aset produksi berarti mempertaruhkan seluruh nyawa perusahaannya. Namun, bayangan keuntungan triliunan rupiah dan nama besar Sanjaya Group menutup logika sehatnya.
"Mas.... bukankah itu terlalu berisiko?" bisik Monica pelan, mencoba memperingatkan suaminya.
Namun Johan, yang sudah dibutakan oleh kesombongan, menepis tangan Monica di bawah meja. "Jangan khawatir, Sayang, ini adalah kesempatan sekali seumur hidup. Go Green tidak akan gagal."
Johan kembali menatap Alvaro dengan penuh keyakinan. "Saya setuju, Tuan Alvaro. Saya sangat yakin dengan kualitas produk kami. Saya akan menandatangani kontrak itu sekarang juga."
Alvaro menyandarkan punggungnya ke kursi, sebuah senyum kemenangan yang sangat tipis terukir di sudut bibirnya.
"Keputusan yang sangat berani, Saudara Johan, Adam, berikan penanya."
Saat Johan membubuhkan tanda tangannya di atas materai, ia merasa seolah sedang menuliskan namanya di daftar orang terkaya di negeri ini. Ia tidak tahu, bahwa di setiap goresan tinta itu, ia sebenarnya sedang menggali lubang kuburnya sendiri.
"Selamat, Johan. Kerjasama ini... akan menjadi sesuatu yang tidak akan pernah kau lupakan seumur hidupmu," ucap Alvaro dengan nada yang terdengar seperti ucapan selamat, namun di telinga Adam, itu terdengar seperti sebuah vonis.
Setelah Johan selesai menandatangani, Alvaro berdiri tanpa menyentuh makanan yang sudah dihidangkan.
"Makan malam ini aku yang bayar. Nikmatilah, karena mungkin ini adalah perayaan terakhirmu," ujar Alvaro misterius sebelum melangkah pergi meninggalkan ruangan VVIP tersebut diikuti oleh Adam.
Johan hanya bisa terpaku, merasa ada yang aneh dengan kalimat terakhir Alvaro, dan saat melihat punggung Alvaro yang semakin menjauh entah kenapa ia serasa tidak asing dengan sosok tubuh seperti itu, rasanya ia pernah melihatnya tapi entah dimana, Johan lupa bahwa ia pernah melihatnya saat Hanum datang menjemput kedua putrinya, namun ia segera menepisnya. Ia justru mengangkat gelas wine nya tinggi-tinggi ke arah Monica.
"Lihat Sayang? Aku bilang juga apa. Hanum itu memang pembawa sial. Begitu dia pergi, Sanjaya Group langsung datang meminang kita! Kita akan menjadi penguasa bisnis baru!" seru Johan penuh kemenangan, tanpa menyadari bahwa di luar sana, Alvaro sedang menelepon Hanum.
"Target sudah masuk perangkap, Num. Dia baru saja menyerahkan seluruh asetnya di atas kertas. Sekarang, tinggal menunggu waktu sampai kau yang datang untuk mengeksekusinya," lapor Alvaro melalui ponselnya dengan tatapan tajam ke arah langit malam.
Hanum tercekat dari atas tempat tidurnya, ia masih tidak percaya dengan perkataan dari kakaknya.
" kak, serius nih... Aku masih tidak percaya! " ujarnya sambil mencengkram erat ponselnya.
Bersambung...
2 dalam perahu,diluar malu padahal didalam hatinya mau, saking nyaman sama Alvaro,Hanum nggak sadar nyender ke Alvaro 🤔🤔🤔