Di balik tatapan dingin seorang Komandan Elite, tersimpan rasa rindu yang terpendam bertahun-tahun.
Saga Pratama Dirgantara menyimpan cinta rahasia untuk sang primadona sekolah, Renata Admajha, adik kelasnya saat SMA. Sosok Saga yang dingin, pendiam, dan tertutup membuatnya hanya berani mengagumi gadis itu dari jauh tanpa berani mengutarakan isi hati.
Hingga saat keberaniannya mulai muncul untuk menyatakan cinta, kabar mengejutkan justru datang menyambar. Sang pujaan hati ternyata telah dipinang oleh saingannya sendiri.
Mendengar hal itu, Sang Komandan patah hati sebelum sempat memiliki. Namun, sebagai lelaki terhormat, tak ada yang bisa ia lakukan selain mundur dengan teratur, mengubur perasaannya dalam-dalam, walau harus menelan pil pahit sendirian.
Namun, takdir cinta sang komandan punya rencana lain yang tak terduga.
Mampukah Saga menemukan Cintanya?
Mau tahu kisah selengkapnya yuk! langsung baca aja ya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 My elite lover
Mobil hitam legam mewah milik Saga melaju pelan meninggalkan area rumah sakit. Suasana di dalam kabin mobil terasa hangat dan tenang, jauh berbeda dengan suasana mencekam yang baru saja mereka tinggalkan beberapa menit yang lalu.
Rena duduk bersandar nyaman, wajahnya yang tadi sedikit pucat kini sudah kembali berseri. Ia memandang keluar jendela, menikmati pemandangan kota yang sibuk. Namun, matanya yang jeli tiba-tiba menangkap sesuatu yang menarik perhatiannya di pinggir jalan dekat sebuah taman kota yang asri.
"KAK SAGA! BERHENTI, CEPAT BERHENTI!" seru Rena tiba-tiba sambil menepuk-nepuk lengan Saga dengan cepat.
Saga yang sedang fokus menyetir langsung bereaksi cepat. Wajahnya yang tadi tenang seketika berubah waspada dan penuh kekhawatiran. Ia menginjak rem mendadak dan langsung menepikan mobil di pinggir jalan dengan sigap.
"Ada apa Ren?! Apa kamu merasa tidak enak badan?! Dimananya yang sakit!" tanya Saga cepat dengan nada cemas, tangannya langsung memeriksa wajah dan tubuh Rena memastikan wanitanya baik-baik saja.
Rena tertawa kecil melihat reaksi Saga yang begitu sigap dan khawatir padanya.
"Hahaha! Tidak ada apa-apa Kak! Tenang aja! Aku hanya .... lapar!" jawab Rena ceria sambil menunjuk ke arah gerobak-gerobak kecil di pinggir jalan. "Itu tuh! Aku mau batagor, sama seblak! Perutku tiba-tiba terasa lapar!"
Saga menghela napas panjang lega, dadanya terasa sedikit sesak tadi karena mengira sesuatu terjadi pada Rena. Ternyata ... hanya karena masalah perut yang minta jatah!
Wajah yang sedari tadi dipenuhi aura dingin dan mematikan kini perlahan luntur sepenuhnya, berganti dengan ekspresi lembut dan tak berdaya menghadapi kekasihnya. Mata tajamnya yang biasanya mengintimidasi siapa saja kini memancarkan kehangatan dan sedikit rasa gemas.
"Ya ampun ... kamu ini ya ... bikin jantung copot tahu! Kirain ada apa, ternyata cuma mau jajan," gumam Saga sambil menggelengkan kepala tak habis pikir, lalu keluar dari mobil dan dengan sigap membukakan pintu untuk Rena.
Mereka berjalan mendekati gerobak makanan yang berjejer di pinggir jalan. Rena terlihat sangat antusias, matanya berbinar-binar. Ia langsung memesan Batagor dan Seblak masing-masing tiga porsi!
"Bu! Seblak nya yang banyakin kerupuk dan makaroni ya! Dan Batagornya dengan saus level pedes!" seru Rena semangat.
"Tidak buatkan yang biasa, jangan pedes!" sela Saga cepat dan tegas.
Ibu penjual terdiam sejenak menatap pasangan di didepannya dengan bingung. "Jadi mau yang biasa aja atau pedes nih?"
"Pedes! Biasa!" seru keduanya berbarengan.
"Ih! Kak Saga! kalau seblak biasa aja mana enak! Aku mau yang pedes pokoknya!" protes Rena tak mau kalah dengan wajah cemberutnya sambil melipat kedua tangannya di dada.
Saga yang melihat wanitanya merajuk akhirnya mengalah. "Buatkan yang pedes tapi jagan terlalu pedes ya!"
"Baiklah di tunggu sebentar ya!" ujar ibu penjual dengan tersenyum geli melihat kelakuan pasangan tampan dan cantik di hadapannya.
Saat hendak membayar, Rena menoleh ke arah Saga, lalu mengulurkan kedua telapak tangannya ke depan wajah Saga dengan pose sangat lucu dan menggemaskan.
"Kak! " panggilnya lembut.
Saga menatap tangan kecil itu dengan menautkan kedua alisnya, lalu menatap wajah Rena.
"Kenapa sayang? Tangan kamu kesemutan?" tanya Saga polos sambil mau memijat tangan Rena.
"Ih bukan! Aku mau minta duit buat bayar! Ih Kak Saga ini pura-pura nggak ngerti deh!" Rena mendengus kesal tapi wajahnya memerah.
"Hmm! Kirain kesemutan!" Saga terkekeh lalu dengan sigap mengambil dompetnya lalu meletakkan di atas tangan Rena. Rena tersenyum lebar ia gegas membuka dompetnya dan mengambil dua lembar uang berwarna merah dan menyerahkan kepada ibu penjual. "Nih Bu! Kembaliannya ambil aja!" ucap Rena santai lalu menyerahkan kembali dompet Saga.
"Tapi Neng! Ini kebanyakan!"
"Ambil aja Bu! Itu rejeki Ibu!" jawab Rena sambil tersenyum tulus.
"Ternyata kamu tak hanya cantik! Tapi juga punya hati yang tulus!" batin Saga penuh kagum.
"Kalau gitu terima kasih banyak neng! Ibu doain semoga kalian berdua bahagia dan langgeng terus sampai tua ya!"
Saga dan Rena saling pandang lalu tersenyum. "Amin!" sahut keduanya lalu gegas melangkah ke arah bangku taman yang kosong tak jauh dari mereka berdiri.
Rena langsung membuka bungkusan pesanannya satu persatu lalu tanpa ragu segera memakannya dengan lahap tanpa mempedulikan tatapan heran Saga yang kini sudah duduk di sampingnya.
"Banyak bangat! Itu habis di makan semua!" tanya Saga sambil geleng-geleng kepala melihat tumpukan Seblak dan Batagor di hadapan Rena. "Jangan-jangan di lambung kamu ada dimensi lain ya? Makanya bisa nampung makanan sebanyak itu!"
"Hehe! Tenang aja, perut aku punya banyak tempat buat nampung makanan enak!" jawab Rena dengan mulut penuh makan.
Saga yang sejak lahir di kalangan elit tentu saja tidak pernah sekalipun menyentuh jajan pinggir jalan seperti ini, ia merasa penasaran.
"Emangnya seenak apa sih?" tanya Saga tiba-tiba dengan penasarannya.
Mendengar itu Rena langsung mendongak. "Pakai di tanya, ini enak banget tau! Coba deh Batagornya, terus dicelup sausnya!" suruh Rena gemas sambil mengambilkan satu potong Batagor dan menyodorkan arah ke mulut Saga.
Dengan ragu sedikit, Saga membuka mulutnya dan menerima suapan itu. Ia mengunyah perlahan, dan matanya seketika berbinar.
"Wah ... ternyata enak juga ya! Gurih gitu," ucap Saga terkejut.
"Kan! Aku bilang juga apa!" Rena tersenyum bangga.
Namun, siapa sangka sang Komandan elit yang biasanya dingin dan cuek ini ternyata ketagihan sama jajanan pinggir jalan juga.
Saga ikutan makan! Bahkan tangannya sendiri mengambil Batagor dan Seblak itu dengan antusiasnya.
"Hei! Hei! Itu punya aku Kak! Jangan dihabisin!" protes Rena dengan wajah cemberut melihat makanannya makin menipis.
"Hehe ... enak soalnya. Lagian ini kuahnya pedas, tidak baik buat lambung kamu kalau makan terlalu banyak. Biar aku bantu habiskan sisanya, jadi kamu nggak akan sakit perut nanti! Aku kan sayang sama kamu, makanya aku rela berkorban begini," jawab Saga santai sambil nyengir lebar tanpa dosa, matanya berkilat jenaka dan jahil.
"Ih! Alasan aja nih orang! Paling juga kamu yang doyan banget makannya!" Rena mencibir manyun sambil memukul pelan lengan Saga yang makin lahap.
Saga tersenyum lembut, lalu mengusap lembut puncak kepala Rena dengan penuh kasih sayang.
"Tenang aja, nanti kita beli lagi. Kapan-kapan kita coba jajanan lainnya ya? Semua yang kamu suka, akan aku temani dan coba," bisik Saga dengan nada sangat romantis.
Rena tersenyum lebar, wajahnya memerah menahan rasa malu dan bahagia yang meluap. Mereka pun tertawa bersama, menikmati kebersamaan itu dengan penuh kehangatan dan kebahagiaan sederhana yang terasa begitu berharga.
Bersambung ...