Maharani, gadis manis tapi pemalu yang menyukai seorang laki-laki anak kepala desa yang tampan bernama Andrean.
cinta yang tulus tapi dibalas oleh sebuah kejahatan.
maharani hanya menuntut tanggung jawab, tapi dia dijebak, lalu di rud*p*ksa oleh Andrean bersama dua rekannya.
maharani di tolong oleh seroang nenek yang kemudian memberinya ilmu kanuragan untuk balas dendam pada orang-orang yang menyakitinya.
akankah para pelaku ditangkap atau berakhir tragis, yuk simak kisahnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mulai terkuak
Malam ini suasana desa Lestari agak berbeda dari biasanya.
Suara burung hantu saling bersahutan dengan suara burung gagak yang bertengger di dahan-dahan pohon rumah warga.
Aroma melati dan kenanga semakin kuat merebak.
Ketakutan terpancar jelas dimata setiap orang-orang yang ada didesa tersebut.
Ditempat lain....
"Mbah... Apa tidak sebaiknya kita membantu dua orang tadi yang datang?" tanya Tarjo saat ia duduk disisi Mbah Kromo yang duduk bersila dan memejamkan mata.
"Tidak Tarjo...!! Dia bukan lagi manusia biasa. Jiwa raganya telah jadi pengabdi raja iblis. Raja segala dedemit. Saya tidak mampu jika harus berurusan dengannya" tutur mbah Kromo.
"Dia melakukan itu karena dendam. Dendam pada orang-orang yang menyakitinya terutama pada laki-laki itu.... Laki-laki yang tidak bertanggungjawab" tambah mbah Kromo lagi.
"Kasian sekali nasibnya..." lirih Tarjo.
Angin malam bertiup semakin dingin.
Lampu teplok yang bertengger di setiap tiang rumah mbah Kromo mendadak padam.
Brak....!!!
Pintu rumah mbah Kromo terbuka lebar dan menimbulkan suara gaduh.
Mbah Kromo masih duduk tenang di tempatnya, namun berbeda dengan Tarjo yang meringsek mundur kebelakang punggung mbah Kromo.
Tarjo menggigil ketakutan. Bertahun-tahun ikut dengan mbah Kromo membuatnya tahu akan kedatangan tamu yang tak biasa.
Dan feeling Tarjo benar. Tapi sosok yang kini berdiri dihadapannya belum pernah ia lihat sebelumnya.
"Selamat datang Maharani" sambut mbah Kromo ramah pada tamunya.
Perempuan itu hanya terkekeh kecil.
"Tidak usah basa-basi Kromo...! Aku kemari hanya ingin memperingatkanmu untuk tidak ikut campur urusanku kakek tua!" imbuh Maharani.
"Aku tidak akan ikut campur karena itu bukan wewenangku..." sahut mbah Kromo tegas.
"Adik dan ibumu datang kemari dan meminta bantuanku untuk mencarimu.... Hanya itu tak lebih. Tapi aku menolak!"
Bola mata Rani terlihat bergetar kala mendengar kata itu.
Adiknya Bagas dan bu Sukma ibunya datang meminta bantuan dukun untuk mencarinya.
Sisi jiwa manusia Rani yang terkubur mulai bergolak.
Ada rindu disudut hatinya.
Perubahan itu tak luput dari perhatian mbah Kromo.
Namun secepat kilat pacaran mata rindu kembali pada semula yaitu dendam dan amarah.
"Kau diamlah kakek tua! Dan jangan pernah sekali-kali kau ikut campur urusanku jika tidak ingin celaka!" sebuah peringatan meluncur dari bibir Rani dan mbah Kromo paham akan hal itu.
Rani bukan tandingannya karena perempuan itu dibawah pelindungan raja iblis yang terkenal sakti mandraguna.
Siapapun manusia yang menjual jiwanya pada raja iblis pasti akan dijamin kemampuannya akan berkali-kali lipat dan tumbal yang diminta juga tidak main-main.
Bisa-bisa nyawa sendiripun atau garis keturunan ikut jadi taruhannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Suasana pemakaman Meri berlangsung mengharu-biru.
Isak tangis keluarga mengiringi pemakaman putri satu-satunya juragan Kardi.
Andre juga ikut mengantar kepergian istrinya.
Laki-laki itu telah dibebaskan karena tak ada bukti yang mengarah padanya.
Pihak penyidik kelimpungan mengungkap bukti karena ini sedikit tidak masuk akal.
Wajah Andre cukup tenang bagi orang yang baru saja kehilangan calon bayi beserta istrinya.
Bahkan juragan Kardi tak sudi jika Andre ikut mengantar jenazah Meri ke peristirahatan terakhirnya.
Matanya masih menyimpan amarah pada menantunya itu.
Bisik-bisik mengiringi pemakaman Meri yang sedikt terlambat karena harus di otopsi sesuai permintaan keluarga.
Banyak spekulasi yang beredar dan itu mengarah pada hal mistis.
"Bos... Ayo kita pulang" bisik Nonok yang setia mendampingi Andre sejak laki-laki itu keluar dari kantor polisi.
Andre mengangguk kecil.
Dia membenarkan letak kacamata hitamnya.
Dengan acuh Andre melewati mertuanya tanpa tegur sapa sedikitpun.
Rupanya laki-laki itu masih dendam karena tuduhan tak mendasar padanya.
"Tunggu!!" suara juragan Kardi menghentikan langkah Andre.
Juragan Kardi mendekat.
"Kau jangan senang dulu... Aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang setelah ini!" ucap juragan Kardi berbisik pada Andre.
Kali ini tak ada pancaran ketakutan dimata Andre. Matanya menggelap.
Ada emosi disana namun ditahan karena sebuah nama baik.
Tanpa menyahut, Andre kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.
Keningnya berkerut.
Matanya menangkap siluet yang ia kenali.
"Perempuan itu?" batinnya.
"Bos... Ada apa?" tanya Nonok ikut penasaran.
"Tidak! Ayo pulang!" sahut Andre.
Keduanya meninggalkan area pemakaman.
Disudut lain, Maharani terus berdiri di sisi pohon beringin.
Matanya menyorot tajam siapapun yang datang kepemakaman.
Tatapan itu semakin tajam ketika tertuju pada dua laki-laki yang berjalan meninggalkan area makam.
Rani sangat hafal pada dua orang tersebut.
Laki-laki yang telah menghancurkan hidupnya dan menghilangkan bayinya.
Kedua tangannya mengepal kuat.
Gemertak gigi beradu.
Angin bertiup kencang hingga membuat dedaunan bergerak riuh.
Orang-orang yang tadinya tenang mulai gaduh dan berlarian meninggalkan area makam.
"Andrean...." satu nama terucap dibibir Rani.
Dendamnya semakin membuncah didada.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Hhaaaahhh.... Andreee....." desis suara dua pasangan manusia berpacu dalam riuhnya suasana kamar yang temaram.
Andre sedang berayun diatas tubuh seorang perempuan.
"Lira... kamu begitu manis.... aku suka...." racau Andre.
"Haaaahhhhh.... Please.... lebih cepat... " rengeknya meminta.
Andre tersenyum senang. Gerakannya semakin liar.
Peluh membasahi keduanya.
Seprai putih itu sudah tak beraturan letaknya.
"Aaaahhhhhh...." suara parau Andre mengakhiri permainan panas ini.
Dia terkulai lemah di sisi perempuannya.
"Kamu memang yang terbaik...." ucapnya setelah mengecup puncak kepala Lira.
Gadis itu menyandarkan kepalanya diatas dada bidang Andre.
"Harusnya kamu masih dirumah karena kondisimu yang masih berduka... " ujarnya sambil membuat pola absurd didada Andre.
"Kenapa harus...? Aku sudah muak berpura-pura jadi menantu yang baik..."
Lira mendongak.
"Lalu kenapa kamu mau menikahi Meri waktu itu? Bukankah kamu bilang cinta sama perempuan lain.." heran Lira.
"Karena dia terus mendesakku... Dia mengancam akan membongkar hubunganku dengan Rani jika aku tidak menikahinya... Tapi sekarang Meri telah meninggal, sementara Rani hilang tanpa jejak. Sekarang aku bebas melakukan apapun yang aku mau termasuk bertemu denganmu" Andre lalu mengecup kepala Lira.
Kegiatan panas itu kembali terulang.
Lira tahu ini salah karena dia telah menjadi selingkuhan pria beristri. Tapi rasa cintanya kepada Andre tak bisa ia pungkiri. Logikanya kalah hanya dengan satu kata yaitu 'cinta'.
Melihat Andre menikah dengan Meri membuat hatinya terbakar cemburu. Ditambah dulu Andre yang selalu diam-diam sering bermain dengan Rani diruang kerja laki-laki itu. Ruangan yang juga jadi tempat bermain dirinya bersama Andre.
Sekarang semua perempuan itu telah hilang dan hanya tersisa Lira seorang yang kini berada disisi Andre.
Lira tersenyum ketika Andre menghujamnya lebih dalam.
Kuku-kukunya menekan punggung Andre yang penuh dengan keringat.
Laki-laki ini memiliki nilai lebih dalam segala hal termasuk urusan ranjang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dirumah juragan Kardi.
Prang....!!!!
Vas bunga baru saja menghantam dinding dan pecah berkeping-keping.
Raut paruh baya itu memancarkan amarah.
Seorang pria berpakaian serba hitam berdiri tepat dihadapannya.
Mbah Kromo baru saja diminta datang kerumah kediaman juragan Kardi.
Pria tua yang dikenal sebagai dukun sakti itu sedang diminta petunjuknya.
Sesuai janji yang telah diucapkan, mbah Kardi menolah menerima tawaran juragan Kardi.
"Satu-satunya yang bertanggungjawab atas semua kejadian di kampung ini adalah menantumu...." tegas mbah Kromo tetap dengan raut tenangnya.
"Mendiang putrimu dan juga menantumu punya andil besar atas kekacauan ini" sambung mbah Kromo lagi.
"Jaga ucapanmu tua b*ngka!" hardik juragan Kardi tak terima putrinya disalahkan.
"Terserah kau mau murka atau apapun. Tapi apa yang aku ucapkan adalah benar adanya..."
Mbah Kromo diam sejenak.
"Mendiang putrimu semasa hidupnya sering sekali mengusik hidup orang lain terutama yang lemah. Kekayaan dan kekuasan orangtuanya lah yang membuat dia manja dan bisa bersikap seenaknya. Sedangkan menantumu....." Mbah Kromo menggeleng lemah. Ada raut kecewa di pancaran matanya.
"Dia jauh lebih kejam dibalik wajahnya yang tenang... Bahkan sudah terlalu banyak gadis-gadis yang telah jadi korbannya dan yang terkahir adalah sebuah kesalahan fatal baginya. Perempuan itu menuntut balas atas semua yang dilakukan menantu mu itu....!" sambung mbah Kromo.
Tangan juragan Kardi mengepal.
"Andrean....!" desisnya.
Bersambung....