Nala hanya ingin memulai hidup baru, bukan malah terjebak satu atap dengan Saga—arsitek dingin yang memperlakukan apartemennya seperti museum suci. Akibat ditipu agen properti, keduanya terpaksa berbagi unit 402 dengan satu garis imajiner sebagai batas perang.
Nala yang berantakan adalah "polusi" bagi hidup Saga yang simetris. Mereka saling benci, saling mengusir, namun dipaksa bernapas di ruang yang sama setiap hari. Tapi, saat jarak hanya sebatas dinding tipis dan rahasia mulai bocor, garis pembatas itu tak lagi cukup untuk menahan debaran yang salah alamat.
Di Unit 402, aturan nomor satu sangat jelas: Jangan sampai jatuh cinta. Tapi di antara mereka, siapa yang akan melanggar kontrak itu lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6. Denting Meja Makan
Suasana ruang makan kediaman Adiputra malam itu terasa seperti museum yang terlalu sunyi. Di bawah lampu gantung kristal yang megah, piring-piring porselen tertata dengan simetri yang mungkin akan membuat Saga bangga jika saja ia tidak sedang dalam mode siaga satu.
Di depan Nala, duduk Clarissa. Wanita itu tampak sangat anggun dengan gaun putihnya, menyesap sup consommé dengan gerakan yang sangat terlatih. Ia menatap Nala dengan senyum tipis yang tampak tulus, namun matanya memancarkan rasa ingin tahu yang mematikan.
"Nala," panggil Clarissa lembut, suaranya seperti melodi yang manis.
"Saga cerita kamu juga punya ketertarikan di dunia interior. Kebetulan sekali, aku sedang menangani proyek vila di Bali dengan konsep Open-Space Tropical. Menurutmu, bagaimana cara menjaga privasi penghuni tanpa harus merusak aliran udara dan pemandangan luar?"
Saga menegang, jemarinya mengepal di bawah meja. Namun, Nala justru meletakkan sendoknya dengan tenang. Ia teringat kembali pada hari-harinya di kampus dulu, tempat ia belajar bahwa desain bukan soal kemewahan, tapi soal solusi.
"Sebenarnya sederhana, Clarissa," jawab Nala kalem.
"Kamu bisa pakai teknik secondary skin atau kisi-kisi kayu vertikal. Itu bisa menyaring pandangan dari luar tapi udara tetap bebas masuk. Atau kalau mau lebih alami, gunakan landscaping bertingkat sebagai pagar hidup. Bagi saya, privasi itu soal batasan rasa, bukan soal membangun tembok tinggi yang bikin rumah jadi kayak penjara."
Clarissa sedikit terkejut. Jawaban Nala sangat teknis namun tetap memiliki sentuhan estetika yang masuk akal.
Bu Sofia yang sejak tadi menyimak, mulai merasa tertarik. "Jawaban yang menarik, Nala. Mama baru tahu kamu paham teknis seperti itu. Omong-omong, kamu lulusan mana? Dan sekarang sedang bergabung di firma arsitektur apa? Mama rasa Saga belum sempat cerita detailnya."
Saga baru saja hendak membuka mulut untuk berbohong, tapi Nala lebih cepat. Sesuai janjinya pada diri sendiri, ia tidak akan membangun benteng kebohongan.
"Saya lulusan universitas lokal di daerah, Tante. Bukan universitas ternama," jawab Nala jujur, menatap Bu Sofia tepat di matanya.
"Dan saat ini saya sedang tidak bergabung di firma mana pun. Saya sedang membangun portofolio mandiri sebagai desainer freelance."
Seketika, raut wajah Bu Sofia berubah. Senyum tipisnya menghilang, digantikan oleh garis bibir yang mengeras. Ia meletakkan garpunya dengan suara denting yang cukup keras di atas piring.
"Lulusan lokal? Dan freelance?" Bu Sofia mengulang kalimat itu seolah-olah itu adalah kata-kata kotor. Ia kemudian melirik Clarissa dengan bangga.
"Berbeda sekali dengan Clarissa, ya. Clarissa ini lulusan terbaik dari London, dan sekarang dia sudah memimpin tim kreatif di firma internasional. Memang, standar pendidikan dan lingkungan itu tidak bisa berbohong, Saga."
Suasana mendadak menjadi sangat dingin. Clarissa hanya tersenyum sopan, mencoba terlihat rendah hati padahal hatinya sedang bersorak.
Nala menarik napas panjang. Ia tidak marah, ia justru merasa kasihan.
"Mungkin benar, Tante. Clarissa punya latar belakang yang sangat luar biasa. Tapi bagi saya, desain itu soal bagaimana kita memahami manusia, bukan cuma soal di mana kita kuliah. Sepatu mahal memang terlihat bagus, tapi kalau nggak nyaman dipakai jalan, buat apa?"
"Maksud kamu?" tanya Bu Sofia dengan nada tidak suka.
"Maksud saya, Tante... Clarissa mungkin jago bikin gedung yang terlihat megah di majalah, tapi saya lebih jago bikin rumah yang bikin orang nggak mau keluar karena merasa sangat dicintai oleh ruangannya. Gengsi itu bisa dibeli, tapi 'nyawa' sebuah rumah itu harus dirasakan," balas Nala dengan senyum yang sangat berkelas namun mengandung sindiran halus.
Tiba-tiba, suara tawa yang sangat renyah pecah dari arah pintu masuk ruang makan.
"Hahaha! Luar biasa! Baru kali ini ada yang berani bilang Sofia cuma pamer gengsi di rumahnya sendiri!"
Seorang wanita tua dengan kebaya encim motif bunga yang ceria masuk sambil bertepuk tangan kecil. Beliau adalah Eyang Utari, nenek Saga.
"Eyang!" Saga segera bangkit mencium tangan neneknya. Nala pun mengikuti dengan gerakan refleks yang sangat sopan dan hangat.
Eyang Utari menatap Nala dengan mata yang berbinar jenaka. "Kamu Nala, kan? Eyang suka jawaban kamu! Sofia, Clarissa... kalian ini dari tadi bahas gelar mulu. Pusing Eyang dengernya. Nala benar, rumah itu soal rasa! Percuma kuliah di London kalau nggak bisa bikin rumah yang hangat buat suaminya nanti!"
Eyang Utari duduk di samping Nala dan menepuk tangannya dengan sayang. "Saga, kamu pinter cari pacar. Nala ini punya apa yang nggak dipunya kalian: Keberanian buat jadi diri sendiri."
Bu Sofia hanya bisa terdiam dengan wajah masam, sementara Clarissa mencoba tetap tersenyum meski tangannya memegang gelas wine dengan sangat kencang.
"Eyang," bisik Nala pelan. "Makasih ya."
"Nggak usah makasih," Eyang Utari mengedipkan sebelah matanya.
Makan malam pun berlanjut dengan nuansa yang sangat berbeda. Eyang Utari terus-menerus mengajak Nala bercanda, dan Nala dengan kecerdasan alaminya mampu mengimbangi pembicaraan berat tentang arsitektur sekaligus melontarkan humor segar yang membuat suasana menjadi sangat hangat.
Bahkan Tante Sofia, meski masih terlihat kaku, beberapa kali terlihat mengangguk setuju dengan pendapat Nala.
Clarissa, yang merasa kehadirannya mulai seperti "angin lewat", hanya bisa terdiam. Ia menyadari bahwa pesonanya tidak lagi mampu mengalihkan perhatian Saga maupun Eyang Utari dari Nala.
"Nala," bisik Eyang Utari saat makan malam hampir usai.
"Kapan-kapan main ke rumah Eyang ya. Ceritakan sama Eyang, gimana caranya kamu bisa tahan sama Saga yang kaku kayak kanebo kering ini. Eyang yakin kamu punya rahasia yang bikin dia mau bawa kamu ke sini, ya kan?"
Nala hanya bisa menyeringai kecil ke arah Saga yang tampak mulai bisa bernapas lega.
Begitu mereka keluar dari rumah besar itu, Clarissa sempat menghampiri Nala di parkiran.
Namun, kali ini ia tidak punya kartu AS. Ia hanya menatap Nala dengan kesal.
"Jangan pikir kamu sudah menang, Nala. Keluarga ini punya standar yang sangat tinggi," ujar Clarissa sinis.
Nala berbalik, menatap Clarissa dengan senyum tenang.
"Standar saya adalah kebahagiaan Saga, Clarissa. Dan sepertinya, malam ini dia terlihat jauh lebih bahagia daripada saat dia membicarakan proyeknya denganmu. Permisi."
Nala masuk ke mobil dengan kepala tegak. Di dalam mobil, Saga menatap Nala cukup lama sebelum menyalakan mesin.
"Kenapa, Mas?" tanya Nala heran.
Saga tersenyum tipis—kali ini benar-benar senyuman yang sampai ke matanya. "Nggak. Saya cuma mikir... jawaban kamu soal 'sepatu mahal' tadi benar-benar keren."
Saga tertawa kecil, suara tawa yang jarang sekali terdengar. "Oke, sandiwara malam ini sukses besar. Sebagai hadiah, wilayah kamu saya tambah satu ubin lagi ke arah TV."
"Asyik! Mas Saga emang terbaik kalau lagi waras!" seru Nala kegirangan.
Clarissa resmi "kalah" dalam ronde ini dan memutuskan kembali ke London karena merasa tidak dihargai. Namun, tantangan baru muncul di Unit 402.
Tante Sofia tiba-tiba datang tanpa kabar ke apartemen Saga untuk "melihat lebih dekat" bagaimana Nala dan Saga menjalani hubungan mereka.