Pernikahan tanpa cinta adalah impian Alya, atau setidaknya itu yang dia pikirkan. Namun, apa yang akan terjadi jika suaminya menyimpan rahasia tentang dirinya sejak awal? Alya tidak terduga bahwa suaminya, Raka Pratama, adalah seorang yang dingin, berkuasa, dan tidak terlalu terbuka. Mereka menikah dengan kontrak, tapi dengan satu syarat yang tidak biasa: jangan pernah jatuh cinta. Apakah Alya dapat memenuhi syarat itu, ataukah cinta akan menghancurkan kontrak pernikahan mereka?
Ketika kebohongan berlangsung terus-menerus, batas antara apa yang palsu dan apa yang nyata mulai kabur. Alya harus menghadapi keputusan sulit: mempertahankan kebohongan yang telah ia jalankan atau meninggalkan pria yang telah berhasil memenangkan hatinya. Pernikahan ini tampaknya telah terjadwal dengan baik, tetapi ada satu hal yang tidak termasuk dalam kontrak: perasaan yang sebenarnya. Sekarang, Alya harus memilih antara kebenaran dan kebahagiaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 – Terlalu Peduli
Lorong rumah sakit terasa jauh lebih sepi setelah Dimas pergi.
Namun suasana antara Alya dan Raka justru makin tidak tenang.
Alya masih menatap pria di depannya, jantungnya berdetak sedikit terlalu cepat.
Karena untuk pertama kalinya—
Ia benar-benar yakin.
Raka cemburu.
Dan pria itu bahkan tidak bisa menyembunyikannya dengan baik.
“Kamu marah ya?” tanya Alya hati-hati.
Raka langsung menatapnya datar.
“Tidak.”
Jawaban yang terlalu cepat.
Alya hampir saja tertawa.
“Kamu tahu nggak,” katanya pelan sambil melipat tangan, “kalau ekspresi wajahmu itu gampang sekali terbaca saat kesal?”
“Saya tidak kesal.”
“Kamu bahkan bicara seperti sedang menginterogasi tadi.”
Tatapan Raka berubah sedikit lebih tajam.
“Dia terlalu dekat dengan Anda.”
Nah.
Itu dia.
Kalimat yang sejak tadi disimpannya itu akhirnya keluar juga.
Alya menggigit bibirnya pelan, menahan senyum kecil yang hampir muncul.
“Jadi kamu memang cemburu.”
“Saya hanya tidak suka caranya memandang Anda.”
Nada suara Raka tetap tenang.
Namun justru itu yang membuat Alya makin yakin.
Karena pria ini selalu bicara terlalu formal saat mencoba menyembunyikan sesuatu.
“Apa bedanya?” goda Alya pelan.
Hening beberapa detik.
Tatapan Raka tidak beranjak sedikit pun dari wajahnya.
Lalu pria itu berkata rendah—
“Bedanya, saya masih bisa mengendalikan diri.”
Jantung Alya langsung berdetak lebih keras.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun ada sesuatu dalam ucapan Raka yang membuat suasana langsung berubah.
Lebih berat.
Lebih intim.
Dan Alya mendadak menyadari satu hal—
Kalau pria ini berhenti menahan diri…
Ia mungkin benar-benar dalam bahaya.
“Menurutku kita harus kembali ke kamar ibu,” katanya cepat sambil memalingkan wajah.
Karena kalau terus berdiri di sini, ia takut dirinya sendiri yang akan kehilangan kendali duluan.
Namun saat Alya baru hendak berjalan—
Tangan Raka tiba-tiba menggenggam pergelangan tangannya lagi.
Secara refleks Alya terdiam.
Jantungnya langsung melonjak kecil.
Sentuhan itu lembut.
Tapi cukup membuat pikirannya kacau.
“Alya.”
Nada suara pria itu lebih rendah sekarang.
“Apa?”
Tatapan Raka turun sedikit ke wajahnya.
Dan lagi-lagi—
Jarak mereka terasa terlalu dekat.
“Saya serius tentang semalam.”
Napas Alya langsung tertahan.
Pria ini benar-benar tidak memberinya waktu untuk bernapas.
“Raka…”
“Saya tidak tahu kapan semuanya berubah.” Tatapannya tetap tenang, tapi jauh lebih jujur dibanding biasanya. “Tapi sekarang saya mulai sulit menganggap semua ini sebatas kontrak.”
Jantung Alya terasa sesak.
Karena ia juga merasakan hal yang sama.
Dan itu justru yang paling menakutkan.
“Aku…” Alya menelan ludah pelan. “Aku tidak ingin semuanya jadi rumit.”
“Sudah terlambat.”
Kalimat itu keluar hampir seperti bisikan.
Dan Alya benar-benar kehilangan kata-kata.
Suasana di antara mereka nyaris kembali berbahaya—
Sampai suara langkah kaki perawat terdengar mendekat.
Keduanya langsung sedikit menjauh secara refleks.
Alya buru-buru menarik napas panjang.
“Oke,” gumamnya gugup. “Kita benar-benar harus kembali sekarang.”
Kali ini Raka membiarkannya pergi lebih dulu.
Namun tatapan pria itu tetap mengikuti Alya sampai mereka kembali ke ruang rawat.
Dan sepanjang perjalanan—
Detak jantung Alya belum juga normal.
---
Beberapa hari berikutnya berlangsung lebih tenang.
Kondisi ibunya semakin membaik, dan dokter mulai membicarakan kemungkinan pulang minggu depan.
Namun justru itu membuat Alya memiliki lebih banyak waktu untuk memikirkan hal lain.
Tentang dirinya dan Raka.
Tentang perubahan kecil yang terus terjadi di antara mereka.
Tentang bagaimana pria itu sekarang mulai terbiasa menunggunya makan.
Atau tanpa sadar menyentuh punggung Alya saat berjalan di tempat ramai.
Hal-hal kecil.
Namun terlalu nyata untuk disebut pura-pura.
Dan yang paling mengganggu—
Alya mulai menikmati semuanya.
Malam itu, Alya sedang duduk di ruang tengah mansion sambil membaca sesuatu di tablet ketika Raka akhirnya pulang dari kantor.
Pria itu terlihat lelah.
Dasinya sedikit longgar, rambutnya sedikit berantakan.
Dan entah kenapa—
Versi Raka seperti ini justru lebih berbahaya.
“Kamu baru pulang?” tanya Alya.
Raka mengangguk kecil sambil melepas jasnya.
“Meeting.”
“Menurutku orang sekaya kamu bisa hidup santai.”
“Saya juga ingin.”
Alya tertawa kecil.
Itu mungkin salah satu jawaban paling manusiawi yang pernah keluar dari mulut pria itu.
Raka berjalan mendekat lalu duduk di sofa seberangnya.
Dan lagi-lagi—
Suasana nyaman itu muncul begitu saja.
Tanpa dipaksa.
“Ada masalah?” tanya Alya pelan setelah memperhatikan wajah pria itu lebih lama.
Raka terdiam sesaat.
Lalu mengembuskan napas pendek.
“Vanessa kembali menghubungi saya.”
Nama itu langsung membuat senyum Alya sedikit memudar.
Meski ia berusaha menyembunyikannya.
“Oh.”
Tatapan Raka langsung menyadari perubahan kecil itu.
“Apa?”
“Tidak apa-apa.”
“Kamu terlihat kesal.”
“Aku tidak kesal.”
Kini giliran Raka yang hampir tersenyum tipis.
“Sekarang kamu terdengar seperti saya.”
Alya langsung mendengus kecil.
Menyebalkan.
“Dia mau apa?”
“Tidak penting.”
Namun Alya justru semakin penasaran.
Dan entah kenapa—
Ada rasa tidak nyaman kecil muncul di dadanya.
“Kalian dulu benar-benar serius ya?” tanyanya pelan tanpa sadar.
Tatapan Raka langsung tertuju padanya.
Hening sesaat.
“Ya.”
Jawaban jujur itu membuat Alya sedikit menunduk.
Meski ia sudah tahu jawabannya, mendengarnya langsung tetap terasa aneh.
“Apa kamu pernah mencintainya?”
Pertanyaan itu keluar lebih pelan.
Dan kali ini Raka benar-benar diam cukup lama.
“Alya.”
“Tidak apa-apa kalau tidak ingin menjawab.”
“Saya pernah mencoba.”
Kalimat itu terasa seperti sesuatu yang menusuk pelan.
Mencoba.
Berarti tidak benar-benar berhasil?
Namun tetap saja—
Ada bagian dari hidup Raka yang tidak pernah melibatkan dirinya.
Dan tiba-tiba saja Alya merasa sangat kecil di dunia pria itu.
“Kenapa kalian batal menikah?” tanyanya lagi, meski sebagian dirinya tidak yakin ingin tahu jawabannya.
Tatapan Raka berubah sedikit lebih dingin.
“Karena kami menginginkan hal berbeda.”
“Apa maksudnya?”
“Dia lebih memilih ambisi dibanding hubungan.”
Nada suaranya tetap tenang.
Namun Alya bisa merasakan sesuatu di baliknya.
Kekecewaan lama.
“Menurutku…” Alya tersenyum kecil, “kamu juga cukup ambisius.”
“Saya tidak pernah meninggalkan seseorang untuk itu.”
Jawaban cepat itu membuat Alya terdiam.
Dan sebelum suasana berubah terlalu serius, ponsel Alya tiba-tiba berdering.
Nama yang muncul di layar membuat ekspresinya berubah sedikit terkejut.
Dimas.
Raka langsung melihat perubahan itu.
Tatapannya perlahan turun ke layar ponsel Alya.
Dan udara di ruang tengah mansion itu kembali berubah.
Dingin.
Pelan.
Berbahaya.