Ilyar Justina dijatuhi hukuman pengasingan setelah dituduh merencanakan pembunuhan terhadap ayahnya sendiri, Raja Tyraven. Ia dikirim ke Dakrossa—penjara paling kejam di Kekaisaran Eldrath, tempat para penjahat paling berbahaya dibuang. Semua orang yakin gadis lemah lembut yang bahkan tak bisa bertarung itu tak akan bertahan lama di sana.
Namun, tahun-tahun berlalu, dan Ilyar kembali. Bukan sebagai sosok yang sama, melainkan seseorang dengan aura dingin dan kegilaan yang mengendap di balik senyumnya. Di hadapan saudara-saudaranya yang dipenuhi kebencian, ia hanya tersenyum tipis. “Sepertinya kalian sangat senang dengan kepulanganku.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
"Apa yang sedang kamu lakukan?"
"Tingkatannya jauh lebih rendah dari borgol sebelumnya. Saya rasa ini mudah hancur, tapi tolong lakukan itu jika situasi mendesak," jelas sipir setelah mengganti borgol rantai yang menjerat tangan Ilyar dengan yang baru.
Sudut bibir Ilyar terangkat sinis. "Apa lagi yang sedang direncanakan pimpinanmu?"
Sipir mengedikkan bahu, komandannya berpesan untuk tidak mengatakan apa-apa lagi selain penjelasan tadi, jadi setelahnya dia keluar dan mendampingi Ilyar menuju ruang lapang di mana biasa tahanan kelas berbahaya berkumpul untuk sarapan dan makan malam.
Sungguh, tidak ada yang aneh. Semua tampak tenang sembari menunggu makanan. Hanya saja Di mana dua tahanan lainnya? Jumlah tahanan seharusnya 23, tapi hanya ada 21 di sini.
"Apa hari eksekusi mereka sudah tiba?"Ilyar bertanya dalam hati seraya mengisi kursi.
"Apa yang sedang nona kecil kami cari?" celetuk tahanan paruh baya yang duduk satu meja dengan Ilyar.
"Tidak ada. Aku hanya berpikir ini hari yang sangat tenang."
"Yah, mengingat sainganmu sudah terbebas."
Ilyar mengembuskan napas dan menopang wajah masamnya. Namun, tahanan lain menyahut, "Bukankah harusnya kamu senang? Sekarang kamulah yang terkuat. Lebih baik pikirkan aturan yang bisa menyenangkanmu."
Itu saran yang bagus, tapi untuk apa bermain kekuasaan kecil di lingkaran sempit ini?
Brak!
Eh?
Lamunan Ilyar langsung bubar tatkala sipir tiba-tiba mengusruk di depan para tahanan yang telah mengisi kursi, menanti makanan. Bukan hanya satu sipir, tidak lama dua sipir lainnya terbang dan mencoum lantai batu dalam kondisi babak belur.
Ilyar segera berdiri dan menatap ke arah pintu tanpa daun, tidak ada siapa pun di sana, tapi para sipir terlempar dari situ.
"Apa yang terjadi?" tanya Ilyar seraya memapah salah satu sipir.
"Ada tahanan yang mencoba kabur," jawabnya sambil meringis kesakitan.
"Bukankah dibor-"
Perkataan Ilyar terputus setelah menyadari sesuatu. Mungkin bukan hanya dia yang mendapat perlakukan khusus. Tidak, atau mungkin Solomon sengaja melepas satu atau dua tahanan agar membuat keributan. Namun, apa alasannya? Itu hanya melukai para sipir dan jika dibiarkan mereka bisa kabur Dakrossa, kembali berbuat kejahatan.
Para tahanan di sini adalah orang-orang keji, entah sudah berapa puluh atau ratus nyawa dan penderitaan yang telah mereka raup dalam tangan. Mereka sangat berbahaya sehingga hanya Dakrossa yang mampu menampung sampai hari pengeksekusian.
"Apa yang dipikirkan Solomon?" Ilyar bertanya dalam hati tatkala pada ambang tanpa daun pintu dua tahanan yang Ilyar yakini adalah terpidana mati muncul dari sana sambil menjenggut rambut seorang sipir, mengeretnya tanpa belas kasih.
"Hoo- kami sudah lama menahan diri untuk menghancurkanmu dan hari itu tiba. Bocah congkak sepertimu harus kami habisi terlebih dahulu sebelum bebas dari sini," kata salah satu dari mereka. Tubuh kurus dan wajah tirus, mulutnya lebar sementara matanya terlihat seperti orang mengantuk. Ilyar mengenali tahanan itu. Namanya adalah Eleth, si perampok yang membunuh semua korbannya dengan keji.
Sementara di sebelah Eleth ada seorang pria paruh baya berkepala pelontos dan bertubuh agak berisi. Namanya Oras, si penjagal manusia. Dua tahanan itu seharusnya menerima eksekusi mati dua hari lagi.
"Kali ini kamu tidak bisa melawan kami." Eleth menjulurkan lidah, membasahi bibir bagian bawah.
Ilyar mengembuskan napas, melepas si Sipir sembari menghalangi pintu keluar yang terletak tak jauh di balik punggungnya. Dia berdiri dan menyeringai pada dua tahanan itu sembari menjulurkan kedua tangan diborgol rantai. Eleth dan Oras saling pandang sebelum kembali menatap ke arah kedua tangan Ilyar yang mendadak terkepal.
Krak! Suara retak terdengar, tidak lama borgol yang juga menjerat Ilyar jatuh, teronggok menjadi kepingan logam di lantai.
"Tadi aku sempat meragukan saran seseorang. Seperti berpikir untuk apa bermain kekuasaan kecil di tempat sesak ini? Sepertinya harus kutarik lagi pemikiran semacam itu." Ilyar menunjukkan senyum tengil.
Sudut bibir Eleth terangkat sinis, padahal diam-diam kecemasan mulai memenuhi pikirannya. Memang tanpa borgol itu, kekuatan mereka kembali sepenuhnya, tapi bagaimana dengan bocah itu? Seperti apa dia tanpa borgol penekan?
"Tidak peduli seberapa hebat, kamu tidak akan mampu menghadapi kami dalam kondisi prima," kata Eleth seraya menunjukkan sepasang belati yang berhasil dia ambil setelah menggeledah salah seorang sipir. Sementara, Oras memiliki sebuah cudgel-pemukul yang terbuat dari kayu keras dan digunakan oleh sipir untuk mendisplinkan tahanan.
"Hei, boleh pinjam itu?" Ilyar melirik bagian celana sipir yang dibantu tadi.
Para tahanan tersentak, mata mereka melotot.
Sementara si Sipir langsung menutup bagian tengah celananya dengan ekspresi butuh perlindungan.
Ilyar mengerutkan dahi dan menatap sekeliling, saat itu pula kedua alisnya terangkat sebelum akhirnya berseru dengan jengkel. "Apa yang kalian pikirkan?! Aku cuma mau pinjam ikat pinggangnya!"
"Hentikan raut wajah malu-malumu itu dan cepat berikan padaku!" Seru Ilyar jengkel karena si Sipir menunduk malu sambil menyingkirkan kedua tangan yang menutupi area sensitif tadi. Dia segera melepas ikat pinggang dan menyerahkannya pada Ilyar.
Ilyar mengembuskan napas. "Nanti kukembalikan."
Kemudian dengan tingkah agak pongah dan raut wajah tengil yang mampu membuat Eleth serta Oras jengkel setengah mati, Ilyar mengencangkan ikat pinggang di depan wajah sembari berkata, "Ternyata kalian diam-diam menyimpan dendam padaku yang sekarang memimpin para tahanan di lantai sepuluh. Sebagai pemimpin, akan kubiarkan kalian merasakan praeksekusi sebagai bentuk sanksi pembangkangan." Ilyar mengakhiri kalimatnya sambil menyengir lebar.
Eleth sudah tidak tahan dengan hinaan itu sehingga langsung menerjang Ilyar, berlari secepat kilat bersamaan kedua tangan yang menggenggam belati terentang.
Ilyar menahan senyum sesaat Eleth semakin dekat, saat pria itu hendak menggapainya dengan sabetan, Ilyar melompat tinggi tepat di atas kepala Eleth, meletakkan tangan di puncak kepala pria itu sebelum berputar di udara lalu memberi satu tendangan kuat pada punggung hingga Eleth tersungkur.
Tidak berhenti di situ, Ilyar langsung melesat ke arah Oras, melepas satu bogeman yang dialiri energi biru pucat ke arah perut gempal pria paruh baya tersebut.
Duagh! Tubuh Oras segera melambung lalu ambruk di atas meja batu. Tidak lama, Eleth sudah bangkit berdiri dan menyerang Ilyar dalam jarak dekat.
Sepasang belati itu berkilat ketika menyambar udara, setiap sabetannya nyaris menyentuh kulit Ilyar. Eleth secara lihai mengincar titik vital seperti leher, perut, dada, bahkan tendon lawannya.
Ilyar akui keahlian Eleth menggunakan belati dalam pertarungan jarak dekat sangat hebat. Kecepatan dan kemampuan menipu lawannya melalui serangkaian serangan tidak boleh diremehkan. Sekarang, Ilyar mendapat beberapa luka sayatan. Sementara Eleth mengeraskan rahang karena refleks Ilyar membuatnya terkecoh.
Sial!
Ilyar memaki saat ekor matanya menangkap kehadiran Oras di balik punggungnya sementara serangan Eleth masih diladeni.
Krak!
Ilyar memblokir sabetan Eleth dengan tangan kiri, sementara tangan kanan memecutkan ikat pinggang ke belakang, di mana oras berada. Kepala gesper yang terbuat dari logam segera menghantam kepala besar Oras hingga bocor.
Ilyar terengah dan segera melompat mundur saat ada jeda. Tangan, lengan, serta lehernya mendapat luka sayat, tidak terlalu dalam, tapi menimbulkan perih yang cukup terasa. Sementara Eleth, kulitnya menjadi terkelupas dan dipenuhi memar yang terasa membakar. Itu adalah hasil dari tamparan ikat pinggang Ilyar.
"Hei!" Ilyar berseru ke arah Eleth setelah menghampiri Oras yang tergeletak, memijakkan sebelah kaki di atas perut buncit Oras yang sudah tidak sadarkan diri lalu memainkan belati di jari-jari tangan kanannya secara memutar.
Eleth terbelalak dan segera melihat kedua tangannya yang kehilangan satu belati. Sejak kapan gadis itu merebutnya?
Ilyar menyeringai pada Eleth kemudian berkata, "Ini mulai seru. Kamu punya teknik yang sangat berguna untuk dipelajari."